Apakah Benar Dia?!

Seringkali kita merasa ragu dan bingung tentang pasangan kita sendiri. Apakah benar dia sang belahan jiwa?! Benarkah dia kekasih hati tercinta?! Benarkah dia yang paling tepat?! Benarkah dia yang akan menjadi pendamping seumur hidup?! Benarkan dia?!

Fakta dan kenyataan memang seringkali kita salah dalam hal ini. Awalnya kita merasa yakin sekali namun kemudian menjadi ragu. Kembali lagi yakin, lalu kemudian menjadi semakin ragu. Terus saja begitu. Sangat tergantung kepada situasi dan kondisi kita pada saat itu. Ditambah lagi melihat fakta dan kenyataan yang terjadi di sekitar kita. Begitu banyak masalah karena cinta, yang menambah keraguan dan kebingungan itu.

Seorang pria mendesah dalam dan panjang. Dia mencintai seorang perempuan yang juga dirasanya sangat mencintai dirinya. Namun dia merasa takut dan ragu meningat pengalaman pahit yang pernah dialaminya. Dulu dia pernah berkeluarga dengan seorang perempuan yang sangat dicintainya. Mereka berdua dulu saling mencintai hingga pada suatu saat mereka harus berpisah. Pada saat cinta itu sudah hilang dan tak ada lagi.

Pria ini ingin sekali memulai hidup yang baru dan menjalani hidup bersama kekasihnya. Hanya saja, selalu ada pertanyaan di dalam benaknya. Benarkah dia orangnya?! Kalau salah lagi bagaimana?! Apalagi mereka berdua berasal dari keluarga yang memiliki budaya dan kebiasaan yang berbeda. Memiliki kehidupan yang juga berbeda. Yang banyak samanya pun banyak masalah, apalagi kalau banyak perbedaan?! Duh ruwet!!!

”Saya sangat mencintainya, Mbak!”

”Lalu?!”

”Saya hanya tidak ingin membuatnya kecewa.”

”Apa tidak terbalik?! Takut mengecewakan atau takut dikecewakan?!”

”Hmmm…. Dua-duanya barangkali, ya?!”

“Oke. Apa yang membuatmu berpikir demikian?!”

“Mbak, kan, tahu saya dulu pernah berkeluarga dan gagal. Saya tidak ingin semua itu terulang lagi. Terlalu pahit dan sangat menyesakkan dada.”

“Tidak ada seorang pun yang menyukai perpisahan.”

“Iya, Mbak. Saya takut saya salah.”

”Salah apa?!”

”Saya takut bagaimana kalau ternyata bukan dia orangnya.”
”Bukan dia yang bagaimana?!”

”Bukan dia yang paling tepat menjadi pendamping saya dan bukan saya yang paling tepat mendampinginya?!”

”Kenapa bisa begitu?!”

”Kami terlalu banyak perbedaan. Kami bagaikan bumi dan langit. Dia cantik, pintar, dan berasal dari keluarga berada. Saya?! Sekarang pun saya masih pas-pasan. Apa mungkin saya bisa membahagiakannya?!”

“Apakah dia mencintaimu?!”

“Bilangnya, sih, iya.”

“Apakah kamu merasakan cintanya?!”

“Iya, sih!!!

”Kalau begitu, apa lagi yang dirimu inginkan?!”

”Yang saya inginkan?!”

”Ya, yang dirimu inginkan?!”

”Hmmm…..”

Banyak di antara kita yang seringkali terjebak dengan pemikiran kita sendiri. Merasa bila telah menggunakan logika dan akal yang sehat maka semuanya menjadi realistis dan benar. Meskipun sadar juga bahwa ada hati nurani yang bisa sangat diandalkan dan yang paling tidak pernah berdusta. Bisa dipahami bahwa memang kita diarahkan untuk menjadi manusia yang selalu dituntut untuk menggunakan logika dan akal untuk bisa dianggap sebagai manusia. Soalnya, logika dan akal itulah yang memang membedakan kita dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Iya, kan?!

Begitu juga di dalam memahami cinta. Cinta yang merupakan sebuah rasa pun kemudian dirasionalisasikan. Semuanya harus menjadi masuk akal dan diterima dengan logika. Bila tidak, maka kemudian dianggap buta dan salah. Berapa banyak pasangan yang menikah karena cinta dan dianggap bodoh meskipun mereka sangat mencintai dan sangat bahagia?! Berapa banyak pasangan yang menikah karena berpikir telah telah melakukan yang benar dan pintar namun kemudian menderita karena telah melupakan cintanya?!

Bila memang semuanya harus logis, kenapa hanya menggunakan akal sehat saja?! Bukankah untuk bisa menjadi logis, bukan hanya hal-hal yang bisa diterima secara logika saja yang harus dipikirkan?! Hal-hal di luar logika pun adalah bagian dari kelogisan itu sendiri. Oleh karena itulah ada yang menyebutnya sebagai logika hati. Di mana manusia tidak hanya memiliki akal untuk berpikir logis namun juga memiliki hati untuk bisa membuat manusia menjadi lebih logis. Bukankah hati dan akal ini yang membuat manusia menjadi makhluk yang paling sempurna?!

Bisa sangat dimengerti dan dipahami juga bahwa pada fakta dan kenyataannya, di dalam hidup kita harus menjadi sangat realistis. Makanya jarang, ya, ada yang mau makan cinta?! Soalnya kalau makan cinta saja perut nggak bisa kenyang!!! Sebulan dua bulan masih bisa merasa senang dan bahagia, tapi kalau sudah lebih dari itu, semuanya menjadi buyar. Apalagi sekarang semua harga barang meningkat sementara kebutuhan terus bertambah.

Di sinilah pentingnya sebuah komitmen terjadi. Bila memang cinta itu ada dan memang benar-benar cinta maka tidak perlu harus bersusah payah untuk mau melakukan dan menjalani sebuah komitmen. Bersama memulai hidup yang baru berarti bersama pula menjalani semuanya dengan baru. Tidak ada lagi sendiri dan tidak ada lagi harus sendirian. Susah dan senang, suka dan duka menjadi bersama dan di sanalah letak kebersamaan itu. Perbedaan selalu ada namun fokus terhadap apa yang diinginkan bersama akan membuat semuanya menjadi lebih baik. Adakah keinginan untuk melakukan dan menjalankan ini semua?! Bukan masalah mampu atau tidak mampunya, tetapi bila ada keinginan maka harus ada usaha dan kerja keras. Semua pasti bisa bila memang mau diperjuangkan bersama.

Mungkin dia benar orangnya, mungkin juga tidak. Dengarkanlah suara hati. Itu adalah yang paling benar. Jujurlah pada diri sendiri dan rendahkanlah hati serendah-rendahnya agar suara itu bisa selalu terdengar. Jangan jadikan masa lalu atau situasi dan keadaan sekitar menjadi patokan atas nilai. Setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan masing-masing dan setiap manusia memiliki jalan hidup masing-masing. Tidak pernah ada yang sama dan tidak juga harus selalu sama.

Bila ada sejuta alasan mengapa dia mencintaimu berarti ada juga sejuta alasan mengapa dia tidak mencintaimu. Begitu juga sebaliknya.”

Semoga bermanfaat!!!

Mariska Lubis

18 Juli 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Apakah Benar Dia?!

  1. bagaimana sebenarnya cara mengetahui jika dia itu belahan jiwa kita??? kabur banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s