Hey Penonton!!! Jangan Mau Jadi Manusia Penonton, Ya!!!

kill-television.comSenangnya menonton dan membuat tontonan. Melakukan aksi dan reaksi persis seperti yang ditonton. Bahkan menjadikan tontonan itu sebagai sebuah cara pandang dan cara berpikir, sehingga kemudian menjadi sebuah keyakinan. Meskipun itu merusak diri sendiri dan juga masyarakat juga dunia, tetap saja betah. Berperan, memerankan, dan diperankan oleh tontonan. Wuiihhhh!!! Benar-benar absurd!!!

Menonton sinetron dan memperhatikan mereka yang menonton sinetron seringkali membuat hanya miris. Alur cerita, percakapan, latar belakang, dan tampilannya semuanya sungguh sangat membuat pedih.. Segala sesuatunya terlalu berlebihan dan di luar batas kewajaran. Sangat tidak alami dan seringkali tidak masuk di akal. Namun sinetron yang logikanya bisa dibilang sekenanya ini sangat mempengaruhi para penontonnya. Apalagi sinetron seperti ini dibuat terus menerus dan panjang. Tidak ada henti-hentinya. Kalaupun habis ada lagi yang baru atau dipaksakan untuk terus berlanjut. Sampai kemudian pada akhirnya merusak logika dan pemikiran juga perasaan serta psikologi para penontonnya. Sayangnya, ini tidak disadari atau tidak mau disadari. Suka, sih?! Aduh!!! Kacau, deh!!!

Bukan hanya di sinetron, sih, hal ini terjadi. Lihat saja bagaimana tontonan politik yang ada sekarang ini. Semua logika diputarbalikkan, begitu juga fakta dan kenyataan. Terus menerus dicekoki dan mencekoki sampai semuanya menjadi yakin dan benar-benar yakin bahwa itu adalah yang sebenarnya terjadi. Bahkan bila diberitahu yang benar pun kemudian disanggah dan ditolak rama-ramai. Luar biasa!!!

Di dalam dunia hiburan apalagi. Idola dibuat sudah seperti seorang mahadewa saja. Dipuja dan dipuji. Semuanya diikuti dan digila-gilai. Apa yang dipakai dan digunakannya harus dan wajib juga dimiliki. Malah kalau bisa sampai dioperasi plastik segala biar benar-benar serupa. Kepribadian pun diubah untuk bisa menyamai. Bagus kalau jadinya lebih baik, kalau tidak?! Mengerikan!!!

Di dalam kehidupan sehari-hari pun sering kita jumpai. Kalau melihat pengemis di pinggir jalan, kita selalu pedih melihat mereka. Menjual segala kesedihan dan kemiskinan untuk mendapatkan iba. Dimafaatkan pula oleh mereka yang ingin meraup keuntungan dari semua ini. Iya kalau benar mereka susah. Berapa banyak yang menjadikan ini sebagai bisnis?! Air mata mereka hanya air mata buaya!!! Pada akhirnya mereka yang benar-benar miskin dan susah serta sangat membutuhkan pertolongan diabaikan begitu saja karena tidak nampak sama sekali. Kasihan, kan?! Mereka yang juga bisa melepaskan diri dan kemudian bisa menjadi sukses dan berhasil tanpa harus menjual kemiskinan pun jarang ada yang tahu. Padahal menurut saya, mereka-mereka ini yang seharusnya dibantu dan juga diacungi jempol. Juga mereka-mereka yang berada di belakangnya. Tapi, ya, memang jumlahnya jauh lebih sedikit juga. Gimana, dong?! Susah, ya?!

Tidak usah jauh-jauhlah, ya. Banyak sekali di antara kita yang tidak sadar bahwa mereka telah mengidap gejala orang yang mendapatkan kesenangan lewat derita dan kesusahan. Selalu bercerita tentang kesusahan dan kepedihannya. Juga ketidakmampuan dan ketidakberdayaannya. Biarpun pada kenyataannya demikian, namun kisah-kisah seperti ini dijual kepada para penonton untuk dijadikan sarana mendapatkan kepuasan dengan sensasinya tersendiri. Ini apa yang disebut dengan istilah pain orgasmic. Di mana puncak orgasmenya adalah ketika orang berlomba-lomba memberikan iba, rasa simpati, cinta, dan kasih sayang. Tanpa juga disadari oleh dirinya sendiri bahwa itu akan terus merusak dirinya. Tanpa disadari juga oleh mereka yang memberikannya bahwa itu semua bukan membantu tetapi malah akan terus merusak dan semakin menjerumuskan. Lucunya, ada orang yang memberikannya juga mendapatkan kepuasan. Apalagi bila mendapat pujian. Ruwet, deh!!!

Pernah saya bercerita tentang seorang perempuan yang mengalami kekerasan rumah tangga. Bukan hanya sekali dua kali namun terus menerus. Beberapa kali pula masuk rumah sakit karena babak belur. Dia terus saja bercerita tentang kepedihan dan kesusahannya ini tetapi bila diberikan solusi dan jalan keluar, selalu saja ada alasannya. Cintalah, anaklah, ada saja terus. Padahal tahu juga kalau anaknya sudah merasa tersiksa dan sakit karena semua ini. Baca, deh, artikel saya yang berjudul “Sadomasochism” ini.

Lebih gilanya lagi, bila ada di antara para penoton itu yang memanfaatkan situasi dan kondisi. Apalagi kalau memiliki maksud dan tujuan tertentu, dan tidak jauh dari kepentingan pribadi tentunya. Membuat yakin orang yang sudah menderita ini bahwa telah diberikan pertolongan lalu tanpa sadar sebetulnya telah dimanfaatkan. Persis seperti mereka yang telah melakukan sympathy sex,  namun belum tentu seks yang mereka inginkan. Bisa saja uang, nama, dan kekuasaan. Sehingga kemudian semakinlah dijuallah kisah-kisah orang yang seperti ini agar semakin mempermudah dan memperlancar segala maksud dan tujuannya. Dramatis dan hiperbola pula. Makanya, hati-hati, ya!!! Teman dan sahabat belum tentu teman dan sahabat!!! Kalau sampai terjadi apa-apa, siapa yang rugi?! Mereka, sih, bisa saja terus kabur, bersembunyi atau melemparkan tanggung jawab. Lalu, bagaimana kelanjutannya?! Apa masih bisa terus bertahan?! Sampai kapan?!

Nah, semua seharusnya sadar bahwa menjadi manusia penonton sangatlah tidak baik. Selain merusak diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara pun ikutan dirusak secara perlahan-lahan namun pasti. Jangan bilang ini tidak mempengaruhi dunia, ya?! Kata siapa?! Coba pikirkan lagi baik-baik?! Bagaimana dengan keadaan di dunia maya sekarang ini di mana siapa bisa menjadi siapa?! Itu baru dunia maya, bagaimana dengan dunia yang nyata dan sebenarnya?!

Saya sangat berharap kita mau membebaskan diri dari semua ini. Selalulah berusaha untuk menjadi diri sendiri. Jujur pada diri sendiri. Yakinlah pada kemampuan diri. Semua orang pasti memiliki kelebihan masing-masing. Bila memang membutuhkan pertolongan, akuilah dan berusahalah. Bila juga ingin menolong, pikirkanlah baik-baik dan pikirkan dengan benar. Apa benar-benar menolong atau malah justru merusak?! Meskipun semua itu dilakukan tulus dan ikhlas, apakah tidak kasihan bila yang ditolong itu justru semakin parah dan malah ketergantungan?! Lakukanlah juga tindakan yang benar. Bagaimana bisa mengubah dan melakukan perbaikan bila tidak juga mau dipahami dan disadari semua ini. Bagaimana bisa menjadi baik bila semua ini juga terus disangkal?!

Saya bukannya sok tahu atau sok pintar, nih?! Semua ini berdasarkan apa yang saya pelajari juga dan saya ingin membagikannya kepada yang lain agar bisa menjadi bermanfaat. Kan, tidak semua mempelajari hal yang sama?! Kita memang harus terus saling belajar dan terus belajar. Dari manapun dan dengan apapun juga. Bukankah begitu?!

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

28 Mei 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan, Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Hey Penonton!!! Jangan Mau Jadi Manusia Penonton, Ya!!!

  1. Pingback: Tolong Janganlah Remehkan Masalah Seks Di Tempat Bencana! | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s