Kompleksitas Primordial Modernitas Pemikiran Manusia

hangout.altsounds.comTidak perlu sulit untuk menjadi manusia modern. Cukup pandai membaca dan menulis serta membuat rencana, strategi, dan ungkapan yang dianggap valid, masuk di akal, rasional, logis, dan realistis. Apalagi kalau ditambah dengan gelar, titel, posisi, kedudukan, dan segala peralatan canggih. Hal-hal yang sederhana dan remeh temeh pun dibuang dan dianggap tidak penting. Ditangkap dan diterima pula oleh manusia modern lainnya. Wajarlah bila kemudian menjadi kompleks dan rumit. Yang mana modern dan yang mana primitif pun dibuat rancu. Primordial modernitas pemikiran manusia memang kompleks dan rumit, ya?! Meskipun sebenarnya semua itu sangat sederhana.

Kompleksitas mengandung beberapa unsur yang rumit dan sulit namun saling berhubungan. Bisa juga merupakan sebuah gagasan yang tertekan atau dikuasai oleh emosi sehingga menimbulkan tingkah laku yang tidak wajar. Menjadi sususan atau serangkaian rencana dan strategi yang membutuhkan sebuah pemikiran yang matang agar pada pelaksanaannya bisa diterima dengan akal yang dianggap sehat. Implementasinya pun sangat realistis dan logis. Biarpun sederhana namun sangat istimewa karena untuk membuatnya pun tidak mudah. Butuh pengakuan dan dukungan terutama secara moral.

Wajarlah kalau kemudian yang kompleks ini dianggap modern. Makin rumit makin hebat. Wajar juga kalau sampai ada kasak kusuk di belakang meja. Untuk mendapatkan kelebihan dan keuntungan pribadi atas pengajuan sebuah proyek di instansi pemerintah ataupun yang berhubungan dengan masyarakat luas memang sudah biasa begitu bukan?! Tak heran juga kalau yang tidak kasak kusuk dan berjalan lurus yang seringkali disingkirkan dan tersingkir. Memang nggak punya pikiran atau niat apa-apa juga, sih?! Ya, kan?!

Sementara itu, primordial membentuk sebuah komunitas yang menggunakan bahasa yang dipahami oleh komunitas itu sendiri. Di mana komunikasi yang dilakukan bisa disamaartikan dengan pemikiran. Sehingga kemudian bahasa sama dengan pemikiran yang hanya dimengerti oleh mereka yang tergabung di dalam komunitas ini. Meskipun sudah berulang kali komunitas seperti ini mendapat kritikan karena bisa menjadi ancaman bagi negara akibat adanya pertentangan dan benturan antara komunitas yang lain, namun tidak bisa dihindarkan untuk tidak terjadi. Apalagi bila sudah digabungkan dengan modernisasi teknologi dan politik. Semakin parah banget!!!

Makanya jangan heran kalau ada teroris ataupun perang. Masih pakai bahasa masing-masing, sih!!! Pemikiran juga masih masing-masing dan sendiri-sendiri. Tak heran juga bila kemudian ini menjadikan bahasa atau kata menjadi tidak bermakna. Meskipun itu merupakan bahasa yang sifatnya sangat universal. Sudah ditentang duluan, sih?! Disuruh belajar pun sudah tak mau?! Memang susah kalau sudah pintar dan merasa telah menemukan kebenarannya sendiri. Kebenaran yang sejatinya pun bablas. Bahasa yang sifatnya sangat luas dan penuh dengan makna pun dipersempit dan dikotak-kotakkan. Apalah artinya bahasa dan kata kalau sudah begini?!

Bila kompleksitas dan primordial dipertemukan dan digabungkan. Pas banget, deh!!! Soalnya, untuk membentuk komunitas primordial dibutuhkan kompleksitas yang tinggi. Kalau nggak, mana mungkin komunitas ini bisa berjalan?!

Sekarang kita lanjut ke yang berikutnya, yaitu modern. Sebuah sikap dan cara berpikir serta cara bertindak yang sesuai dengan tuntutan zaman. Bila memang zaman yang dimaknai adalah yang kini, maka tak heran juga bila kemudian mereka yang menggunakan teknologi tercanggih dan berdandan serta berpenampilan paling trendi adalah yang modern. Cara berpikir dan cara bertindaknya memang sudah sesuai dengan zaman yang dimaksud. Sehingga kemudian modernisasi yang dilakukan pun berkisar pada proses pergeseran sikap dan mentalitas manusia untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan yang ada pada masa kini. Pas banget lagi dengan kompleksitas dan primordial. Makanya saya sebut dengan istilah kompleksitas primordial modernitas. Sama-sama kompleks dan sama-sama membentuk kelompok, kok!!!

Berbeda sekali bila zaman yang dimaksud adalah masa depan. Semuanya menjadi berubah. Namun bila memang tetap hanya berkisar pada permukaan dan tampilannya saja, sampai kapan pun tetap sama. Tidak ada bedanya kalau begitu dengan primitif. Meskipuin primitif adalah keterbelakangan namun dasar pemikirannya adalah yang kini dan perbuatan serta tindakan yang dilakukan pun berdasarkan tuntutan pada masanya. Sama-sekali tidak memikirkan masa depan. Meskipun juga itu adalah hal yang biasa dan sudah merupakan tradisi bahkan budaya.

Nah, kalau bicara modern dengan dasar konsep pemikiran atas masa depan, maka memang sulit untuk menjadi primordial meskipun kompleksitasnya tinggi. Ini ada hubungannya dengan modality yang merujuk pada kemungkinan atas eksistensi ataupun keharusan pada segala sesuatu yang sifatnya mustahil atau tidak tampak. Ini terjadi karena pada dasarnya juga, tubuh dan pikiran itu merupakan sebuah kesatuan, di mana pikiran bereaksi terhadap tubuh dan tubuh juga menghasilkan pemikiran.

Bila hal tidak nampak itu diabaikan maka tubuh dan pemikiran pun akan melakukan reaksi yang sama sementara bagi mereka yang berpikiran modern ke masa depan, tentu saja, yang nampak itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Segala kemungkinan dan juga kemustahilan harus tetap dijadikan sebagai sebuah acuan. Sehingga sulit sekali untuk bisa menjadi primordial karena memiliki bahasa tersendiri. Ini bisa menjadi sebuah keterbatasan atau juga sebaliknya menjadi sebuah kelebihan. Keterbatasan karena sendiri namun kelebihan karena bisa menjadi sangat universal. Sangat tergantung pada pribadi masing-masing dan sangat individual.

Keterbatasan atas kesendirian menjadikan kebanyakan dari mereka yang memiliki pemikiran seperti ini justru disingkirkan dan diabaikan. Entah baru kapan kemudian tahu disadari bahwa pemikirannya itu terbukti karena pada saat sekarang ini dianggap tidak realistis. Nggak percaya?! Coba cari komik science fiction jaman dulu di mana pada saat itu televisi tidak ada sementara sudah digambarkan. Televisi sangat tidak realistis pada zaman itu, bagaimana dengan sekarang ini?!

Menjadi sangat universal juga memiliki kesulitan tersendiri karena pemikirannya sangat luas dan bahasa yang digunakan pun sangat lebar dan bersayap. Tergantung kepada kapasitas dan kemampuan individual lainnya untuk bisa menangkap apa yang dimaksudkan. Bahkan bisa menjadi sangat tidak berarti dan bermakna bagi mereka yang hanya bisa membaca dan menulis saja. Meskipun sebenarnya ini semua sangat sederhana. Di mana semua berasal dari titik nol dan kembali kepada titik nol. Apa nol yang saya maksudkan, ada pada diri masing-masing. Bila kita mau merendahkan diri serendah-rendahnya dan menjadi jujur serta mengenali diri sendiri maka dengan sendirinya, semua ini bisa terjawab.

Pusing, ya?! Sama!!! Saya pusing memikirkan hal ini dan makanya saya tuliskan supaya bisa pusingnya bareng-bareng!!! Hehehe….

Semoga bermanfaat dan tidak membuat pusing!!!

Salam,

Mariska Lubis

3 Juni 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Kompleksitas Primordial Modernitas Pemikiran Manusia

  1. Pingback: Tolong Janganlah Remehkan Masalah Seks Di Tempat Bencana! | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s