Terbukti Sudah Masyarakat Indonesia Masih Manusia Penonton!!!

Banyak yang tidak mau mengakui bahwa manusia banyak yang merupakan manusia penonton.  Memikirkan hanya apa yang ditontonnya untuk kemudian dijadikan sebuah keyakinan. Bersandar pada apa yang menjadi nilai yang beredar di masyarakat luas, bukan berdasarkan nilai yang seharusnya dijadikan pegangan. Memberikan tontonan dan menjadi bagian dari penonton dan tontonan. Salah dan benar sudah menjadi rancu dan kabur. Yang tersisa hanyalah ego untuk bisa mendapatkan nilai dan pengakuan dari manusia semata dan hanya untuk kepentingan pribadi semata. Apa masih berani berkata bahwa ini adalah benar?! Apa ini adalah baik?! Apakah ini adalah demi bangsa dan negara?! Apakah ini untuk masa depan?! Apakah masih merasa modern juga?! Masih mengaku seorang revolusioner dan visioner?! Seseorang yang tahu dan paham tentang kebenaran?! Duh!!!

Apa yang terjadi saat Yahudi dan Palestina berseteru?! Semua sibuk dengan mengatasnamakan kemanusiaan dan kebenaran yang diyakini. Giliran video Ariel dan Luna Maya beredar, semua sibuk mencari dan berebut ingin melihatnya. Memberikan nilai kepada pelaku juga dengan atas nama kebenaran, moral, dan etika. Apa jangan-jangan memang kebenaran itu tidak pernah ada?! Sungguh saya tidak habis pikir. Merasa benar karena sudah memberikan nilai kepada yang lain meskipun tahu bahwa nilai itu hanya milik Yang Maha Kuasa. Katanya, tahu bahwa diri ini hanya manusia, tapi, kok, bisa-bisanya mendahului Yang Maha Kuasa?! Merasa bermoral dan lebih tahu soal etika tetapi sama sekali tidak adil dan telah melanggar kesepakatan yang berlaku dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Moral itu, kan, asas dasarnya adalah adil, dan etika itu isinya adalah aturan yang disepakati bersama. Bahwa di dalam kekebasan pun memiliki aturan. Apa tidak dipikirkan bagaimana dengan anak-anak yang terpengaruh oleh semua ini?! Katanya, mau maju?! Katanya memikirkan masa depan?! Katanya sangat humanis?! Peduli dengan yang lain?! Ingin berbuat baik?! Kok, anak-anak pun tega dijadikan korban?! Apakah ini  yang disebut dengan kebinatangan manusia di dunia media massa?!

Kasus Bank Century yang sebelumnya menjadi bulan-bulanan masyarakat juga aneh menurut saya. Sebegitu mudahnya masyarakat digiring oleh tontonan untuk memiliki interpretasi atas apa yang diinginkan oleh mereka yang melakukan permainan ini. Aneh!!! Mau-maunya, sih, terseret arus?! Pernahkah berpikir apa sebenarnya yang terjadi di belakang layar?! Mencari tahu awal mula sampai bisa terjadinya masalah ini?! Ini bukan masalah korupsi atau kolusi. Ini sudah masalah mental dan kepribadian bangsa. Jati diri bangsa sudah hilang dijual demi kepentingan pribadi dan segelintir kelompok tertentu. Sejarah pun sudah diputarbalikkan. Fakta dan kenyataan yang ada tidak bisa diterima. Yang dipercaya hanya apa yang ditonton. Kapan mau maju kalau begini?!

Sebenarnya ini bukan kasus pertama kali terjadi. Coba saja lihat televisi yang dipenuhi dengan cerita cengeng penuh duka dan kesedihan. Membuat orang hanyut dan larut dalam iba dan belas kasihan. Duka dan kesedihan air mata si buaya yang dijual sebagai tontonan tidak memberikan manfaat bagi perbaikan masa depan bangsa ini. Hanya pedih, marah, dan sakit yang diberikan kepada masyarakat penonton. Juga hanya membuat masyarakat penonton memberikan nilai yang buruk atas pelaku yang membuat tontonannya berduka dan sedih. Tidak juga membantu untuk memberikan keinginan untuk lebih maju dan bersemangat. Sikap pesimis terhadap masa depan tidak membuat negara ini menjadi lebih baik. Yang ada hanya pain orgasmic!!!

Lagi pula, apa betul dengan memberikan mereka donasi lalu mereka bisa senyum dan tertawa. Mungkin iya, tapi berapa lama?! Tidak ada yang bisa mengubah orang lain selain diri sendiri. Mau sampai seberapa lama diberikan iba dan belas kasihan?! Apa kalau dikasihani lalu membuat mereka menjadi lebih baik?! Kenapa tidak merangkul dan membuat mereka menjadi mandiri dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Berjuang untuk kehidupannya sendiri dan kemudian bisa memberikan manfaat bagi yang lainnya. Kenapa juga tidak orang-orang yang telah berhasil membebaskan diri dari duka dan kesusahannya ini yang tidak diangkat ke permukaan. Memberikan penghargaan atas usaha dan keberhasilannya sehingga bisa kemudian meneruskannya kepada yang lainnya?! Memberikan inspirasi dan semangat kepada yang lainnya untuk mau berusaha menjadi lebih baik. Sehingga nilai yang ada di masyarakat penonton ini menjadi optimis dalam menghadapi masa depan. Bukankah semangat seperti ini yang diperlukan?!

Yang paling parahnya lagi menurut saya adalah masalah kompleksitas primordial modernitas pemikiran manusia.  Merasa sudah pintar, hebat, modern, dan maju bila sudah mampu mengikuti perkembangan jaman. Tidak juga merasa bahwa yang diikuti itu hanyalah sebuah dinamika dalam kehidupan yang berhenti. Persis seperti sedang menonton televisi. Semuanya bergerak dan berjalan namun tidak pernah beranjak dan keluar dari layar televisi. Sibuk saja berkutat pada bahasa sendiri tanpa mau belajar mengerti arti dan makna kata dan bahasa yang sesungguhnya. Kebenaran pun hanya dibuktikan lewat golongan, komunitas, pertemanan, dan persahabatan. Pantas saja kalau kolusi masih terus berlangsung?! Lebih baik tidak usahlah berkoar-koar anti KKN kalau diri sendiri pun masih melakukannya. Maturbasi otak saja terus, ya?!

Tidak sedikit juga yang merasa hebat sudah bisa menjadi penulis tetapi tidak memiliki kemampuan untuk membaca dengan baik dan benar. Pantas saja kalau tulisannya kemudian hanya untuk memenuhi ego dan memuaskan diri sendiri saja. Biarpun tulisan bagus dan indah namun tidak ada artinya bila tidak memberikan manfaat bagi yang lainnya. Membaca pun menjadi tidak bermanfaat karena tidak juga paham arti dan makna yang sesungguhnya. Paling-paling hanya bisa memberi kritik dan komentar yang tujuannya menjatuhkan saja. Ditanya bagaimana memberikan solusi terbaik pun tidak bisa menjawab. Hanya sekedar permukaan saja. Dasar dan landasannya tidak juga mengerti. Diberitahu pun tidak mau mengakui malah terus saja membuat alasan-alasan baru dan menyalahkan yang lainnya. Apa ini bisa disebut bertanggungjawab?! Apa ini bisa disebut pemberani?! Apa ini bisa menjadikan diri sebagai seorang pahlawan masa depan?! Seorang revolusioner yang visioner?! Keren, ya?!

Perjuangan itu tidak mudah. Selalu saja banyak hantaman kiri dan kanan. Sudah jamak dan lumrah ini terjadi. Yang diperlukan adalah keteguhan hati dan konsistensi untuk melakukan perubahan dan tidak mudah terpengaruh dan goyah atas apa yang terjadi di dalam masyarakat. Prinsip harus dipegang teguh. Komitmen dan aturan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Bila menulis belum bisa konsisten, bagaimana bisa melakukan perubahan?! Membaca pun masih asal-asalan. Membedakan bentuk tulisan saja tidak mau juga belajar, apalagi kata dan bahasa?!  Terjebak dengan politik interpretasi. Ini baru menulis, bagaimana dengan perilaku dan tindakan yang lainnya?!

Marilah kita sama-sama bercermin atas apa yang telah kita lakukan selama ini. Introspeksi diri dan akui segala kekurangan juga kesalahan yang telah dibuat. Jujurlah selalu pada diri sendiri karena hanya dengan cara inilah kita bisa menjadi dekat dengan kebenaran yang sejatinya, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Terimalah sejarah, fakta, dan kenyataan yang ada. Akuilah itu semua bila memang begitu adanya. Jangan pernah takut untuk menjadi diri sendiri. Yakinlah bahwa nilai yang diberikan oleh manusia itu tidak ada artinya dibandingkan dengan nilai yang diberikan oleh-Nya. Berpikirlah selangkah dua langkah maju ke depan sebelum bertindak. Lebih cepat belum tentu lebih baik. Masa depan membutuhkan muatan yang terbaik bukan hanya asal terisi saja. Pikirkan juga bagaimana bisa mencapai tujuan itu bukan hanya dalam waktu yang singkat namun tak terbatas.

Berhentilah menjadi manusia penonton!!! Berhentilah memberikan tontonan!!! Berikanlah selalu yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Berhentilah menjadi pejuang pembual yang hanya bisa menjual bualan. Belajar dan belajarlah selalu. Lihatlah semua dari berbagai sisi pandang yang berbeda. Hargailah proses dan jangan hanya bisa menunjuk jari. Ingatlah bahwa empat jari lainnya menunjuk ke arah mana. Jangan pernah lupa juga bahwa damai itu ada bila diri sendiri sudah berdamai dengan diri sendiri. Maju terus!!! Pantang mundur!!!

Yah, tapi ini semua adalah pilihan. Silahkan memilih sendiri jalan masing-masing.

Semoga bermanfaat!!!

Salam Kompasiana,

Mariska Lubis

NB:

Saya salut kepada para kompasiners terutama yang masih muda dan baru atas konsistensi dan kemampuannya untuk menunjukkan identitas dan jati diri mereka tanpa takut harus diberi nilai oleh yang lainnya. Memiliki gaya dan ciri khas sendiri di dalam mengungkapkan pemikirannya. Tidak takut untuk berbeda ataupun dinilai gila. Percayalah bahwa abnormalitas intelektual dan kegilaan yang bisa mengubah dunia. Semua berawal dari mimpi seorang pemimpi. Popularitas bukan datang dengan sendirinya namun dengan proses dan perjuangan. Kualitas lebih penting daripada kuantiítas. Lagipula untuk apa semua bila itu yang menjadi tujuan utama?!  Pikirkan cara untuk bisa memberikan yang lebih banyak secara berkualitas. Lanjutkan perjuangan kalian semua!!! Lakukan demi bangsa dan negara!!! Teruslah belajar dan belajar!!! Konsisten, ya!!!

Salam,

Mariska Lubis

10 Juni 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Terbukti Sudah Masyarakat Indonesia Masih Manusia Penonton!!!

  1. Pingback: Tolong Janganlah Remehkan Masalah Seks Di Tempat Bencana! | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s