Tolong Janganlah Remehkan Masalah Seks Di Tempat Bencana!

Sedih rasanya memperhatikan bagaimana seks masih saja dianggap hina dan remeh temeh. Dianggap sesuatu yang kecil, tidak penting, dan tidak perlu diperhatikan ataupun dicermati. Meski sudah banyak contoh dan kasus yang terjadi akibat seks, namun memang seks terus saja hanya menjadi sebuah objek. Meskipun juga mengaku peduli akan masa depan bangsa dan ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, tetap saja seks dianggap sebelah mata.

Bukanlah sebuah obsesi ataupun ambisi kenapa saya terus menerus berkutat pada masalah seks dan tidak juga berhenti menulis tentang seks. Pada fakta dan kenyataan yang terjadi, memang begitulah apa yang terjadi pada kita semua sekarang ini. Diakui tidak diakui, disadari tidak disadari, bila seks tetap menjadi sesuatu yang kecil dan hanya merupakan objek, mana seks akan terus menjadi masalah dan ancaman yang besar bagi masa depan.

Saya pernah dikritik soal berpikir benar karena yang benar itu haruslah realistis. Begitulah juga fakta dan kenyataannya bila hanya yang nyata saja yang dilihat dan hanya yang terdengar saja yang didengar. Realistis itu hanya menjadi sebuah tontonan atas apa yang ingin dilihat dan atas apa yang ingin didengar saja sehingga pada akhirnya tidak mengindahkan kebenaran itu sendiri. Wajarlah bila kemudian kita semua terus saja menghadapi masalah karena hanya berkutat pada masalahnya saja tanpa mau melihat ke belakang ataupun berpikir jauh ke depan.

Masa lalu membuktikan bagaimana masalah seks ini penting untuk diperhatikan dan dicermati. Lihatlah Aceh dan Nias setelah bencana tsunami. Apa yang terjadi kemudian?! Bagaimana tingkat masalah seksual terjadi di sana?! Bagaimana juga dengan tingkat prostitusi dan human trafficking di sana?! Apakah memang tidak mau melihat, mendengar, atau merasakannya?! Sedemikian tabunyakah hingga masih juga menutup mata?! Saya juga sudah menceritakannya di dalam tulisan saya yang berjudul: “Pelecehan Seksual dan Prostitusi Anak Pasca Bencana“.

Beberapa hari yang lalu, dua orang relawan yang kebetulan dekat dengan saya bercerita dan meminta tolong saya untuk memberikan masukan serta pendapat. Mereka mendapati dua orang anak perempuan di tempat yang berbeda telah dilecehkan secara seksual di daerah pengungsian Merapi. Meski banyak yang menganggap bahwa bila belum diperkosa, hanya dipegang saja, itu bukanlah sebuah pelecehan, tetapi bagi saya, bila sudah melakukan tindakan intimidasi secara seksual berupa paksaan untuk melakukan tindakan seksual, itu sudah merupakan bentuk dari pelecehan. Sekarang baru sampai di sana, bagaimana esok hari?!

Di beberapa tempat juga ada yang bercerita bahwa mereka melihat pasangan suami istri berhubungan seksual di tempat yang tidak semestinya dan bisa saja dilihat oleh anak-anak. Sekali lagi juga saya ingatkan bahwa meski korban bencana, bukan berarti mereka tidak memiliki kebutuhan seksual. Malah seks seringkali dijadikan pelampiasan untuk melepaskan trauma dan masalah. Sayangnya, hal ini sulit sekali untuk terungkap bila tidak dicermati dengan baik. Untuk mengorek informasinya pun tidak mudah karena banyak masih yang beranggapan bahwa bila dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah, maka tidak perlu dibahas lebih lanjut. Pura-pura tidak tahu saja, begitulah kira-kira. Baru nanti-nanti bila saja sudah ada kejadian yang besar dan sudah tidak bisa ditutupi lagi, barulah semuanya sadar. Biasanya begitu, kan?!

Sesuatu yang besar itu memang lebih mudah untuk dibesar-besarkan dan dianggap penting, padahal belum tentu besar dan juga penting. Sesuatu yang kecil belum tentu sebenarnya kecil dan bukan hal yang penting. Malah banyak yang lebih vital dari yang terbesar sekalipun. Bagaimana kita semua sering meremehkan jantung yang kita miliki meski tahu itu semua adalah penting?! Lebih remehkan jantung dibandingkan dengan wajah?! Kuku di ujung jari kaki begitu rajinnya dibersihkan dengan biaya yang besar, namun untuk mau mempedulikan keseimbangan hormonal di dalam tubuh jarang sekali yang mau peduli.  Lain ceritanya kalau sudah kena masalah, barulah bingung dan menangis meraung-raung seolah-olah paling menderita sedunia.

Sungguh, saya memang sangat jengkel dan kesal sekali dengan keadaan ini. Semua yang diajukan oleh mereka yang peduli dengan seks dianggap tidak penting dan tidak masuk di akal. Bukan sesuatu yang diangap benar ataupun realistis. Sombong nian!!!

Jangan harap bisa menjadi besar bila tidak selalu meremehkan yang kecil. Mengaku hebat, baik, pintar,  sementara tetap menunjuk yang lain sombong tapi diri sendiri tidak juga mau mengakuinya. Kepala  orang lain pun bisa dipotong-potong dan dibuang ke tempat sampah sambil bercanda dan bergurau. Mengaku pula sebagai yang baik dan penuh dengan kasih sayang serta cinta bahkan terhadap musuh dan lawan sekalipun.  Untuk apa?! Bagaimana kalau serius?!  Hebat ya?! Lebih hebatnya lagi karena masih juga dipercaya dan diyakini sehingga terus saja berlanjut. Hmmm….

Kompleksitas primordialisme manusia memang sudah merusak semua yang ada dan menjadikan manusia  menjadi makhluk yang sombong. Tak heran bila evolusi pemikiran itu kemudian berhenti dan peradaban itu pun berakhir. Post modernism yang diserap begitu saja sudah mengubah manusia menjadi komersil dan larut dalam industrialisasi. Idealisme dan prinsip itu pun hanyalah menjadi sebuah kompromi atas kepentingan semata. Manusia tidak lagi mau berpikir jauh ke depan karena modern itu sendiri hanya sebatas penampilan luar saja. Kata tak lagi memiliki arti dan makna juga karena tidak juga mau dimengerti dan dipelajari. Memang lebih mudah menjadi “manusia penonton” dan menjadi sama serta melakukan “masturbasi otak” terus daripada memiliki kejujuran dan keberanian untuk menjadi diri sendiri meski harus berbeda.  Sungguh membutuhkan cinta yang sesungguhnya dan jiwa yang besar untuk bisa melakukannya.

Bicara tentang cinta, kepedulian, dan kasih sayang pun hanya sebatas kata saja. Lihat saja tumpukan spanduk, poster, dan baliho sebesar-besar gambreng yang terpampang untuk menunjukkan “Saya orang baik lho!!!”. Berlomba-lomba pula muncul di media dengan dada terbusung berharap semua tahu betapa mulianya diri. Pakai menangis Bombay segala. Buayalah!!! Musibah dan bencana malah dijadikan sarana untuk promosi dan unjuk gigi. Di mana tulus dan ikhlasnya?! Pahlawan, ya?!

Perhatikanlah masalah seks ini dengan serius dan ambil segera tindakan yang benar. Jangan remehkan semua ini. Masa depan kita semua sangat tergantung pada bagaimana kita bisa melakukannya dengan benar dan tepat sasaran. Pandanglah jauh ke depan, jangan hanya melihat yang ada di depan mata. Rendahkan hati dan belajarlah dari masa yang lalu. Seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Seks bukan hanya seonggok daging di belahan paha!!!

Seks menjadi sesuatu yang penting karena tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari seks meski tidak mau diakui ataupun tidak mau disadari. Objektifitas dan keseimbangan harmoni dalam tubuh juga dalam kehidupan selalu berkaitan erat dengan perilaku dan masalah dengan seks. Berhentilah menjadikan seks itu sebagai objek, bila memang peduli, memiliki cinta dan penuh dengan kasih sayang. Belajar dari seks sama artinya dengan belajar dari kehidupan ini. Seks itu luas dan besar serta menyangkut semua aspek dalam kehidupan ini.  Hormati dan hargaillah anugerah terbesar ini bila memang mengaku rendah hati dan tidak sombong.

Saya meminta dengan amat sangat kepada semua, sekali lagi, tolong jangan remehkan masalah seks di tempat bencana. Saya tidak ingin ada pengulangan ataupun kelanjutan lagi proses tragedy kemanusiaan hanya karena seks dianggap remeh dan tidak penting.

Masalah seks ini panjang sekali runtutannya dan efeknya terhadap masa depan. Fasilitas, sarana, dan prasarana bisa dibangun, namun trauma dan gangguan serta masalah psikologis lainnya akan terus berlanjut tiada akhir bila tidak diatasi sedini mungkin. Pikirkan lagi kisah dan cerita saya tentang Mirna yang dijual dan menjadi prostitusi karena dia adalah korban bencana. Ada banyak sekali Mirna yang lain dan haruskah terus bertambah?!

Berhentilah menjadi manusia penonton. Bersabar dan pasrah bukan berarti diam dan tidak berusaha!!! Bantulah semua untuk bisa bangkit dan berdiri serta menjadi kuat, tangguh, dan mandiri!!!

Semoga semua mau mengerti dan memahaminya.

Salam,

Mariska Lubis

14 november 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Fakta & Kenyataan, Perubahan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tolong Janganlah Remehkan Masalah Seks Di Tempat Bencana!

  1. Lex dePraxis says:

    Word. Word. Word.🙂

  2. Pingback: Haruskah Masalah SeksTerus Berlanjut?! | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s