Fellatio

APA, tuh?! Belum tahu, ya? Padahal ini sudah sering didengar dan sering dipraktekkan dalam kegiatan seksual sehari-hari. Oral seks!!! Oral seks yang khusus dilakukan untuk pria. Bukan terhadap wanita, ya!!!

Kata fellatio, diambil dari bahasa latin, fellatus, yang artinya isap. Bila ditambahkan imbuhan, bisa menjadi menghisap, terhisap, dihisap. Cuma, kata ini, hanya khusus diperuntukkan untuk pria. Kalau untuk perempuan, namanya jadi fellatrix. Artinya, sih, sama saja.

Berbagai istilah lain juga muncul dari kata dan kegiatan fellatio ini. Tidak usah disebutkanlah, ya!!! Sudah pada tahu sendiri, kan? Kalau di Yunani dan Jepang, malah disebuat sebagai “permainan seruling”. Sedangkan kalau kita baca di Kamasutra, disebut sebagai “kongres seputar mulut”. Ada-ada aja, nih!!!

Kegiatan fellatio ini sendiri sudah dilakukan sejak zaman dulu banget. Awalnya, memang ditujukan untuk kepuasan ego saja. Dominan!!! Posisi di mana perempuan harus duduk bersimpuh dan melakukan kegiatan yang disukai pria ini, membuat pria merasa mendapat posisi lebih tinggi. Laksana seorang raja yang sedang dilayani oleh dayang-dayangnya.

Suka atau tidak sukanya melakukan kegiatan seksual ini juga sangat relatif. Kebanyakan pria, doyan banget!!! Tetapi banyak juga pria yang mengaku tidak terlalu suka. Mereka merasa seperti ada sesuatu yang hilang saat mencapai orgasme. Kalau kata orang China, sih, Chi-nya hilang. Jadinya kurang nikmat saja. Apalagi kalau kemudian ditambah dengan raa bersalah, tambah berkurang saja kenikmatan itu. Terasa nggak?!

Kegiatan ini juga seringkali menimbulkan efek negatif kepada mereka yang “terpaksa” harus mau melakukannya. Entah karena permintaan pasangan atau memang dipaksa oleh pasangannya. Selain karena merasa seperti diremehkan atau dilecehkan, perasaan jijik itu juga ada. Soalnya, itu, kan, tempat keluarnya air seni juga. Tahu, dong, bagaimana kita, sudah dari kecil diajarkan bahwa air seni itu kotor. Makanya banyak sebetulnya yang menolak memasukkannya ke dalam mulut. Bikin mual!!! Takut!!! Ini juga bisa menyebabkan Post Orgasmic Immune Syndrome, lho!!! Jadi alergi gitu, deh!!!

Pertentangan soal boleh tidaknya fellatio ini dilakukan juga sampai sekarang masih terus terjadi. Ada sebagian kepercayaan yang mengharamkan kegiatan ini, tetapi ada juga yang justru mengagung-agungkannya. Seperti di salah satu suku di Peru, di mana dari peninggalan purbakala yang mereka tinggalkan, terlihat jelas bahwa fellatio adalah bagian dari kegiatan dan ritual sehari-hari. Ini juga berhubungan erat dengan mitos yang beredar di dalam sebuah budaya itu sendiri, seperti misalnya mitos bahwa wanita hamil tidak boleh disetubuhi. Jadilah kemudian dilakukan kegiatan seksual pengganti, salah satunya, ya, fellatio ini. Atau juga mitos yang beranggapan bahwa fellatio adalah cara teraman untuk tidak menghamili dan tidak tertular penyakit kelamin. Kalau hamil, sih, memang tidak mungkin, tapi kalau tertular penyakit kelamin, ini, sih bisa banget!!!

Jangan dikira, dengan melakukan fellatio berarti terbebas dari yang namanya Chlamydia, human papillomavirus (HPV), gonorrhea, herpes, hepatitis, dan penyakit-penyakit kelamin lainnya seperti HIV dan AIDS. Memang, sih, resikonya lebih kecil tetapi tetap saja ada kemungkinan untuk kena. Bakteri dan virus bisa tumbuh di mana-mana!!! Apalagi kalau sedang ada luka atau sariwan di mulut. Resikonya jadi semakin besar!!! Makanya, kalau habis melakukan fellatio, dan kemudian merasa ada yang salah dengan mulut, buruan periksalah ke dokter untuk diobati. Biasanya, sih, gejalanya adalah gatal, gatal, perih, gusi berdarah, dan sangat peka terhadap rasa, terutama dingin, panas, asin, dan pedas.

Malah berdasarkan sebuah penelitian, ini bisa juga ada hubungannya dengan resiko terkena penyakit kanker mulut dan tenggorokan. Orang yang melakukan seks oral, menurut hasil penelitian mereka, memiliki resiko dua kali lebih tinggi untuk terkena kanker mulut di tenggorokan dibandingkan dengan yang tidak melakukannya. Nah. lho!!!

Kalau menurut saya, sih, jangan egoislah! Kalau memang pasangannya tidak mau, ya jangan pernah dipaksa untuk mau melakukannya. Pasangannya juga harus tegas, kalau memang nggak mau atau nggak suka, ya bilang terus terang!!! Usahakan untuk selalu menggunakan kondom bila memang memutuskan untuk melakukannya. Buat jaga-jaga saja. Mencegah, kan, lebih baik daripada mengobati.

Semoga tulisan ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan seputar oral seks, ya!!!

Salam,

Mariska Lubis

7 November 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Fellatio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s