Mengapa Kami Mencintaimu, Perempuan!!!

KALAU sebelumnya, kan, Mengapa Kami Mencintaimu, Pria!!! Sesuai dengan permintaan pembaca, biar seimbang, sekarang saya buatkan tulisan dari versi kebalikannya, ya! Biarpun saya perempuan!!! Hehehe….
Tentunya ini bukan berdasarkan pengalaman pribadi. Belum pernah, sih!!! Kalau cinta terhadap sahabat dan teman perempuan, banyak, tapi untuk yang satu ini, hmmm…. Jangan takut, kok!!! Ini semua berdasarkan dari curhat beberapa teman-teman pria yang sudah saya tampung sejak tiga tahun yang lalu. Jujur saja, awalnya, sih, cuma iseng, tetapi ternyata ini serius juga, ya?! Apalagi kemudian saya membaca banyak hasil riset yang telah dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian dan kampus di seluruh dunia. Memang patut untuk dibagikan!!!
Berawal dari sebuah pertanyaan yang muncul dari seorang perempuan berusia 32 tahun, “Kenapa, ya, saya, kok, nggak laku-laku! Memangnya pria takut, ya, sama perempuan seperti saya?!”.

Siska, nama samaran, sebetulnya memiliki wajah yang manis. Namun sering terlihat capek!!! Kariernya memang sedang menjulang tinggi. Di usianya yang masih relatif muda, dia sudah menduduki jabatan sebagai manajer di sebuah perusahaan asing. Sekolahnya juga tinggi. Sedang menyelesaikan thesis S-3, tuh!!! Cuma, ya, itu dia, sampai saat ini, masih belum juga ketemu pasangan hidup. Padahal, jam biologis terus bergulir. Makanya dia panik banget.

Nah, penasaran ingin tahu kenapa, mulailah saya bertanya-tanya sana-sini. Soalnya, banyak juga perempuan yang berkarier menjulang dan berpendidikan tinggi memiliki pasangan hidup. Lagipula, banyak pria, kan, yang maunya perempuan itu pintar. Iya, kan?

Diskusi sana, diskusi sini. Baca yang itu, baca yang ini. Akhirnya, saya mengambil kesimpulan, deh!!! Ini dia, nih jawabannya.
Satu. Tidak tinggi hati. Mau cantiknya kayak apa, pintarnya setinggi langit, baiknya luar biasa, tapi kalau sudah tinggi hati alias sombong, sudahlah!!! Apalagi kalau sudah dipadu dengan keras kepala, wah, lewat!!! Merasa “paling”, bisa membuat pria mundur!!! Nyinyir pula!!! Waduh!!! Biar bagaimanapun, pria memiliki gengsi tersendiri. Pria paling tidak suka diremehkan. Adalah sebuah kebanggaan bagi seorang pria, bila dihormati dan dihargai. Biarpun mereka tahu kalau mereka “kurang”, tetapi tidak berarti harus diinjak-injak, dong! Pasti adalah kelebihan yang tidak dimiliki oleh perempuan manapun di dunia ini. Menurut saya, pria tetap pria, perempuan tetap perempuan. Menghormati dan menghargai segala usaha dan jerih payah pria, sekecil apapun hasilnya, tetap memberikan “kepuasan” tersendiri di hati para pria.

Ada lagi, nih!!! Stop memperlakukan pria seperti sopir!!! Antar sana, jemput sini!!! Harus bayarin bensin, tol, dan parkir pula!!! Angkat-angkat barang belanjaan lagi!!! Mana lama lagi belanjanya!!! Hallooooooo!!! Pria bukan makhluk bodoh yang kalau “suka” mau diperlakukan semena-mena!!! Mereka juga punya hati, lho!!! Kesabaran mereka pun ada batasnya!!! Jangan sampai, wahai perempuan, justru kalianlah yang dipermainkan!!! Pembalasan bisa lebih kejam, lho!!!

Terlalu mandiri juga salah!!! Walaupun banyak pria yang menuntut pasangannya untuk mandiri, tetap saja ada hal-hal yang menurut mereka tidak wajar bila dilakukan oleh perempuan. Ganti bohlam di rumah, deh, contohnya. Sepele sebetulnya, dan kita juga bisa melakukannya sendiri. Tetapi sepertinya, untuk urusan gadget dan kerusakan perabotan rumah serta kendaraan, dianggap kebanyakan pria sebagai “urusannya”. Makanya, lebih baik, biarkan saja mereka yang mengerjakan semua itu. Kalau ngomel, biarin saja!!! Mereka sebetulnya suka, kok!!! Merasa masih dibutuhkan!!!
Dua. Bisa menempatkan posisi. Kapan menjadi seorang teman, menjadi seorang sahabat, menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu. Di jaman yang terus menggalakkan emansipasi wanita ini, sepertinya, kita sebagai perempuan suka lupa diri. Emansipasi diterjemahkan dalam pengertian yang terlalu mudah dan sempit. Malah menurut saya, seringkali melupakan posisi sebagai seorang perempuan sejati. Tidak mau masak untuk keluarga saja dianggap merupakan bagian dari emansipasi. Keblinger nggak, sih?! Giliran harus cari uang, suami terus saja yang jadi bulan-bulanan. Aneh, kalau kata saya!!!

Tahu bagaimana mengasuh dan merawat anak, itu mutlak adanya. Jangan dikira suami tidak sedih melihat anak-anak mereka selalu diasuh oleh nanny, pembantu, atau baby sitter. Mereka memilih kita sebagai istri, dengan salah saru harapan, bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Ini memang tugas bersama, tetapi sudah dari sananya, anak biasanya, lebih ingin dekat dengan ibunya. Wong, kita juga yang mengandung mereka, kok!!! Masa, sih, tidak bisa meluangkan waktu untuk anak-anak kita sendiri. Kalau nantinya mereka lebih sayang sama nanny, pembantu, atau baby sitter-nya, baru kerasa, deh!!! Sedih, kan?!

Perlu diingat bahwa, patokan penilaian seorang pria terhadap perempuan, kebanyakan adalah ibu mereka sendiri. Yah, ibu adalah perempuan pertama yang mereka kenal dan yang umumnya yang paling dekat dengan mereka. Makanya, mereka sering, kan, membanding-bandingkan kita dengan ibu mereka. Apalagi urusan mengasuh anak, membersihkan rumah, dan memasak. Hmmm…. Kita paling komplain, “Dasar anak mami!!!”. Hehehe…. Tapi coba, deh, kita juga introspeksi diri.

Biar bagaimanapun juga, semacho-macho-nya pria, sekekar-kekarnya pria, mereka tetap membutuhkan kasih sayang, pelukan, dan belaian. Lihat saja si Batak satu dalam serial Suami-Suami Takut Istri! Hehehe…. Tidak melulu urusan hubungan intim yang bisa memuaskan fisik dan bathin mereka. Pengertian dan kesabaranlah justru yang bisa meluluhkan hati mereka sesungguhnya. Mereka sangat butuh dengan apa yang disebut sebagai “sentuhan perempuan”.

Tiga. Tulus dan ikhlas menerima pasangan dengan apa adanya. Susah ataupun senang tetap menjadi milik bersama. Segala kesusahan dan kesenangan dibagi bersama. Diajak kaya hayo!!! Diajak miskin juga hayo!!! Kalau kaya juga bisa membawa diri. Kalau lagi kere juga tidak selalu berkeluh kesah. Bersama-sama mengatasi segala cobaan dan kesulitan membuat kehidupan rumah tangga menjadi lebih terasa indah.
Bisa memberikan dorongan dan motivasi, membuat pria seperti mendapat air di padang gurun. Bukan menuntut, ya!!! Dorongan!!! Motivasi!!! Membuat suami atau pasangan kita untuk bisa lebih tegar, lebih kuat, lebih bisa bertahan adalah sebuah penilaian lebih tersendiri. Membuat mereka menjadi lebih menghormati kita dan menghargai kita.

Masih ada banyak faktor-faktor lain yang membuat pria mencintai kita, tergantung kepada pribadi masing-masing. Mengenal karakter dan pribadi mereka akan membantu membuat kita bisa lebih mengerti. Memang butuh waktu dan butuh proses, tetapi anggaplah itu semua sebagai bagian dari perjalanan kehidupan. Yang paling penting adalah keyakinan bahwa cinta itu ada. Selalu ada. Tetap ada. Bukan urusan menerima atau memberinya, tetapi dirasakan dan dinikmatinya.

Semoga saja tulisan ini bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dalam menjaga keharmonisan rumah tangga dan pasangan.

Salam,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Mengapa Kami Mencintaimu, Perempuan!!!

  1. danarlia says:

    ya begitulah sptnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s