Perilaku Seksual “BDSM”

WUIHHHHH!!!! Ngeri!!! Diikat. Disiksa. Diperkosa. Kalau perlu sampai luka-luka, berdarah-darah, babak belur, dan pingsan. Apa enaknya, coba?!

Jadi ingat sebuah toko di Oxford Street, Sydney, Australia. Di lantai bawah toko ini, dijual berbagai macam aksesoris untuk mereka yang senang dengan perilaku seksual BDSM. Ada borgol, ada cambuk, ada rantai, ada gelang bergigi, ada topeng kulit, ada tali untuk menggantung, ada ikat pinggang berduri, ada sepatu lars berpaku, dan masih banyak lagi. Serem-serem, deh!!! Anehnya, laku, tuh!!! Ada saja pembelinya!!! Entah buat iseng atau memang untuk dipakai beneran. Tahu, ah!!!

Film-film sadis juga banyak beredar untuk sekedar pemicu nafsu seksual mereka yang saya bilang sakit jiwa ini. Saya pernah melihat satu film, di mana korbannya diikat dengan tali lalu digantung tangannya. Lehernya juga diikat dengan tali. Bajunya dilucuti dan tubuh mulusnya itu dipecut. Wajahnya ditampar dan dibogem. Dan maaf, dia dipake ramai-ramai, bergantian, tapi bukan di vaginanya, tapi di duburnya. Iihhh!!! Saya sampai muntah melihatnya!!!

BDSM sendiri bisa dipisah menjadi tiga kategori. BD alias Bondage and Dicipline, D/S alias Dominance and Submission, dan S&M alias Sadism and Masochism, yang sekarang lebih dikenal dengan istilah sadomasochism. Semuanya senang berbuat sadis, sih!!! Bahkan dengan cara berbuat sadis inilah mereka anggap sebagai ungkapan dan ekspresi dari rasa sayang dan cinta mereka. “Hanya yang Masochism yang artinya senang disadisi, disakiti, dan menerima rasa sakit sebagai sebuah kepuasan seksual tersendiri. Tapi, ya, semuanya termasuk dalam kelainan psikologis.

Masih ingat tulisan saya yang judulnya “Sadomasochism”. Cerita dalam tulisan itu adalah contoh dari praktek BDSM yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Ada banyak alasan mengapa orang bisa menjadi seperti ini dan mengapa mereka senang berpraktek sadis seperti ini. Semuanya tergantung kepada tiap individu masing-masing. Ada sebagian akibat dari keinginan untuk bisa berkuasa akibat lari dari ketidakberdayaan, rasa bersalah, atau stres. Ada juga yang merasa jadi kuat karena sebagai proteksi akibat apa yang pernah dialaminya sewaktu kecil. Dan ada juga karena yang ingin mendapatkan “pengakuan”. Bisa dilihat sebagai rasa ego yang menjadi titik utamanya. Kasarnya, bermain menjadi Tuhan dengan cara yang seperti ini adalah sebagai bentuk dari pembentukan jiwa dan pemikirannya, yang terjadi secara tidak sadar namun terus menerus dilakukan, yang pada akhirnya merusak diri sendiri.

Seorang wanita di Autralia, bernama Stunning (bukan nama asli, hanya nama panggilan), yang mengaku sebagai wanita S&M, pernah saya wawancarai. Satu pertanyaan dan satu jawaban yang membuat saya bisa membelalakkan mata.

“Apa kamu menganggap bahwa yang kamu lakukan ini benar?”

“Saya mengganggap ini sebagai sebuah dinamika kehidupan dengan berbagai perbedaan cara dan pandangan hidup. Alasan selalu ada. Benar atau salah juga ada alasannya masing-masing. Bisa jadi salah kalau saya melakukan pemaksaan terhadap mereka yang tidak mau. Tetapi kalau sama-sama mau, bagaimana? Saya heran kenapa kita harus mempermasalahkan benar atau salahnya. Penyimpangan, kelainan, kerusakan. Kenapa tidak bisa dilihat sebagai sebuah pilihan hidup, di mana kita harus bisa saling menghormati perbedaan dalam kehidupan.”

Speechless, nggak sih?! Saya sampai bengong dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kalau diterusin juga percuma saja. Dia pasti akan mengarahkannya ke sana lagi, ke sana lagi. Kacau!!!

Satre, seorang filsuf terkenal, pernah bicara soal “sadis”. Secara garis besarnya, dia bilang kalau sadis adalah sebagai sebuah penghapusan secara total dan menyeluruh yang dilakukan oleh penderitaan emosional seorang korban dengan mencari subjektifitas yang bisa melihat bahwa subjek dan objek sama-sama merupakan korban. Apa ini, ya, maksudnya?

Dari sinilah kemudian saya berpikir, bahwa inti dari penyimpangan psikologis seperti ini, tidak bisa dihentikan begitu saja selama tidak ada “penglihatan” jarak jauh. Bukan mistis!!! Pandangan yang jauh ke depan. Masa depan. Generasi mendatang. Anak cucu cicit kita nantinya. Selama penderitaan itu ada, perilaku seperti ini akan terus ada.

Bagaimana menurut pembaca yang budiman?

Salam,

Mariska Lubis

28 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Perilaku Seksual “BDSM”

  1. Pingback: Ada yang Kenal Sama Si Seksi Princess Albertina?! | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s