Anak Pun Dijadikan Pelampiasan Nafsu

lawisgreek.com

TIDAK ada bedanya dengan seekor kucing atau anjing. Tidak bisa membedakan mana anak kandung atau bukan. Selama masih bisa, selagi ada kesempatan, darah daging sendiri pun dijadikan budak pelampiasan nafsu.

Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika saya melakukan penelitian terhadap anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual. Seorang anak perempuan kecil berusia antara 4-5 lima tahun yang baru saja dibawa dan akan ditampung oleh sebuah lembaga sosial, saya dan teman-teman mengajaknya berbincang-bincang. Mengorek serta mencari tahu apa dialami anak ini.

Maaf sebelumnya karena perbincangan ini agak sedikit kasar dan vulgar. Namun saya harus menceritakannya karena memang begitulah faktanya. Perlu diingat bahwa yang bicara adalah seorang anak yang masih kecil yang belum pantas tahu dan bicara seperti ini. Sebagai pembaca, saya minta dengan amat sangat untuk melihatnya secara bijaksana.

Anak perempuan ini, sebut saja Mia, dengan tenangnya bisa menceritakan proses ereksinya penis secara detail. Dia juga bahkan tahu bagaimana membuat penis itu bisa sampai ereksi. Tanpa malu ataupun canggung, dia menunjukkan caranya memegang dan mempermainkannya. Sudah seperti orang dewasa saja.

Tidak berhenti sampai di sana. Mia juga memberitahukan saya dan teman-teman di sana bagaimana melakukan fellatio, seperti yang sering diminta oleh bapaknya. Bahkan dia juga bilang bahwa semua itu akan berhenti bila sang bapak sudah mengeluarkan cairan sperma yang juga pernah diminta untuk dijilat dan ditelannya. Dia juga menceritakan secara jelas bagaimana rasanya cairan yang masuk ke dalam mulut dan tenggorokannya itu.

Ibu? Bagaimana dengan ibunya? Dua tahun terakhir Mia hanya tinggal dengan bapaknya karena ibunya kabur.

Bagaimana Mia ditemukan? Dia adalah anak jalanan yang terjaring dalam sebuah operasi. Ketika kemudian kami mencari bapaknya, bapak itu sudah tidak ada. Entah dia pergi ke mana. Kontrakannya sudah kosong.

Tuhaaaaannnnnn!!! Tolooooonggggg!!! Ampuuuunnnnn!!!

Melihat anak jalanan saja sudah membuat hati kita perih, pilu, sakit, geram, dan marah. Mendengar cerita mereka semua, saya memang memaksakan diri. Biarpun mual, pusing, dan ingin meraung-raung, tetapi saya tetap harus bisa bertahan. Begitu juga dengan teman-teman lain yang berusaha membantu mereka. Sebuah pertentangan bathin yang tidak mudah.

Ini baru satu anak. Masih banyak anak-anak lain yang memiliki pengalaman sama dan bahkan lebih parah lagi di sana. Semuanya adalah korban. Korban dari ketidakpedulian. Kebuasan!!! Kegilaan!!! Sakiiiiiittttt!!!

Tidak mudah untuk melepaskan semua trauma yang mereka alami ini mengingat semuanya akan terus membekas sepanjang hidup mereka. Tidak pernah juga akan bisa hilang. Melekat selamanya sampai akhir hayat mereka. Oleh karena itulah penyelesaiannya adalah tidak dengan menutupi serta membuat mereka lupa, yang pada akhirnya kelak akan membuat sebuah benteng tebal yang merugikan diri mereka sendiri. Mereka harus diajarkan untuk bisa memaafkan serta berdamai dengan diri mereka sendiri. Mengalihkan semua emosi yang tersimpan untuk menjadi sesuatu yang sifatnya lebih positif. Melihat makna dari apa yang telah terjadi dan menemukan diri mereka yang sebenarnya dengan beralaskan kejujuran, kebenaran, dan keberanian, serta tanggung jawab. Jika tidak, semuanya akan terus berlanjut dan kemungkinannya akan lebih parah lagi.

Satu lagi yang sering saya sesalkan adalah di mana kemudian banyak yang meminta saya untuk memaklumi keadaan ini dengan mengatasnamakan kemisikinan. Bagi saya, kemisikinan bukanlah faktor yang paling utama di sini. Bagi saya, ini sama saja dengan mengekpoitasi kemisikinan. Soalnya, kaya atau miskin, semua bisa melakukan hal yang sama bila tidak dibekali dengan pendidikan serta pengetahuan yang kuat atas arti sebuah kehidupan. Hanya saja, si kaya lebih pintar menutupi semuanya. Itu saja.

Marah? Silahkan marah. Wajar, kok!!! Tetapi alangkah baiknya lagi kalau kemudian bisa menenangkan hati dan pikiran agar dapat berpikir jernih untuk mencari solusi atas permasalahan seperti ini. Yuk, kita sama-sama pikirkan!!!

Salam,

Mariska Lubis

1 Januari 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Anak Pun Dijadikan Pelampiasan Nafsu

  1. NL says:

    Awalnya saya mau mencari cerpen seksual di web. Namun setelah menyimak cerita anda, saya sadar bagaimana seseorang dapat dijadikan budak atas hasrat seksnya sendiri. Padahal seharusnya kita menyadari bahwa birahi adalah salah satu karunia Tuhan yang dapat memberi manfaat yang luar biasa pada manusia. Bayangkan bila semua orang di dunia ini hidup tanpa birahi, mungkin bisnis bayi tabung yang berharga ribuan dolar itu akan meningkat, tapi manusia akan lupa untuk mewariskan cinta pada anaknya. Karena buah hati tak akan pernah disebut buah hati tanpa pergumulan 2 hati didalamnya. Salam kenal. Btw, saya nyari cerita seks untuk riset, bukan untuk konsumsi pribadi. wkwkwk 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s