Ngaca Melulu, Nih! Genit, Ah!!!

rwashburn.com

BOLAK-BALIK ngaca lagi, ngaca lagi!!! Banti baju yang satu, ganti lagi dengan yang lain. Nyisir ke kanan, sisir lagi ke kiri. Naik ke atas, turunkan lagi ke bawah. Depan, belakang. Kiri, kanan. Teruuuusssss aja!!! Ada yang merasa?

Nggak apa-apa juga, sih!!! Cuma lucu saja kalau melihatnya!!! Padahal sendirinya juga melakukan hal yang sama. Apalagi kalau mau pergi ke acara undangan atau reunian. Waahhhhh!!! Sibuk banget di depan kaca!!! Hehehe….

Pernah nggak kita berpikir, ngapain, sih, kita ngaca? Berjam-jam pula lagi! Bangun tidur ngaca. Sikat gigi ngaca. Habis mandi ngaca lagi. Naik ke mobil, eh, masih juga ngaca lagi. Mau turun dari mobil, masih ngaca juga. Masih kurang. Sebelum masuk ke kantor, masuk dulu ke kamar mandi. Ngaca lagi!!! Huahahhahahaha…. Belum lagi siangnya, sorenya, sampai malamnya. Berapa kali, sih, kita ngaca dalam sehari?

Ngaca bisa jadi karena kita selalu ingin tampil prima. Cantik atau ganteng. Rapih. Menarik. Enak dipandang. Memastikan diri kalau kita tidak dicela oleh orang lain yang melihatnya. Bisa juga karena ingin meyakinkan diri kalau kita sudah tampil sesuai dengan yang kita inginkan. Syukur-syukur ada yang memuji. Kalau dipuji pun biasanya, “Ah, masa, sih, Jeng?! Perasaan biasa-biasa saja, deh! Ini, kan, baju lama?!” Cieeeeeee…..!!! Padahal bajunya baru kemarin beli di Mangga Dua, tuh!!! Sengaja pula dipakai karena nanti malam sudah janjian dengan sang pujaan hati. Makanya dandan habis-habisan!!!

Wajar sajalah kalau kita memang berdandan dan ngaca terus-terusan demi menarik perhatian orang lain. Ayam jago saja boleh berkokok untuk menarik lawan jenisnya, masa kita nggak boleh? Pernah saya bahas juga, kan, dalam tulisan “Daya Tarik Seksual”. Kalau toh ada yang cuek, sebetulnya itu juga bagian dari cara menarik perhatian, kok!!! Biar dibilang cool saja. Nyentrik. Pemberontak. Berani tampil beda. Melawan arus. Kesannya gimana, gitu?! Ngaku, deh!!! Nggak apa-apa, kok! Namanya juga usaha! Daripada menyerah begitu saja, yah, mendingan usaha, dong! Ya, kan?

Sekarang gimana kalau kita melihat kebanyakan seniman. Rambutnya gondrong. Jarang mandi. Pakai jeans juga robek-robek. Sendal jepit. Dekil banget, deh, pokoknya!!! Kayaknya kalau seniman nggak berdandan seperti ini, bukan seniman namanya. Nggak nyentrik!!! Seniman, kan, harus nyentrik!!! Beda banget, kan, sama pengacara. Dandanan mereka poooollllll habis!!! Kemeja. Dasi. Jas. Jaket kulit. Gelang emas. Jam mewah. Sepatu kulit. Ferrari. Hammer. Cincin berlian segede gambreng. Wuihhhh!!!! Serba mahal. Serba mewah. Sekali ngaca, paling nggak, ratusan juta, tuh!!! Milyaran kali!!! Kalau ada pengacara yang dandanannya biasa-biasa saja, pasti dibilang pengacara nggak sukses. Nggak berhasil. Kurang tajir, sih!!!

Kalau sudah melihat yang seperti ini, saya beneran ngakak. Guling-guling sampai sakit perut. Duile…. segitunya, deh!!! Hehehe…. Aktualisasi diri, nih, ceritanya?! Biar benar-benar dibilang seniman atau benar-benar dibilang pengacara? Memangnya kalau seniman berdandan ala pengacara atau sebaliknya, aktualisasinya kurang, ya? Kurang mencerminkan status dan profesinya, nih?! Huahahahhahaha….

Bagaiamana, nih, dandanan kalau untuk orang-orang kayak kita yang kerjanya nulis, nulis, dan nulis? Hehehe…. Apa, ya, ciri-ciri yang paling pas untuk mengaktualisasikan diri sebagai seorang penulis yang handal? Kalau saya, sih, karena saya menulisnya tentang seks, jadi harus tampil seksi, dong?! Tapi, berhubung tetap harus menjaga image sebagai seorang penulis yang bijaksana, saya juga harus kelihatan bijak Huahahahahhahaha…. Hancur nggak, sih?! Bagaimana, nih, dengan penulis yang lain?!

Sama juga, tidak ada salahnya kalau menurut saya, sih!!! Dalam fakta dan kenyataan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, yang namanya penampilan itu penting banget. Penilaian atas penampilan kita sangat mempengaruhi persepsi dan penilaian orang terhadap kita. Makanya, tak heran kalau sekarang banyak copet berdandan perlente. Biar nggak dikira tukang copet!!! Kalau tampil dekil dan berantakan, belum dekat saja, ibu-ibu sudah siap siaga menjaga dompet dan tasnya. Gimana mau nyopet?!

Penampilan juga merupakan salah satu bentuk dari penghargaan kita terhadap orang lain. Rasanya tidak pantas saja kalau bertamu ke rumah orang pakai daster. Biarpun dasternya bermerk. Nggak lucu, ah!!! Bagaimana kita bisa dihargai orang kalau kita sendiri tidak mau menghargai orang lain. Terkadang memang kita tidak suka, tetapi, ya, kita juga tidak boleh egois, kan? Coba bayangkan kalau pas lagi ada tamu yang datang ke acara pernikahan kita, datangnya dengan dandanan seenak udelnya. Nggak pakai sopan santun pula. Apa kita merasa dihargai olehnya?

Jadi ingat aa Gym, nih! Dia pernah cerita kalau dia memakai sorban karena pernah dibilang “kurang ustadz” sama jemaahnya. Memangnya harus dipakai, ya? Hmmm… repot juga, ya, kalau memang wajib.

Nah, terus bagaimana dengan orang kaya berpenampilan sangat sederhana? Bagaimana juga dengan orang pintar yang berdandan seperti orang tolol? Maksudnya apa ya? Apa memang benar-benar low profile atau ingin mendapat nilai lebih dari kesederhanaanya itu? Kalau dilihat sekilas, sih, mungkin memang sulit. Lain cerita kalau kita sudah kenal lebih jauh dan lebih dalam dengan orangnya. Kita bisa melihat bagaimana kepribadian orang itu yang sebenarnya

Bagi saya, silahkan saja berdandan dan ngaca terus-terusan. Tidak masalah, kok!!! Yang penting, jangan pernah lupa akan diri sendiri. Maksudnya, jadi lupa dengan kepribadian diri kita yang sebenarnya. Kan, capek, lho, jadi orang lain terus-terusan? Menjadi diri sendiri jauh lebih enak, lebih nyaman, dan lebih menyenangkan. Ya, nggak?

Sudah, ah!!! Saya mau ngaca lagi dulu!!! Kurang seksi, nih, kayaknya!!! Hehehe….

Salam,

Mariska Lubis

25 November 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s