Mengukir Seks Pada Bintang di Langit

Menggapai mimpi dengan menggantungkan cita dan harapan setinggi langit. Meraih dan menggapai bintang. Bagi saya, bintang itu bukanlah mimpi dan juga harapan. Semua memiliki bintang dan semua adalah bintang. Bagaimana kemudian mengukirnya?!

Remah-remah tercecer dan disia-siakan Dibuang dalam sampah dan menjadi hina dina serta menjijikkan. Dibuat dan dijadikan tidak memiliki arti, guna, ataupun manfaat. Sama sekali tidak ada penghargaan apalagi penghormatan. Jiwa remah-remah itu pun menjadi lenyap dan hilang tak berbekas.

Seks menjadi remah-remah yang tercecer dan disia-siakan. Sangat mudah menjadi hina dina dan kotor serta menjijikkan. Seolah tidak memiliki arti, guna, ataupun manfaat. Penghargaan dan penghormatannya hanya kenikmatan lahiriah pada seonggok daging di belahan paha. Jiwa dan spiritual atas seks sudah hampir hilang entah ke mana.

Sakral menjadikan seks tabu namun tabu juga yang membuatnya menjadi remah. Sakral menjadikan seks terbuka namun terbuka juga yang membuatnya menjadi remah. Tabu dan terbuka tidak ada bedanya. Sama-sama telah membuat kesakralan atas seks itu sendiri menjadi dilupakan. Lupa bahwa seks adalah yang merupakan titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Kehidupan kita yang lalu, kini, dan juga nanti.

Tabu dan terbuka membuahkan kehidupan yang ada saat ini. Kehidupan yang sangat mencemaskan dan mengkhawatirkan. Bintang seperti tertutup dan diselimuti oleh awan dan kabut yang tebal. Bintang dibuat menjadi sangat tinggi dan tak mungkin untuk digapai. Sebuah pertentangan antara rasional dan irasional yang logis dan tidak logis. Keyakinan, iman, moral, dan etika pun telah dikorupsi dan direduksi dalam batas dan ruang yang sempit. Menjebak semuanya pada kapasitas ritual dan penyamarataan semata. Berkutat hanya pada seputar permukaan tanpa mau menyelaminya lebih dalam dan menyentuh dasar. Menjadikan anomali dan perbedaan adalah sebuah kesalahan. Sama adalah benar. Berbeda adalah dosa.

Hak dan kewajiban serta kebebasan dijadikan landasan atas sebuah perubahan yang menjanjikan. Membuat semuanya berkutat dan berputar dalam sebuah lingkaran yang tidak berujung. Kutub dan kubu menjadi acuan untuk saling menarik dan saling mendorong. Sulit jadinya untuk bisa melepaskan diri dan memiliki bintang. Seolah-olah tertutup semua kemungkinan untuk memiliki bintang dan menjadi bintang. Apakah yang Maha Kuasa tidak memberikan pilihan?! Bukankah pilihan yang menjadikan kita justru adalah sama dalam segala perbedaan.

Tidak mau membayangkan bagaimana bila seks tetap menjadi remah yang tercecer dan disia-siakan. Bila masih harus terus berlanjut, bagaimana dengan kehidupan di masa depan?! Mungkinkah bintang itu tetap menjadi bintang?! Apakah bintang masih bisa bersinar dengan terang bila sudah meredup dan bahkan mati sebelumnya?!

Mendesah dalam panjang membuat saya terus bertanya dan bertanya. Mencari jawaban atas semua ini. Mungkin saya tidak akan berhenti untuk terus bertanya meskipun banyak yang jenuh dan bosan juga kesal dan marah atas semua pertanyaan saya. Bagi saya, jawaban adalah pertanyaan baru. Semakin banyak jawaban, semakin banyak pertanyaan yang saya ingin tanyakan dan mungkin ini tidak akan pernah berakhir juga. Biarlah saya terus bertanya. Saya tidak ingin remah itu menjadi tercecer dan disia-siakan.

Seks bagi saya adalah sesuatu yang sangat berharga dan tak ternilai harganya. Sebuah anugerah terbaik yang diberikan oleh-Nya. Yang membuat saya ada sekarang ini dan juga yang membuat kehidupan ini ada sampai saat ini. Juga yang membuat kehidupan akan terus berlanjut sampai pada akhirnya nanti. Seks yang menjadi awal kehidupan ini namun saya tidak ingin seks yang mengakhirinya. Bilapun mungkin itu yang harus terjadi, apakah saya harus tetap berdiam diri dalam pasrah tanpa usaha?! Bagaimana dengan segala penghargaan dan penghormatan itu?! Bagaimana juga dengan mimpi?!

Remah bisa tetap menjadi remah namun remah bukan berarti tidak berharga. Kenapa harus tetap dibiarkan tercecer dan disia-siakan bila justru remah inilah yang bisa menjadikan bintang tetap bersinar dengan terang benderang. Memberikan kehidupan yang lebih baik di kehidupan masa yang akan datang. Mengukir seks pada bintang adalah mimpi dan usaha saya. Saya ingin semua tetap memiliki bintang dan menjadi bintang.

Awan dan kabut boleh menutup dan menyelimuti bintang namun saya percaya bahwa ada matahari di balik sana yang tidak akan berhenti untuk memberikan cahayanya. Ada juga angin berhembus yang bisa mengubah arah dan arus. Kutub dan kubu dapat menjadi sebuah kesatuan yang utuh dan saling mengimbangi tanpa harus saling menarik ataupun mendorong. Toh, semua tetap memiliki muara yang sama. Berpulang saja yang memberikan semua ini. Siapa lagi kalau bukan Sang Maha?!

Berpikir dengan benar dan bertindaklah dengan benar. Berbeda bukan berarti selalu salah. Sama pun bisa lebih menjerumuskan. Mengukir bintang di langit memang tidak mudah. Kerja keras dan kesabaran serta komitmen sangat dibutuhkan. Semua tidak ada yang tidak mungkin. Semua memiliki bintang dan semua adalah bintang biarpun bintang itu setingi langit. Cinta yang sesungguhnya yang bisa membuat semua ini menjadi nyata.

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

16 Mei 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Dari Hati, Jiwa Merdeka, Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Mengukir Seks Pada Bintang di Langit

  1. Pingback: Carving Sex On The Star In The Sky | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s