Membunuh Hasrat Seksual

Illustrasi: abu-satoe.blogspot.com

MEMATIKAN segala keinginan. Melenyapkan semua nafsu dan dorongan yang ada dan terjadi secara otomotis dan alamiah sekalipun. Dibuang dan disingkirkan. Hanya atas nama sebuah dosa.

Pembenaran pemikiran dan sejuta alasan diberikan. Logika diaggap sebagai kunci. Hati menjadi sebuah kewajiban. Asa dan rasa tidak diperhitungkan. Mumbunuh hasrat seksual sama dengan menjadi seorang manusia yang benar-benar “bersih”. Melakukan masturbasi otak dan onani intelektual sendiri di mana orgasmenya pun palsu.

Seorang anak muda yang tinggal di daerah di mana agama terbesar di daerah itu dijadikan sebagai tameng atas perilaku otoriter para pemimpinnya. Agama bukan lagi sebagai sebuah ajaran yang suci tetapi merupakan sarana untuk mendapatkan posisi dan kedudukan politik. Tidak ada yang namanya hak asasi ataupun kebenaran. Yang tinggal hanyalah kewajiban dan kepalsuan belaka. Budaya dan pemikiran masa lampau pun dianggap sebagai sebuah kesalahan. Masyrakat hidup dalam sebuah tirani kegelapan dan pembodohan. Kebenaran mutlak ada di tangan pemimpin. Kalau diperhatikan, ujung-ujungnya juga duit!!! Habis apa lagi?! Biarpun mereka merasa telah berbuat seolah-olah mereka adalah seorang nabi, namun perjuangan nabi yang menentang kebodohan, pikiran palsu dan tirani yang merupakan tanda lain dari kebenaran seorang nabi, tidaklah mereka jalankan. Mereka hanya “merasa” namun tidak dalam arti yang sesungguhnya. Yah, mereka memang hanya manusia biasa, kok!!!

Sejak kecil hingga dewasa, anak muda ini dididik dan didoktrin bahwa dengan memiliki hasrat dan nafsu seksual adalah dosa. Padahal, tidak pernah dijelaskan alasan pastinya. Bahkan urusan anatomi tubuh manusia pun tidak pernah diberikan lewat pendidikan secara formal. Sehingga ketika dia mulai beranjak dewasa dan harus berhadapan dengan kenyataan yang ada, pergulatan besar pun terjadi di dalam diri dan pikirannya. Sayangnya, ketakutan mendominasi. Ditambah lagi dengan fakta dan pengalaman di mana kejahatan seksual terjadi di mana-mana dan dilakukan oleh orang-orang yang selama ini mengaku bahwa dirinya adalah “orang suci”. Timbul pemberontakan yang akhirnya mengarah kepada pemikiran yang sangat ekstrim untuk dirinya sendiri. Dia secara perlahan-lahan membunuh segala hasrat seksual yang dimilikinya yang tanpa disadarinya juga merupakan bentuk dari pembunuhan atas karakter dan pribadinya sendiri.

Dia lalu tumbuh menjadi manusia yang penuh dengan kebohongan dan kemunafikan. Semua yang dilakukannya hanya untuk mengikuti arus lingkungan sekitarnya. Tidak ada lagi yang namanya kepuasan atas apa yang disebut dengan “jati diri” dan “harga diri” yang sesungguhnya. Semuanya hanyalah semu dan palsu.

Bicara soal pembunuhan ini, apa yang membuatnya berbahaya? Saya tidak akan membahas terlalu banyak juga, tetapi kita bisa mengambil contoh nyata yang sering terjadi di masyarakat. Berapa banyak orang yang tadinya disebut sebagai orang baik-baik lalu kemudian berubah drastis menjadi seperti macan yang baru keluar dari dalam kandang? Tidak bisa mengontrol diri dan justru terjerembab ke dalam lembah hitam yang sangat dalam? Buanyak banget, kan?! Tidak peduli usia pula. Bahkan banyak yang justru mengalaminya pada saat mereka seharusnya sudah berada di usia dewasa. Kasarnya, nih, begitu mentok dan frustasi, semua prinsip dan idealisme pun dilabarak habis. Dihancurkan sampai ke akar-akarnya!!! Tidak ada lagi batasan dan larangan. Bandingkan dengan mereka yang sebelumnya pernah menjadi “anak nakal”?

Okelah, mereka kemudian tidak menjadi orang yang seperti itu, tetapi berapa banyak yang pada akhirnya memiliki masalah dan gangguan kesehatan seksual? Mulai dari ejakulasi prematur sampai impotensi permanen dan bahkan menderita berbagai penyakit seperti kanker. Keharmonisan rumah tangga pun terasa semu dan sama sekali jauh dari kata harmonis. Komunikasi yang berdasarkan sebuah kejujuran pun seringkali tidak ada. Soalnya, jangankan bisa jujur terhadap pasangan, terhadap diri sendiripun sudah terbiasa bohong?!

Pada akhirnya, beban menjadi sangat besar. Terasa berat dan sangat melelahkan. Sementara bila dihubungkan lagi dengan seorang nabi yang bekerja sangat keras untuk mendapatkan kesejahteraanya sendiri dan juga untuk mewujudkan kesejahteraan manusia, tidak ada kata beban bagi para nabi. Segala sifat kemanusiaan seorang nabi justru menjadikan mereka sebagai model “manusia sempurna”. Oleh karena itulah, para nabi sangat tepat untuk menjadi panutan yang memiliki kemampuan luar biasa untuk membimbing manusia.

Dalam konteks seksual, kenapa, sih, hasrat seksual itu harus dibunuh? Bukankah itu pemberian dari Tuhan juga? Tidakkah ada keinginan untuk menghargai dan mengapresiasikan semua anugerah itu? Yang diperlukan adalah justru pengendalian diri. Mengontrol bagaimana menyalurkan hasrat seksual itu ke arah yang sehat dan benar. Bila memang takut tidak memiliki pelampiasan, kan, bisa energi yang ada dialihkan ke dalam bentuk yang lebih positif. Olahraga dan berkesenian, misalnya. Menghasilkan sebuah hasil kerja dan karya nyata yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain merupakan sebuah sensasi yang sangat orgasmic. Memberikan kepuasan tersendiri bagi setiap manusia yang melakukannya.

Berbeda dengan orgasme seksual? Tentu saja berbeda!!! Tetapi paling tidak ada kejujuran di sini. Tidak ada penipuan terhadap diri sendiri. Menjadi manusia yang lebih bebas dan tanpa beban. Mampu juga mengontrol diri dan berpikir secara lebih seimbang antara rasio dan perasaan. Menjadikan kita juga seorang manusia yang sehat secara jiwa dan tubuh. Lebih enak, kan?!

Mendidik dan mengajar manusia lain bukan berarti kemudian menjadikan mereka untuk seperti kita. Jadikanlah mereka manusia-manusia yang seutuhnya. Memiliki kepribadian dan karakter yang kuat sehingga mereka menjadi manusia yang tahan atas segala guncangan, terpaan, maupun godaan. Prinsip dan idealisme serta pemikirannya sejalan dengan kejujuran dengan segala perilaku dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak munafik!!! Jujur!!!

Harus saya akui, bahwa tulisan ini adalah bagian dari kemarahan saya atas segala bentuk pembodohan yang terjadi. Namun saya juga sangat berharap bahwa kemarahan saya ini bisa memberikan masukan yang positif bagi mereka yang mau membacanya. Hidup ini terlalu indah hanya untuk dipandang dari sebelah mata.

Salam,

Mariska Lubis

9 Desember 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial, Perubahan, Politik, Sosial dan Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s