Sebuah Masa Bernama Puber

ADA yang masih ingat waktu puber dulu? Nggak mungkin nggak ingat, ya? Pertama kali tumbuh jerawat. Pertama kali lihat ada rambut-rambut halus tumbuh di sekitar ketiak. Kalau pria, suara berubah, perempuan dapat menstruasi. Tapi yang paling diingat, sih, pastinya waktu pertama kali naksir!!! Apa pertama kali nonton film porno, ya?!! Oh nggak, waktu pertama kali nyobain rokok?!!! Hehehe….

Fase perubahan tubuh dari anak-anak menjadi dewasa ini, memang masa-masa yang sungguh luar biasa. Buandelllnya itu, lho!!! Keras kepalanya itu!!!! Sok gedenya itu!!! Nyampur jadi satu dan menjadikan masa puber menjadi masa yang selalu dikenang sepanjang masa.

Masa itu sudah lewat dan sekarang kebanyakan dari kita harus berhadapan dengan anak yang menjelang atau menginjak masa puber. Siap nggak?!!!Angel, seorang teman saya, ketakutan sendiri sewaktu melihat anaknya gadisnya sudah mulai tumbuh payudara. Soalnya, baru kelas empat SD!!! Seingat dan sepengetahuan dia, nggak secepat itu. Nunggu kelas enam atau SMP-lah!!!

Sama juga dengan Ronny. Anaknya yang masih kelas 5 SD sudah jatuh cinta dengan salah seorang gadis cantik di kelasnya. Sudah berani nembak lagi!!! Jadian pula!!!  Bingung campur lega. Bingung karena masih terlalu kecil untuk pacaran, lega karena anaknya dia anggap punya bibit untuk menjadi pria sejati. Seperti bapaknya kali, ya???!!!

Masa puber memang berbeda-beda, kok!!! Faktanya, menurut penelitian, semakin ke sini, semakin cepat. Kalau dulu di usia antara 12 sampai 17 tahun, sekarang di usia antara 9 sampai 15 tahun. Lumayan jauh, bedanya, ya!!! Katanya, sih, di Jepang yang paling drastis perubahannya. Waktu antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1975, di sana, usia puber lebih cepat 11 bulan dalam setiap dekadenya. Wow!!! Cepat banget, ya!!! Untungnya, sekarang sudah mulai berkurang kecepatannya. Lebih slow!!! Kebayang kalau terus-terusan cepat!!! Bisa-bisa anak umur tujuh tahun sudah mens lagi!!!

Pertanyaannya, kok, bisa gitu, ya?! Untuk menjawabnya, sekarang kita bicara fakta hasil penelitian, deh!!! Menurut penelitian, usia puber, 46 persennya dipengaruhi oleh faktor genetik alias keturunan. Jadi, bisa dilihat dari kapan kakek nenek, orang tua, paman dan bibi, seorang anak menjadi puber. Kalau dari atasnya cepat, kemungkinan ke bawahnya, ya, cepat juga.

Faktor lingkungan jelas sangat mempengaruhi. Ada. lho, hasil temuan peneliti yang berhipotesa bahwa anak-anak yang lahir dan besar di daerah pegunungan, pubernya lebih telat dibandingkan dengan anak yang lahir di daerah pantai atau dataran rendah. Tapi, yang paling nyata memberikan pengaruh, sih, tentu saja asupan nutrisi. Kelebihan kalori di dalam tubuh, yang menyebabkan seorang anak memiliki lemak tubuh yang tinggi alias gemuk, terbukti mempercepat masa puber dan masa kesuburan. Sedangkan kalau kekurangan kalsium, justru memperlambat datangnya masa puber. Makanya, jangan gendut-gendut , ah!!! Pas lebih baik daripada berlebih atau kekurangan!!! Soalnya, kalau terlalu cepat atau telat puber, bisa berpengaruh besar terhadap kesehatan anak itu di masa mendatang, lho!!! Ketika mereka sudah dewasa nanti!!!

Ada sebuah teori yang jelas telah terbukti pada hewan ternak, bahwa zat kimia sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan hormon seksual manusia. Besarnya jumlah estrogen dan progestagen dalam produk-produk yang menggunakan kimia, dan tersebar luas baik di laut maupun di darat, terutama di peternakan dan pertanian, terbukti telah mempercepat aktivasi estrogen dan androgen dalam tubuh anak yang mempercepat datangnya masa puber ini. Ada lagi bahan kimia di dalam lingkungan yang sulit dideteksi tetapi sangat berpengaruh dalam memicu estrogen, contohnya saja PCB (polychlorinated biphenyl) dan BPA (bisphenol A) yang banyak digunakan untuk memproduksi plastik, mulai dari botol susu bayi. Ngeri, ya!!!

Hal lain yang berpengaruh besar adalah faktor psikologis. Contohnya saja anak perempuan yang dibesarkan oleh ayah tirinya yang berperilaku kasar dan buruk, akan lebih lama pubernya dibandingkan dengan anak perempuan yang tumbuh dan dibesarkan oleh ayah kandungnya sendiri dan dalam keadaan kondisi rumah tangga yang harmonis. Anak-anak korban bencana atau yang tinggal di pengungsian juga harus diperhatikan. Selain karena tekanan mental yang tinggi, asupan nutrisi mereka juga kurang, sehingga biasanya telat banget pubernya. Hmmm…

Nah, sekarang kita tinggal melihat, memperhitungkan, dan mempertimbangkan kesimpulan dari hasil penelitian di atas. Nggak usah panik atau bingung!!! Lebih baik, mulai sekarang, perhatikan asupan gizi dan nutrisi anak agar seimbang, dan jaga juga agar lingkungan Anda sebisa mungkin tetap sehat. Jaga juga agar kondisi rumah tangga tetap harmonis dan anak selalu merasa senang, bahagia, disayang, dan diperhatikan. Ini akan sangat membantu. Usahakan, ya!!

Salam,

Mariska Lubis

19 okt 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s