Memangnya Lebih Enak Punya Pacar?!

Illustrasi: ebertfest.com

Daripada harus sendirian terus. Memangnya enak sendirian?! Nggak enak banget, deh!!! Pokoknya, lebih baik ada daripada tidak ada sama sekali. Kualitas nomor sekian. Cinta beneran atau bukan, yang penting bercinta. Apa betul ini lebih enak?! Penyesalan biasanya datang belakangan, lho!!!

Banyak sekali teman, rekan, dan juga sahabat saya yang dengan bangganya bercerita telah sekian kali pacaran. Yang sudah pacaran delapan kali pun bilangnya “baru” delapan kali. Soalnya, ada yang sampai sembilan belas kali!!! Waduh!!! Hebat banget!!!! Kok bisa, ya?!

Setelah membahas panjang lebar, ada beberapa hal menarik yang akhirnya membuat saya berpikir tentang semua ini. Menjadi introspeksi untuk diri saya sendiri karena saya sulit sekali untuk jatuh cinta dan pacaran. Kalah jauh, deh, sama yang lainnya. Saya memang sudah pernah menikah dua kali, tapi dua dari tiga pacar itu menjadi suami, meskipun pada akhirnya saya memilih untuk sendiri saja. Lebih enak sendiri dulu, deh!!! Bebas!!! Pacaran nanti dulu!!!

Seorang sahabat menyatakan bahwa ini semua terjadi karena saya termasuk seorang perempuan dungu dan penakut. Kalau ada yang ngajak pacaran suka kabur duluan. Belum dicoba sudah lari, bagaimana bisa tahu rasanya?! Hmmm….

Jadi teringat semasa sekolah dulu. Saya pernah naksir seorang kakak kelas yang ganteng banget di mata saya. Yah, suka-suka gitu, deh!!! Ketahuan sama salah seorang teman yang ternyata dekat dengannya. Dia pun lalu berinisyatif untuk menjodohkan. Giliran si ganteng itu menulis surat cinta, saya malah ketakutan sendiri. Setiap kali harus berhadapan dengannya saya kabur. Saya malu banget!!! Jadi saja, nggak jadian!!! Payah, ya?! Hahaha…..

Bisa jadi, orang yang sulit mendapatkan pasangan disebabkan karena memiliki kriteria-kriteria ideal tertentu. Ada berbagai kriteria yang harus dipenuhi, kalau tidak, lebih baik tidak pacaran atau mencari lagi yang lain.

Kriteria yang paling utama biasanya adalah harus pintar. Nah, pintar apanya sangat tergantung dari setiap pribadi. Apa harus berpendidikan tinggi?! Apa harus minimal seimbang?! Atau bagaimana?!

Ini menjadi menarik karena yang sekolahnya tinggi belum tentu bependidikan. Buktinya, masih banyak orang yang memiliki sederet gelar tapi tidak tahu bagaimana membedakan moral dan etika. Tidak tahu pula sopan, santun, tanggungjawab, dan rasa hormat. Penampilan luarnya saja yang keren, tapi dalamnya, kan, belum tentu?! Lagipula, banyak banget orang yang sebenarnya pintar tetapi karena keterbatasan tidak bisa sekolah tinggi-tinggi. Banyak banget malah!!! Ya, nggak?!

Bila dianggap bisa nyambung pun masih membuat saya bertanya. Apa benar dia nyambung karena memang bisa diajak berdiskusi dan saling memberikan masukan, atau dianggap nyambung karena dia selalu mengiyakan apa yang kita katakan. Menjadi pendengar yang baik dan seolah-olah mengerti serta paham. Kalau digali lebih dalam dan kenal lebih jauh lagi, belum tentu nyambung.

Banyak persamaan juga seringkali menjebak. Bisa saja hanya disama-samain, kan?! Lagipula, kenapa harus sama terus?! Apa enaknya, ya?! Kan, jadinya tidak bisa tukar pikiran dengan melihat sisi pandang yang lain yang berbeda. Bukankah perbedaan itu yang membuat hidup semakin kaya dan berwarna?!

Yang paling membuat saya tidak masuk di akal adalah kriteria dari segi materi. Saya mungkin agak negatif dalam hal ini. Saya masih berpikir bahwa bila saya diberi, maka akan ada yang harus saya berikan. Pada fakta dan kenyataannya, sulit sekali menemukan orang yang benar-benar tulus dan ikhlas. Lebih banyak yang ada udang di balik batunya. Bentuknya bisa macam-macam. Belum tentu kemudian timbal baliknya adalah penyerahan diri di atas tempat tidur, tetapi menjadi boneka dan pajangan saja sudah sangat menghina menurut saya.

Saya jadi ingat perkataan seorang teman pada waktu kuliah saat pacar saya waktu itu menjemput menggunakan mobil Panther. Dia berkata, “Kok, mau dijemput pakai traktor?! Dia nggak menghargai kamu, tuh!!! Biasanya, kan, dia naik mobil yang ini atau yang itu. Mobilnya, kan, banyak banget!!! Jangan mau, dong!!!” Saya sampai bengong sendiri dan tidak bisa berkata apa-apa. Bingung!!! Sudah untung dijemput, jadi saya tidak perlu bawa kendaraan sendiri, masih juga harus pilih-pilih. Ampun!!!

Tidak bisa dipungkiri bahwa segala hadiah dan fasilitas yang diberikan sangat menyenangkan hati, namun harga diri sebaiknya tetap dijaga dan dipertahankan. Apa enaknya jadi pajangan dan boneka yang mendapat pujian bila semua itu hanya untuk memuaskan ego saja?! Apa enaknya diberikan semua itu bila kemudian dianggap sudah ”dibeli”?! Memangnya barang?!

Berdasarkan pengalaman juga, biasanya pria mudah memberikan segala sesuatu yang sifatnya fisik dan materi. Semua itu bisa sangat diusahakan untuk diberikan. Bila yang diminta adalah hati nurani dan kejujuran serta cinta yang tulus apa adanya, nah, itu yang susah banget!!! Biarpun sudah diikat sekalipun, belum tentu semua itu bisa diberikan. Kita sendiri pun belum tentu bisa memberikan semua itu untuknya, kok!!!

Bila kemudian bicara soal masa depan yang menjanjikan, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari?! Dunia ini terus berputar. Hari ini bisa saja punya harta berlimpah, besok lusa siapa yang tahu?! Hari ini seperti memberikan harapan bisa mendapatkan posisi yang tinggi, tapi siapa yang bisa menjamin bahwa semua itu bisa tercapai?! Apapun bisa saja terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin.

Soal tampang dan bentuk tubuh, ini mungkin agak berbeda. Sangat banyak faktor yang mempengaruhi. Sangat personal dan sangat tergantung kepada selera. Ini juga sangat terkait dengan faktor biologis setiap orang di mana daya tarik dan daya pikat sangat berhubungan erat dengan indera, memori, dan juga hormon-hormon yang ada di dalam tubuh kita. Bisa jadi Si A ganteng menurut Si B, tetapi dianggap tidak menarik oleh Si C. Jadi, sangat relatif sekali. Lagipula, menurut saya, pria biasa belum tentu biasa di mata yang penuh dengan cinta. Justru bisa menjadi sangat luar biasa sekali. Makanya suka dibilang cinta itu buta. Iya, nggak?!

Biarpun begitu, memang tak sedikit juga yang memang menjadikan tampang dan bentuk tubuh sebagai bagian dari kriteria pasangan. Siapa juga yang tidak ingin mendapatkan pasangan yang tampak rupawan di mata semua?! Namun apakah wajah rupawan dan tubuh ideal bisa menjamin isi hatinya juga rupawan?! Tidak juga, kan?!

Dalam urusan agama dan keyakinan, banyak juga yang menjadikan ini sebagai sebuah kriteria. “Harus seiman” dianggap berarti harus satu agama atau satu keyakinan, padahal beragama dan berkeyakinan belum tentu berarti beriman. Yah, ini adalah pilihan dan tetap harus dihargai dan dihormati. Hanya saja jangan sampai kemudian menjadi duri dalam daging. Bagi saya, manusia itu dilahirkan tidak berdasarkan agama dan keyakinannya. Manusia itu sama di mata Tuhan. Berapa banyak yang menyesal berpisah dengan belahan jiwa dan kekasih hatinya hanya karena perbedaan agama dan keyakinan?! Menikah dengan yang satu agama dan satu keyakinan tetapi tetap berdusta pada diri sendiri dan juga pasangannya bahwa sebenarnya bukan pasangan hidupnya itulah yang sebenarnya dicintainya. Bukankah kita sebagai manusia harus selalu jujur, ya?!

Bisa jadi juga, seseorang menjadi sulit untuk mendapatkan pasangan karena tidak mudah terjebak dengan manisnya gula-gula dan juga segala macam rayuan. Soalnya memang di dunia ini banyak sekali jebakan mautnya!!! Apalagi di dunia maya. Siapa bisa jadi siapa, deh!!!

Banyak sekali di antara kita yang tertipu dengan penampilan. Kelihatannya saja baik, sholeh, dan penuh dengan kelembutan. Pada fakta dan kenyataannya, berapa banyak yang menggunakan topeng?! Saya sendiri malah paling takut dengan orang yang berpenampilan baik. Banyak yang munafik, sih!!! Saya lebih suka yang apa adanya dan menjadi dirinya sendiri saja. Lebih jujur dan itu lebih menggairahkan!!! Ini menurut saya, lho!!! Kalau memang genit pun, ya, genit saja. Kalau memangnya perayu, ya, perayu saja. Silahkan!!!

Mungkin banyak yang senang bila mendapatkan surat cinta, tetapi tidak berarti juga bisa membuat saya bisa langsung jatuh hati. Klepek-klepek mungkin. Cinta dalam tahap tertentu bisa jadi. Pacar?! Nanti dulu, deh!!! Apalagi kalau dalam bentuk puisi atau essai singkat. Kenapa?! Berdasarkan pengalaman, puisi itu bisa memiliki interpretasi yang berbeda dan yang paling tahu hanya penulisnya. Saya nggak mau ke-geer-an, biarpun dia mengatakan puisi itu untuk saya, kecuali dia bisa menjelaskan setiap kata yang dia tuliskan itu dengan jelas alasan, arti, dan maknanya. Dari situ baru bisa jelas kelihatan apakah memang benar tulisan itu untuk saya atau bukan.

Sebuah lagu pernah dibuat sebagai rayuan yang sangat menggoda. Apalagi lagu itu kemudian masuk ke dalam papan lagu terpopuler saat itu. Awalnya tentu saja berbunga-bunga, tetapi kemudian setelah saya baca dan perhatikan liriknya, wah, ada yang nggak beres!!! Lagu itu sangat menunjukkan egonya untuk bisa menjadi ”pemenang” dalam pertandingan. Memangnya saya piala yang diperebutkan?! Nggak bisa!!! Mungkin bagi yang lain ini semua membanggakan, tapi buat saya justru kebalikannya. Saya merasa terhina bila saya dijadikan piala. Nanti kalau sudah jadi pemenangnya, lalu mau apa lagi?! Bertanding lagi?! No way, jose!!!

Kesimpulan dari pembahasan ini, memiliki tidak memiliki kriteria bukan jaminan mudah tidaknya seseorang mendapatkan pacar. Tidak juga membuat seseorang menjadi bahagia dengan memiliki pacar. Seseorang bisa mudah mendapatkan pacar karena memang mudah jatuh cinta saja meskipun belum tentu juga itu adalah cinta yang sesungguhnya. Kalau memang cinta yang sesungguhnya, pasti serius dan tidak mudah untuk melupakan begitu saja. Sulit untuk pindah dari satu ke yang lainnya. Bisa juga karena memang untuk memenuhi ego dan kebutuhan saja. Memang bisa memuaskan, sih, ya?!

Sedangkan untuk saya sendiri, sepertinya saya memang perempuan dungu dalam hal pacaran. Saya sekarang ini hanya mau pacaran dengan yang memang benar-benar kekasih hati saya saja. Biarpun sebagai seorang perempuan, saya tetap membutuhkan “pria” yang bukan seorang laki-laki, seorang pemberani yang bukan pengecut, dan seorang yang memiliki cinta dan penuh dengan cinta yang tulus dan apa adanya. Itupun kalau ketemu!!! Kalau nggak, ya, sudahlah!!! Berdasarkan pengalaman, saya tidak mau buang waktu dan tenaga untuk hal-hal yang tidak berguna, Masih banyak yang lebih penting yang harus saya lakukan. Prioritas adalah yang utama. Lebih enak nggak punya pacar daripada menjadi tidak jujur. Lebih bahagia!!!

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

Catatan:

Ini juga sekalian pemberitahuan kalau kata “cinta” dan “sayang” jangan selalu diartikan cinta dan sayang sebagai pacar. Jangan salah baca, ya!!!

10 Juli 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Memangnya Lebih Enak Punya Pacar?!

  1. antee says:

    saya jg termasuk org yg bodoh itu mbak…tdk pernah pacaran dan susah jatuh cinta…klu ada yg suka atau menyukai….saya ambil langkah seribuuu…kabooorrr…kok bisa gituu yaa..

    • bilikml says:

      Yah itu biasanya karena doktrin psikologis atau trauma serta pendidikan sejak masih kecil. Memang tidak mudah, apalagi jika berkaitan erat dengan rasa percaya diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s