Lima Menit Untuk Bercinta

Illustrasi: hooversbiz.com

“Mungkin diri ini tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu seperti yang seharusnya bisa dilakukan. Tidak bisa memelukmu sesering yang dirimu inginkan. Bahkan seringkali tidak bisa menemani saat dirimu sedang susah, sendiri, sepi  dan menangis. Tidak juga berucap sayang ataupun cinta dan tidak juga mengambil kesempatan untuk berada pada saat-saat penting untukmu. Seringkali melupakan hal-hal yang kecil yang berharga bagimu. Namun ini semua tidak berarti dirimu tidak ada. Dirimu selalu ada di dalam hati. Setiap saat dan setiap waktu dirimu selalu hadir.”

Yah, sayangnya itu biasanya baru disadari bila dia sudah capek, jenuh, dan pergi. Kata-kata yang terurai sebegitu indahnya pun bisa menjadi tidak berarti lagi. Hanya menjadi sebuah penyesalan atas apa yang pernah dilakukan karena baru sadar betapa indahnya bila perpisahan itu tidak harus terjadi. Paling-paling kemudian keluar kata maaf dan memohon agar diberi kesempatan kedua untuk bisa menjadi yang lebih baik lagi. Beruntung bila memang kesempatan itu diberikan, kalau tidak?!

Malah bisa jadi juga kepergiaannya adalah sebuah kebetulan. Kenapa tidak mungkin?! Mungkin, kan, kalau memang selama ini juga merasakan hal yang sama dan sama-sama sudah capek juga jenuh.. Sama-sama sudah kehilangan rasa dan sama-sama sudah tidak memiliki lagi keinginan untuk bersama. Bila memang cinta itu sudah tidak ada sudah bukan masalah. Cinta bisa saja tetap ada tetapi sama-sama tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa bersama. Jauh dan berpisah tidak selalu berarti tidak cinta bukan?!

Semua ini pasti sering dirasakan dan sering terjadi. Bukan hanya pada satu dua pasangan saja. Sepertinya sudah menjadi sebuah problema umum yang abadi sepanjang masa. Yang satu merasa tersisihkan sementara yang satu lagi merasa tidak pernah merasa melakukannya. Tidak juga kemudian dibicarakan, sampai kemudian meledak begitu saja. Membuat semuanya menjadi kacau balau tak karuan, padahal mungkin seharusnya tidak pernah terjadi bila saja semuanya dibicarakan dari semula.

Nampaknya seperti ada perbedaan antara keinginan pria dan perempuan di dalam bercinta. Menurut saya tidak juga. Sama saja antara pria dan perempuan. Sama-sama ingin diperhatikan, sama-sama ingin dimanja, sama-sama selalu ingin dicintai. Jangan dikira pria tidak suka dimanja dan dibelai. Mereka memang suka ”sok gengsi” dan malu-malu, padahal senang banget kalau dipeluk dan dicium serta diperlakukan seperti seorang lelaki manja biarpun berbadan besar dan tukang berkelahi sekalipun. Ngaku, ayo?!

Intensitas perhatian, perlakuaan manja, dan juga cinta tidak juga ada perbedaan. Pria dan perempuan sama-sama selalu membutuhkannya. Hanya saja mungkin karena pria lebih banyak bekerja dan berada di luar rumah sehingga nampaknya demikian. Sementara perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan mungkin memiliki lebih banyak waktu luang sehingga lebih sering merasa sepi dan sendiri. Coba, deh, perhatikan kalau sedang cuti atau libur di rumah. Apalagi kalau sakit! Hmmm….

Yang membedakan adalah bentuknya saja. Pria cenderung lebih memperhatikan hal-hal yang besar dan sering meremehkan hal-hal yang dianggap tidak terlalu penting. Sementara perempuan lebih memperhatikan detail sampai sering melupakan hal-hal yang besar. Ulang tahun dan anniversary sering dilupakan pria, karena mungkin itu bukan hari yang besar dan sepertinya tidak penting juga mengingat tanggal hari-hari itu. Sedangkan perempuan kebalikannya. Ulang tahun dan anniversary menjadi sangat penting karena di dalam ingatannya selalu ada yang istimewa pada hari-hari itu. Jadilah kemudian gara-gara ulang tahun dan anniversary, keributan sering terjadi. Berapa banyak yang pernah mengalaminya?! Berapa banyak pria yang mendapat pujian dan sanjungan bila selalu mengingat hari-hari itu?!

Satu hal yang paling sering menjadi biang keributan adalah karena pria merasa sudah terlalu capek dan lelah bekerja. Minta untuk dimengerti dan dipahami sehingga merasa tidak perlu lagi untuk diganggu oleh hal-hal urusan yang lain. Sementara perempuan juga sebenarnya merasa capek dan lelah atas kejenuhan rutinitas yang harus dilakukannya. Ingin juga bisa berkeluh kesah dan mendapat tempat untuk berlabuh dan bersandar. Memiliki tempat untuk bisa merasakan ketenangan dan kenyamanan di dalam hangatnya pelukan.

Sebaiknya diingat oleh para pria bahwa biar bagaimanapun, sekuat dan setegar apapun perempuan, semandiri-mandirinya perempuan, mereka tetap membutuhkan seorang pria. Saya katakan seorang pria karena perempuan tidak membutuhkan laki-laki yang masih belum dewasa dan egois dalam bersikap. Perempuan membutuhkan sosok yang bisa memberikannya tuntunan dan arahan. Seseorang yang matang dan bisa membantunya untuk memberikan solusi serta menjawab semua pertanyaannya.

Perlu juga diingat oleh para perempuan bahwa bagaimanapun sekuat dan setegar apapun pria, sehebat-hebatnya pria, mereka tetap membutuhkan seorang ibu. Saya katakan seorang ibu karena pria membutuhkan perempuan yang bisa membantunya menjalani kehidupan dengan lebih nyaman dan teratur. Seorang perempuan yang bisa selalu memberinya cinta dan kasih sayang yang penuh dengan kelembutan. Biar bagaimanapun, sentuhan seorang ibu lebih dari segalanya bagi mereka.

Inti dari semua ini adalah komunikasi dua arah yang harus selalu terjalin dengan baik. Jangan sampai harus pernah ada rasa takut untuk bercerita tetapi seharusnya selalu ada keinginan untuk menceritakan semuanya dengan kejujuran. Jangan sampai juga pernah ada rasa ataupun pikiran bahwa “seharusnya dia tahu”. Siapa yang bisa menebak isi hati dan pikiran seseorang yang lain bila tidak diutarakan. Salah duga dan salah tebak bisa menjadi masalah baru lagi.

Apa susahnya menjaga romantisme di dalam bercinta bersama pasangan bila memang ingin cinta itu selalu hangat?! Apa sulitnya saling berucap mesra bersama pasangan bila memang ingin selalu ada kemesraan di antara bersama?! Terlalu sulitkah untuk meluangkan waktu lima menit saja setiap harinya untuk bicara tentang berdua?! Tidak adakah waktu bahkan lima menit saja setiap hari untuk saling berucap cinta?! Tidak punyakah waktu bahkan lima menit saja setiap hari untuk bisa saling melepas kerinduan?!

Di mana ada keinginan dan kemauan, semua bisa dilakukan. Bila juga memang benar ada cinta semua ini bisa dilakukan. Semuanya bisa dilakukan bila memang selalu ada kerinduan dan selalu ingin bersama. Mimpi terlalu indah untuk tidak diiwujudkan dan menjadi nyata. Bilapun memang sudah tidak memiliki semua ini, lebih baik diutarakan saja. Menyimpan semua dusta dan kebohongan hanya karena takut menyakiti justru akan lebih menyakitkan bila tidak diungkapkan. Selesaikan masalah jangan membuat masalah semakin berlarut-larut.

Coba, ya!!! Lima menit saja setiap hari!!! Lima menit!!!

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

12 Juli 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s