Cinta Seorang Perempuan Tak Berarti

Illustrasi: askville.amazon.com

Waktu berjalan dengan sedemikian cepatnya dan tanpa terasa sudah banyak sekali yang terlampaui dan dilalui. Meskipun demikian, entah mengapa sepertinya sulit sekali untuk bisa mengerti dan memahami apa yang sebenarnya diinginkan. Semua yang dilakukan sepertinya salah dan tidak berarti apa-apa. Bahkan malah justru membuat semuanya berantakan. Mungkin memang demikianlah yang terjadi bila cinta itu datang dari seorang perempuan yang memang tak pernah berarti.

Adalah sebuah keinginan yang besar untuk bisa memberikan dan melakukan sesuatu setiap kali teringat dengan keadaan orang yang sangat dicintai. Meski seringkali juga bingung apa yang bisa diberikan mengingat segala batas dan keterbatasan yang ada. Usaha juga diusahakan tetapi tetap saja, seringkali rasa itu bercampur aduk sehingga kemudian menjadi tidak tahu lagi.

Seorang perempuan mendesah dalam dan panjang. Dia sangat mencintai seorang pria. Ya, seorang pria yang di mata dan hatinya adalah seorang pria penuh dengan pesona cinta. Pria yang meski merasa biasa tetapi selalu luar biasa baginya. Pria yang memang seorang pria.

Berbeda jauh sekali dengan dirinya sendiri. Dia hanyalah seorang perempuan pengumpul remah yang tidak pernah berarti. Meski segala sesuatunya tampak indah di luar tetapi tidak demikian yang sebenarnya. Dia bukanlah siapa-siapa. Dia bahkan tidak pernah tahu dan mengerti apa itu cinta yang sesungguhnya.

Masa lalu tidaklah seharusnya menjadi sebuah momok yang menghambat laju kehidupan namun sulit sekali untuk bisa melepaskan masa lalu apalagi jika semua itulah yang telah membentuk dan menjadikan diri. Menjadi berbeda sudah bukan lagi hal yang aneh tetapi sudah seperti demikian adanya. Tidak ada yang harus ditutupi karena memang demikianlah adanya.

“Banyak yang tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hanya merekalah yang pernah menjadi saksi dan menyaksikan semuanya itu yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka pun tidak tahu harus berbuat apa karena mereka sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan.”

Perbedaan itu bukan hanya dalam bentuk pemikiran dan cara pandang. Disadarinya penuh dan bahkan juga memang sudah dibuktikan dan terbukti bahwa masalah kontrol emosi sulit sekali untuk bisa disembuhkan. Menderita bipolar disorientation sangatlah tidak mudah dan tidak mudah juga untuk mengakuinya. Sebiasa dan sekecil apapun bisa menjadi sangat luar biasa dan besar sekali. Sedih itu menjadi luka yang teramat dalam. Senang itu menjadi sebuah gairah yang melonjak-lonjak. Rasa bersalah pun menjadi sakit yang terus mendera. Isak dan tangis karena sedih dan bahagia adalah bagian dari kesehariannya.

Banyak yang menduganya memiliki kelainan kejiwaan, hanya sedikit yang mau mengerti dan paham bahwa semua itu hanyalah masalah emosi. Berbagai usaha dilakukannya tetapi sulit sekali untuk bisa mengatasinya. Sadar dan menyadari akan hal ini, dia pun tidak pernah bisa terlalu banyak berharap. Tidak mudah untuk bisa mendapatkan cinta karena setiap orang memiliki batas dan keterbatasan masing-masing.

“Sudah biasa bila menjadi yang tersisih dan disingkirkan. Sudah biasa juga menjadi yang dicaci maki dan dihina. Semua itu bisa saja membuat diri tenggelam tetapi untuk apa?! Saya ingin bisa membuktikan kepada semua bahwa biar bagaimanapun saya bisa bangkit dan berdiri sendiri.”

Tidak mudah juga baginya untuk bisa menjelaskan dan mengeluarkan apa yang sebenarnya terjadi ataupun dirasakan olehnya. Dia sangat tertutup meski di luar tampak sangat terbuka sekali. Hanya sedikit sekali orang yang bisa diajaknya bicara ataupun mau dijadikannya tempat untuk bicara. Dia terlalu takut untuk tidak dipercaya ataupun dianggap terlalu aneh dan berlebihan. Hanya lewat menulis dan menggambarlah dia mengungkapkan semuanya.

Demikian juga halnya dengan rasa cintanya terhadap pria penuh pesona cinta ini. Pertanyaan demi pertanyaan terus saja muncul di dalam hati dan juga benaknya. Ingin sekali rasanya membenarkan suara yang ada di dalam hati ini tetapi semua itu bukanlah sebuah kepastian. Pembenaran bisa saja ada dan itulah yang membuat semuanya semakin membingungkan. Tidak mudah berada di dalam ketidakpastian.

“Saya sendiri sebenarnya tidak pernah tahu apakah dia memang benar mencintai saya atau tidak. Saya memang merasakan cintanya namun saya berusaha sekali untuk tetap sadar diri. Saya tidak ingin berharap lebih dari apa yang ada. Mungkin bukan cinta seperti sepasang kekasih yang diberikan olehnya, cinta itu hanyalah sebatas seorang teman dan sahabat saja.”

Apalagi bila kesalahan itu memang tidak pernah dimaafkan ataupun dihapuskan. Sekali adalah jumlah yang sangat cukup untuk terus menjadi sebuah ingatan yang selalu ada. Tidak juga pernah dilihat apa yang sebenarnya sudah dilakukan dan seberapa besar sebenarnya usaha yang diupayakan. Penghargaan bukanlah yang dicari namun pengertian.

Hingga kemudian bila kesalahan berikutnya terjadi, semuanya semakin terasa tidak enak dan tidak nyaman lagi. Meski juga sebenarnya itu merupakan bagian dari upaya dan usaha untuk bisa memberikan yang terbaik. Ya, semua memang memiliki batas dan keterbatasan. Sanggup tidak sanggup bukanlah yang menjadi alasan tetapi keinginan dan kemauan serta usaha dan kerja keras. Tidakkah itu berarti sama sekali?!

Bisa saja seharusnya semua ini tidak perlu dibesar-besarkan. Anggaplah semua ini biasa terjadi namun tidak semua bisa demikian apalagi untuknya. Dia merasa takut sekali. Dia takut kehilangan pria yang sangat dicintainya itu meski juga sadar dan tahu bahwa dia tidak mungkin bisa memilikinya. Siapa yang bisa bertahan untuk bisa mencintai seorang perempuan tak berarti seperti demikian?!

Rasanya ingin sekali menangis bila sedang dalam keadaan seperti ini. Hati kacau balau tak karuan. Pikiran pun sepertinya menjadi kaku dan beku. Mau melakukan apa pun tidak tahu. Menyapa pun segan. Rasa takut itu selalu menghantui dan rasa bersalah itu terus saja mendera. Apalagi bila dia pun menjadi dingin dan kaku. Semuanya terasa sangat tidak enak sama sekali.”

Mengemis dan mengharapkan cinta bukanlah dirinya sama sekali tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa selalu ada keinginan untuk bisa memiliki cinta. Cinta yang memang sesungguhnya dan memang diberikan untuknya. Rasa itu mungkin seharusnya tidak pernah ada karena memang tidak perlu ada yang diharapkan.

Barangkali juga memang selama ini diri sendirilah yang terlalu banyak berharap dan meminta bahkan memaksa. Tidak juga memiliki pengertian dan juga pemahaman. Terlalu egois dan terlalu juga banyak menuntut sementara itu, memang sebenarnya tidak perlu ada yang harus diharapkan. Cinta itu membebaskan bukan?!”

Pikirannya menerawang terus dan terus seolah tidak pernah berhenti. Di dalam gelisah dan gundah gulana, semua itu semakin menjadi.

“Seandainya saja dirimu tahu apa yang ingin dilakukan dan apa yang telah dilakukan untukmu….”

“Seandainya saja dirimu tahu bagaimana keadaan diri yang sebenarnya dan apa yang terjadi serta apa yang dijalani setiap hari….”

“Seandainya saja dirimu tahu betapa besar cinta yang ingin diberikan untukmu….”

“Seandainya saja dirimu bisa melihat semuanya tidak hanya dengan hati ataupun hanya lewat angin….”

“Seandainya saja saya diberikan kesempatan untuk bisa memperbaikinya….”

“Seandainya saja dirimu masih memiliki cinta untuk saya….”

“Seandainya saja saya bisa merasa yakin bahwa dirimu baik-baik saja selalu….”

Ah! Seandainya dan seandainya lagi. Kenapa harus selalu seandainya?! Berandai-andai dan terus bermimpi tetapi tidak juga mau turun dari langit dan kembali kepada fakta dan kenyataan yang ada. Mencoba untuk menerima segalanya dengan besar hati dan lapang dada. Semua adalah apa yang ada di dalam pikiran kita sendiri.”

Sungguh semua ini membuat saya bercermin dan seolah melihat diri sendiri. Apa yang akan saya lakukan bila saya adalah dirinya?! Apa yang harus saya lakukan?!

Sepertinya tidak perlu ada yang harus dilakukan selain menjalani segala semuanya dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Masa depan siapa yang pernah tahu?! Selalu berusaha untuk bisa memberikan yang terbaik tanpa pernah berharap adalah sebuah kenikmatan dan kebahagiaan sendiri. Mencoba untuk tulus dan ikhlas bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.

Cinta adalah cinta dan cinta adalah segalanya. Sendiri kita memang sendiri dan biar bagaimanapun kita adalah kita sendiri juga. Cinta akan datang dengan sendirinya dan semua tergantung bagaimana kita mau merasakannya. Memberi jauh lebih indah dan menyenangkan dibandingkan bila harus menerima sesuatu yang dipaksakan. Berbeda pun bukan berarti tidak benar dan salah. Menjadi diri sendiri sungguh diperlukan sebuah keberanian. Kehidupan ini tidak memiliki batas meski waktu menentukan.

“Entahlah apa semua ini masih bisa berarti. Saya cinta dia dan saya akan selalu mencintainya.”

Semoga bermanfaat.

 

Salam hangat penuh cinta selalu,

 

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s