Bermain Cinta Dengan Logika

Illustrasi: sodahead.com

MASIH ada yang ingat dengan pelajaran Logika sewaktu masih SMA dulu? Itu, lho, yang banyak suka disuruh memilih pernyataan A benar, pernyataan B juga benar, pernyataan A dan B berhubungan, atau kedua pernyataan salah, atau masih banyak pilihan lagi. Ingat, kan? Kita bermain, yuk!

Sebelum dimulai, saya memakai asumsi dulu, nih! Asumsinya adalah semua pembaca memiliki ilmu dan kecakapan dalam hal menalar serta berpikir dengan tepat. Maksudnya berpikir di sini yaitu melakukan sebuah kegiatan dengan menggunakan akal untuk mengolah pegetahuan yang diterima lewat panca indera untuk mencapai suatu kebenaran. Ruwet, ya? Nggaklah, ya?! Masa berpikir saja susah?!

Kenapa saya mengajak memainkan permainan ini? Pastinya banyak yang ingin tahu, dong! Soalnya, semua manusia yang berpikir pasti inginnya mendapat kebenaran dan bahkan sedapat mungkin pasti. Biarpun pada kenyataannya, hasil dari pemikiran yang berupa kesimpulan dan alasan-alasan yang ada belum tentu benar, tetapi tetap saja, kan, maunya yang benar. Habis, benar itu, kan, harus sesuai dengan kenyataan. Yang kalau dipikirkan, sesuai dengan realita yang ada. Kalau nggak cocok, pasti dibilang salah.

Contohnya, nih, ya, bagaimana kalau saya bilang, “Semua itu terjadi karena cinta.” Padahal, pada kenyataannya, tidak ada cinta, tuh! Jadi, saya salah alias tidak benar. Biarpun saya yakin seratus persen, tetapi kenyataannya, tidak begitu. Toh, realitanya, tidak ada cinta di sana. Gimana, dong?!

Sebenarnya, sih, ada cara untuk menguji kebenaran suatu pemikiran. Pakai empat pertanyaan saja sudah cukup, kok! Pakai contoh lagi, deh, ya, biar lebih gampang.

Seorang perempuan muda cantik dan seksi memberikan Anda perhatian. Teman Anda kemudian bilang, “Eh, dia lagi naksir kamu, lho!”. Anda mulai belingsatan, “Saya ditaksir dia, euy!”. Artinya, seorang perempuan muda cantik dan seksi yang memberikan perhatian itu naksir sama Anda. Betul nggak?

Apa pokok pernyataannya? Kesimpulannya, maksudnya. Dia = naksir.

Apa alasannya? Dia = memberi perhatian.

Hubungannya? Soalnya, dia memberi perhatian, makanya dia dibilang naksir. Barang siapa yang memberi perhatian, dia pasti naksir.

Benar nggak, ya? Lihat dari hubungannya, deh! Hubungan yang terjadi antara memberi perhatian dan naksir masih bersifat implisit, tidak terang-terangan. Kalau kesimpulannya masih diragukan, balik lagi ke pertanyaan, apakah benar dia naksir? Apakah benar dengan dia memberi perhatian berarti dia naksir? Belum tentu, kan?! Tergantung perhatiannya seperti apa dulu? Kalau dia memberi perhatiannya dengan cara mengirimkan surat pernyataan cinta, ya, berarti dia betul-betul naksir. Jika tidak, ya, belum pasti, dong!

Masih bingungkah? Hehehe… Satu contoh lagi, nih!!!

Pasangan saya tertidur pulas setiap kali habis bercinta. Kalau sudah orgasme, tidurnya pasti pulas. Berarti pasangan saya, setiap kali bercinta, mencapai orgasme, dong?! Pastinyalah, ya!!!

Nah, ini dia!!! Tolong bedakan dulu, ya, mana kepastian subjektif dan mana yang objektif. Kepastian subjektif hanya berdasarkan perasaan saja. Perasaan adalah benar bahwa pasangan Anda sudah orgasme karena tertidur pulas sesudahnya. Sementara kepastian yang objektif adalah berdasarkan fakta. Pasangan saya benar-benar telah mencapai orgasme sampai tertidur pulas sesudahnya. Jadi, kalau masih subjektif, masih belum pasti!!!

Masalahnya, alasan dari kesimpulan itu belum kuat. Dari mana Anda tahu kalau dia tertidur pulas karena orgasme? Bisa saja, kan, karena dia capek?! Bisa juga karena dia takut harus melayani Anda pada ronde berikutnya. Siapa yang tahu?

Kita memang sering banget mengajukan pernyataan atau pendapat. Sayangnya, sering tidak bisa dibuktikan atau didukung dengan alasan-alasan yang tepat. Sudah merasa yakin duluan, sih!!! Padahal, belum tentu benar juga!!! Memang benar ada banyak juga hal-hal yang tidak bisa dibuktikan dengan fakta atau kenyataan, dan hanya bisa dibuktikan lewat sebuah pemikiran. Tapi, biar lebih bisa memastikan benar atau salahnya, coba, deh, pakai langkah-langkah dan alasan-alasan yang eksplisit. Jangan implisit melulu!!! Jadi nggak jelas benar atau salahnya!!!

Tulisan ini sengaja saya buat bagi mereka yang selalu ingin menggunakan logika dalam berpikir. Yang merasa tidak logis kalau tidak berpikir secara logika. Merasa kurang pintar, gitu, lho!!! Nggak apa-apa juga. Saya cuma ingin berpikir logisnya bukan hanya di bidang politik atau segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan saja, tetapi juga dalam kehidupan bercinta dan berumah tangga. Apa betul pemikiran Anda sudah logis? Apa betul Anda sudah menggunakan logika? Apakah kesimpulan Anda sudah tepat?

Selamat berpikir!!!

Salam,

Mariska Lubis

3 Desember 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s