Manusia dan Para Binatang

Illustrasi; google search

Sama-sama makhluk hidup ciptaan Tuhan namun memiliki jenis spesies yang berbeda. Memiliki kepadaian yang berbeda juga?! Belum tentu!!! Bagaimana dengan hati?! Berbeda jugakah?! Apakah binatang tidak memiliki etika dan moral juga?! Apa kita pantas disamakan dengan binatang?!

Bicara soal persamaan dan perbedaan antara manusia dan binatang tidak akan ada pernah habisnya. Selalu saja ada yang membedakannya tapi tak sedikit juga yang menjadikannya sama. Meskipun sudah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk tertinggi dan termulia yang diciptakan oleh-Nya. Namun mengapa ada saja yang sulit dibedakan antara manusia dan binatang. Coba baca artikel yang satu ini:”kala-anjing-dan-manusia-saling-menjadi“.

Anjing sebagai salah satu jenis binatang seringkali dianggap sebagai makhluk yang sangat menjijikkan. Namun harus diakui bahwa anjing adalah sahabat manusia yang paling setia. Menemani tuannya dalam suka dan duka. Tidak peduli siksaan ataupun kekerasan yang dilakukan oleh tuannya kepadanya, dia tetap setia. Dia seperti memiliki kewajiban moral dan juga etika untuk hormat terhadap yang telah mengurus dan merawatnya. Bisa juga sebagai ucapan dan balas jasa serta terima kasih atas apa yang telah diterimanya. Sementara manusia yang menjadi tuannya, apakah juga memiliki rasa hormat terhadap binatang yang dipeliharanya itu?! Menjadikan mereka seperti manusia bukan berarti sebuah penghormatan, namun menurut saya, justru sebuah pelecehan. Anjing tetaplah anjing. Kenapa tidak dihormati sebagai makhluk ciptaan-Nya yang berwujud sebagai anjing sebagaimana mestinya. Begitu juga sebaliknya. Menjadikan manusia seperti binatang juga tentu saja sangat melecehkan. Melecehkan manusia dan juga binatang itu sendiri. Namun tetap saja terus dilakukan. Bukankah sebagai manusia seharusnya bisa memahami ini lebih baik?! Kan, lebih bermoral dan tahu etika, katanya?!

Penghormatan yang biasa dilakukan oleh manusia terhadap binatang biasanya bersifat sangat religius. Bisa kita lihat dari berbagai simbol pada huruf dan aksara Mesir yang melukiskan bahwa mereka memberikan penghormatan yang tinggi terhadap kucing, anjing, dan beberapa jenis binatang lainnya. Namun hanya tertentu saja. Tidak semuanya. Kenapa tidak semua?! Itu menjadi tanda tanya besar bagi saya. Apakah ini juga merupakan salah satu bentuk rasisme?! Rasisme terhadap manusia, yang jelas-jelas satu spesies saja ada, apalagi terhadap binatang, ya?! Apakah ini bisa menjadikan manusia disebut sebagai yang bermoral, beretika, dan beradab?!

Ada perdebatan soal kewajiban moral terhadap binatang. Sebagian bilang manusia tidak memiliki kewajiban moral apapun terhadap binatang. Sementara sebagian lagi bilang jelas memiliki kewajiban moral. Seperti perdebatan antara Spinoza dan Descartes dengan Voltaire dan Kant. Bahkan ada juga pendapat ekstrim yang mengatakan bahwa bila memiliki moral terhadap manusia dengan kulit warna tertentu berarti juga harus memiliki kewajiban yang sama terhadap binatang. Begitu juga dengan mereka yang mengatakan bahwa manusia yang memiliki keyakinan berbeda tidak pantas untuk mendapatkan posisi yang sama dan setara. Rasis banget, nggak, sih?! Gila banget, deh!!!

Kanibalisme adalah hal yang dianggap biasa dan boleh dilakukan oleh binatang. Manusia tidak melakukan kanibalisme terhadap sesama manusia yang telah menjadi jasad merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap sesama manusia lainnya. Namun bagi saya, kanibalisme bisa juga diterjemahkan dalam artian yang lebih luas. Manusia tidak memakan langsung manusia lainnya tetapi membuatnya tak berjawa dan memakan jiwa manusia lainnya bagi saya sama dengan kanibalisme. Apa bedanya bila manusia “memakan” anak kandungnya sendiri untuk dijadikan pelampiasan hawa nafsunya?! Bagaimana juga bila manusia “memakan” manusia lainnya untuk dijadikan sarana pemuas haus dan dahaga kebutuhan biologis seksualnya?! Bagaimana pula jika manusia “memakan” manusia lainnya demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari?! Hanya untuk memuaskan kebutuhan duniawinya?! Harta, kekuasaan, posisi serta kedudukan di mata manusia lainnya. Pantaskah bila saya menyemakannya dengan kanibalisme?! Memiliki moral etikakah bila jika ada manusia yang demikian?!

Binatang memiliki hasrat seksual sama seperti manusia. Mereka pun melakukan aktivitas seks sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari. Berbagai ritual pun dilakukan oleh mereka baik dengan pasangannya maupun dengan sesama jenisnya yang lain. Diketahui bahwa ada lebih dari 15 ribu jenis binatang yang merupakan jenis binatang berkelompok dan sosial, melakukan beragam jenis kegiatan seksual. Poligami dan poliandri adalah juga salah satu bentuk kegiatan seksual yang biasa mereka lakukan. Sudah pernah saya tuliskan lebih detail tentang yang satu ini di dalam artikel saya yang berjudul “Perilaku Seksual Binatang“. Buaya mungkin tidak termasuk. Buaya hanya memiliki satu pasangan tetap seumur hidupnya. Tidak pernah berganti-ganti. Berbeda dengan buaya yang lain, ya?! Yang hidup di darat tentunya. Ini juga yang membuat saya heran kenapa sampai ada “Buaya Darat“. Apa karena buaya lebih bermoral dan memiliki etika?! Memiliki hati yang lebih tulus dan suci sehingga mengerti arti cinta yang sesungguhnya?! Padahal, otak mereka bila dibandingkan dengan otak manusia, jauh banget. Cuma sebesar kacang tanah, kok!!!

Bicara tentang naluri binatang, bisa kita lihat dari perilaku seksual mereka juga. Mereka bisa juga terangsang birahinya manakala melihat binatang sejenisnya atau binatang jenis yang lain dan juga manusia bila sedang melakukan hubungan seksual. Manusia juga banyak yang sama, kan? Menjadi terangsang juga bila melihat manusia lainnya melakukan hubungan seksual. Bahkan ada yang sangat ekstrim, sampai melakukan hubungan seksual dengan binatang atau dalam istilah psikologinya disebut “Zoophilia“. Bisa membuat manusia lain juga merasa terangsang saat menyaksikannya walaupun tidak mau melakukannya dengan binatang. Apakah ini yang kemudian menjadikan manusia disamakan dengan binatang?! Bila dipelajari lebih jauh lagi, binatang hanya bisa menjadi terangsang birahinya bila memang pada musim dan waktunya. Tidak setiap saat mereka bisa merasakannya. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Bagaimana dengan manusia?! Setiap saat pun bila ada kesempatan tentu saja bisa!!! Jadi, bagaimana, dong?!

Saya, sih, tegas saja dalam hal ini. Saya tidak ragu, tidak bimbang, apalagi bingung. Saya adalah manusia. Saya tidak mau disamakan dengan binatang. Saya memiliki  anugerah sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Rasa hormat sepenuhnya saya berikan kepada semua yang diciptakan oleh-Nya tanpa terkecuali. Saya memiliki kewajiban moral terhadap semua yang diciptakan oleh-Nya tanpa pengecualian. Saya berusaha keras untuk memikirkan dan melakukan kegiatan seksual yang benar dan sehat. Memiliki pandangan yang benar terhadap seks itu sendiri. Semua ini tidak lebih dan tidak juga kurang karena sudah merupakan kewajiban saya terhadap Sang Pencipta yang menjadikan keberadaan saya di bumi ini. Sekali lagi, saya tidak mau disamakan dengan binatang!!! Saya bukan binatang!!! Entah bagaimana dengan yang lain?! Maukah?!

Jangan hanya sekedar menjawab, ya!!! Buktikan saja!!!

Semoga Bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

2 Maret 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s