Bercerai atau Bertahan?

Illustrasi: spogmai.net

DILEMA dalam kehidupan berumah tangga. Dipertahankan juga susah, bercerai pun bingung. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan. Buanyak buanget malah!!!

Seorang teman sekarang ini sedang berada di dalam posisi kebingungan. Rumah tangganya bisa dibilang berantakan walaupun kelihatannya baik-baik saja. Mengingat faktor agama yang dianutnya serta persepsi atas pandangan keluarga dan orang lain, perceraian sebisa mungkin dihindarinya. Padahal, dia sudah pernah memergoki suaminya berselingkuh. Tidak hanya satu kali, lho!!! Anak-anaknya pun tidak merasa nyaman dengan bapaknya yang seringkali marah-marah dan bersikap kasar. Egois!!! Tidak peduli terhadap keluarga sama sekali!!! Hidupnya hanya untuk hobi dan segala kesenangannya semata. Istri dan anak-anak? Memangnya dipikirin!!!

“Sebetulnya, kenapa kamu memilih untuk bertahan?”
“Anak-anak. Itu yang paling utama.”
“Kenapa dengan anak-anak?”
“Kamu tahu sendiri, kan, kalau orang tua saya pun bercerai. Saya tahu sekali rasanya menjadi anak dari orang tua yang bercerai. Saya tidak mau anak-anak saya sampai merasakan hal yang sama.”
“Tetapi ini, kan, kasusnya berbeda.”
“Tetap saja, perceraian itu menyakitkan.”
“Betul, lantas bagaimana dengan keadaan anak-anak sekarang ini dengan keadaan rumah tangga yang seperti ini?”
“Ya, begitulah. Anak-anak memang sepertinya juga sudah tidak nyaman. Saya sempat dipanggil oleh guru mereka karena mereka seringkali menangis dengan alasan yang tidak jelas. Bukan hanya yang besar saja, yang kecil juga sama.”
“Jadi kamu juga sadar bahwa dengan mempertahankan perkawinan yang seperti ini juga memiliki efek negatif terhadap anak-anak?”
“Iya juga.”
“Lalu apa lagi yang membuat kamu bertahan?”
“Agama.”
“Kenapa dengan agama?”
“Perceraian dalam agama kami sangatlah ditentang. Sebuah dosa besar memisahkan apa yang telah dipersatukan oleh-Nya.”
“Apa tidak ada orang lain yang seagama dengan kamu tapi bercerai?”
“Ada. Banyak juga, sih?!”
“Lantas?”
“Ya, mereka sepertinya sudah siap menanggung semua resikonya. Saya sama sekali tidak siap. Saya tidak mau berdosa.”
“Keluarga tahu?”
“Mungkin tahu sedikit, tetapi karena saya menutup-nutupinya, mereka hanya tahu sekilas saja.”
“Kenapa tidak meminta pendapat mereka?”
“Saya tidak mau penilaian mereka terhadap kami berubah. Dari semua saudara kandung, hanya kamilah yang bisa dibilang sebagai contoh teladan dalam keluarga.”
Hmmm….

Anak. Saya menyebut anak sebagai tameng yang paling kuat. Kenapa? Selalu dijadikan alasan kuat untuk tidak bercerai dan mempertahankan sebuah perkawinan. Memang betul, perceraian memiliki efek psikologis yang sangat besar terhadap anak. Itu tidak bisa dipungkiri, tetapi sebuah kehidupan rumah tangga “utuh” yang tidak harmonis dan tidak sehat pun juga memiliki efek psikologis yang tidak kalah dahsyatnya terhadap anak. Bahkan bagi seorang bayi sekalipun!!! Mereka memang tidak bisa bicara dan belum bisa mengungkapkannya, tetapi mereka juga bisa merasakannya. Bagi saya, anak tidak boleh sama sekali menjadi korban kesalahan yang dilakukan oleh orang tua. Bila memang ingin mempertahankan perkawinan, dan memang benar karena untuk anak, cobalah untuk benar-benar membuat rumah tangga menjadi harmonis dan sehat. Untuk apa juga dipertahankan bila masalah tidak pernah diselesaikan? Toh, anak-anak tetap menjadi korban juga. Bila kemudian sampai terjadi perceraian, usahakanlah juga selalu untuk tetap mengasuh anak secara bersama. Bekas istri atau bekas suami bisa saja, tapi tidak pernah ada yang namanya bekas anak, kan?

Agama dan keyakinan. Ini memang sulit. Semua agama dan keyakinan memiliki dasar yang kuat atas apa yang diajarkan. Saya tidak pernah bisa membantahnya. Hanya ada satu hal saja yang menjadi pemikiran saya, yang mana yang lebih dosa, mempertahankan sebuah kesalahan atau mencoba memperbaiki kesalahan? Itu saja. Lagipula, dosa atau tidak adalah urusan Tuhan. Adalah egois bila kita tidak ingin disebut berdosa sementara mengorbankan yang lain untuk menjadi seorang pendosa. Ini menurut saya, ya!!! Silahkan bila ada yang tidak sepaham dengan pemikiran saya karena ini memang masalah yang sangat sensitif dan tidak bisa dipaksakan sama sekali.

Keluarga? Sebetulnya, apa, sih, yang menjadi keinginan terbesar dari orang tua? Saya yakin sekali bahwa tidak ada yang lain selain kebahagiaan anaknya. Apakah orang tua merasa bahagia bila sampai tahu apa yang terjadi dengan anaknya? Apakah mereka rela membiarkan kepedihan dan penderitaan anaknya? Hanya orang tua yang sangat tidak bijaksana bila kemudian mementingkan persepsi keluarga lain dan orang lain di atas kebahagiaan anaknya sendiri. Sedih pasti. Sakit hati, tentu. Menangis, iya. Namun selama kebahagiaan itu masih bisa ada dan datang di kemudian hari, mereka pasti akan selalu mendukung anaknya. Tidak mungkin tidak.

Orang lain? Siapa, sih, yang benar-benar bisa merasakan apa yang kita rasakan? Mereka atau diri kita sendiri? Apa mereka benar-benar peduli atau mereka hanya peduli dengan kesenangan mereka sendiri? Buat apa terlalu dipikirkan?

Saya sama sekali tidak menganjurkan orang untuk bercerai selama perkawinan itu masih bisa dipertahankan dan selama masih bisa serta ada kemauan dari kedua belah pihak untuk memperbaikinya. Tetapi saya juga menginginkan sebuah pemikiran yang matang atas apa semua keputusan yang diambil, baik bercerai ataupun bertahan. Alasan yang diambil haruslah sangat tepat agar langkah yang berikutnya pun bisa tepat. Tenangkan hati dan tenangkan pikiran sebelum keputusan itu diambil. Jangan sampai kemudian melakukan kesalahan yang berikutnya lagi.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Mariska Lubis

21 November 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Bercerai atau Bertahan?

  1. hadi says:

    artikel menarik Mbak, aku izin copy paste.

  2. hadi says:

    saya punya prinsip Mbak : tidak menyetujui perceraian dalam rumah tangga apapun alasannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s