Mau Tokcer?!

Illustrasi: colinpantall.blogspot.com

SATU kata saja. Pragmatis! Maunya cepat punya anak. Yang penting sering main. Giliran harus check-up, ogah! Malas! Takut!

Budaya instan sepertinya memang sudah merajalela, ya, di negeri kita ini. Bukan hanya urusan pendidikan saja, tetapi sudah merambah ke bidang-bidang yang lain. Bahkan bidang kesehatan pun sama. Heran!!! Buanget malah!!!

“Mbak, gimana caranya biar cepat punya anak?”
“Memangnya sudah berapa lama kamu menikah?”
“Sudah dua tahun, Mbak, tapi kok, belom ngongol juga, ya? Padahal kami rajin main, lho! Bisa setiap hari.”
“Sudah pernah ke dokter?”
“Sudah.”
“Siapa?”
“Istri.”
“Hasilnya?”
“Normal, tuh, katanya!”
“Kalau kamu?”
“Memang perlu juga, ya?”
Ini dia, nih!!!

Bukan hanya sekali dua kali, nih, percakapan seperti ini saya alami. Terlalu sering buat dibilang wajar. Keterlaluan. Kelewatan. Mengerikan. Sekaligus menyedihkan. Mbok, ya nyadar gitu, lho! Masa nggak pernah sih, nyari tahu lewat buku atau internet kalau yang namanya hamil, bukan hasil pekerjaan sendiri, tapi harus kerjasama berdua. Nggak kreatif, ah!

“Jujur aja, saya takut, Mbak!”
“Takutnya kenapa?”
“Saya soalnya dulu bandel, Mbak”
“Terus kalau bandel kenapa?”
“Ya… takutnya nanti ketahuan lagi…”
“Ketahuan apa?”
“Ketahuan kalau saya yang punya masalah.”

Ini yang saya bilang maunya tokcer tapi otaknya nggak encer sama sekali! Kalau otaknya encer, dia pasti akan segera mencari penyebab dan mencoba menyelesaikan masalah. Kalau ini, kan, menutupi tapi ingin segera masalahnya beres dan tuntas.

Selain karena memang faktor “sudah waktunya” atau “sudah dipercaya” seperti yang diyakini banyak orang, ada banyak sekali faktor-faktor lain yang mempengaruhi bisa tidaknya pasangan memiliki keturunan. Bisa karena faktor biologis, seperti penyakit, tidak seimbangnya hormon dalam tubuh, asam dan basanya cairan sperma dan cairan di dalam rahim, kekentalan sperma, jumlah telur di dalam rahim, dan masih banyak lagi. Bisa juga karena faktor psikologis karena stres dan ketidakharmonisan rumah tangga. Jadi, bukan hanya masalah “cara” bermain dan frekuensinya saja! Mau sehari seratus kali dengan posisi berbeda-beda pun belum tentu ada hasilnya! Mending puas dan enak. Capek, bow!!!

Jatuh gengsi?! Takut?! Menurut saya bukanlah alasan tepat seorang pria takut memeriksakan kondisi kesehatan dan “kejantanannya” ke dokter. Malah menurut saya, bisa membuat seorang wanita berbangga hati memiliki seorang suami yang bijaksana, berwibawa, dan berani beranggung jawab. Jauh lebih jantan! Ya, iyalah, jadinya, bukan hanya istri saja yang merasa bersalah, tapi direnteng bersama.

Wahai para pria di luar sana, bagi yang hendak menikah atau sudah menikah dan ingin segera memiliki keturunan, cobalah untuk menjadi orang yang berotak encer. Biar tokcer! Menjadi tahu apa yang salah, apa yang kurang, bisa membantu Anda untuk tahu apa yang benar, apa yang lebih, dan apa yang seharusnya dilakukan. Rugi, jadi orang keras kepala! Nggak ada untungnya!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

1 November 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s