Rok Mini dan Kejahatan Seksual

Illustrasi: blogs.myspace.com

KENAPA kalau di tempat nudist nggak ada kejahatan seksual, ya? Padahal semuanya telanjang bulat. Ramai-ramai pula. Perempuan dan pria semuanya berkumpul menjadi satu.

Sekali lagi, nih, saya balikin lagi para pembaca mengingat cerita saya soal kaum nudist di Australia dan Amerika yang pernah saya bahas sebelumnya di tulisan saya yang berjudul “Wah!!! Telanjang Semua”. Memang, sih, jarang ada yang “bagus”, tetapi, kan, namanya juga manusia. Masa, sih, semuanya merasa geli? Masa nggak ada yang nafsu? Sedikit, mah, pasti ayalah!!! Apalagi, kalau yang memang punya kelainan jiwa, nggak milih-milih, kan? Coba, deh, kita bayangkan sejenak bagaimana kalau kita sedang berada di sana? Hehehehe… Gimana?!

Laporan mengenai tidak adanya tindakan kejahatan seksual di tempat kaum nudist ini di seluruh dunia, lho!!! Mungkin ada, tapi sedikit sekali. Di seluruh tempat yang memang ada tempat khusus untuk kaum nudist-nya. Yang memang resmi, tapinya. Kalau yang nggak resmi, seperti yang ada di salah satu pulau di Indonesia (jangan ditanya di mana, ya?! Rahasia!!!), nggak tahu, deh!!! Mungkin belum ada yang melaporkan atau memang tidak pernah ada yang mau melaporkannya. Soalnya, kalau dilaporkan nanti malah bisa ikutan masuk penjara juga.

Sekarang coba bandingkan dengan tempat-tempat yang justru banyak orang berpakaian seperti biasanya. Waaaahhhhh, sudah tidak bisa dihitung lagi, kan, jumlah kejahatan seksualnya. Di kampus-kampus, deh!!! Tempat yang jelas-jelas untuk belajar dan pastinya semua berpakaian sopan, dong. Tapi, kenapa ada saja kejadian soal kejahatan seksual di tempat ini? Yah, mulai dari sekedar colek-colek sampai pemerkosaan. Memangnya, yang pakaiannya sopan lebih mengundang, ya, daripada yang telanjang? Kan, nggak juga, toh?!

Apa benar, ya, yang setengah-setengah itu justru lebih mengundang? Begitu, kan, persepsi kebanyakan dari kita?! Bikin penasaran, katanya. Benar nggak, ya? Nah, ini juga jadi pertanyaan besar buat saya. Tahu, nggak, kalau mereka yang dibilang “setengah” pakai baju itu hanya sedikit yang menjadi korban pelecehan seksual? Lebih banyak yang berpakaian sopan juga, tuh! Malah di Indonesia, kebanyakan yang memakai celana panjang. Bukan yang pakai rok mini, lho!!! Bukan pula yang suka pakai tank top ataupun celana pendek super mini. Bingung, kan?!

Yah, memang patut diakui, kalau melihat mereka yang berpakaian seksi, pasti mengundang mata untuk memandang. Mengundang gairah untuk “mencoba” dan “mencicipi”. Wajar-wajar sajalah! Itu memang salah satu daya tarik seksual yang tidak bisa dihindari. Jadi, jangan marah juga kalau memang banyak yang melihat. Hanya saja, coba, ya, untuk yang melihat. Melihat, sih, boleh-boleh saja, tetapi jangan sampai membuat orang yang memakainya merasa risih dan jengah juga. Nggak sopan, ah!!! Jangan bilang mereka yang berpakaian seperti itu juga tidak sopan kalau kita sendiri tidak berpikiran sopan dan tidak bertingkahlaku sopan.

Saya juga ingin kembali ke tahun ‘60 -’70′an. Saat di mana papa dan mami saya masih muda dulu. Kalau melihat foto-foto mereka masih muda, kayaknya pakaian mereka seru-seru banget, deh!!! Seksi-seksi!!! Mini-mini!!! Betul, nggak Pak Pray?! Hehehe… Maaf, ya, Pak! Soalnya, bapak, kan muda di zaman itu juga. Jarang, tuh, saya lihat ada perempuan yang berpakaian tidak seksi. Kita bicara di kota-kota besar, lho, ya? Kalau di daerah, pada saat itu memang masih banyak yang memakai pakaian daerah. Pakai kain atau sarung!!!

Pada masa-masa itu, setelah saya pelajari, kejahatan seksual yang terjadi, ternyata juga jauh lebih sedikit dibandingkan dengan di masa sekarang. Padahal kalau dibilang nggak mengundang, ya, mengundang banget, dong harusnya!!! Bayangkan saja, trend mode perempuan pada saat itu, adalah rok yang panjangnya hanya sekitar 30-40 cm dari pinggang!!! Wuihhhh!!! Mini banget, kan?! Mana sepatunya juga tinggi-tinggi. tambah seksi, dong?! Kalau pakai celana panjang, celana panjang cut bray. Seksi juga, kan? Pantatnya super ketat!!! Wow!!!

Jadi, kalau menurut saya, sih, sebetulnya hubungan antara baju seksi dengan kejahatan seksual relatif bisa dibilang sedikit sekali korelasinya. Ini bukan masalah cara berpakaiannya yang mengundang atau tidak mengundang, tetapi jelas dari cara berpikir dan psikologisnya.. Kalau memangnya sudah piktor, sih, piktor saja. Kalau memang memang nggak bisa menahan diri dan hawa nafsu, jangan mencari alasan dan pembenaran. Nggak usah daun muda yang masih padat berisi, nenek-nenek usia 80 tahun pakai kebaya pun, teuteup saja dilahap juga. Namanya juga sudah sakit jiwa!!! Mana bisa, sih, membedakannya?! Yang penting “bisa”. Bisa dipakai sebagai pemuas hawa nafsu maksudnya. Ya, kan? Coba, deh, baca lagi percakapan soal “Cewek Cantik: Manusia, Malaikat, dan Setan Ngegosip” .

Ini, sih, kesimpulan saya sendiri saja. Nggak tahu, deh, kalau ada yang berpikiran berbeda. Pasti ada dong, ya?! Kalau memang ada, kasih, dong, masukan dan pendapatnya kepada yang lain. Biar jadi lebih seru!!! Lebih banyak lagi yang menjadi bahan pertimbangan!! Pastinya, akan juga membantu masyarakat kita lebih waspada terhadap kejahatan seksual di negeri ini.

Ditunggu, ya!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

14 November 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s