Cinta Semu dan Palsu

Illustrasi: tumonteolimpo.blogspot.com

Adalah sesuatu yang tidak mudah bila harus menghadapi fakta dan kenyataan yang pahit. Di mana kita seringkali lebih mudah untuk lari dan pergi jauh daripada memiliki nyali untuk menghadapi dan mempertanggungjawabkannya. Menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain tidak akan menjadikan kehidupan lebih baik. Untuk apa memiliki alasan bila semua itu hanya justru yang membuat kebahagiaan tidak pernah ada.

Bukan hanya sekali dua kali saya mendapatkan desahan dari perempuan maupun pria tentang masalah kehidupan pribadi mereka yang berhubungan dengan seks. Setiap hari saya menerima banyak sekali konsultasi tentang hal ini.  Ya, saya memang seorang konsultan seks dan relationship di Majalah Men’s Health Indonesia dan memang berkecimpung di dunia ini. Jadi, bukan sesuatu yang aneh juga bila saya menjadi sangat terbiasa untuk tidak terpancing emosi meski bila berhubungan dengan orang terdekat saya sekalipun.

Sudah beberapa kali saya menulis tentang bahayanya bercinta di dunia maya. Kenapa?! Karena banyak yang tidak mau jujur di dalam hal ini sehingga tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga orang yang lain. Dunia maya memang penuh dengan jebakan dan juga rayuan, semua juga bisa menjadi apa dan siapa sesuai dengan yang diinginkan dan dibutuhkan. Apalagi ditambah dengan ketidakmampuan untuk membaca kata-kata dengan jelas sehingga kata itu pun hanya dibaca saja tanpa dimengerti arti dan makna yang sesungguhnya.

Banyak perempuan yang mengadu bahwa telah dilecehkan secara seksual di dunia maya lewat chat maupun telpon seks. Saya tidak bisa menuduh begitu saja tanpa melihat lebih jauh dulu apakah benar itu sebuah pelecehan atau tidak. Sebab pada dasarnya, pelecehan itu terjadi bila sudah ada pemaksaan dan intimidasi. Bila dilakukan suka sama suka ataupun mau sama mau kenapa disebut pelecehan?!

Biasanya hal ini terjadi bila kemudian tiba-tiba saja sang pria meninggalkan begitu saja tanpa jejak. Perempuan biasanya menjadi malu atas apa yang telah dilakukan, apalagi bila sudah mengumbar banyak hal seperti telah memberikan foto-foto ataupun video yang sangat pribadi. Juga chat dan SMS dalam bentuk kata-kata yang penuh dengan gairah.

Di sisi lain, pria juga banyak yang mengeluh karena merasa diintimidasi oleh pasangannya di dunia maya. Mereka banyak yang mengeluhkan soal keterikatan perempuan padahal sudah tahu bagaimana posisi masing-masing. Tidak ada yang bisa disebut pacaran atau bercinta, yang ada hanyalah permainan seks semata yang dilakukan mau sama mau. Seharusnya sama-sama tahu sehingga tidak perlu harus larut dan membuat yang lainnya hanyut bahkan menenggelamkannya.

Rayuan dan godaan memang biasa dilakukan oleh pria mengingat itu adalah bagian dari usaha. Perempuan pun sebenarnya merayu dan menggoda hanya dalam bentuk yang berbeda saja.  Kata-kata bijak dan cinta sudah biasa dijadikan sarana untuk menjebak, apalagi untuk mereka yang hanya “membaca”. Begitu juga dengan kata-kata yang digunakan untuk menjatuhkan saingannya. Sudah biasa banget dilakukan dan bukan hal yang aneh atau baru.

Begitu juga dengan kisah dan cerita tentang masalah pribadi yang membuat hati tersentuh. Menjual duka dan nestapa memang mudah sekali membuat yang lainnya terenyuh dan tersentuh. Tidak sedikit yang mengaku memiliki masalah dengan pasangan dan berkata bahwa pasangan kita begini begitu, toh buktinya masih juga tetap berhubungan seks dengan pasangannya. Lantas apa maksudnya?! Mana cinta, mana nafsu?!

Nafsu itu sendiri pun belum tentu berarti memburu tetapi nafsu untuk bisa menampilkan “kelebihan” dan kesempurnaan baik sebagai seorang suami atau istri. Pria bisa saja melakukan hubungan seks dengan istrinya karena nafsu fisik, perempuan juga bisa melakukan hubungan seks dengan suaminya karena tidak mau dianggap sebagai perempuan yang tidak mampu melayani dan tidak berbakti. Atau bahkan keduanya bisa melakukannya karena “sudah terlanjur janji” dan dilakukan hanya karena takut dengan komitmen yang sudah dibuat sehingga terpaksa harus melakukannya. Jadi, sama saja. Bila saja mau jujur mengakuinya, memangnya enak?! Enak secara fisik tetapi benarkah bahagia?! Cintakah?!

Disadari tidak disadari diakui tidak diakui. Salah satunya adalah dengan menaruh foto profil di dunia maya. Saya sendiri mengakui bahwa saya memasang foto-foto di profil saya untuk sengaja memikat dan menggoda. Namun, sejauh mana bisa mempertahankan diri dari rayuan dan godaan yang lainnya, semua tergantung pada diri sendiri. Masing-masing seharusnya tahu posisi, waktu, dan tempatnya sendiri-sendiri. Pemancing mengundang, penghidang menyediakan. Hidangan siap tersaji, siapa yang menyantap dan disantap?! Bukankah begitu?!

Pria membutuhkan fantasi secara visual untuk membuatnya bergairah dan perempuan membutuhkan mimpi dan khayalan yang indah untuk membuatnya merasa indah. Klop, kan?! Sehingga bila kemudian banyak terjadi kejadian seperti ini di dunia maya, bukan sesuatu yang aneh lagi. Semua tergantung kepada diri sendiri saja, mau apa tidak?! Kalau mau mengaku saja mau, kalau tidak ya abaikan. Akui saja tanpa harus ada alasan apapun.

Yang paling membuat saya sedih adalah pada fakta dan kenyataannya, bukan mereka yang berpenampilan atau berkata vulgar dan terbuka yang lebih banyak melakukannya, justru sebaliknya. Dari hasil pemantauan saya sendiri, lebih banyak mereka yang berusaha tampil “baik” di depan itulah yang paling banyak melakukannya. Tidak perlulah kemudian menuduh si A itu munafik ataupun obral, lihat saja pada penampilan diri sendiri dahulu. Apa sudah sesuai dengan perilaku?!

Oleh karena itulah, saya tidak terlalu peduli dengan nilai yang diberikan oleh orang lain karena menurut saya tidak penting. Saya adalah saya dan saya yang paling tahu diri saya. Saya juga tidak mau menjadi orang lain ataupun meminta yang lainnya menjadi diri saya. Menjadi diri sendiri jauh lebih membahagiakan dan nilai itu hanya milik Dia, bukan manusia. Yang paling utama adalah bagaimana saya bisa “mengerudungi” hati saya karena penampilan hanyalah palsu dan semu.

Jikapun mau belajar dari apa yang pernah terjadi, sebaiknya kita tidak perlu harus marah, iri, cemburu ataupun dendam baik kepada diri sendiri ataupun pasangan “seks” kita itu atau siapapun juga. Apa yang telah terjadi selalu memiliki hikmah tersendiri bila kita mau berjiwa besar untuk menerimanya. Bila memang berkata cinta yang tulus dan hanya untuk diberikan, maka alasan itu seharusnya tidak perlu ada.

Tertipu dan menipu itu bukan yang menjadi inti persoalan tetapi kenapa sampai bisa terjadi?! Apa yang sebenarnya telah kita lakukan?! Kenapa sampai bisa meninggalkan dan ditinggalkan?! Apa yang sebenarnya dicari dan diinginkan?! Apa benar kita sudah mengenali diri kita sendiri dan mampu mengendalikannya?! Apa benar kita sudah jujur atas apa “kata” kita dan penampilan kita sendiri?! Beranikah menantang diri untuk mengakuinya?!

Bilapun kemudian menjadi ribut dan berantem dengan suami/istri yang sah dan yang ada di dunia nyata, itu sudah resiko yang harus dihadapi. Sudah tahu punya pasangan, kenapa masih berani melakukannya?! Bukankah sebuah kesadaran penuh bahwa memang sudah memiliki pasangan, kenapa masih bermain api?! Hadapi dan terimalah segala resikonya dengan bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan pasangan kita. Tidak perlu harus menuntut pertanggungjawaban dari yang lainnya bila diri sendiri pun masih tidak berani menghadapi diri sendiri.

Untuk masalah video dan foto ataupun hasil Chat dan SMS yang telah diberikan dan dilakukan, ya, siapa suruh mengirimkan dan melakukannya?! Kalau pun dirayu, kenapa menjadi sebegitu bodohnya dengan mengirimkannya?! Kalau memang tidak percaya dan yakin, kenapa juga bilang itu cinta?! Mana ada cinta tanpa ada rasa percaya dan yakin. Semua hanya sesaat saja. Semua ada resikonya dan semua harusnya tahu apa yang harus dilakukan sebelum melakukannya. Nafsu memang sesaat saja, cinta tak akan pernah hilang dimakan waktu.

Seks itu sebuah kebutuhan, diakui tidak diakui itu lain ceritanya. Sadar tidak disadari memang seks itu memiliki peranan penting di dalam kehidupan kita. Cobalah untuk bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang mimpi. Mana yang hanya merupakan pikiran kita sendiri atau memang benar itu adanya. Banyak kan, pasangan yang baru menyadari dan mengakui semua itu palsu setelah sekian lama menikah dan berumah tangga? Apalagi kalau baru kenal sesaat dan di dunia maya pula?! Dari mana bisa tahu yang sebenarnya bila tidak bercermin pada diri sendiri dulu?! Mampukah menghadapinya?!

Menyampaikan alasan bisa jadi masuk akal tetapi belum tentu menyenangkan hati dan pikiran sendiri. Oleh karena itulah kebahagiaan itu seharusnya diraih tanpa alasan. Itu juga sebabnya tidak perlu mempertanyakan alasan kenapa cinta dan tidak cinta. Bila ada sejuta alasan untuk mencintai berarti ada juga sejuta alasan untuk membencinya. Jika demikian, apa benar itu cinta?!

Tulus itu memberi tetapi memaksa mengubah seseorang menjadi yang lainnya itu menjadi sebuah hasrat dan keinginan. Apalagi kalau sudah marah, semua diungkit-ungkit. Apa yang pernah diberikan semuanya diangkat lagi ke permukaan. Apa benar itu cinta dan apa benar itu sebuah ketulusan?! Semua hanyalah pelampiasan dari emosi diri sendiri yang tidak bisa dikendalikan.

Begitu mudahnya kata-kata itu dianggap dan dirasa telah dibaca dan dimengerti tanpa mau juga dimaknai dengan baik. Sebegitu besarnya keinginan untuk menuntut pengertian tetapi tidak juga mau mengerti yang lain. Kata-kata indah itu terbuang dengan percuma bila hanya dimaknai untuk diri sendiri bukan untuk semua. Cinta itu bukan memiliki tetapi untuk memberikan kebebasan pada diri sendiri. Di dalam kebebasan itulah kedamaian dan kebahagiaan itu berada.

Sekali lagi, belajar itu tidak akan pernah belajar bila tidak juga mau merendahkan hati. Tidak ada yang pernah bisa didapat bila kesombongan itu tidak ditempatkan pada tempatnya. Semua bisa menjadi apa dan siapa tetapi kebenaran tidak pernah bisa berdusta. Harga diri pun menjadi tidak akan pernah berharga bila tidak bisa menghargai dan menghormati diri sendiri dan lainnya. Bersyukur pun hanya ucapan bila terus mengeluh dan berkeluh kesah serta hidup di masa lalu tanpa tidak ada keberanian untuk melepaskan diri dan berusaha menjadi yang lebih baik.  Cinta itu pun hanyalah sebuah kesemuan dan palsu. Jangan sampai semuanya menjadi hancur hanya karena diri sendiri dan jangan sampai menghancurkan yang lainnya hanya karena tidak menjadi diri sendiri.

Barangkali apa buah pikir saya ini sulit untuk bisa diterima karena memang semua ini adalah sudut pandang dan pemikiran saya sendiri. Saya berusaha untuk seobjektif mungkin dengan tidak hanyut pada posisi untuk menyudutkan salah satu pihak tertentu. Di ruang sidang banyak orang yang senang karena mampu mengajukan bukti untuk memenangkan perkara, namun di dalam penjara ada banyak yang terhukum yang justru jauh lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang tertawa usai memenangkan perkara.

“Kayu yang mengikuti arus deras air tidak akan patah tetapi ranting yang melawan arus pasti patah.”

“Kala hanyut biarkan diri mengikuti arus tenggelam karena di dalamnya ada tempat yang paling tepat untuk bisa membebaskan diri.”

“Orang yang berpikir lurus dalam mengatasi masalah akan kalah dari mereka yang berpikir alternatif.”

“Melompat di tengah pusaran air, ikuti terus sampai ke dasarnya. Setelah itu pasti semuanya akan terbebas.”

“Kabahagiaan adalah kala ketidakmudahan itu bisa dilewati karena kebahagiaan hanya menjadi milik mereka yang berhasil mendaki.”

“Orang yang bahagia adalah orang yang tidak memiliki alasan apapun untuk bahagia.”

Saya tidak bisa menghentikan siapapun untuk tidak melakukannya karena bukanlah hak ataupun kewajiban saya untuk melakukannya. Bukan hak karena ini adalah urusan pribadi masing-masing berikut juga dengan segala resiko dan tanggungjawabnya. Bukan juga kewajiban saya karena saya tidak akan pernah bisa mengubah orang lain selain diri mereka sendiri yang melakukannya. Semua saya perlakukan sama dan akan tetap sama.

Sekarang mungkin semua ini bisa dipungkiri dan terus saja dipungkiri tetapi waktu bisa bicara. Tidak ada kebenaran yang tidak datang pada masa dan waktunya nanti. Seperti juga pesta, tidak ada yang pernah tidak usai. Pahit itu akan terus menjadi pahit semua tergantung pilihan dan dari kaca mata mana kita mau melihatnya.  Yang mana akan dipilih semua ada resikonya masing-masing.

“Jadilah diri sendiri dan berhentilah menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Harga diri dan kebahagiaan itu bisa diraih dengan menjadi diri sendiri, berani menghadapi dan mempertanggungjawabkan semuanya secara jujur, tulus, dan ikhlas tanpa harus ada alasan apapun juga.”

“Cinta itu bukan alasan, cinta adalah cinta. Hasrat dan nafsu adalah alasannya.”

Semoga bermanfaat!!!

 

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Cinta Semu dan Palsu

  1. zz says:

    Suka..suka..suka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s