Kemarahan Yang Tidak Ada Arti Selain Derita

Illustrasi: sites.google.com

Marah adalah wajar selama kemarahan itu bisa dikendalikan dan dikontrol dengan baik. Marah juga menjadi tidak masalah bila bukan menjadi sebuah alasan dan pembenaran atas sebuah perbuatan yang tidak baik. Marah juga wajar bila dilakukan pada tempatnya dan sesuai dengan waktu serta posisinya. Kemarahan itu tidak menjadi berarti bila terus saja ada dan menggerogoti diri. Marah hanya membuat diri susah dan menderita.

Seorang perempuan marah dan teramat marah karena mendapati suaminya mencintai seorang perempuan lain. Di tengah kemarahannya itu, dia pun melontarkan kata-kata pedas yang tidak senonoh dan tidak baik untuk diucapkan ataupun dituliskan. Bukan untuk suaminya tetapi untuk perempuan yang dicintai suaminya.

Perempuan ini menganggap bahwa perempuan itu adalah perusak rumah tangga orang karena telah merayu dan menggoda suaminya dengan berbagai motif dan keinginan. Pertanyaannya, benarkah perempuan ini sudah merayu dan menggoda suaminya?! Bagaimana bila terbalik?! Bagaimana jika fakta dan kenyataanya, suaminyalah yang menggoda dan merayu perempuan itu meski perempuan itu sudah menolaknya?! Lagipula, kenapa harus perempuan itu yang dimarahi?! Kenapa tidak bertanya dulu pada diri sendiri, kenapa suaminya bisa sampai demikian?!

It takes two to tango. Tidak ada salah satu yang bisa disalahkan karena selalu ada penyebab yang membuatnya demikian, baik dari pihak suami ataupun istri. Tidak mungkin keharmonisan itu pecah hanya karena salah satu pihak saja, pasti karena keduanya. Oleh karena itulah, perceraian tidak pernah saya anggap kesalahan salah satu pihak saja tetapi karena keduanya. Diakui tidak diakui, disadari tidak disadari.

Satu hal lagi, bagaimana bila perempuan yang dicaci maki itu kemudian marah juga dengan melaporkannya ke pihak berwajib?! Dia bisa saja menuntut atas dasar intimidasi, ancaman, dan juga tuduhan palsu. Meski dilakukan secara verbal namun bila disertai bukti yang cukup maka semua itu kuat secara hukum untuk diajukan. Jika sampai terjadi, siapa yang malu dan siapa yang paling dirugikan?!

Begitu juga dengan seorang pria yang marah mendapatkan pengakuan dari istrinya yang merasa telah jatuh hati dengan pria lain. Dia pun lalu melampiaskan marahnya dengan menjadi sangat posesif dan protektif terhadap istrinya. Teror terhadap sang pria itupun terus dilakukan. Sang istri meminta cerai tetapi tidak diberikannya. Yah, kalau diceraikan berarti kalah, dong?! Harga diri jatuh dua kali!!!

Bukan masalah benar tidaknya sang istri itu jatuh cinta sebenarnya, tetapi di mana ada kesempatan, meskipun sempit, pasti akan diambil. Seorang pria jantan yang memiliki cinta sesungguhnya dan tidak pernah berbuat salah, tidak akan mungkin melakukan hal yang ekstrem, kecuali bila memang memiliki kelainan jiwa. Semua itu biasanya dilakukan hanya untuk menutupi kekurangan dan kesalahan, sehingga merasa bisa lebih bebas dan berkuasa.

Hal yang paling menyedihkan hati saya adalah bila perpisahan itu terjadi dan anak-anak pun dikorbankan. Mereka menjadi korban karena keegoisan orang tua mereka. Bukan karena perceraiannya tetapi karena tidak memiliki jiwa yang besar dan rasa cinta yang sepenuhnya untuk anak-anak mereka. Saling berebut anak dan saling menuduh satu sama lainnya dan menjelek-jelekkan satu dan lainnya di depan anak mereka. Anak pun kemudian dipisahkan dari salah satu, padahal tidak ada yang namanya bekas anak. Bekas istri atau bekas suami itu ada, bekas anak tidak pernah ada.

Yang telah berbuat salah adalah kedua orang tuanya, kenapa harus anak yang dikorbankan?! Bila memang memiliki cinta, kenapa tidak bisa memiliki jiwa yang besar demi sang anak?! Biar bagaimanapun juga, anak membutuhkan cinta dan kasih sayang kedua orang tuanya, bukan hanya salah satu saja. Masa, sih, tidak bisa melakukannya demi anak?! Di mana cinta?!

Seorang perempuan lain pernah menghadapi hal yang sama. Dia mendapati pria yang selama ini mendampinginya sedang bercinta di dalam sebuah kamar dengan seorang perempuan. Perempuan yang bercinta dengan suaminya ini tak lain adalah sahabatnya sendiri. Apakah kemudian dia marah?! Sama sekali tidak!!!

“Untuk apa saya marah karena marah hanya membuat saya semakin sedih dan terluka saja. Bila memang mereka saling mencintai, saya memberikan cinta saya kepada mereka untuk bisa bersama. Lagipula semua ini merupakan sebuah introspeksi diri bagi saya sendiri. Mungkin selama ini saya sombong dan tinggi hati karena merasa cantik, pintar, dan bisa memiliki segalanya. Ini juga yang terbaik untuk saya karena dengan demikian saya tahu bahwa saya bukanlah yang dicintainya. Lebih baik tahu sekarang daripada semuanya sudah terlanjur jauh.”

Mungkin bagi sebagian akan menganggap bahwa perempuan ini bodoh dan dungu namun inilah sebenarnya kebahagiaan yang sesungguhnya. Seseorang bisa menjadi sangat bahagia bila sudah mampu melepaskan semuanya dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Tidak perlu ada marah ataupun dendam, tetapi memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dengan melihat segala sesuatu dari sisi positifnya.

Begitu juga dengan seorang pria yang mendapati istrinya bercinta dengan rekan kerjanya sendiri. Dia langsung menceraikan istrinya saat itu juga tetapi dia juga yang mempersiapkan pernikahan dan menikahkan mereka.

“Secara adat saya boleh menikam pria itu hingga mati tetapi untuk apa? Saya tidak boleh menghilangkan nyawa orang lain. Bukan itu juga masalahnya, saya merasa bahwa adalah sebuah tindakan bodoh bila saya melakukan perbuatan bodoh hanya karena kemarahan saya. Saya justru merasa tidak memiliki harga diri bila saya tidak mampu menguasai dan mengendalikan diri saya sendiri.”

Bagi yang lain mungkin pria itu dianggap gila dan amat sangat bodoh namun kebesaran hati dan jiwanya telah membebaskannya dari kemarahan dan sakit hatinya. Dia menjadi jauh lebih berbahagia dibandingkan bila dia harus menjadi mengamuk dan marah serta melakukan perbuatan yang tidak baik.

Untuk soal anak, banyak tuh pasangan bercerai tetapi tetap bisa bersama untuk anak-anak mereka. Meski kemudian mereka sudah menikah lagi dengan yang lain dan memiliki anak lagi. Mereka menjadi sebuah keluarga besar dan tentunya membuat semuanya menjadi lebih berbahagia. Kenapa yang lain tidak bisa?! Ada apa?! Kenapa?!

Banyak sekali hal-hal di dalam kehidupan ini yang bisa membuat kita marah apalagi jika hal-hal yang membuat semua mimpi indah itu berakhir. Tidak apa marah, tetapi harus jelas dulu apa dan kenapa. Asal marah bukannya membuat semuanya menjadi lebih baik tetapi justru membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi.

Pengalaman dan masa lalu mengajarkan bahwa tidak ada hal yang baik yang bisa dilakukan dan terjadi bila sedang marah. Tidak ada yang bisa objektif dalam berpikir apalagi menentukan keputusan dan melakukan tindakan. Ditambah lagi ada kecenderungan bahwa seseorang lebih mudah melampiaskan marahnya dengan menuding yang lainnya. Padahal, belum tentu demikian halnya. Banyak kemarahan itu justru terjadi akibat dari pembelaan diri dan pembenaran atas perbuatan salah yang telah dilakukan.

Sungguh tidak mudah untuk menjadi jujur dan mau mengakui semua itu. Sekali lagi, nyali dan kebesaran jiwa sangat diperlukan. Lari dan menghindar memang alternatif yang paling mudah bila tidak mampu dan takut menghadapinya. Untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah harus melewati proses yang seringkali sangat pahit. Namun demikian, lebih enak mana?! Masalah selesai atau terus berlanjut hingga entah kapan?!

Marah tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Tidak ada seorang pun yang bisa berpikir objektif bila marah itu ada dan terus ada di dalam hati dan pikiran. Cobalah untuk berdamai dengan diri sendiri dan penuhi diri dengan cinta yang sesungguhnya bila ingin kehidupan ini menjadi lebih baik lagi.

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Kemarahan Yang Tidak Ada Arti Selain Derita

  1. cantik2011 says:

    Sbelumnya salam kenal. Untuk Hari Sabtu Angka ikud 2 and 8

  2. Basar Daniel says:

    Sip, thanks yah kak. Ini pencerahan…hehehehe.

  3. Someone says:

    Sangat menarik mbak.. Keren!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s