Apa yang Kamu Inginkan, Mariska?!

My Deepest Heart by ML

TATKALA sebuah kalimat terucap, “Selamat tinggal, sayang!”, hati terasa hancur lebur. Mematahkan semua tulang-tulang yang ada di dalam tubuh. Mengoyak daging dan menguras semua darah. Asa hilang. Nyawapun terasa telah pergi. Hidup segan namun mati pun sepertinya sudah menanti.

Masih ingat sekali di dalam benak kepala ketika semua ini terjadi. Sebuah perpisahan yang seharusnya tidak perlu, tetapi kemudian menjadi sebuah keharusan. Berpisah karena harus berpisah. Dipaksa oleh keadaan, kondisi, dan waktu. Walaupun hati berkata tidak, namun kepala terus saja memaksa. Alasannya terlihat sangat sederhana. Bukan karena sudah tidak cinta lagi, tetapi karena “tidak ada harapan untuk masa depan”.

Saya seorang perempuan yang sangat keras, penuh dengan ambisi, dan tidak pernah berhenti untuk terus bermimpi dan menggapai cita-cita. Saya yakin sekali pada waktu itu bahwa saya akan menjadi “seseorang”. Dia seorang pria yang sangat lembut namun tidak memiliki ambisi apapun selain hidup dan menjadi dia apa adanya. Dia tidak menginginkan posisi, kedudukan, harta, atau apapun juga yang sifatnya sangat duniawi. Dia hanya ingin merasa bahagia dengan apa yang dimilikinya. Itu sudah cukup menurutnya.

Saya yang memutuskan untuk berpisah dengannya. Saat perjumpaan terakhir dengannya saat itu, dia hanya berucap, “Raihlah bintangmu tetapi jangan pernah lupakan hati kecilmu, ya!”. Saya menangis.

Kejadian kemudian berulang ketika kemudian perpisahan terjadi lagi untuk yang kedua kalinya dengan pria yang berbeda. Dia sebetulnya pria yang sangat ideal di mata banyak orang. Ganteng, pintar, romantis, dan memiliki segala gelimangan kemewahan duniawi. Seseorang yang penuh dengan ambisi dan pejuang yang sangat keras. Hanya satu kesalahan dia di mata saya waktu itu, dia tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Semua yang dilakukannya hanya untuk mendapatkan nilai di mata keluarga, teman, dan juga orang lain. Bukan dengan ketulusan dan keikhlasan.

Saya sadar sekali bahwa sebetulnya saat itu, saya seperti sedang berhadapan dengan diri saya sendiri. Dilempar batu yang sangat keras dan mengingatkan saya terhadap apa yang pernah terjadi terhadap saya sebelumnya. Atas apa diri saya dan bagaimana diri saya. Lalu kemudian saya pun mulai bertanya, “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Mariska?”. Saya pun lalu kembali “melihat” pria di masa lalu saya itu.

Kejadian serupa seperti yang pernah saya alami, dialami juga oleh seorang teman saya saat ini. Yang lebih sulitnya, menurut saya, usianya yang sekarang sudah menginjak angka 36 tahun. Sebagai seorang perempuan, tentu saja hal ini tidak mudah. Apalagi mereka sudah berpacaran lebih dari tiga tahun. Dan di saat dia kemudian flash back ke masa sebelumnya, pria yang sebenarnya sangat dicintainya itu telah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak yang lucu-lucu. Semakin larutlah dia dalam kesedihan.

Saya yakin bukan hanya saya dan teman saya yang pernah mengalami hal yang sama. Pasti ada banyak sekali pembaca di luar sana yang juga pernah mengalami hal yang serupa. Bahkan tak sedikit yang merasa menyesal dengan pernikahan mereka karena ternyata “cinta” mereka bukanlah orang yang mereka nikahi. Orang itu masih ada di luar sana. Entah masih menanti ataupun sudah lenyap ditelan bumi. Membuat pikiran melayang-layang dan terbang ke mana-mana yang kemudian membuat rasa di hati menjadi terasa sangat hambar. Merasa bersalah. Merasa menyesal. Namun apa mau dikata, hidup harus terus berlanjut, kan?

Saat kita sedang dalam kondisi seperti ini, seringkali kita terlalu hanyut dalam kesedihan sehingga melupakan apa sebenarnya yang sedang terjadi. Lupa bahwa semua ini adalah bagian dari pembelajaran dalam kehidupan di mana kita harus bisa mengatasi masalah dan mengambil keputusan untuk melangkah maju ke depan. Bila kita terlalu hanyut dan terlena dalam susah, pahit, dan sedih, sangatlah sulit bagi kita untuk memiliki kekuatan serta keyakinan dalam menggapai hari depan yang lebih baik. Okelah, mungkin kita harus mundur satu langkah dulu ke belakang, tetapi untuk kemudian bisa melejit sepuluh langkah ke depan. Worth it, dong?!

Inti dari tulisan yang saya buat ini sebetulnya adalah untuk mencari tahu siapa diri kita sebenarnya. Apa yang sebenarnya kita inginkan? Ini menjadi sangat penting mengingat sangat membutuhkan kejujuran untuk bisa menjawabnya. Juga keberanian. Tidak ada yang namanya segala alasan ataupun pembenaran. Murni dari dalam diri. “Ya, saya Mariska, dan yang saya inginkan adalah sebuah kebahagiaan. Bukan harta ataupun karier. Saya hanya memiliki cinta dan yang saya inginkan adalah cinta sesungguhnya”. Dan saya pun tidak lagi mempertanyakan kenapa saya cinta? Apa alasan saya mencintai? Kenapa cinta? Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan itu. Saya menjalani  kehidupan apa adanya saja, dan itulah ternyata yang membuat saya merasa sangat bahagia.

Berbagi pengalaman ini tidak lain tidak bukan karena saya tidak ingin ada lagi kesalahan yang dibuat. Penyesalan selalu datangnya terlambat dan selalu tiada guna. Lebih baik kita memulai segala sesuatunya dari nol. Sebuah titik awal dalam perjalanan hidup. Melangkah perlahan tetapi pasti. Memiliki keyakinan yang teguh. Kejujuran yang menjadi andalan utama. Menjadi diri sendiri. Menjadi yang kita inginkan.

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

24 Desember 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Apa yang Kamu Inginkan, Mariska?!

  1. kangmas says:

    ya, semoga dirimu mendapatkan cinta yg sesungguhnya. amin

    • bilikml says:

      amiinnn… terima kasih Kang Mas… sungguh saya sangat terharu dan saya sangat bahagia memiliki dirimu sebagai seorang sahabat yang penuh dengan cinta dan kasih sayang…

      salam hangat penuh cinta selalu untukmu dan keluarga semua…

  2. Sue says:

    Sis Mariska..Thanks for sharing this..you are absolutely right..There is time when we just dodn’t even know what we want in life..Your story really touched my heart..almost similar to what I have faced before..and now still struggling ..I m trying to back off..thought that he is not meant for me but I couldn’t..how am I supposed to live without him..I really love this..”Penyesalan selalu datangnya terlambat dan selalu tiada guna” .

    • bilikml says:

      We cant live by the old days and we have to continue our life. You may come to him and tell him the truth but don’t ever expect anything. If you have love for him, then give him your love. Let him happy just the way he is. He deserve happiness and so are you. By seeing him happy you should be happy for him.

      Thank you… semoga bermanfaat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s