Gara-gara Hamil Duluan

Illustrasi: babble.com

SUDAH bukan barang baru lagi. Dari tahun ke tahun juga pasti saja ada yang seperti ini. Di mana-mana juga sama. Solusi terbaik dari segala kemungkinan pilihan yang terburuk. Daripada aborsi? Jangan sampe, deh!!!

Seorang mahasiswi berusia 20 tahun sedang hamil lima bulan. Kekasihnya sedang bermasalah dengan pihak berwajib pula. Biarpun dia tahu kalau dia akan menghadapi banyak sekali masalah, terutama dengan keluarganya, tetapi dia memilih untuk tetap menjaga kandungannya dan menikah dengan kekasihnya itu. Apapun resiko yang dihadapinya, dia sudah siap.

“Kenapa kamu mempertahankan kandunganmu?”
“Saya pernah berpikir untuk menggugurkannya, tapi tidak jadi. Bukan karena saya takut dengan resiko aborsinya, tetapi saya takut sama Tuhan. Saya yakin sekali kalau Tuhan memiliki maksud tertentu sehingga anak ini bisa ada di dalam perut saya. Saya sangat yakin.”
Muantap benar jawabannya!!! Saluuuutttt!!!! Jarang-jarang ada anak muda bisa berpikir seperti ini. Yang sudah lebih tua pun jarang banget!!! Hebat!!!

“Kamu yakin tidak akan ditinggalkan oleh pacar kamu itu?”
“Ini juga yang membuat saya bertambah tidak ingin menggugurkan bayi ini. Walaupun sekarang dia sedang dipenjara, tetapi dia tidak pernah sekali pun meninggalkan saya. Dia justru terus mendukung dan meminta saya untuk bertahan. Meyakinkan saya bahwa dia akan segera menikahi saya. Dia bahkan sudah bercerita kepada keluarganya. Luar biasanya, keluarganya itu juga bisa menerima. Mereka malah yang sekarang ini justru membantu dan melindungi saya. Tidak pernah ada hinaan, makian, atau cercaan keluar dari mulut mereka. Mereka sangat baik dan bijaksana. Mereka sangat perhatian dan terus berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk saya. Kalau sudah begini, apa saya harus merasa ragu?”
Sekali lagi, saya salut!!! Salut terhadap kekasihnya dan juga keluarganya itu. Saya malah berpikir kalau perempuan ini beruntung banget. Jarang!!! Jarang banget bisa bertemu dengan keluarga yang bisa berbesar hati dan menerima keadaan ini dengan lapang dada. Luar biasa!!!

“Orang tua kamu sendiri bagaimana?”
“Nah, ini dia masalahnya, Mbak! Sejak awal hubungan kami sudah ditentang oleh keluarga. Masalahnya, kami berbeda keyakinan. Saya juga anak tunggal, jadi Mbak tahu sendirilah bagaimana proteksi mereka terhadap saya. Untuk bisa membuat mereka memperbolehkan saya kuliah dan kos sendirian saja di sini sudah susah banget. Terbayang, kan, untuk urusan pria? Apalagi kemudian saya sampai hamil dengan orang yang paling mereka tidak suka?”

‘”Tapi biar bagaimanapun kamu harus bilang, kan?”
“Iya, Mbak! Saya tetap harus bilang. Benar apa kata keluarga pacar saya. Lebih baik bilang daripada tidak bilang. Mungkin orang tua saya akan lebih sakit hati kalau saya diam dan tahu dari orang lain duluan. Saya harus bilang.”

“Kapan?”
“Segera, Mbak! Sekarang ini saya sedang mengumpulkan semua keberanian saya untuk bisa menghadapi semua resikonya.”

Saya hanya bisa mendoakan saja. Semoga semuanya bisa berjalan lancar dan Tuhan memberikan yang terbaik.

Setelah bercakap-cakap dengan perempuan muda itu, saya jadi berpikir sendiri. Apa yang harus saya lakukan bila saya harus menghadapi situasi seperti itu, di mana saya bertindak sebagai orang tuanya? Apakah saya akan marah besar? Apakah saya akan mengusirnya? Apakah saya akan menerimanya? Saya sendiri punya dua anak perempuan. Masih kecil-kecil, sih, tetapi siapa yang tahu? Berharap, berdoa, dan berusaha tentu saja, tetapi siapa yang pernah tahu dengan masa depan?

Marah dan kecewa, sudah pasti. Wajarlah, ya? Cuma sekarang pertanyaannya adalah, marah terhadap siapa? Marah terhadap anak atau marah terhadap diri sendiri? Marah karena anak itu sudah melakukan kesalahan atau marah karena saya sudah gagal menjaga dan membesarkan anak itu? Siapa yang salah? Siapa yang benar? Siapa yang paling patut disalahkan?

Kebanyakan orang tua cenderung untuk difensif karena merasa sebagai orang tua yang selalu merasa telah berbuat benar dan baik. Ditambah lagi dengan rancunya pemikiran dan perasaan serta ketakutan terhadap rasa malu dengan diri sendiri dan juga keluarga serta orang lain. Siapa, sih, yang mau dianggap sebagai orang tua yang gagal? Siapa yang tidak malu menjadi bulan-bulanan dan bahan omongan orang? Mau ditaruh di mana muka ini?!!!

Saya kembalikan dulu pemikiran saya ke pertanyaan, sebenarnya apa yang paling saya harapkan dari anak? Apalagi kalau bukan kebahagiaan? Toh, semua usaha yang dilakukan untuk kebahagiaannya, kan? Egois banget rasanya kalau saya melakukannya untuk kebahagiaan saya sendiri. Kalau dia menjadi bahagia, saya juga pasti akan bahagia, kan? Lagipula, kebahagiaannya belum tentu sama dengan kebahagiaan saya. Apa yang membuat saya bahagia, belum tentu membuat dia bahagia. Sebagai orang tua, sudah sepatutnya untuk lebih bijaksana. Kalau memang sayang dengan anaknya, kebahagiaan anaklah yang paling utama.

Saya yakin bahwa akan sangat berat untuk bisa menghadapi masalah seperti ini. Bukan sesuatu yang mudah. Benar apa yang dikatakan perempuan muda itu, bahwa Tuhan pasti memiliki rencana sendiri. Memiliki maksud dan tujuan tersendiri. Kita tidak pernah tahu apakah itu pada saat ini. Dengan memiliki keyakinan bahwa semua ini hanyalah sebagai bentuk dari kasih sayang Tuhan terhadap umatnya untuk bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi, semuanya pasti akan terasa lebih mudah. Kesalahan sudah dibuat. Sekarang bagaimana memperbaiki semuanya untuk masa yang akan datang. Segala sesuatunya pasti memiliki hikmah. Tidak ada satu pun yang tidak.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi saya dan saya harapkan juga bisa memberikan banyak masukan bagi semua.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

22 November 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Gara-gara Hamil Duluan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s