Menelanjangi Perempuan

"Naked Woman Lying On Her Stomach" - Auguste Rodin

Tak jarang perempuan mengeluh dan bertanya kepada saya, Apakah saya seorang perempuan?!”. Alasannya karena saya sering dianggap tidak objektif bila harus menghadapi kasus yang melibatkan hubungan pria dan perempuan. Perempuan merasa saya terlalu memihak kepada pria, padahal pria banyak yang mengeluh karena saya tidak di pihak mereka.

Di sinilah sebenarnya letak objektifitas yang saya  selalu usaha tempatkan. Saya memang seorang perempuan, tetapi di sisi lain saya memiliki profesi yang membuat saya harus bisa menempatkan posisi. Saya harus bisa memberikan pandangan yang lain dari sisi yang berbeda, karena jika saya menempatkan posisi saya sebagai perempuan, maka tidak akan pernah objektif. Saya juga memiliki pemikiran dan cara pandang serta prinsip dan pendirian saya sendiri yang mungkin kontroversial dan dianggap berbeda atau bahkan gila. Tak mengapa, karena itulah saya.

Perempuan sangatlah indah dan menawan hati. Bukan hanya pria saja yang bisa terpesona memandangi kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan, tetapi perempuan pun sangat suka. Lekukan dan gemulai tubuh perempuan memang tiada duanya. Mata tak ingin berkedip, air liur mengalir, dan jantung pun berdegup bisa dengan sangat kencang. Pikiran dibuat melayang dan hamparan mimpi pun terbentang.

Memang tidak semua perempuan bisa memuji karena tak sedikit juga yang kemudian selalu membandingkannya dengan diri sendiri. Yah, sayangnya rumput tetangga selalu nampak lebih indah padahal bila ditanyakan padanya, bisa jadi rumput sendiri yang jauh lebih hijau dan menawan hati. Sehingga kemudian persaingan itu tidak bisa dihindari. Dipungkiri mungkin saja, karena hanya kejujuran yang bisa mengakuinya.

Hal ini bisa dibuktikan dengan betapa ketatnya persaingan di antara perempuan untuk urusan kecantikan dan keindahan tubuh. Tak sedikit yang rela untuk melakukan hal tak terduga untuk bisa memilikinya. Bukan hanya dengan cara diet ketat, olahraga gila-gilaan, dan operasi plastik, tetapi yang lebih berbahaya adalah kata yang diucapkan. Begitu seringnya perempuan perempuan menjatuhkan perempuan lainnya hanya karena persaingan yang sedemikian ketatnya. Ini bagi saya menunjukkan sekali betapa rentannya rasa percaya diri seorang perempuan, plus ditambah begitu mudahnya pria terkena hasutan perempuan. Yah, perempuan memang sangat luar biasa ya!!!

Coba saja perhatikan persaingan di sekolah-sekolah terutama di usia remaja. Sering banget ada kasus di mana perempuan saling adu mulut dan bahkan baku hantam hanya karena urusan “populeritas”, yang ujung-ujungnya tak lain tak bukan hanya karena kecantikan dan daya tarik seksual. Ini pun terus berlanjut hingga dewasa. Gosip dan hasutan terus berlanjut, kan?! Hehehe….

Pujian itu begitu pentingnya bagi perempuan dan disadari tidak disadari sangatlah dibutuhkan. Sehingga juga kemudian, sangatlah membuat sakit hati perempuan bila ditolak oleh pria, apalagi bila sudah menyerahkan diri. Ibarat harimau, yang  diberi daging mentah tetapi menolak untuk memakannya. Bisa jadi sebenarnya karena harimau itu sudah kenyang atau karena memang tidak merusak daging yang begitu indah itu. Sayangnya, lebih banyak yang beranggapan bahwa itu adalah sebuah “penghinaan” dan membuat daging itu seperti buruk rupa dan tak sedap untuk dinikmati.

Lebih parah lagi bila merasa sudah seperti seorang malaikat dan dewi yang paling patut untuk didengar dan dipuja-puji. Merasa lebih baik dari yang lainnya dan telah memberikan banyak sehingga patut untuk mendapatkan penghormatan dan penghargaan. Merasa juga bisa mengubah yang lainnya. Ini yang paling berbahaya karena seringkali semua itu hanyalah untuk membenarkan pemikiran dan kebenaran itu sendiri pun disangkal dan dipungkiri.

Makanya, jangan heran bila kemudian banyak perempuan yang justru semakin “memburu” karena ingin mendapatkan pengakuan. Ini alamiah saja dan bukan sesuatu yang aneh atau tidak wajar. Mana ada perempuan yang mau dibilang jelek, bodoh atau dianggap tidak layak dan patut?! Terlepas dari apa yang dilakukannya, tidak ada perempuan yang suka dihina dan merasa terhina secara fisik.

Perempuan juga memiliki gairah serta ambisi. Ini jangan pernah dilupakan. Perempuan memang lebih tahan sakit, tetapi perempuan juga memiliki keinginan dan kebutuhan. Saya sering berkata bahwa pria itu membutuhkan seorang ibu, sementara perempuan membutuhkan pria. Apa yang disebut dengan pria?! Yaitu mereka yang bisa memberinya kenyamanan, rasa percaya diri, dan yang terutama adalah merasa memang benar-benar dicintai.

Perempuan senang berkhayal dan berangan tentang keindahan dan itulah yang membuatnya bergairah. Banyak perempuan yang justru mendapatkan orgasme karena khayalan dan mimpi indahnya, bukan karena  penetrasi ataupun oral seksnya itu sendiri. Perempuan tidak perlu melihat fisik ataupun suara seperti pria untuk bergairah, cukup dengan kata-kata dan lagu, bisa membuatnya terbuai dan hanyut. Inilah yang juga menjadi kelemahan perempuan, sehingga mudah merasa jatuh cinta padahal tidak sama sekali. Ini juga yang membuat saya tidak bisa kemudian menyalahkan pria yang menggunakan rayuan dan jebakannya dengan menggunakan sejuta kata manis dan indah bahkan kata-kata suci sekalipun. Namanya juga usaha, pintar-pintarlah perempuan untuk bisa mengartikan dan memahami setiap kata itu dengan baik bila tidak ingin terjebak.

Sudah baca tulisan saya tentang “Jurus Ampuh Pria Petualang Cinta”, kan?!

Ambisi yang paling mengerikan dari seorang perempuan sekarang ini, menurut saya adalah soal “hak asasi” dan “persamaan”. Bisa dimengerti di dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, perempuan banyak yang lebih berperan mengingat perempuan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan memang lebih fleksibel dibandingkan pria. Namun tak sedikit perempuan yang kemudian menjadi “tinggi hati”dan lupa akan dirinya sehingga pada akhirnya “meremehkan” pasangannya apabila “tidak setara” atau tidak mampu memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Hal ini juga yang paling sering membuat perempuan menjadi sering berkeluh kesah dan lalu ujung-ujungnya berselingkuh.

Meski “hak asasi” dan “persamaan” ini menjadi sebuah ambisi besar tetapi bagi saya, bukti menunjukkan jelas sekali betapa sebenarnya perempuan membutuhkan pria. Yang dicari bukan pria yang bisa memenuhi kebutuhan secara finasial saja, tetapi lebih kepada pengertian dan pemahaman atas “kebutuhannya”. Ini bukan masalah pintar atau tingginya pendidikan, karena justru banyak perempuan yang berpendidikan tinggilah yang pada akhirnya lebih banyak seolah-olah percaya diri namun sebenarnya rapuh dan sangat labil.

Sudah bukan cerita baru lagi bagi saya bila perempuan berkeluh kesah atas kondisi ekonomi lalu menyalahkan sang suami yang beginilah, begitulah. Apalagi bila suami tidak bekerja dan memilih menjadi bapak rumah tangga. Bisa karena keadaan, bisa juga karena tidak ada pilihan. Banyak pria yang merelakan diri menjadi bapak rumah tangga demi karier istrinya dan anak-anaknya. Hanya saja, sampai berapa lama perempuan bisa bertahan?!

Bagi saya, untuk menyelesaikan masalah adalah tidak dengan melihat apa yang terjadi begitu saja, tetapi benang kusut harus diuraikan dan dicari ujungnya untuk bisa dibuat rapi kembali. Banyak yang menyesali karena sebenarnya cinta itu ada, hanya saja selalu ada alasan yang dianggap rasional dan realistis untuk membenarkan diri dan pemikiran. Hati nurani yang sesungguhnya pun dilupakan.

Belajar dari pengalaman saya sendiri, di mana saya adalah perempuan yang telah gagal membina rumah tangga karena salah satu faktornya adalah ketidakjujuran pada diri sendiri. Apa yang saya anggap rasional dan realistis itu ternyata hanyalah pemikiran saya sendiri saja bukan kejujuran dari hati nurani yang terdalam. Saya terlalu sombong dan tinggi hati karena memiliki banyak “kelebihan” dan juga terlalu manja karena terlalu mudah mendapatkan segala “keistimewaan”, dan saya merasa bisa memiliki semuanya sendiri karena saya bisa. Meski semua itu bertujuan tidak hanya untuk diri saya sendiri tetapi juga membahagiakan yang lainnya, tetapi ternyata saya sama sekali tidak mendapatkan kebahagiaan itu.

Saya sadar penuh atas kelebihan dan kekurangan saya dan semua itu seharusnya bisa memberikan banyak manfaat untuk semua namun tidak akan menjadi berarti bila saya tidak bahagia. Masturbasi otak itu memang mengasyikkan tetapi sesungguhnya hanya menipu diri sendiri dan yang lainnya. Saya tidak bisa mengubah yang lainnya karena setiap orang berbeda dan semua harus dimulai dari diri sendiri. Semua ada tempat, posisi, dan waktunya bila ingin bisa melihat keindahan dunia. Saya adalah saya dan saya adalah semua, semua adalah saya juga. Cinta saya adalah untuk semua. Bukanlah sesuatu yang penting bagi saya untuk dinilai ataupun mendapatkan nilai, yang lebih utama adalah apa yang terbaik yang bisa saya berikan.

Memang sangat tidak mudah untuk mau mengakuinya. Terus terang saja, sungguh membuat saya malu sekali. Namun saya tidak ingin lagi mengulangi kesalahan dan saya ingin lebih baik lagi. Lebih baik saya mengaku apa yang sebenarnya daripada harus menyalahkan yang lainnya meski harus menjadi pahit sekalipun. Percuma saja mengaku sudah sadar dan merasa lebih baik bila tidak berani menelanjangi diri. Sekarang mungkin baik, ke depan nanti?! Semua bisa menjadi bom waktu bila tidak diselesaikan dari intinya.

Menjadi diri sendiri dan apa adanya jauh lebih membuat nyaman dan bahagia. Kecantikan fisik serta kepandaian tanpa dibarengi dengan kejujuran dan kerendahan hati hanya akan membuat mutiara itu selalu akan terbalut sutra. Apalagi bila masih ada iri hati, dengki, dan juga marah. Kilauannya tidak akan pernah seindah seperti seharusnya.

Topeng itu bisa saja terus dipasang dan melekat hingga lupa sedang memakai topeng, tetapi topeng itu ada masanya akan terbuka sendiri.  Tidak ada pesta yang tidak pernah usah.  Sudah siap dan sanggupkah untuk menghadapi dan mempertanggungjawakannya?!  Manusia tidak ada yang sempurna tetapi manusia bisa mendapatkan kesempurnaannya bila memiliki cinta yang sesungguhnya.

Wahai perempuan, jadilah perempuan seutuhnya!!! Hargailah diri sendiri dan hormatilah yang lainnya, bersyukurlah atas semua yang dimiliki dan berikanlah cinta untuk semua.

 

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mariska Lubis and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Menelanjangi Perempuan

  1. Salam kenal mba ML

    Content blog mba sangat bermanfaat untuk saya pribadi. Boleh izin ngelink blognya ga mba? Makasih sebelumnya

    Ama Atiby

  2. kangmas says:

    Wow. Cintamu untuk semuanya. Makasih M. Manis sekali tulisan ini. Met merayakan tahun baru bersama anak2x. Salam utk papi mami.

  3. Weee says:

    saya nge’share’ saja mbak,…

  4. sparkling wine says:

    Ka Ika…, yg ditulis kk adalah kenyataan yg terjadi di kehidupan sehari-hari. sangat inspiratif… thanks for sharing your thoughts through your writing.

  5. rini says:

    Wow, berasa banget mbak. Membaca tulisanmu yg mengena ini, sama seperti membaca (menelanjangi) diri sendiri. I can relate to your stories, khususnya di bagian akhir tulisanmu ini. Terima kasih sudah berbagi melalui tulisan-tulisannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s