Cemburu Itu Benar Buta

Illustrasi: navedz.wordpress.com

Seorang pria mendesah karena ada banyak sekali pria yang cemburu dengannya. Tidak ada yang dilakukannya selain memberikan banyak keindahan kepada semua. Bilapun memang ada perempuan yang menyukai dan jatuh cinta padanya, itu adalah akibat dari semua keindahan yang diberikannya. Kenapa harus dicemburui?

Seorang perempuan juga mendesah karena banyak sekali perempuan yang cemburu dengannya. Tidak ada yang dilakukannya selain dengan menjadi dirinya sendiri dan apa adanya saja. Bilapun banyak pria yang jatuh hati paadnya, itu bukan karena dia menginginkannya tetapi karena memang sudah alaminya saja begitu. Kenapa harus cemburu?!

Ada lagi seorang pria yang mendesah karena banyak sekali perempuan yang cemburu dengan perempuan yang dekat dengannya. Dekat belum tentu kekasih hati, tetapi memang dekat sebagai sahabat tercinta.  Jika yang cemburu itu adalah memang pasangannya, mungkin bisa dimaklumi, tetapi perempuan-perempuan yang cemburu itu adalah mereka yang menyukai pria itu dan tidak mendapatkan tanggapan darinya. Bahkan kemudian perempuan-perempuan itu mencemarkan nama baiknya dan juga nama baik perempuan-perempuan yang mereka cemburui. Kok bisa, ya?!

Itu baru segelintir desahan dari para pria dan perempuan soal hubungan antara perempuan dan pria. Bagaimana dengan rasa cemburu yang berhubungan dengan karier, posisi, dan tempat?!

Seorang perempuan mendesah karena dicemburui oleh pria dan perempuan yang merasa “lebih” darinya. Mereka tidak mau mengakui bahwa sebenarnya mereka sama sekali tidak lebih namun ingin menjadi lebih karena dasarnya adalah cemburu. Apapun mereka lakukan untuk menjatuhkan dan bahkan merusak perempuan itu agar bisa mendapatkan “nilai lebih” serta keuntungan lainnya hanya karena tidak mau jujur mengakuinya dan terlalu malas untuk mau berproses serta berjuang dengan cara yang benar dan sehat.  Sebegitu besarnyakah rasa cemburu hingga mengalahkan hati nurani?! Sebegitu sulitnyakah menerima fakta dan kenyataan?!

Lain lagi dengan pria yang satu ini. Dia mendesah karena banyak yang cemburu karena dia bukan hanya dikagumi karena ketampanan dan kebaikan hatinya, tetapi juga karena ide-ide cemerlangnya, hingga dia pun harus disingkirkan dan jatuh. Bilapun dia kemudian genit ataupun nakal, ya, karena memang begitulah dia. Bukan salahnya bila banyak yang tergoda oleh sejuta rayuan dan kata manisnya. Bukan salah dia juga bila dia memiliki kecerdasan dan inspirasi yang menggairahkan. Kenapa harus disalahkan dan dicemburui?! Apakah menjadi sebuah kesalahan bila dia memiliki banyak anugerah dan bisa menggali potensialnya dengan baik?!

Rasa cemburu itu ada dan alamiah saja namun kenapa harus membesar-besarkannya dan melakukan berbagai pembenaran. Bukankah rasa itu sangat mengganggu hati dan pikiran. Sangat tidak sehat dan tidak baik bagi untuk diri sendiri. Apa tidak bisa mengembalikan rasa cemburu itu kepada pemiliknya saja. Untuk apa disimpan dan larut tenggelam oleh rasa cemburu?!

Bila ada rasa cemburu itu timbul, seharusnya malah malu. Itu sama saja berarti secara tidak langsung berarti telah dihadapkan dengan kekurangan yang sebenarnya. Seharusnya justru membuat semakin sadar atas ketidaksempurnaan diri sehingga lebih baik bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana saya bisa menjadikan kekurangan itu menjadi sebuah kelebihan?!”.

Jika pun memang itu berarti harus ditinggalkan, tidak perlu harus memaksa karena  siapa yang suka dipaksa?! Apa diri sendiri pun mau dipaksa?! Yang namanya cinta bukan pertandingan dan bukan masalah menang atau kalah.  Kalau dia memang pergi, berarti dia bukan yang terbaik untuk diri sendiri. Jika dia cinta, dia pasti akan bertahan dan kembali meski mungkin perlu waktu untuk menyadarinya. Sedih, pasti. Cinta itu ada dan selalu ada, kenapa harus ragu, takut, dan tidak yakin?!

Begitu juga dengan masalah karier, posisi, dan tempat. Masing-masing memiliki posisi, tempat, dan waktunya masing-masing. Lebih baik belajar saja lagi daripada harus memaksakan diri. Capek sendiri dan hanya buang waktu serta energi percuma saja. Yang rugi siapa?!  Untuk apa memperebutkan semua itu bila memang belum waktunya. Fokus saja dengan apa yang menjadi tujuan dan terus berusaha menggali lebih dalam lagi agar semua kelebihan itu menjadi lebih tampak.

Hal ini juga yang sering kemudian menjadi sebuah keluhan tersendiri lagi, di mana tak sedikit teman dan sahabat yang gemas dengan perilaku mereka yang demikian. Ya, ada memang sebagian orang yang lebih suka mundur dan mengalah daripada harus tampil dan harus mempertontonkan segala yang mungkin dianggap hebat oleh yang lainnya. Kalau tidak suka, bagaimana?!

Mungkin saja mereka sudah tidak lagi mementingkan dan menginginkan semua itu. Mereka sudah pernah mendapatkan dan merasakannya sehingga tidak perlu lagi diburu dan dijadikan tujuan. Banyak yang demikian karena tujuan mereka bukanlah semua nilai itu lagi. Saat semua itu sudah pernah diraih, lalu apa?! Apakah itu menjadi sesuatu yang harus membuat kita sombong lalu menghentikan perjalanan? Tujuan belum juga diraih, kenapa mau dihentikan oleh kepuasan dalam nilai manusia saja?!

“Ketenaran dan populeritas bukanlah yang saya kejar dan saya cari. Mereka datang dengan sendirinya dan bukan itu yang bisa membuat saya bahagia. Saya tidak membutuhkan semua itu karena bukanlah yang saya inginkan. Begitu juga dengan materi dan segala puja dan puji. Semua itu hanyalah semu dan sementara. Saya ingin yang abadi dan selamanya. Itulah yang menjadi tujuan saya. “

Lagi pula, paling tidak enak dicemburui! Masing-masing memiliki bintang dan semua adalah bintang. Bagaimana kemudian kita mau mengukirnya, itulah yang seharusnya dipikirkan. Setiap manusia memiliki peranannya masing-masing di dalam kehidupan ini dan semua tergantung dari bagaimana kita mau memberikannya. Apa yang kita lakukan tentunya juga memiliki pengaruh terhadap diri kita sendiri juga. Apa yang sudah kita perbuat?!

Lebih parah lagi, bila cemburu dengan orang-orang terdekat. Kenapa  tidak boleh dekat dengan mereka? Mereka menjadi dekat dan spesial tentunya karena ada rasa yang saya miliki dan itu tidak bisa saya pungkiri. Lagipula, kalau sayang dan cinta, ya sayang dan cinta saja. Tidak perlu harus kenapa-kenapa, kan?! Tidak ada alasan yang membuatnya demikian selain karena memang dari dalam hati saja.

Bilapun  ada yang khusus dan spesial, bukankah itu wajar?! Masa tidak boleh memiliki hubungan khusus dan spesial sementara yang lain boleh?! Masa mereka pun tidak boleh menjadikan yang lain spesial dan khusus sementara diri sendiri melakukannya?! Hehehe….

Tulisan ini saya buat sebagai ungkapan dari lubuk hati terdalam, di mana saya tidak ingin kedamaian itu harus rusak hanya oleh rasa cemburu dan permainannya. Saya tidak mau terlibat dan menjadi yang dipermainkan oleh mereka yang mengambil keuntungan dari semua permainan ini. Sungguh sama sekali tidak memberikan manfaat selain merusak kebahagiaan yang pernah ada itu meski memberikan keuntungan yang besar bagi pihak-pihak yang melakukannya.

Jadilah manusia yang memiliki kedamaian dan bahagia. Lebih enak damai dan bahagia bukan?! Penuhilah diri dengan cinta dan berikan cinta. Berdamailah dengan diri sendiri dan miliki kebahagiaan yang senantiasa abadi.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi, Perubahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Cemburu Itu Benar Buta

  1. Mahesa Djenar says:

    woke. mantap mbak satu ini. aku cemburu sama tulisan ini. indah. salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s