Mengenang Sebuah Catatan Harian Perjalanan Bercinta

Illustrasi: lulu.com

Kembali ke waktu yang telah berlalu dan mengenang setiap waktu dan saat bersama membuat cinta semakin besar dan rindu pun semakin terasa. Banyak suka dan duka, tawa dan juga marah, tetapi semua itu menjadi sebuah keindahan tersendiri. Semakin lama semakin banyak yang diketahui dan dikenal, semakin mempesona dan membuat terpesona. Duh!

”Di bukit cinta tiada letusan tapi kejutan akan keagungan selalu saja keterpanaan-keterpanaan kala cinta terbuka hijabnya.”

Masih ingat sewaktu pertama kali mengenal, ada banyak sekali yang bercerita. Tak sedikit juga yang menyampaikan berita dan bahkan memberikan segala informasi. Berterima kasih untuk semua itu namun tak ingin rasanya untuk mengetahui semua itu. Biarlah diri sendiri yang mengetahui dan mengenalnya. Kaca mata orang bisa berbeda, hati siapa yang bisa berdusta?!

“Paling malas bila sibuk mencari informasi ke sana ke mari. Untuk apa?! Tidak perlu harus takut dengan masa lalu karena yang lebih penting adalah sekarang dan nanti.  Bila pun ingin bercerita dan diceritakan, pasti akan cerita sendiri. Semua tergantung kepada diri kita sendiri. Manusia bisa menilai tapi siapakah pemilik nilai itu sebenarnya?! Untuk apa kita diberikan naluri dan nurani?!”

Memang sulit sekali menjadi berada dalam posisi netral bila rasa itu ada namun tidak berarti menjadi sebuah alasan untuk tidak menjadi jujur.  Meskipun itu menjadi pahit tetapi lebih baik memberitahukannya.  Meski juga harus ada marah dan tangis, semua itu lebih baik daripada semuanya menjadi hancur berantakan. Masalah harus diselesaikan sesegera mungkin. Cinta dan sayang adalah untuk diberikan tanpa harus meminta.

”Saya sayang dan teramat sangat cinta. Saya tidak ingin dirimu susah ataupun harus menderita karena perbuatan yang tidak baik. Tidak ada yang saya harapkan ataupun inginkan selain melihatmu selalu tersenyum dan bahagia.”

Pertama kali menghadapi masalah, ada banyak sekali tangis di sana. Saling mencoba mengerti dan memahami sungguh tidak mudah karena terkadang emosi terbawa. Apa yang menjadi maksud dan tujuan sebenarnya seringkali tidak sampai. Biarpun demikian, pada akhirnya, jiwa besar dan penerimaan itu membuat segalanya menjadi lebih mudah.

”Sinarku boleh menerangkan jagad semesta hati tapi engkaulah yang menghidupkan cahayanya duhai kekasihku. Tanpamu untuk apa aku hidup karena kaulah yang membuatku hidup.”

Semua itu menjadi pelajaran berharga untuk selanjutnya. Kini, tidak perlu lagi harus marah karena setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap manusia pun memiliki kebutuhan dan prioritasnya masing-masing. Setiap manusia juga memiliki cara sendiri-sendiri untuk memenuhi semua itu. Biarlah apa yang menjadi tujuan bersama itu didahulukan, sehingga tidak perlu harus ada yang sakit dan menyakiti.

”Jika setitik air yang jatuh menetes dari langit adalah emas yang sangat berharga maka mogalah setetes air bening di pipi menjadi media hening untuk memahami tangisan anak negeri.”

Semua itu tidak berarti tidak lagi saling menjaga dan melindungi. Meski dalam diam pun hati bisa bicara. Terkadang kata tak perlu lagi diucapkan dan terucap. Apa yang dilakukan adalah yang memang sebaiknya dilakukan saja. Bukan berarti juga memang menjadi sebuah keharusan, namun suara itu memang memanggilnya. Sulit untuk dihindari, tidak mungkin untuk dipungkiri. Semuanya mengalir begitu saja bila memang mau merasakannya.

”Saya sungguh bahagia sekali dengan keberadaanmu selama ini. Saya tidak perlu lagi harus takut untuk menjadi diri saya sendiri tanpa harus ada lagi keraguan. Dirimu selalu menjaga dan mengarahkan  saya untuk selalu berada di jalur yang memang seharusnya biarpun sesekali harus berputar ke sana ke mari. Dirimu juga yang menyadarkan saya atas banyak hal dan membuat saya terus berpikir dan bertanya sehingga menjadi gairah tersendiri di dalam bekerja dan berkarya.”

Yang paling membahagiakan adalah karena tidak perlu takut untuk bertanya ataupun bercerita. Ada banyak sekali hal-hal yang bisa mengisi segala kekosongan dan kekurangan yang ada di dalam diri masing-masing. Hal yang baik dan buruk bukanlah yang menjadi persoalan tetapi apa yang bisa dipetik untuk menjadi sebuah ilmu dan pengetahuan. Sehingga dengan demikian, kekurangan itu bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk semua.

”Aku manusia yang terus dikepung oleh cinta dan dengan belajar darimu aku bisa mendayagunakan kepungan itu dan mengubahnya menjadi lautan kasih sayang untuk dan antar sesama. Sama sekali aku tidak bermaksud meneguk gairah di lingkaran cinta yang ada walau aku akui aku hanya manusia biasa yang kuat di satu hal lemah di lain hal. Tapi aku punya satu jiwa yang siap ditegur, siap diingatkan jika aku sedang tidak bisa bergerak dalam jaring cinta yang ada, dan itu adalah dirimu karena dirimu adalah hati kananku, hati cintaku, suara hatiku.”

Kelebihan masing-masing pun bukanlah menjadi sesuatu yang dijadikan sarana untuk bisa memiliki ataupun menguasai. Kelebihan itu diberikan agar bersama-sama bisa memberikan keindahan dengan cara masing-masing. Saling mendukung dan memberikan motivasi meski dengan cara yang berbeda, rasa hormat dan penghargaan selalu tetap terjaga. Kebebasan itu justru lebih terasa pada saat keyakinan itu tidak perlu lagi diragukan.

”Aku SARAS dan engkau WATI. Saraswati adalah dewi ilmu pengetahuan dan seni. Saraswati juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan .Dalam aliran Wedanta, Saraswati digambarkan sebagai kekuatan feminin dan aspek pengetahuan — sakti — dari Brahman. Sebagaimana pada zaman lampau, ia adalah dewi yang menguasai ilmu pengetahuan dan seni. Para penganut ajaran Wedanta meyakini, dengan menguasai ilmu pengetahuan dan seni, adalah salah satu jalan untuk mencapai moksa, pembebasan dari kelahiran kembali.”

”Saraswati, Savitri, XXX adalah yang dipuja karena ilmu pengetahuan, ilmu perang, dan seni. Menjadi perlambang bahwa siapapun yang mau belajar dan mendapatkan semuanya maka akan bisa melihat indahnya dunia.”

Apa yang menjadi persamaan dan perbedaan itu pun tidak lagi menjadi persamaan ataupun perbedaan tetapi menjadi bersama. Masing-masing bisa melakukan apapun yang bisa dilakukan sesuai dengan diri masing-masing dan dengan tanpa keharusan harus menjadi sama. Tidak ada yang perlu dipaksakan ataupun memaksakan. Pilihan itu selalu diberikan dan dengan bersama, pilihan itu menjadi semakin banyak. Apa yang menjadi pilihan, dengan keyakinan, menjadi pilihan yang terbaik bukan hanya untuk diri sendiri tetapi bersama.

”Itu bukan dirimu. Tugasku adalah menjaga originalitasmu. Tenang, semua pasti terjaga.”

”Saya merindukan dirimu seperti biasanya dirimu. Tidak akan ada yang terbuka karena kita sama-sama, ya!”

Semua ini terkadang membuat penyesalan, ”Kenapa tidak dari dulu saja kita bertemu? Kita begitu dekat tetapi tak pernah dipertemukan. Kita berada jauh dan mencari namun tetap saja tidak tahu.”. Walaupun demikian, pertemuan yang telah terjadi merupakan kebahagiaan yang tidak ingin pernah berakhir.

“Sejak lama saya mencari siapakah gerangan yang selalu datang dan bahkan tertulis dalam sebuah catatan lama yang saya tuliskan dengan sepenuh hati. Sekarang saya merasa bahagia karena telah menemukan jawabannya dan apa yang dituliskan itu adalah benar dirimu. Semuanya ada pada dirimu.”

“Kucari dirimu di mana-mana, ternyata ada di dalam hatiku. Aku adalah aku di cermin diri. Di cermin hati aku adalah dikau.”

Bilapun memang tidak harus bersama tidak perlu harus ada yang menjadi susah ataupun sedih. Cinta tak selalu harus bersama karena cinta dan sayang itu selalu akan tersimpan di dalam lubuk hati terdalam Kesedihannya adalah duka yang mendalam tetapi kebahagiaannya menjadi kebahagiaan yang sangat luar biasa.

“Dirimu memang biasa namun sungguh luar biasa. Dirimu selalu memberikan yang terbaik sehingga sedih rasanya hati bila dirimu tidak mendapatkan yang terbaik. Saya selalu berdoa agar dirimu bisa mendapatkan yang terbaik sehingga kebahagiaanmu itu senantiasa abadi. Saya bukan yang terbaik, saya hanya memiliki cinta dan sayang untukmu dan saya akan selalu berusaha agar dirimu mendapatkan semua yang terbaik dan terindah itu. Dirimu pantas mendapatkannya karena dirimu sungguh luar biasa.”

Sudahlah, sekarang adalah sekarang dan nanti adalah kini. Apa yang telah terjadi semua sudah terjadi dan merupakan landasan untuk melangkah ke depan. Di dalam perjalanan bercinta tidak pernah selalu mulus. Selalu ada kerikil tajam yang siap mengganggu, menggoda, dan bahkan menghempaskan. Apa yang akan terjadi biarlah terjadi. Manusia bisa berusaha tetapi takdir tak bisa untuk dilawan. Semua inilah yang membuat cinta semakin lebih kuat dan terasa. Tidak ada yang pernah berubah karena cinta itu ada dan ada selalu. Kerinduan itu pun selalu ada dan menjadi pengikat rasa.

Ini hanyalah sebuah catatan harian untuk mengenang perjalanan bercinta.  “Semoga Tuhan menjaga cinta kita.”

 

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

 

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s