Seks dan Catur Politik

Seorang tokoh yang menjadi idola masyarakat yang pernah berkata bahwa seks itu adalah sampah. Dia tidak mau menyentuh masalah itu karena dia adalah seorang tokoh yang berkecimpung di dunia politik. Jika bicara soal politik, dia merasa yakin mampu, sementara soal seks, itu bukan bidangnya sama sekali.

Saya tidak bermaksud untuk melecehkan beliau, tetapi saya harus mengakui bahwa saat itu saya tertawa tergelak-gelak mengetahui apa yang diucapkannya. Masalahnya, itu semua ditujukan kepada saya langsung. Saya hanya tidak habis pikir saja, bagaimana seorang ahli politik sama sekali tidak bisa mengerti tentang seks.

Wajar dan saya tidak seharusnya tertawa. Memang pada fakta dan kenyataannya masih banyak yang belum mengerti dan paham tentang seks yang sebenarnya. Seks masih hanya seputar seonggok daging di belahan paha saja dan tidak lebih dari itu, sehingga dianggap sangat jauh sekali dari politik. Lagipula, kelasnya mungkin berbeda. Seks itu selangkangan, sedangkan politik itu sangat intelektual dan elite.

Saya saja yang memang mengartikan dan memahami seks dan politik itu sebagai satu hal yang sama. Seks itu politik dan politik itu seks. Seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Politik adalah bagaimana untuk bisa terus hidup dan memiliki kehidupan. Sehingga bagi saya, seks dan politik adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa dibedakan bila dimengerti dan dipahaminya secara demikian.

Bila saya bicara tentang bagaimana untuk mencapai orgasme,bisa diartikan dengan bagaimana untuk mencapai tujuan. Bila saya bicara tentang penis dan vagina, bisa diartikan dengan alat-alat politik. Bila saya bicara tentang  tubuh, bisa diartikan sebagai sarana politik. Soalnya, seks dan politik sama-sama memiliki tujuan dan menggunakan alat serta sarana untuk mencapainya. Persis seperti permainan catur.

Kebetulan saya memang suka dengan permainan catur karena menurut saya sangat menantang sekali. Kalau seks dan politik sudah bukan suka lagi tetapi sangat suka dan sangat membutuhkannya. Hingga setiap kali saya melihat permainan catur, yang ada di dalam benak saya adalah permainan seks dan politik. Makanya betah! Hehehe….

Untuk bisa memenangkan permainan catur, yang menurut saya krusial adalah kemampuan untuk membaca pikiran lawan. Langkah yang diambil harus bisa mengantisipasi langkah dari lawan selanjutnya dengan tidak terbaca. Sehingga dengan demikian, diperlukan sekali pengetahuan yang mendalam dari semua sudut pandang dengan segala faktor-faktor yang ada dan terlibat di dalamnya. Yang dipikirkan bukanlah apa yang sedang terjadi saja tetapi yang akan terjadi dan apa yang akan dilakukan untuk bisa terjadi dan menjadi, namun tetap fokus pada tujuan. Persis sama dengan seks dan politik, kan?!

Biarpun begitu, tidak berarti pemain catur yang hebat, hebat pula dalam urusan seks dan politik, demikian juga sebaliknya. Begitu juga dengan mereka yang hebat bermain seks belum tentu handal dalam urusan politik dan catur, juga sebaliknya. Kita tidak bisa mengeneralisasinya demikian karena masing-masing memiliki posisi, tempat, dan waktunya masing-masing. Tidak bisa semua menjadi sama karena selalu ada perbedaan. Buktinya, sudah jelas. Tokoh politik pun tak paham dengan seks, kan?!

Pertanyaannya, bagaimana kemudian para politikus yang tak mengerti tentang seks ini bisa memenangkan catur politik?! Saya benar-benar tidak mengerti apa yang dimainkan. Siapa yang sebenarnya bermain dan dipermainkan?! Apa saya saja, ya, yang berpikirnya terlalu jauh?!

Saya mengambil contoh kasus saja tentang masalah pelecehan seksual yang banyak terjadi dan menimpa para Tenaga Kerja Wanita Indonesia di luar negeri. Sepertinya tidak pernah usai dan tidak juga ditanggapi serius kecuali bila benar-benar sudah heboh. Apa memang karena tidak mengerti tentang seks? Tidak mengerti tentang politik?! Apa mereka ini sebenarnya tahu hanya berlagak saja tidak tahu?! Bisa juga mereka tahu dan justru inilah permainan mereka. Semuanya mungkin, kan?!

Begitu juga dengan berbagai aturan dan peraturan hukum serta perundangan yang berlaku yang berhubungan dengan masalah seks seperti peraturan menikah dan bercerai. Sudah jelas banyak yang tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 45. Jelas banget juga sudah sangat tidak adil pada penerapannya, dan bahkan sangat merusak persatuan dan kesatuan serta keutuhan bangsa dan Negara. Kenapa masih dibiarkan terus?! Apa, ya, maksudnya?!

Urusan bagaimana dagang seks di politik pun seolah-olah sudah menjadi sebuah budaya yang bisa dianggap wajar. Mungkin karena justru di sanalah permainan catur itu dimainkan, ya?! Mana ada lawan yang tahu karena semuanya tertutup sedemikian rapatnya. Bilapun diketahui lalu dibuat seolah-olah tidak ada dan tidak terjadi. Hingga bila sudah sangat terbuka sekalipun, mudah saja dianggap sebagai permainan politik kotor untuk menjatuhkan. Siapa yang menang, siapa yang kalah?!

Mungkin bagi mereka, menang dan kalah itu sangat penting. Soalnya, siapa yang menang, merekalah yang menjadi penguasa. Tidak penting apakah mereka memang benar seorang pemenang sejati atau bukan, pokoknya bisa menggapai tujuan pribadi. Urusan dan kepentingan bersama, rakyat, bangsa, dan Negara, itu hanya bisa-bisanya saja agar apa yang ada di dalam benak dan pikiran serta langkah yang sebenarnya tidak diketahui. Siapa suruh tidak tahu! Begitu, ya?!

Benar juga bila dipikirkan. Memang salah sendiri juga kenapa sampai sebegitu bodohnya tidak bisa membaca permainan dan juga taktik serta langkah sehingga bila ada yang turut bertanding dan melawan pun tak pernah bisa menang. Tinggal diberi kesenangan sedikit saja sudah lupa daratan, kok! Malah tak sedikit yang sampai menyembah dan merelakan diri untuk terus memakai kaca mata kuda. Bahkan banyak yang siap dengan perisai dan pedangnya untuk membela sekaligus untuk menghancurkan dan memusnahkan.

Sungguh aneh bin ajaib! Bila harus dipikirkan secara logika sepertinya semua ini tidak masuk di akal bisa terjadi. Lebih apesnya lagi, kenapa sampai bisa terjadi? Susah benar, ya, jadi orang bodoh. Pertanyaan tak pernah habis padahal jawaban sudah ada dan tinggal diyakini saja. Kenapa juga jawaban harus menjadi pertanyaan baru? Terima saja kenapa?! Pasrah juga bisa, kan?!

Ya, lebih enak memang jadi orang pintar. Semua masalah bisa diselesaikan dengan lebih mudah. Tidak perlu juga harus bertanya karena sudah tahu semua jawabannya. Tidak sampai harus mengerenyitkan dahi pula karena apa yang dilihat dan didengar, apa yang terbanyak dan terbesar, itulah yang pasti benar. Logis dan realistis sekali bila apa yang paling umum dan dianggap benar, itulah yang pasti benar. Untuk apa susah-susah dan repot, masa, sih, yang banyak itu salah?! Makanya, kalau mau jadi benar, jadilah yang paling banyak dianggap benar dan paling disukai oleh umum. Kalau perlu, mereka yang bodoh itu ditendang dan ditenggelamkan saja. Yang banyak sudah pasti menang. Begitu saja, repot!

Hanya orang bodoh juga yang bertanya, kalau memang itu benar, kenapa yang banyak itu yang paling dirugikan ya?! Kok mau dirugikan terus?! Jangan-jangan memang sengaja pula dibuat demikian karena bagian dari permainan. Aduuuhhh!!!

Ya, sudahlah. Bila memang mau terus demikian mau apa lagi?! Biarlah saya tetap menikmati permainan catur dengan membayangkannya sebagai permainan seks dan politik. Biarlah saya juga yang repot dan susah serta tetap menjadi bodoh dengan selalu bertanya dan tidak pernah bisa menemukan jawaban. Bagi saya, kalah dan menang itu tidak penting. Apalagi bila harus menjadi yang terbanyak dan terbesar. Saya adalah saya dan saya sangat bahagia karenanya.

Seks dan catur politik?! Sebentar, ya! Saya mau matikan dulu semua tontonan dan semua suara biar saya bisa lebih menikmatinya.

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik, Sosial dan Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s