“Ah, Tanggung!” Payah, Ah!!!

Illustrasi: dailymail.co.uk

Memang paling tidak enak bila sedang tanggung lalu harus ditunda meski tahu bahwa itu akan membuat yang lain menjadi tidak bahagia. Sadar juga bahwa itu bisa berakibat fatal yang merugikan diri sendiri. Namun apa daya, bila kesadaran itu sudah tidak lagi dimiliki, apa yang dipikirkan hanyalah untuk diri sendiri. Yang penting sudah orgasme, yang lain mana peduli! Begitu, kan?!

Gairah memang sangat penting di dalam menjalani sebuah hubungan. Membangkitkan gairah di awal sangat mudah namun untuk bisa mencapai kepuasan bersama dibutuhkan sekali kerja sama yang baik dan rasa kebersamaan. Begitu juga untuk bisa mempertahankan gairah itu agar tetap ada dan selalu ada karena sangat dibutuhkan saling pengertian dan pemahaman. Selama keselarasan itu dikalahkan oleh ambisi dan kepentingan pribadi yang hanya berupa nafsu meski mengatasnamakan cinta, tidak akan pernah bisa terjaga semuanya.

Seperti halnya juga pada saat berhubungan seksual. Banyak sekali yang tidak bisa mengendalikan diri atau pasangannya sehingga orgasme itu tidak bisa dicapai oleh keduanya. Apalagi kalau sudah terlalu asyik dan hampir mencapai ejakulasi, untuk menundanya sementara waktu agar bisa orgasme bersama tentunya tidak mudah. “Ah, tanggung!”.

Yang paling menyebalkannya lagi, bila sudah orgasme lalu langsung balik badan dan tidur. Membiarkan pasangannya begitu saja seperti habis manis sepah dibuang. Sekali dua kali mungkin masih bisa ditahan, lama-lama menjadi sebuah amarah yang bisa dipendam atau bisa juga langsung meledak. Pada masa dan waktunya tiba, tentunya akan keluar juga. Sudah siapkah menerimanya?! Kebanyakan, sih, tidak!!!

Justru lebih banyak yang menutupi masalah sehingga kemudian berlarut dan berkepanjangan. Mencari pembenaran dengan berbagai alasan untuk membenarkan diri. Mengelabui diri dan lainnya dengan memakai topeng yang bisa dibuat aneka rupa dan warna serta gaya. Namun sesungguhnya, siapa yang paling menderita?!

Paling parah  bila kemudian dilakukan juga oleh pasangannya. Sama-sama berpura-pura seolah-olah tidak ada masalah dan sekali lagi dengan mengatasnamakan cinta. Hingga kemudian masuk pada fase jenuh dan bukannya menyelesaikan masalah yang ada, malah asyik sibuk mencari pelarian di tempat lain. Jarang sekali ada yang mau mengakui masalah yang sebenarnya dan selalu saja menyalahkan pasangannya, padahal belum tentu juga.

Bila sudah tidak bisa mengendalikannya karena masalah itu bisa dengan sendirinya mencuat ke permukaan bila tidak tahu bagaimana mengendalikannya. Semakin berpura-pura, semakin banyak alasan dan pembenaran dibuat. Semakin berdusta apalagi. Bertanya pun menjadi sekedar bertanya saja atau memiliki maksud dan tujuan lain untuk membenarkan perbuatan. Untuk apa bertanya jika merasa sudah lebih tahu dan paling benar?!  Selesaikanlah sendiri bila memang merasa mampu dan jangan menyalahkan lagi yang lain bila menjadi semakin parah.

Di dalam seks, faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya ejakulasi dini adalah karena tidak mau mengakui masalah sejak awal hingga kemudian berlarut dan pada akhirnya semua itu menjadi di luar kendali. Selain itu, juga masalah psikis akibat kurang percaya diri sehingga kemudian banyak melakukan pura-pura, kebohongan, dan yang paling sering adalah menyalahkan pasangannya  untuk menutupinya. Ini menyebabkan kondisi secara fisik dan psikis tidak akan pernah menjadi lebih baik. Jadilah kemudian menderita ejakulasi dini.

Memang belum ada bukti signifikan bahwa masturbasi bisa menyebabkan ejakulasi dini. Malah ada ahli yang mengatakan bahwa bisa jadi mereka yang mengaku tidak pernah masturbasi dan tidak melakukannya justru merekalah yang terkena masalah ejakulasi dini dan bahkan impotensi. Namun masturbasi yang terlalu berlebihan memang tidak sehat karena bisa mengganggu kondisi psikologis seseorang. Banyak yang kemudian terganggu karena menjadi seorang seks maniak yang sudah merupakan penyimpangan kejiwaan perilaku seksual.

Sama saja dengan para penderita ejakulasi dini intelektual. Faktor penyebabnya tidak ada bedanya. Rasa takut dan rasa bersalah atas segala kebohongan dan dusta serta kepalsuan biar bagaimanapun juga akan terus mengejar dan menghantui diri. Membuat tidak lagi bisa berpikir panjang dan segala yang dilakukan hanya untuk sesaat saja dan demi untuk kepentingan diri sendiri meski mengatasnamakan orang lain, bangsa, dan Negara. Apalagi bila ada marah, iri hati, dengki, dan dendam, semakin parahlah jadinya. Pikiran negatif itu akan terus muncul dan mendera diri sendiri.

Jika sudah demikian, mau berjuang sekeras apapun tidak akan pernah bisa mencapai puncak kenikmatan itu. Perilaku tidak bisa dibohongi meski merasa semuanya wajar dan biasa-biasa saja. Tidak sadar bahwa apa yang telah dilakukan itu telah membuat diri sendiri semakin lama semakin terpuruk dan jatuh ke dalam jurang. Sementara orang lain yang berusaha di-“kambinghitamkan” terus melaju dan semakin tinggi menggapai puncak. Semakin marah lagi?!

Tidak mau mengakui bahwa telah melakukan masturbasi otak dan onani intelektual itu jelas sebuah bukti telah melakukan dusta. Bila tidak berdusta, berarti memang tidak memiliki kemampuan berpikir. Mana ada orang yang tidak melakukan masturbasi otak dan onani intelektual saat berpikir?! Masalahnya, apakah kemudian semua itu hanya menjadi sebuah orgasme sendiri atau bisa memberikan banyak manfaat yang bisa membuat semua orgasme?!

Mereka yang kebanyakan masturbasi otaklah yang parah. Mereka selalu berkutat dengan pemikirannya sendiri tanpa juga mau menambah wawasan dan kemampuan berpikir. Merasa sudah “paling” duluan, sih?! Merendah pun hanya menjadi topeng sementara di belakang tak henti menusuk ke kiri ke kanan. Konsolidasi dan kompromi terus dilakukan untuk menghimpun kekuatan namun semua itu sifatnya hanya sementara saja. Mana bisa bertahan bila topengnya sudah terbuka dan semuanya nampak jelas.

Hal ini menunjukkan bahwa sama sekali tidak ada cinta ataupun ketulusan dan keikhlasan yang  secara tidak sadar sangat mempengaruhi nilai serta pandangan orang lain padahal itu yang paling dikejar. Bahkan sampai terus berkompetisi dan melakukan banyak hal yang tidak baik meski merasa telah berbuat banyak kebaikan.

Yang paling seru semua ini akan nampak jelas pada saat berdiskusi dan melakukan argumentasi. Merasa hebat karena telah mampu menjatuhkan dan mematahkan dengan berbagai alasan yang terkesan logis, realistis, rasional, moralis, etis, dan bahkan nasionalis. Tak sedikit yang menggunakan pembelaan diri dengan bersembunyi di balik kehebatan orang lain yang dianggap hebat. Berapa banyak orang yang menggunakan kata-kata orang hebat agar bisa dianggap benar?! Tahu dan mengerti pun tidak, jadi wajarlah bila itu semua bisa dipatahkan lagi dengan mudahnya. Itu semua salah sendiri, kenapa tidak bisa membuat argumentasi yang memiliki landasan yang kuat?! Akhirnya, ketahuan, deh!!! Apa masih punya kemampuan untuk bisa ereksi?!

Jika impotensinya temporer masih bisa disembuhkan. Ini juga sangat membutuhkan jiwa besar dan kejujuran penuh untuk bisa menjadikannya sehat kembali. Bagaimana bila sudah impotensi permanen?! Apa perlu dilakukan implan agar bisa ereksi kembali?! Teman saya malah bertanya lagi, “Yang diimplan otaknya atau dengkulnya?!” Hahaha….

Coba deh, sewaktu melakukan penetrasi itu, diamkan dulu sejenak beberapa waktu dan tidak banyak bergerak. Biarkan berkenalan dan saling kenal dulu. Kalau sudah ada tanda-tanda mau orgasme bersama, barulah tancap gas. Bisa juga, begitu hendak orgasme, berhenti dulu sejenak untuk berganti posisi dan gaya. Pegang erat pangkalnya atau remas dulu ujungnya agar bisa menahan laju sementara. Ini sangat efektif untuk mengatasi ejakulasi dini apapun.

Tulisan ini saya buat sebagai ungkapan rasa atas apa yang saya rasakan sekarang ini. Kondisi sosial masyarakat negara kita memang sudah sangat memprihatikan sekali. Terlalu banyak pribadi di dalamnya yang bermasalah sehingga berpengaruh besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.  Bisa saja pemimpin terus yang disalahkan tetapi perubahan tidak akan mungkin bisa terjadi bila setiap pribadi yang ada di dalamnya pun tidak berubah. Seperti yang sering saya tuliskan, tidak ada yang bisa mengubah lainnya karena yang bisa mengubah diri adalah diri sendiri. Jangan bermimpi bisa mengubah dunia dan lainnya bila diri sendiri belum berubah.

Saya berharap agar tulisan ini bisa dimengerti dan dimaknai dengan baik. Asahlah daya baca dan daya bahasa agar benar-benar bisa berpikir dengan baik dan membuat diri sendiri lebih sehat. Kualitas seseorang itu tidak bisa dilihat dari status, gelar, ataupun pendidikannya saja. Yang paling utama adalah dari kepribadiannya dan juga kemampuannya untuk terus belajar memperbaiki diri dengan sebenar-benarnya.

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial, Politik, Sosial dan Politik and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to “Ah, Tanggung!” Payah, Ah!!!

  1. indra jaya says:

    Mbak, saya sangat setuju bahwa orgasme harus didapat oleh kedua belah pihak. Namun, dipengalaman saya pribadi, saya sangat senang kalau wanita/istri saya yang duluan orgasme dan rela untuk menunggu sampai dia duluan baru kita sebagai laki kemudian tancap gas seperti yang mbak katakan diatas. Karena kalau laki-laki duluan biasanya kita akan kehilangan tenaga setelah orgasme dan sangat jarang kita dapat melakukan berkali-kali seperti para wanita, maka disini ada baiknya kalau kita laki-laki menunggu sampai pihak wanita selesai mencapai klimak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s