Desah Malam Penuh Rindu

Illustrasi: fazirafarahin.blogspot.com

Malam menjelang pagi dan kelap kelip lampu di antara kabut nampak di kejauhan. Awan menyelimuti langit meniupkan angin dengan sangat kencang. Pohon pun bergoyang dan daun-daun melambai-lambai. Mengingatkan diri pada kerinduan yang pernah dititipkan pada langit. Rindu akan sebuah pertemuan.

”Malam merangkak bersama gerak. Angin menerjang bersama gelap. Ombak menari berpegangan pasir. Gairah cinta tersangkut di batas khatulistiwa. Bertemu kekasih adalah keindahan yang tiada terkira.”

Membayangkan apa yang akan terjadi bila dia ada di sini. Dipeluk, memeluk hangat. Dibelai, menyentuh lembut.  Dikecup, mencium mesra. Dirayu, bercumbu penuh gairah. Aduh!!!

Bayang-bayang itu pun muncul di pelupuk mata. Tangannya terbuka dengan lebar dan lalu mendekap sangat erat. Bibirnya menggigit sekujur tubuh diiringi jemari yang menyentuhnya. Berdua bersama larut dalam sebuah desahan irama peluruhan jiwa. Desahan demi desahan sambung menyambung bersekat sesak menahan degup jantung dan getaran. Hingga pada akhirnya puncak kenikmatan itu pun dinikmati berdua bersama. Aaaahhh!!

“Jangan pergi!!! Saya selalu ingin bercinta denganmu!!!”

Mencoba untuk menepis bayangan. Menyusup masuk ke balik selimut tebal yang telah lama menanti. Mata dipejamkan tetapi entah kenapa sulit sekali untuk dihilangkan. Wajahnya, matanya, senyumnya, alamak!!! Bantal menutupi wajah dan guling pun didekap erat-erat.

”Lagi ngapain?”

”Nggak ada. Biasa saja.”

”Oh, gitu. Kirain.”

”Sedang menanti hujan reda saja.”

”Saya rindu.”

”Kalau sudah begitu, membayangkan wajahmu adalah keindahan. Bertemu denganmu dalam hayalan adalah kenikmatan dan bisa mendengar suaramu selalu saja menghadirkan rasa yang kadang berakhir dengan gigitan bibir yang menghilangkan rasa sakit. Meski kutahu ini hanya sebuah rasa sungguh aku tak mau mengabaikannya. Bagaimana mungkin kuingin mengabai keindahan yang menghiasi segenap relung hatiku. Tidak. Sama sekali, tidak.”

Sebuah layar lebar tiba-tiba saja muncul. Percakapan di suatu sore saat sepi lembayung senja tentang apa yang terjadi. Godaan dan ujian yang terus saja menghampiri dan berusaha keras untuk memisahkan.

”Mereka datang silih berganti dengan segala usaha dan daya upaya. Apapun mereka lakukan untuk bisa mencoba mengalahkan, memiliki, dan mendominasi dirimu, saya, dan kita berdua. Mereka selalu berusaha menjadi seorang pemenang yang dipuja dan disanjung tanpa pernah bisa menjadi seorang pemenang. Segala alasan, pembenaran, dalih dan dalil, bahkan bukti-bukti pun diungkap serta diuraikan tanpa juga pernah mengerti bahwa semua itu hanyalah mempermalukan diri sendiri saja. Mereka sama sekali tidak mau melihat apa dan siapa diri mereka sebenarnya sehingga melupakan posisi, waktu, dan tempat. Semua yang ada pada mereka hanyalah ambisi yang membuat mereka selalu berpikiran negatif. Pikiran positif yang ada hanyalah untuk menyenangkan hati mereka sendiri dan sama sekali tidak memberikan arti dan manfaat bagi yang lainnya.”

”Begitulah kalau orang sudah punya nafsu untuk menguasai. Kita terbebas dari niat dan beban untuk menguasai. Kita percaya sepenuhnya pada makrifat cinta. Kita biarkan hati kita tersentuh nyanyian kasih karena kita percaya bahwa cinta tidak ada sakit. Cinta sepenuhnya keagungan yang memberikan rahmat. Di saat cinta sudah dimasuki unsur penguasaan maka pada saat tidak mampu dikuasai maka cinta itu menjadi sesuatu yang menyakitkan. Bagi kita, itu sudah bukan cinta lagi. Semua itu hanyalah nafsu dan siapa yang tidak sanggup mengendalikannya, dialah yang akan tersakiti.”

”Mereka yang bersujud ternyata tak selalu merendah. Melihat pun tak selalu menatap. Mendengar tak selalu mencerna. Pasrah pun hanya untuk menyerah. Kosng menjadi sunyi dan sepi meski nol masih berisi. Raga kehilangan nyawa bila asa sudah tak lagi ada. Mutiara tak lagi berkilau dan bunga pun hanya layu bercampur debu. Kehidupan menjadi semu. Angin, topan, dan badai akan terus menderu. Saya memang muak dan mual tetapi saya sesungguhnya menjadi sangat prihatin dan iba. Bagaimana emas itu bisa berkilau bila tidak juga mau diasah?!”

”Sudahlah, biarkan saja mereka menjadi apa yang seperti mereka inginkan biarpun semua itu membuat kita menjadi muak dan mual. Lebih baik kita menikmati saja kebersamaan kita di dalam gelombang yang tidak banyak dengungnya. Kita menjadi asyik berdua meski yang lain ribut. Orang bicara apa kita asyik sendiri. Biarpun mereka mencoba menarik salah satu di antara kita dan menggaruk-garuk kaki kita, silahkan saja. Hanya jangan marah bila kena tendang. Kita sedang asyik dengan lagi simponi cinta, kenapa diganggu?!”

”Saya cinta dirimu teramat sangat.”

”Ya, teramat sangat.”

”Sejuta mmmuuuaaahhh untukmu selalu.’

”Mmuuaahh.”

Aduh!  Kata-kata yang pernah terurai itupun kembali terdengar. “Bersamamu kasih, hidup lebih terasa dan terasa lebih hidup, juga terus hidup serta hidup terus, bersamamu kasih.”

Pada saat rindu sedang datang dan mendera serta keinginan itu terus meminta serta merongrong, seringkali kita menjadi terlalu banyak bermimpi. Berpikir tentang segala hal yang bisa membuatnya menjadi manis atau sangat pahit. Pikiran negatif bisa saja datang dan membuat kita berpikir untuk melakukan banyak perbuatan yang pada akhirnya berujung pada penyesalan dan penuh air mata. Kenikmatan yang dilakukan untuk mengatasinya pun hanya sesaat dan sementara saja.

Merasa berpikir positif pun belum tentu bisa berbuah manis karena seringkali semua itu hanyalah menjadi sebuah mimpi di siang bolong. Fakta dan kenyataan yang ada hanyalah menjadi pembenaran untuk bisa memenuhi semua ambisi, hasrat, dan nafsu belaka. Bahkan apa yang dirasa menjadi sebuah keyakinan itu pun sebenarnya hanyalah sebuah dusta dan pembohongan pada diri sendiri.

Kita memang sangat mudah untuk terjebak dengan pemikiran kita sendiri. Sehingga semua sangat tergantung pada diri kita sendiri, ke mana kita mau membawa dan menjadikannya. Perjalanan dalam bercinta selalu ada suka dan dukanya dan pada saat rindu itu datang, adalah waktu yang sangat tepat untuk bisa mengisi diri dengan cinta yang ada. Rasa sepi dan kesepian merupakan akibat dari kekosongan dan kehampaan serta ketiadaan cinta. Cinta itu pun tak perlu dicari untuk mengisinya, cinta itu ada, hanya bagaimana saja kita mau merasakannya.

Bilapun memang benar cinta itu sudah tidak ada, jangan jadikan dunia maya sebagai sebuah pelarian karena semua itu hanyalah semu dan palsu. Bangunlah dari mimpi dan beranikan diri untuk kembali ke dunia nyata bila memang tidak sanggup mengendalikan dan menguasai diri dan memenangkan semuanya. Semua itu hanya akan merusak diri dan menghancurkannya meski merasa sudah menjatuhkan ataupun menjadi korban. Tidak ada yang pantas untuk disalahkan selain diri sendiri. Butuh jiwa besar, kerendahan hati, dan benar-benar keberanian untuk bercermin dan berkaca serta untuk bisa memiliki cinta yang sesungguhnya. Cinta adalah diri kita sendiri dan di sanalah cinta itu berada.

Hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan oleh hal-hal yang tidak berguna. Hidup menjadi sepi untuk tidak diisi oleh cinta yang sudah diberikan dan untuk diberikan. Persaingan itu tak perlu ada karena tidak pernah akan ada hasilnya selain kepuasan duniawi yang hanya sementara saja. Roh dan jiwa hanya tidak perlu dan tidak akan pernah bisa dimenangkan, dikuasai, ataupun didominasi. Kegelisahan yang ada hanyalah buah dari keraguan, kelabilan, ketidakpercayadirian, ketidakmandirian, dan ketidakberanian untuk menjadi diri sendiri dan jujur apa adanya.

Desah malam yang penuh dengan kerinduan adalah sebagai pengingat atas tali yang sudah terhubung di dalam cinta sesungguhnya.Memperkokoh landasan penuh keyakinan untuk bisa melangkah ke depan dan mendapatkan kebahagiaan yang senantiasa abadi.

”Kekasih, hari ini usah kau risaukan diriku lagi karena cintaku yang dalam dan luas tiada lagi berkehendak untuk patah arang oleh godaan, redup oleh ujian, dan galau oleh kecemburuan. Sungguh, aku mencintaimu dan aku pun tahu kalau kau pun amat sangat mencintaiku walau kasihmu pada yang lain juga tiada berkurang sebagai kasih dan cinta kesemestaan yang memang tiada boleh lekang hingga kiamat datang.”

Semoga bermanfaat!!! Selamat mendesah panjang dan dalam!!! Ouch!!!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

 

 

 

 

 

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Desah Malam Penuh Rindu

  1. donaLd says:

    aduhh… malam semakin berdesah….

  2. gery says:

    duh, dah lama gak mendesah nih ^_^

  3. firmatha says:

    Duh jadi inget si Dia…..

  4. Ainur Hasan Baisuni says:

    G’ bisa ikutan mendesah nehhh .. lagi sorangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s