Perempuan Bukan Feminis

Illustrasi: elle.com

Bingung kenapa perempuan berteriak soal kesetaraan, sementara tidak akan pernah ada yang setara bila merasa minimal tidak setara. Mengatasnamakan hak asasi manusia, sementara ada kewajiban asasi manusia juga. Perlakuan khusus bahkan pemberdayaan dilakukan yang justru merupakan ekslusifitas dan eksploitasi diri sendiri. Kenapa perempuan menjadi demikian?!

Ibu Kartini dengan bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang” menunjukkan betapa hebatnya dia sebagai seorang perempuan tanpa harus mengemis untuk minta pengakuan. Pendidikan yang merupakan hak setiap anak bangsa tanpa ada perbedaan perlakuan antara perempuan dan pria bukan berarti kemudian ini membela hak asasi perempuan semata. Di mata saya, Ibu Kartini justru memperjuangkan pendidikannya, bukan soal hak asasi perempuannya. Beliau menunjukkan bahwa betapa pentingnya pendidikan bagi semua agar bisa menjadikan gelap itu terang. Pendidikan adalah hak setiap orang.

Pendapat saya barangkali memang agak berbeda namun tidak mengapa karena semua ini adalah hasil pemikiran saya sendiri. Saya tidak mau terbawa arus tren ataupun terbawa oleh pemikiran lain tanpa memikirkannya lebih dahulu. Saya harus benar-benar mengerti terlebih dahulu sampai mendasar. Bila hanya permukaannya saja, untuk apa?! Hanya di kedalaman yang terdalamlah semua bisa akan terbebas dengan sendirinya tanpa harus melawan dan dilawan.

Sewaktu hamil, saya pernah ditanya mengapa saya tidak pernah mau mengenakan pakaian perempuan hamil. Saya tetap memilih mengenakan pakaian selayaknya saya sehari-hari meski dalam ukuran yang lebih besar. Saya menjawab, “Saya memang hamil tetapi saya tidak suka diperlakukan seolah saya adalah seorang cacat yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya karena saya hamil. Saya bangga dengan kehamilan saya dan sebagai perempuan yang diberikan anugerah kehamilan, itu merupakan sebuah bukti betapa kuat dan perkasanya perempuan. Tidak mengenakan pakaian hamil merupakan cara saya untuk tetap bisa bergairah dan bersemangat. Lagipula, saya ingin anak saya pun selalu bergairah dan bersemangat dalam kondisi apapun juga. Secara psikologis, tentunya apa yang saya rasakan berpengaruh terhadap perkembangan janin yang ada di dalam perut saya. Saya sayang dan cinta anak-anak saya.”

Selesai melahirkan pun, saya tidak suka berlama-lama istirahat. Setelah melahirkan anak saya yang keempat, saya memilih untuk beristirahat hanya tiga hari saja. Saya pikir, perempuan ditakdirkan memang untuk kuat. Hamil sekian bulan, melahirkan, dan mengurus bayinya bukanlah hal yang mudah. Sehingga seharusnya saya mampu untuk tetap bisa berkegiatan seperti biasanya hanya ditambah dengan mengasuh anak.  Perempuan dulu bisa, kok! Kenapa perempuan sekarang tidak bisa?! Apa karena sudah merasa modern sehingga menjadi kehilangan kemampuan untuk menjadi kuat?! Bukankah manusia modern seharusnya lebih sempurna dari manusia sebelumnya?!

Tentunya ini bukan berarti bahwa semua perempuan sama seperti saya atau saya meminta semua perempuan seperti saya. Setiap orang berbeda dan memiliki alasan masing-masing. Saya bisa melakukan ini karena saya adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus perempuan yang bekerja dari rumah. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja saya meninggalkan rumah. Berbeda saat saya baru memiliki satu anak di mana saya masih bekerja full time, saya tidak bisa demikian. Namun begitu, saya tetap memilih untuk bekerja dan membawa anak saya ke kantor bila memang tidak ada yang menjaganya.

Memang tidak semua kantor memperbolehkan seorang ibu membawa anaknya ke tempatnya bekerja. Masih sedikit kantor yang menyediakan fasilitas untuk ibu dan anaknya. Ini juga bukan berarti kemudian saya harus menuntut semua itu ataupun mengalah dengan membiarkan anak saya tumbuh di tangan yang lainnya dan tanpa pengawasan saya. Saya tidak mau kehilangan momen terindah dalam hidup saya meski banyak juga yang terlewati.

Pikiran saya simpel saja. Manusia memiliki naluri dan tanpa saya harus menuntut atau mengemis pun seharusnya mereka mengerti. Malah bila banyak menuntut dan mengemis maka rasa simpati itu bisa hilang. Saya memilih untuk menunjukkan bahwa meski demikian, saya tetap bisa bekerja dengan baik sehingga bila saya mendapat kesempatan untuk menjadi seorang pimpinan, maka saya punya peluang untuk bisa menyediakan fasilitas untuk anak-anak dan ibunya di kantor. Jika terlalu banyak maunya tetapi tidak punya prestasi, mana mungkin bisa berbuat banyak?!

Di dalam bekerja pun, saya tidak pernah meminta dibedakan antara pria dan perempuan. Jika memang harus turun ke jalan dan tidur atau makan di tempat-tempat yang tidak enak, bahkan di tempat terpencil atau terbuang sekalipun saya harus siap. Itu adalah resiko dari sebuah pekerjaan. Bila sedari awal saya sudah mengekslusifkan diri dengan mengaku sebagai seorang perempuan lalu meminta hak-hak sebagai seorang perempuan tetapi tidak memenuhi kewajiban saya, malu hatilah saya.

Saya bukan perempuan tomboy yang senang mengenakan celana panjang dan berambut pendek ala pria. Saya senang memelihara rambut saya tetap panjang dan mengenakan rok. Saya senang berdandan dan mengenakan perhiasan, bahkan saya senang sekali mengenakan kain sarung, songket, dan kebaya. Saya tidak perlu menunjukkan keperkasaan saya dengan berperilaku seperti pria, saya justru lebih merasa kuat bila saya bersikap dan berperilaku selayaknya seorang perempuan.

Di dalam menghadapi situasi yang mengharuskan saya berada di antara pria dan juga perempuan, saya juga tidak mau menjadi harus berat sebelah hanya karena saya perempuan. Menurut saya itu justru tidak adil meski banyak perempuan yang mengeluhkan tentang hal ini. Saya harus bisa menempatkan posisi saya seobjektif mungkin. Semua ada posisi, waktu, dan tempatnya masing-masing. Dengan cara inilah saya juga menunjukkan kepada semua bahwa sebenarnya perempuan bisa mengendalikan emosinya bila memang mau. Tidak perlu lagi harus ada yang bilang perempuan itu lebih emosional dan pria lebih rasional. Pria dan perempuan sama saja, kok! Lebih baik tunjukkan bukti bukan hanya berteriak tanpa dasar yang jelas.

Paling tidak mengerti bila menuntut persamaan dan kesetaraan lalu menganut paham “jual mahal” dengan gengsi bila memiliki kekasih yang tidak memiliki harta. Itu sama saja dengan matrealistis!!! Tak heran bila kemudian perempuan jadi banyak yang dibeli dan dimiliki oleh mereka yang memiliki harta atau mereka yang tampak berharta. Bukannya memiliki harga diri, tetapi justru harga diri itu dicampakkan begitu saja. Mana bisa kehormatan sebagai seorang perempuan bisa dihargai?! Apa benar ini sebuah kesetaraan?! Maaf, deh!!!

Saya paling tidak mau dibeli dan dimiliki. Bila saya mau, mungkin sudah dari dulu hidup saya enak dan hidup bergelimpangan harta. Tidak ada yang namanya seserahan yang mau saya terima bahkan mahar sekalipun. Ini masalah prinsip yang tidak bisa dikompromikan. Bagi saya, di dalam mengarungi bahtera rumah tangga, maka kebersamaan itulah yang lebih utama. Masing-masing harus tahu tempatnya masing-masing bahkan bila harus bertukar posisi sekalipun. Kekurangan diisi dengan kelebihan yang lain dan kelebihan yang lain digunakan untuk kepentingan bersama. Namun demikian, ada banyak hal yang tetap tidak boleh dihilangkan sebagai seorang pribadi. Oleh karena itulah, tidak ada itu “dompetku, dompetku, dompetmu, dompetku.” Bagi saya, “dompetku, dompetku, dompetmu, dompetmu, dompet kita adalah dompet bersama”.

Mengandalkan orang lain meski pasangan sendiri sangatlah tidak baik menurut saya, karena bila sampai terjadi sesuatu, siapa yang paling kasihan?! Anak-anak tentunya. Saya tidak mau anak-anak harus mengalami pahit hanya karena ketidakberdayaan saya sebagai seorang perempuan. Justru kekuatan saya sebagai seorang perempuanlah yang seharusnya bisa melindungi anak-anak saya.

Biar bagaimanapun juga, saya sadar penuh bahwa saya membutuhkan pria. Saya membutuhkan seorang pria sejati yang memang memiliki cinta untuk bisa sama-sama saling mengisi dan saling memberi. Saya tidak membutuhkan pria untuk membela dan melindungi saya, karena tidak perlu saya minta pun itu seharusnya sudah menjadi naluri dari seorang pria. Jadi, kalau ada yang bilang saya tidak menyukai pria, jangan salah!!! Saya suka banget dengan pria sejati apalagi yang penuh dengan cinta. Ada banyak hal yang saya tidak bisa lakukan sebagai seorang perempuan atau tidak mau saya lakukan karena lebih baik pria yang melakukannya.

Contohnya saja masak. Saya senang memasak tetapi menurut saya, pria lebih baik dalam urusan memasak. Memasak membutuhkan cita dan juga olah rasa agar masakan yang dihasilkan menjadi nikmat. Bayangkan saja pria dengan segala jurus mautnya di dalam merayu, nah itu membutuhkan cita dan olah rasa yang tentunya tidak mudah dilakukan oleh perempuan. Makanya, pria yang bisa memasak dan senang memasak memiliki keseksian tersendiri di mata saya.

Untuk mengangkat tabung gas yang sedemikian besarnya, saya juga malas melakukannya. Bukan berarti saya sebagai perempuan tidak mampu melakukannya, tetapi memang malas saja. Lebih baik pria saja yang melakukannya agar mereka pun tetap merasa seperti seorang pria seutuhnya. Sama juga bila harus mengganti bohlam, mengganti ban kempes, memperbaiki elektronik, dan lain sebagainya. Bila semua bisa saya lakukan sendiri, untuk apa juga pria. Apa semua memang bisa saya lakukan sendiri?! Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, semua ada posisi, waktu, dan tempatnya.

Menurut saya, pria memiliki kelebihan di dalam mengolah sementara perempuan me-manage. Tak heran bila selalu ada perempuan hebat di balik pria yang kuat. Begitulah jadinya bila bisa saling mengisi. Di lain sisi, pria memiliki kekurangan di dalam hal untuk memiliki kekuasaan sementara perempuan memiliki kekurangan di dalam hal menentukan pilihan. Oleh karena itulah, bila tidak disadari dengan baik, kekurangan ini bisa dimanfaatkan untuk yang tidak baik.

Bila pemikiran saya ini dianggap bahwa saya bukan seorang feminis, bisa jadi benar. Bila juga ada yang mengatakan bahwa justru saya adalah seorang feminis, bisa juga benar. Feminisme itu sendiri sekarang ini sudah keluar jauh dari inti pemahaman yang menjadikan feminism itu ada.

Simone de Bevouir yang merupakan salah satu pencetus feminism, dalam bukunya yang berjudul “The Second Stage”, justru menyarankan perempuan untuk bisa mengenal dirinya sendiri sebagai seorang perempuan, baik kekurangan maupun kelebihannya. Hanya dengan cara demikian, perempuan menjadi bisa dihormati karena pada dasarnya tidak ada seorang pun yang terhormat.

Bandingkan dengan feminism yang sekarang ada. Saya sama sekali tidak mau menjadi seorang feminis yang sekarang ini. Saya adalah seorang perempuan yang tidak ada bedanya dengan pria, sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya terlahir sebagai seorang perempuan yang disebutkan terbuat dari tulang rusuk pria, justru karena saya adalah sebagai “penyempurna” pria, bukan sebaliknya. Jadi, tidak perlulah saya menuntut pengakuan karena tidak perlu ada yang harus diakui. Semua bisa dilihat dan dirasakan dari pola pikir, cara pandang, perilaku, dan tindakan masing-masing walaupun semua juga sangat tergantung kepada kejujuran dan hati nurani.

Tidak mengapa bila saya dianggap aneh, gila, ataupun berbeda. Tidak perlu disukai juga bila memang tidak suka. Tidak mengapa juga bila hal ini yang menyebabkan banyak pria kesal dan takut dengan saya atau berusaha menaklukkan saya. Bukan masalah menang atau kalah di sini, setiap orang memiliki hak untuk berpikir dan menentukan pilihannya, kan? Toh saya sendiri yang merasakan dan menanggung semua resiko dan konsekuensinya. Yang mana yang terbaik demi masa depan dan kehidupan di masa depan?! Biar bagaimana pun juga, siapa yang bisa memungkiri bahwa saya bukan seorang perempuan?!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis.

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan. Bookmark the permalink.

One Response to Perempuan Bukan Feminis

  1. Dweedy says:

    Sebenarnya yang mana yang anda maksud feminisme? Maaf saya sedikit bingung🙂
    judulnya mengatakan “perempuan bukan feminis” tapi tindakan anda dalam menjalani hidup seperti yang anda paparkan diatas menunjukkan anda seorang feminis dan itulah konsep feminis yang saya kira🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s