Saya dan Seks

Illustrasi: burrenyoga.com

Ada yang bertanya kepada saya, kenapa saya selalu saja berkutat pada masalah seks. Kenapa saya tidak memilih topik yang lebih “pantas” dan tidak terlalu beresiko saja karena ada banyak sekali resiko serta kendala yang harus saya hadapi bila terus berkutat di topik yang satu ini. Pelecehan dan anggapan miring tentunya sangat tidak enak apalagi saya adalah seorang perempuan dan ibu dari empat orang anak. Menurutnya juga, semua ini tidak sebanding dengan apa yang saya dapatkan dan kemungkinannya terlalu kecil untuk berhasil.

Harus diakui bahwa keputusan saya di dalam memilih topik tentang seks memang memerlukan waktu yang cukup panjang. Saya memikirkan segala resiko dan konsekuensinya matang-matang dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya. Saya memang tidak memiliki latar belakang khusus yang mempelajari tentang seks, saya menuntut ilmu di berbagai bidang terutama ekonomi, politik, dan filsafat sains. Yang membantu saya adalah karena saya sering melakukan penelitian dan riset untuk berbagai bidang sehingga saya mendapat kesempatan untuk bisa melihat lebih banyak. Dari sanalah pada akhirnya saya menarik benang merah dan dari sanalah saya mulai berani melangkahkan kaki.

Semua yang saya lakukan tentunya bukan sembarangan dan tidak memiliki dasar. Bertahun-tahun saya mengamati dan terus mempelajari berbagai hal agar pada waktunya tiba, saya bisa memulainya. Masuk ke dunia maya yang bukan tempat saya semula, juga bukan merupakan sebuah faktor yang tidak saya pertimbangkan sebelumnya. Setelah mencermati, barulah saya mau memasukinya dan dengan bebagai persiapan tentunya.

Dunia maya bagi saya juga bukan tempat untuk bermain-main dan mencari kepuasan ataupun sebagai pelampiasan. Dunia maya adalah salah satu tempat saya bekerja, melakukan uji coba dan penelitian karena dunia maya memiliki peranan yang sangat penting di dalam kehidupan sekarang ini. Ada banyak hal yang bisa saya dapatkan di sana dan saya juga bisa lebih mudah mengikuti perkembangan dalam dinamika kehidupan yang ada dengan lebih mudah.

Sebelum masuk dunia maya, sudah ada banyak sekali tulisan yang saya persiapkan sebelumnya dengan urutan yang juga saya siapkan. Tentunya dengan berbagai pertimbangan serta melihat segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Arah mata angin siapa yang bisa menduga sehingga antisipasi harus dipersiapkan dengan matang.

Mengenai persepsi dan pandangan miring terhadap saya pribadi, itu merupakan sebuah resiko yang tentunya sudah saya perhitungkan sebelumnya. Apalagi saya sadar penuh apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan saya sehingga saya harus sudah siap menghadapinya. Meskipun banyak hal-hal yang tak terduga namun semua itu menjadi sebuah tantangan bagi diri saya sendiri, sejauh mana saya bisa tetap fokus di dalam mencapai tujuan.

Saya harus mengakui bahwa banyak sekali hal-hal yang membuat saya jenuh, capek, dan bahkan muak serta mual. Di sinilah ujian yang menurut saya paling berat karena saya benar-benar dituntut untuk bisa terus konsekuen dan teguh pada pendirian serta prinsip yang ada. Bila dengan mudahnya terpengaruh maka semuanya akan berantakan. Kesabaran dan ketabahan juga benar-benar merupakan pembelajaran tersendiri dan semua itu bukanlah ujian.

Semua harus bisa saya maklumi dan terima dengan jiwa besar serta kebesaran hati mengingat memang kondisi kita sekarang inilah yang menjadikannya demikian.  Selama seks itu masih menjadi sebuah kata yang diartikan “jenis kelamin” atau seonggok daging di belahan paha saja dalam istilah saya, maka akan terus menjadi demikian. Kata dan bahasa memiliki pengaruh yang sangat besar karena kata dan bahasa mencerminkan kepribadian seseorang, kondisi masyarakat, dan keadaan bangsa, Negara, dan dunia.

Ditambah lagi dengan daya baca dan bahasa yang semakin tergerus oleh perubahan pada pola pikir dan cara pandang yang tergerus oleh industrialisasi dan komersialisasi pada era post modern. Menambah semakin kacau saja semuanya. Kata dan bahasa pun tidak lagi memiliki arti dan makna yang sebenarnya. Semua menjadi sangat ambigu dan sangat tergantung pada kepentingan.  Oleh karena itulah, saya memiliki kesimpulan sendiri, bahwa era post modern telah gagal menjadikan manusia menjadi lebih modern karena pada fakta dan kenyataannya, kita malah menjadi semakin primitif dalam berpikir dan memandang segala sesuatunya menjadi lebih sempit.

Kita menjadi manusia penonton yang hanya meyakini apa yang ditonton tanpa mau berpikir lebih jauh lagi ataupun mendengarkan kata hati yang sesungguhnya. Menjadi malas dan hanya mau enaknya saja, bagaimana bisa memiliki kepedulian?! Peduli juga hanya untuk mendapatkan “nilai” dan surga semata, bukan ketulusan dan keikhlasan. Masing harus menghitungkah apa kebaikan yang telah dilakukan agar bisa mendapatkan surga?! Apa artinya bersujud bila demikian?!

Sudah terlalu banyak bukti yang menguatkan tentang hal ini. Memang semuanya berkaitan erat sekali dengan kompleksitas primordial pemikiran manusia yang cenderung membuat masyarakat menjadi “terkotak” yang pada akhirnya asyik dengan dunia masing-masing dengan segala alasan dan pembenarannya. Ini juga dapat saya maklumi mengingat evolusi membuat persaingan menjadi lebih ketat dan masing-masing tentunya berusaha keras untuk bisa mempertahankan eksistensinya agar bisa terus bertahan. Sayangnya, evolusi manusia itu memang terus berjalan, namun bagi saya, evolusi pemikiran sudah berhenti dan malah mundur terus ke belakang dan peradaban pun patut dipertanyakan.

Saya paling senang mengambil contoh tentang seks dan pemimpin, di mana disadari tidak disadari, diakui tidak diakui, seks memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kemampuan kepemimpinan seseorang. Yang saya bicarakan dalam hal ini bukan urusan dosa atau tidaknya, halal atau tidaknya, banyak pasangan, simpanan, dan perselingkuhannya yang menjadikan seseorang tidak bisa menjadi seorang pemimpin. Bill Clinton, Soekarno, dan banyak pemimpin hebat di dunia ini bahkan Nabi pun memiliki banyak pasangan dan mereka tetap harus diacungi jempol. Mau diiodalakan atau tidak, maupun apa alasannya. Justru bila yang dipermasalahkan adalah pengidolaannya dan alasannya, ini menjadi bukti yang semakin kuat atas ketidakmampuan melihat segala sesuatunya secara objektif dan tidak sempit dan belum mampu melihat duduk perkara serta akar permasalahan yang sebenarnya.

Ada perbedaan yang paling mendasar di dalam perilaku seks seseorang yang memang memiliki jiwa kepemimpinan dan yang tidak. Hal yang perlu diketahui dulu sebagai dasar pemikiran adalah, mereka yang suka tantangan dan menyukai tantangan, memiliki libido yang sangat tinggi. Libido ini sangat diperlukan oleh setiap pemimpin agar tetap bergairah dan menjadi pemicu untuk tetap bersemangat.

Bila bicara soal pengendalian diri, justru di sinilah keunikannya. Seseorang yang memang benar memiliki jiwa kepemimpinan, mampu mengendalikan libidonya ini menjadi sesuatu yang sifatnya positif dan bisa memberikan banyak manfaat bagi semua. Berbeda dengan “yang bukan pemimpin”, mampu mengendalikan atau tidak, sama-sama menjadikan seks sebagai sesuatu yang sifatnya negatif, sehingga hanya untuk kepentingan pribadi sendiri saja. Tidak memberikan banyak arti dan manfaat bagi semua.

Dosa atau tidaknya, itu bukan saya yang berhak menentukan tetapi sepenuhnya menjadi milik Dia. Moral, etika, dan norma itu tidak akan pernah ada bila tidak ada keadilan dan belum berlaku adil. Apa saya sendiri sudah “lebih” dari yang lainnya?!

Saya juga banyak melakukan kesalahan dan saya tidak perlu malu mengakuinya. Saya tidak boleh merasa “lebih” ataupun juga berusaha untuk menjadi “lebih”. Semua yang sudah diberikan adalah yang terbaik, kok! Untuk apa juga saya mengejar lebih lagi selain menggali dan memperdalam apa yang ada dan sudah diberikan, lalu berikan kembali kepada-Nya agar memberikan arti dan manfaat yang besar bagi semua. Besar kecil, remah penting, lemah kuat, kaya miskin, populer tidak populer sama saja bagi saya. Yang paling penting adalah menjadi diri sendiri dan tetap menjadi diri sendiri.

Sulit sekali memang mencerna semua ini sehingga saya juga bisa memaklumi bila saya dianggap berbelit-belit dan berputar bahkan tidak jujur. Segala sesuatu yang saya tuliskan ataupun ucapkan tidak memiliki tujuan dan saya mengakuinya. Di sinilah juga saya sebenarnya selama ini memperhatikan sampai sejauh mana daya baca dan daya bahasa masyarakat kita sekarang ini. Mereka yang “pintar” tentunya akan sangat mudah mengambil kesimpulan atas apa yang saya lakukan dan juga yang lainnya, berbeda dengan yang “bodoh” karena pasti akan berpikir panjang dan akan terus berusaha mencerna dan menggalinya lebih dalam lagi.

Ini juga yang membuat saya tidak bisa beranggapan bahwa status, gelar, dan juga pendidikan membuat seseorang bisa dikatakan berkualitas. Justru malah kebalikannya, mereka yang selalu membanggakan status, gelar, dan pendidikannya adalah mereka yang sama sekali tidak akan pernah bisa menjadi lebih baik. Merekalah justru adalah korban yang paling parah dari primordialisme dan post modernism. Naluri mereka sudah tidak ada lagi termakan oleh “modernisasi” fisik, dan nurani pun diabaikan oleh apa yang menjadi persepsi atas rasional, logis, dan realitas. Pemikiran itu pun menjadi berhenti dan tidak akan pernah berkembang, pendidikan itu pun tidak ada artinya karena tidak mampu untuk membuat seseorang menjadi lebih modern dari sebelumnya.

Menurut pendapat saya pribadi, inilah yang menjadi titik krusial bagi masa depan, bila seseorang tetap saja sombong dan tinggi hati, maka mereka tidak akan pernah bisa melihat lebih banyak lagi. Mereka akan terus melakukan masturbasi otak dan akan terus melakukan pembenaran bahkan mencari dukungan dari yang lainnya. Dukungan ini bisa berupa kata-kata dan buah pikir orang lain yang dianggap hebat dan “lebih”, bisa juga dengan mencoba untuk mengajak yang lainnya agar membenarkan apa yang dipikirkannya.

Bagi saya, semua ini menjadi bukti yang lain lagi. Saya menariknya ke belakang dengan melihat apa yang menjadi dasar hingga terjadi seperti ini. Kelabilan, tidak percaya diri, dan kurangnya keberanian untuk menjadi diri sendiri membuat seseorang menjadi tidak bisa kuat dan kokoh. Apapun yang mereka lakukan hanyalah bersifat sementara dan hanya berkutat pada fisik semata karena yang lebih diutamakan adalah nilai-nilai duniawi saja, tidak lebih dari itu, diakui tidak diakui, disadari tidak disadari. Ini juga menjadi bukti lagi bahwa mereka yang melakukannya belum kenal apa dan siapa diri yang sebenarnya, sehingga tinggi hati itu terus saja ada sebagai sebuah bentuk pertahanan diri.

Jika ditambah lagi dengan ketakutan akan bayang-bayang kesalahan karena tidak berani bercermin, menghadapi, dan mempertanggungjawabkannya, maka akan semakin menjadi-jadi. Tudingan dan tuduhan kepada yang lain pun akan sangat mudah dilakukan sehingga semuanya menjadi semakin terbolak-balik. Benar dan salah tidak jelas lagi, dan semakin sulit untuk bisa menjadi objektif dan adil. Fakta dan kenyataan yang ada pun tidak mau diterima, jadi bagaimana?!

Tidak mudah bagi seseorang untuk berani jujur dan apa adanya, karena lebih banyak yang penuh dengan ambisi dan keinginan. Lagi-lagi semua itu hanyalah bersifat “manusiawi” semata, sehingga persaingan pun terus ada di dalam diri dan apa pun akan dilakukan untuk bisa meraihnya. Apa yang diperebutkan dan yang ingin digapai itu bukan untuk semua, tetapi untuk diri sendiri saja. Sama sekali tidak ada cinta di sini selain marah, iri hati, dengki, dan dendam.

Terlalu mudah pada akhirnya untuk menjadi bagian dari permainan dan dipermainkan oleh yang mempermainkannya. Ibarat bola, tending kiri tendang kanan pun bisa tanpa pernah menyentuh gawang. Terombang-ambing dalam badai dan terus saja terseret arus di permukaan tanpa pernah bisa memiliki kemampuan diri untuk melepaskan diri. Topeng pun sudah lupa pakai yang mana lagi dan sudah tidak bisa membedakan mana yang asli mana yang topeng. Bagaimana bisa berdiri tegak?! Bagaimana bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik?! Untuk diri sendiri pun tak mampu. Jangankan terus melangkah, untuk diam di tempat pun tak bisa. Maju pun memiliki batas dan tidak bisa lebih jauh lagi.

Inilah kondisi yang sekarang ini terjadi, bukan hanya satu dua orang tetapi terjadi pada umumnya masyarakat yang ada di dunia, begitu juga dengan di Indonesia. Oleh karena itulah, saya memilih seks sebagai sarana karena hanya ada dua kata di dunia ini, yang menurut saya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan. Yang pertama adalah cinta dan yang kedua adalah seks. Keduanya tidak pernah bisa lepas dari kehidupan siapapun juga, dan seks pada akhirnya saya pilih. Seks memang sangat ekstrem tetapi itu bukanlah hal yang menakutkan bagi saya.

Saya selalu bermimpi bahwa pada suatu hari, seks itu akan diartikan lebih dari sekedar jenis kelamin. Saya ingin sekali bisa melihat di dalam kamus yang ada di seluruh dunia, seks itu diartikan sebagai titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Saya bisa membayangkan bagaimana pengaruhnya terhadap dunia. Kata memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam perubahan, bisa menjadikannya lebih baik atau justru kebalikannya.  Bila seks ini bisa menjadi subjek pembelajaran tentunya akan membuat kehidupan dan masa depan menjadi lebih baik lagi. Itulah mimpi saya.

Saya menulis dan terus menulis dengan cara dan saya sendiri meski berputar, bolak balik, dan berbelit, dan ke sana ke mari. Saya bukan orang yang pandai untuk bisa menilai serta menggiring dan mengarahkan.  Apa yang saya lakukan adalah untuk mengajak semua untuk mau berpikir dan belajar. Mengasah kemampuan untuk membaca dan berbahasa dengan cara saya sendiri. Mau atau tidaknya, semua sangat tergantung pada diri sendiri.

Saya sadar penuh bahwa saya tidak memiliki kemampuan untuk bisa mengubah dunia atau siapapun. Saya bukan seorang malaikat juga yang bisa membantu, tetapi saya ingin menyumbangkan sesuatu karena cinta saya kepada semua. Saya memberikan alternatif untuk sebagai pilihan, itu pun jika diinginkan. Apapun yang menjadi pilihannya kemudian, sangat tergantung pada masing-masing juga karena semua resiko, konsekuensi, dan tanggungjawabnya, pada akhirnya berpulang pada diri masing-masing. Sebab perubahan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan hanya diri sendirilah yang bisa melakukannya, bukan yang lain.

Berat atau tidaknya apa yang saya pilih, ini sudah merupakan pilihan saya sendiri dan saya sendiri juga yang melakukannya.  Baik buruk, sehat tidak sehat, dosa pahala, halal haram, salah benar, jahat baik, atau apapun juga, ya inilah saya. Sama saja bagi saya karena apapun yang saya lakukan memiliki tujuan dan memiki landasan dasarnya.  Semua ini adalah saya dan memang bukan yang lain. Hanya sebatas ini jugalah kemampuan saya untuk bisa memberikan, tidak bisa lebih. Saya memiliki sebuah prinsip yang tidak bisa dikompromikan dan saya juga memiliki komitmen yang saya pegang teguh pada satu hal. Apapun itu, tidak akan pernah bisa diganggu gugat. Tidak ada alasan lain selain cinta yang saya miliki, yaitu Dia.

Selamat memilih dan semoga semua yang menjadi pilihan bisa memberikan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi diri masing-masing agar seluruh semesta dan seisinya pun bisa merasakannya.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Mariska Lubis, Perubahan, Sosial dan Politik. Bookmark the permalink.

4 Responses to Saya dan Seks

  1. ale says:

    cerita seks tak akan pernah habis dan selalu menarik, karena seks aku ada!

  2. julietnjuliet says:

    hebat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s