Seks Bebas VS Seks Halal

Illustrasi: khusnulafgan27.blogspot.com

Pernyataan mengenai seks bebas dan seks halal selalu membuat saya mendesah dalam dan panjang. Sejujurnya, saya sama sekali tidak mengerti tentang agama karena saya bukan ahlinya ataupun yang mempelajarinya seperti kebanyakan yang lain. Saya sama sekali tidak paham. Yang saya tahu hanyalah apa yang saya rasakan dan pikirkan. Bisa benar bisa juga salah karena hal ini sangat bersifat pribadi dan menurut saya, tidak bisa dipandang hanya dari satu sudut pandang saja.

Seks bebas di dunia Barat berbeda dengan di dunia Timur. Seks bebas di dunia Barat lebih diartikan kebebasan untuk berpasangan tanpa harus terikat dalam sebuah perkawinan. Namun demikian, tidak berarti tidak memiliki kewajiban. Tanggungjawab atas semua itu juga diatur dalam hukum dan perundangan. Mereka yang telah bersama tanpa ikatan perkawinan memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti mereka yang telah menikah. Anak pun menjadi tanggung jawab bersama dan tidak bisa seenaknya saja diabaikan.

Berbeda dengan kita yang ada di sini. Seks bebas di sini menjadi benar-benar seperti tanpa ada batasnya dengan alasan hak asasi manusia. Peraturan dan aturan yang ada, seperti masalah kumpul kebo, menurut saya, tetap tidak adil juga sehingga semua yang melakukan seks bebas seolah terbebas dari kewajibannya. Bahkan anak yang tidak bersalah dan terlahir di luar pernikahan pun menjadi korban ketidakadilan itu sendiri. Mereka belum apa-apa sudah mendapat diskriminasi sebagai anak haram dan akte kelahiran mereka pun dibedakan. Kenapa?! Bukankah anak tetap anak?!

Saya tidak membela seks di dunia Barat karena ada juga keburukan dari seks bebas yang dilakukan di sana meski banyak aturan dan peraturannya. Seks bebas bisa membuat seseorang menjadi sangat mekanis karena melakukan hubungan seks hanya karena kebutuhan fisik dan psikologis semata. Unsur spiritual yang terkandung di dalamnya menjadi hilang sama sekali.

Yang ingin saya pertanyakan di sini adalah justru sebenarnya apa seks yang halal itu?! Apakah memang bila sudah memiliki akte dan buku nikah maka seks itu menjadi halal?! Menurut saya tidak sepenuhnya demikian. Pernikahan  yang sesungguhnya sangat sakral sifatnya dan dilakukan di hadapan Dia. Manusia bisa mensahkannya tetapi belum tentu semua itu menjadi sah di hadapan Dia. Semua tergantung kepada niat dan tujuannya masing-masing.

Banyak orang yang melakukan pernikahan dengan berbagai alasan. Bila memang itu cinta, tentunya tidak menjadi masalah, namun tak sedikit yang memiliki maksud dan tujuan. Ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ingin memenuhi kewajiban, mematuhi dan tidak ingin berdosa pada orang tua dan keluarga, dan masih banyak lagi. Hingga kemudian pada suatu saat ketika semua rasa yang sebenarnya itu tidak lagi bisa dibendung, buyarlah sudah semuanya.

Perselingkuhan banyak sekali terjadi akibat kesalahan yang dibuat oleh sendiri meski tak lepas juga dari faktor pasangannya. Tidak hanya salah satu pihak yang patut disalahkan dalam hal ini karena tidak juga ada salah satu pihak yang benar. Bila memang pernikahan itu berdasarkan cinta, kenapa sama-sama tidak bisa menjaganya?! Bila memang pernikahan itu karena hanya untuk sebuah tujuan, kenapa tidak mau jujur mengakuinya.

Tak sedikit juga yang pada akhirnya memilih untuk bertahan dan mempertahankan keluarga meski sadar semua itu sudah berakhir. Cinta itu memang tidak pernah ada namun lagi-lagi nilai dan pandangan keluarga dan masyarakat menjadi semakin membuat keduanya tidak jujur. Anak pun sering dijadikan alasan padahal anak meski tidak berbicara, mereka merasakan apa yang dirasakan oleh orang tuanya. Semua itu tentunya bukan berarti lebih baik bagi perkembangan jiwanya dibandingkan dengan yang bercerai, justru banyak yang lebih membuat keadaan menjadi lebih buruk lagi.

Sementara pernikahan itu dipertahankan, cinta sudah tidak ada, tetapi hubungan seks tetap dilakukan. Apakah ini benar menjadi sebuah seks yang bisa dianggap halal?! Apa sebenarnya halal itu?! Apakah masih bisa dianggap halal bila tidak ada kejujuran di dalamnya?! Apakah masih bisa dianggap halal bila semua itu hanyalah dusta dan kepalsuan?! Apakah ini memang lebih baik?! Apakah benar sudah memenuhi kewajiban?! Bukankah kewajiban manusia adalah membuat dunia ini menjadi lebih baik dengan berlaku adil dan jujur?!

Sekarang bagaimana mungkin sepasang kekasih yang memang saling mencintai, bercinta dengan penuh cinta, dianggap sebagai tidak buruk sementara mereka yang terikat dengan perkawinan, hanya melakukan hubungan seks semata. Apa bedanya dengan seks bebas?! Sama-sama hanya mekanis dan hanya untuk memenuhi nafsu semata. Di mana ibadahnya?! Di mana kesakralannya?! Apa tidak malu dengan Dia?!

Bila bicara soal kewajiban seorang istri dan suami di dalam memenuhi kebutuhan biologis, apakah ini juga berarti boleh ada dusta di sana?! Sebegitu takutnyakah untuk menjadi jujur dan mengatasnamakan kewajiban dan tidak mau mengakui bahwa semua itu hanyalah nafsu semata?! Bila memang bukan nafsu, tetapi memang benar cinta, kenapa juga tidak mau berubah untuk membuat kehidupan dalam rumah tangga menjadi lebih baik?! Kenapa harus selingkuh dan bahkan menyalahkan yang lainnya?!

Bagi saya, berhubungan seks berbeda dengan bercinta. Berhubungan seks bukanlah bersetubuh karena yang dilakukan hanyalah untuk diri sendiri semata. Bercinta adalah meluruhkan seluruh jiwa dan raga menjadi sesuatu yang baru di dalam “satu tubuh”. Sehingga di dalam bercinta, sangat diperlukan kesungguhan hati, ketulusan, dan cinta yang benar adanya bukan hanya sekedar nafsu.

Berhubungan seks tidak akan pernah memberikan keindahan ataupun kenikmatan selain secara fisik semata. Hati nurani tidak bisa dipungkiri meski orgasme sekian kali pun karena semua itu hanya sesaat dan sementara saja. Berbeda sekali dengan bercinta yang benar-benar sangat indah dan kenikmatannya tidak hanya di atas tempat tidur semata tetapi terus berlanjut dalam keseharian dan kehidupan sehari-hari. Ikatan dalam rasa itu selalu ada dan sulit sekali untuk dilepaskan. Bukan hanya sekedar kebutuhan, tetapi memang tidak bisa lepas dari dalam diri, pikiran, hati, dan jiwa.

Saya tidak berusaha untuk menjadi logis, rasional, ataupun realistis dalam hal ini. Saya hanya ingin mengajak semua untuk mempertanyakan kepada diri masing-masing apa yang sebenarnya. Terlalu sering sudah kita melakukan banyak tudingan dan tuduhan dengan mengatasnamakan berbagai hal namun kita lupa pada diri kita sendiri. Sudahkah kita memang benar?! Sudahkah kita memang tidak melakukan seks bebas?! Benarkah kita melakukan seks yang halal?!

Dengan bertanya dan terus bertanya, kita menjadi belajar dan dengan belajar, kita menjadi semakin kenal apa dan siapa diri kita sebenarnya. Kita juga akan menjadi semakin dekat dengan Dia, sehingga tidak perlu lagi ada yang namanya tudingan dan tuduhan itu. Perubahan itu hanya bisa dimulai dari diri kita sendiri. Bila kita berubah maka dengan sendirinya semua akan berubah.

Manusia tidak memiliki hak untuk menilai dan bukanlah kewajiban manusia untuk menghukum manusia lainnya dengan membuatnya seolah paling berdosa dan paling tidak bisa masuk surga. Siapakah kita hingga bisa menentukan dosa dan surga?! Siapakah yang bisa melebihi Dia?!

Kita tidak pernah bisa mengaku meski merasa paling bermoral, beretika dan beragama karena dasar dari moral, etika, dan agama itu adalah adil dan keadilan. Paling tidak, menurut saya demikian. Bila kita sendiri tidak bisa berlaku adil dan menegakkan keadilan yang sesungguhnya, maka kita belum bermoral, beretika dan beragama. Keyakinan itu bisa hanya ada di dalam pikiran dan seolah memang dibenarkan oleh hati. Bila memang benar yakin, seharusnya bisa bersikap adil dan bijaksana serta tidak melakukan pembenaran hanya untuk diri sendiri dan mengorbankan yang lainnya. Kebenaran itu adalah mutlak adanya.

Alangkah indahnya dunia ini bila semua bisa menemukan kedamaian di dalam dirinya. Dengan memiliki wawasan yang luas dan tidak sempit, selalu objektif dan bersikap adil serta bijaksana, kebahagiaan itu akan diraih bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk semua. Jujurlah dan akuilah yang sebenarnya dengan segala kerendahan hati.

Seks bebas dan seks halal, yang mana yang sebenarnya kita lakukan?! Hanya diri kita dan Dia yang paling tahu sebenarnya.

Semoga bermanfaat.

 

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik, Sosial dan Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Seks Bebas VS Seks Halal

  1. Uni Akwan says:

    Makasih ya, mba Mariska tuk tulisannya , aku sangat respons dan selalu membaca, semua tulisan yang amat berharga ini, semoga bermanfaat juga buat banyak saudara yang mengalami hal yang mirip dengan kehidupan keluargaku

  2. reza says:

    bagai mana kalo rasa sayang yg penuh, tp tidak disertai dengan nafsu?

  3. benja says:

    … great sex comes from love but great love doesn’t always come from sex ….

  4. indra jaya says:

    Manusia itu diciptakan dengan akal dan nafsu. Kalau menggunakan akal saja maka kita menjadi malaikat. tapi kalau kita menggunakan nafsu saja maka kita menjadi binatang. sex atau bercinta yang halal adalah dengan istri yang sah terserah itu menurut agama mau pun menurut negara. Kalau dinegara barat mereka tidak menikah secara agama, namun segala sesuata diatur negara maka itu sah-sah aja mereka anggap sex halal karena mereka lakukan dengan pasangannya. tapi kalau ngesex atau bercinta dengan sepenuh hati diluar pasangannya maka tetap saya mereka sebut sebagai perselingkuhan. Nah kalau dikita ikatan pernikahan berdasar kan agama atau hukum negara ini yang dianggap sex atau bercinta yang halal dan diluar itu disebut selingkuh. pertanyaan saya apakah dengan berselingkuh, kita ngesex atau bercinta dengan selingkuhan dengan sepenuh hati kita, dapat kita katakan halal? Diagama yang saya anut, kalau kita harus bercerai karena tidak ada kecocokan lagi, ngesex atau bercinta hanya pakai nafsu tanpa perasaan. maka bercerai adalah jalan keluar yang baik agar tidak timbul dosa dan ini adalah jalan yang terbaik namun sangan dibenci oleh Sang Pencipta dari pada harus melakukan perselingkuhan. Dan kita di persilahkan untuk mencari pasangan lain yang lebih baik dengan ikatan perkawinan yang didasari saling mencintai.

  5. dani says:

    mnrt gw ckp bgs jga.. tpi pnjelsn nya trllu rumit srng di ulang dn tujuan nya gk tau k arh mna.. di ats di tulis gk tau soal agma bkn jga orng yg mmpeljri tntng agma tpi ngjlsin jga mslh agama pa gk salh tuh kalo gk tau ya gk tau aj jngn smpe nyinggung2 mslh agma.. mksh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s