Sepi Bukan Sendiri

Illustrasi: blogs.sundaymercury.net

Paling tidak enak merasa sepi dan sendirian meski dalam hingar bingar dan keramaian. Suasana yang ada itu hanya untuk mengisi kekosongan sementara, sementara hati tidak bisa juga menikmatinya. Senyum dan gelak tawa pun menjadi tidak menyenangkan dan membosankan. Ingin sekali bisa segera berlari dan pergi. Hiks!

Berjalan sendirian menyusuri jalan yang ramai di tengah rintik hujan dan angin yang kencang, ditemani bintang dan bulan yang terus bersinar. Berandai-andai dan bermimpi, “Ah, seandainya saja dia benar ada, tentu akan berbeda. Rasa sepi ini tidak perlu harus terasa dan menyesakkan dada.”

Entah kenapa perasaan itu seringkali hinggap dan membuat hidup terasa sangat hambar. Malas sekali rasanya untuk berjumpa dengan siapapun. Tak ada keinginan untuk melakukan apapun selain menyendiri. Mendengarkan lagu, menulis, membaca, menggambar, memandangi bunga-bunga, itu saja. Tidak ingin yang lain.

“Semakin hari semakin tak memiliki gairah untuk berhubungan dengan siapapun. Meski mustahil tetapi rasanya sungguh malas sekali. Jika memang tidak karena harus, saya lebih memilih untuk tinggal di tempat terpencil saja. Jauh dari suara manusia dan kebisingan dunia.”

Mau bicara juga bingung dengan siapa. Belum tentu orang yang diajak bicara mau mendengarkan apalagi bila mungkin membosankan baginya. Basa basi dan pengalihan pembicaraan sudah cukup jelas. Jadi, lebih baik tidak usah saja.

“Saya hanya ingin ditemani sesaat saja di tengah derai air mata ini. Memang saya biasa sendiri tetapi malam ini ingin sekali ditemani, tetapi jika memang tidak diinginkan, bosan, capek, ngantuk, malas, ingin melakukan yang lain atau apapun juga, tidak mengapa. Siapalah saya?! Apakah saya?! Saya bukanlah siapa-siapa.”

Apalagi bagi mereka yang introvert, yaitu sulit untuk “terbuka” tentang diri dan pribadi, tentunya sangatlah tidak mudah. Berada di kerumunan dan bercanda, banyak bercerita, dan seolah terbuka membuat mereka lebih bisa menutupi siapa dirinya. Bukan karena tidak jujur, karena memang sulit sekali untuk bisa mengutarakannya kecuali kepada orang-orang tertentu yang dipercaya saja.

“Dunia boleh melihat saya tertawa dan bahagia. Dunia boleh melihat saya selalu penuh dikelilingi dengan segala sesuatu yang paling diinginkan oleh siapapun. Dunia tidak boleh melihat saya menangis dan berduka. Biar saya saja yang merasakannya.”

Barangkali bagi sebagian memilih untuk meluangkan banyak waktu bergembira di dunia maya. Berkenalan, bersahabat, dan menjalin cinta. Menghilangkan rasa sepi dan sendiri dan berlari ke dunia yang penuh dengan mimpi. Tak heran bila banyak yang larut dan hanyut di dalamnya sehingga lupa dengan fakta dan kenyataan yang ada.

Di dunia maya, apa bisa menjadi siapa dan apapun bisa terjadi. Apalagi jika dijadikan sebagai tempat pelarian dengan maksud dan tujuan yang tidak jelas pula. Pada akhirnya terjerembab di dalam berbagai intrik, penggiringan, dan bahkan tak sedikit juga yang menjadi semakin labil. Semua yang diawali dengan kaki yang kokoh dan kuat akan sangat mudah terombang-ambing, dunia maya bisa sangat membuat mabuk. Rasa percaya diri yang rapuh dan tidak memiliki nyali untuk menjadi diri sendiri di dunia maya tanpa juga mau bertanggungjawab dan menanggung semua resikonya, serta tidak berpikir jauh ke depan, sama saja dengan menghancurkan diri sendiri.

“Dunia maya memang sangat mengasyikkan tetapi saya memiliki satu tujuan dan itu bukanlah untuk kepentingan saya sendiri. Apa yang saya lakukan sebenarnya biarlah saya sendiri yang tahu. Dunia maya bukanlah dunia nyata dan saya tidak mau menjadi hangus dan terbakar oleh kesemuan dan menjadi tidak berarti serta tak berguna.”

Di dunia nyata saja, yang namanya benar teman dan sahabat saja bisa dihitung jari. Kebanyakan hanya sekedar kenal dan tak sedikit yang datang hanya bila “ada maunya” saja. Pasangan pun tak sedikit yang ternyata telah berdusta bahkan sudah terikat dalam perkawinan pun. Yang mengaku saudara dan bahkan yang sedarah daging pun bisa menjerumuskan dan menjatuhkan. Apalagi dunia maya?! Siapa yang bisa menjamin?!

Tentunya, rasa percaya terhadap semakin hilang dan lenyap tersapu oleh gemuruh dan badai yang terus menerus menerpa.  Muak dan mual dengan semua perilaku dan perbuatan serta keadaan. Siapa yang bisa dipercaya bila mereka yang sangat dipercaya pun ternyata sama saja?! Malah mereka justru lebih menjerumuskan dan menikam.

Semua ini benar-benar membuat rasa sepi dan sendiri semakin lama semakin terasa saja. Semakin tidak ingin keluar dan semakin tidak ingin juga melakukan apapun. Mungkin bila tidak memiliki sebuah kegiatan yang memang bisa menjadi tempat untuk meluangkan segala isi dalam benak dan rasa, bisa menjadi uring-uringan terus dan semakin lama bisa menjadi semakin sepi dan sendiri.

Yah, memang manusia terlahir sendiri dan akan kembali sendiri juga. Seharusnya semua ini tidak perlu menjadi sebuah ketakutan. Sepi dan sendiri itu bukan berarti sepi dan sendiri juga. Biar bagaimanapun juga selalu ada yang menemani dan mendampingi setiap saat. Selalu memberikan cinta dan kasih sayang dengan penuh ketulusan serta keikhlasan. Untuk apa bergantung, berharap, dan mengandalkan manusia?!

“Seringkali kita tidak menduga bahwa mereka mampu melakukannya tetapi begitulah fakta dan kenyataannya. Tidak ada yang bisa mengendalikannya selain selalu menjadi diri sendiri dan tidak menjadi yang lain?! Tidak juga boleh bergantung dan berharap dari yang lainnya, semuanya harus sendiri. Pada akhirnya, semua juga untuk diri sendiri juga. Lakukan saja semua yang bisa dilakukan sendiri tetapi jangan pernah lupakan yang lain.”

Tidak bisa dipungkiri bahwa keinginan untuk bisa selalu bersama dengan seseorang yang sangat dicintai itu selalu ada, namun tidak perlu sampai sedemikian memaksakannya. Cinta tak perlu dikejar ataupun dicari ke mana-mana. Bila memang sudah waktunya, siapapun dia, pasti akan datang dengan sendirinya. Tidak perlu juga harus sampai bersaing, memohon, mengemis, dan meminta. Semakin dikejar dan semakin diburu, semakin menjauh dan semakin sulit untuk mendapatkannya. Jika memang sudah waktunya, pasti akan datang sendiri.

Bilapun ternyata bukan dia orangnya, ya sudah. Tidak ada yang perlu disesali ataupun mencari-cari alasan untuk membenarkan. Biarkan saja dia bahagia dengan kebahagiaannya, kenapa harus susah bila semua itu membuatnya bahagia?! Memang sering membuat dada menjadi sesak, tetapi mau apa?! Hidup terus berlanjut, kenapa harus berhenti?!

“Berulang kali mencoba untuk bertahan namun suara hati tak bisa lagi didustai. Seperti yang sering terucap, terlintas dalam benak, dan juga terasa di dalam hati bahwa cinta saya adalah milik semua dan siapapun boleh memilikinya. Saya tidak akan pernah bisa menjadi seperti yang lainnya.”

Sungguh benar-benar tidak enak saat sepi dan sendirian melanda, tetapi belajar dari pengalaman dalam kehidupan, kenapa harus cemas dan takut?! Tidak ada seorang pun dari kita yang sesungguhnya benar-benar sendiri. Rasa sepi itu hanya ada di dalam pikiran kita sendiri. Seandainya saja kita mau merasakan yang betapa besar cinta yang kita miliki seharusnya tidak perlu lagi merasa sepi dan sendiri.

Saya masih ingat sekali dengan seseorang yang banyak sekali memberikan cinta untuk saya meski sekarang beliau entah ke mana. Dia sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri. Di satu saat ketika beliau menemukan saya duduk menangis di sebuah sudut ruangan yang kosong karena merasa sepi dan sendiri, beliau berkata kepada saya, “Mariska, jangan pernah takut akan kesepian dan kesendirianmu. Jadilah selalu dirimu sendiri. Di dalam sepi dan sendiri itulah dirimu justru menemukan kebahagiaan. Di saat seperti itulah dirimu bisa berkarya dan memberikan banyak cinta untuk semua. Dunia bisa berkata dan melihat tetapi yang tahu sesungguhnya siapa dirimu hanyalah dirimu sendiri. Begitu juga dengan apa yang dirimu inginkan, yang tahu hanyalah dirimu sendiri. Maafkanlah mereka dan maafkanlah dirimu. Usap air matamu, angkat dagumu, dan ini ada kertas dan pensil. Menulislah dan menggambarlah sepuas hatimu. Dia selalu ada bersamamu.”

Semoga bermanfaat.

 

Salam hangat penuh cinta selalu,

 

Mariska Lubis

 

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s