“Makan, Tuh, Cinta!!!”

Illustrasi: blogs.rediff.com

Sering banget, nggak, dengar yang bicara seperti itu? Sedih nggak, sih?! Kok, saya selalu miris, ya, setiap kali ada yang berucap seperti itu?! Kasihan sekali juga. Masa, sih, sampai sebegitu apatisnya dengan cinta?! Belum memiliki cinta barangkali, ya?!

Seorang perempuan dan pria sedang jatuh cinta menemui saya beberapa waktu yang lalu. Mereka sedang sangat merasa sedih karena cinta mereka sepertinya selalu terus-menerus mendapatkan ujian. Dari orang tua, dari teman, dan juga para sahabat. Tidak ada satu pun, menurut mereka, yang mau mengerti cinta mereka itu.

Persoalannya bukan di masalah uang, tetapi karena perempuan itu memiliki kekurangan fisik dilihat dari kaca mata kedokteran. Ada masalah di tulang ekornya sehingga perempuan ini tidak bisa berjalan. Harus selalu duduk di kursi roda. Dia pun sudah divonis tidak mungkin boleh memiliki anak. Sementara sang pria adalah putra tunggal dari empat bersaudara. Anak paling bungsu pula. Dari keluarga yang sangat patromonial.

Kisah cinta mereka berawal dari pertemuan di sebuah perpustakaan di bilangan Tanah Abang, Jakarta. Waktu itu mereka berdua sedang sama-sama mencari bahan untuk skripsi akhir. Perempuan itu sudah begitu keadaannya. Namun pria itu tetap saja tidak peduli. Baginya, perempuan itu sungguh sangat sempurna.

Awalnya juga, perempuan itu tidak begitu yakin akan cinta pria itu. Kesungguhan hati sang pria membuatnya menjadi benar-benar yakin. Memang sesungguhnya mereka sangat saling mencintai. Mereka tidak mau cinta mereka hilang hanya karena kekurangan. Cinta mereka sudah sangat berlebih. Mengisi kekosongan dan kekurangan mereka selama ini. Sehingga sekarang mereka penuh dengan cinta. Cinta yang sesungguhnya. Cinta yang abadi selamanya.

“Kenapa mereka tidak pernah mau mengerti?”
“Kenapa juga mereka harus mengerti?”
“Kami sangat saling mencintai. Apakah itu salah?”
“Sama sekali tidak. Cinta adalah anugerah.”
“Lalu kenapa mereka tetap saja begitu?”
“Karena mereka memang tidak memiliki cinta yang sesungguhnya?”
“Kami tidak mengerti?”
“Bila mereka memang memiliki cinta, mereka akan sangat mengerti.”
“Maksudnya, orang tua kami tidak saling mencintai?”
“Saya tidak bilang begitu.”
“Lantas?”
“Bila mereka sungguh memiliki cinta untuk kalian, mereka tidak akan mempersoalkan masalah ini. Kebahagiaan yang mereka inginkan dari apa yang mereka sebut cinta orang tua kepada anaknya sungguhlah semu. Kebahagiaan seorang anak seharusnya adalah kebahagiaan mereka. Bukan sebaliknya, kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan anak.”
“Bukankah mereka begitu karena ingin kami bahagia?”
“Pertanyaan saya, apakah kamu merasa bahagia sekarang ini dengan cinta yang kamu miliki?”
“Sangat bahagia.”
“Kalau begitu, tidak usah pertanyakan lagi. Jalanilah cintamu agar kebahagiaan itu selalu ada.”
“Bagaimana dengan orang tua kami?”
“Buktikanlah bahwa cinta kalian itu telah membuat kalian bahagia. Kasihilah mereka dan penuhi mereka dengan cinta. Berdoalah agar pada suatu hari nanti mereka akan bisa mengerti arti cinta yang sesungguhnya.”

Mungkin akan ada sebagian yang akan berkomentar, “Makan, tuh, cinta!”. Tidak apa-apa. Saya hanya akan menjawab, “Ya, akan saya makan itu cinta. Dengan senang hati“.

Kekurangan di mata manusia yang tidak memiliki cinta bisa menjadi menjadi kelebihan tersendiri di mata manusia yang memiliki cinta. Segala kekurangan di negara ini bukanlah sesuatu yang hina dan harus dijadikan sebuah alasan untuk tidak mencintai negara ini. Segala kekurangan yang dimiliki oleh negara ini adalah sebuah kelebihan yang merupakan pemicu untuk kita terus menggali arti cinta kepada nusa dan bangsa dalam arti yang sesungguhnya. Apa benar kita sungguh-sungguh mencintai negara kita ini?

Tidak mudah memperjuangkan dan mempertahankan keadaan seperti ini. Diperlukan keyakinan penuh akan kebahagiaan yang datang dari cinta itu sendiri. Jangan pernah goyah. Jangan juga pernah ragu. Cinta itu sudah indah. Cinta itu sudah sangat membahagiakan. Penuhi diri dengan cinta. Kebahagiaan itu akan selalu menyertai.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kabar bahwa pasangan ini akan segera menikah. Perasaan haru dan bangga pun menyelimuti diri saya. Sungguh saya sangat bahagia.

Tulisan ini adalah hadiah bagi mereka berdua. Juga diiringi dengan segala doa agar cinta mereka tetap ada dan mereka senantiasa selalu bahagia.

Semoga memberikan banyak cinta untuk semua.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

7 Februari 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to “Makan, Tuh, Cinta!!!”

  1. Wea Arnold says:

    Keren gila ni tulisan!!!maknanya dalam banget dan mirip2 seperti pengalaman saya.Bedanya saya dulu ditolak sama calon mertua karena materi.Mulai saat itu gw bangkit dan terus berusaha supaya bisa jadi orang kaya didukung doa juga.Kenyataannya sekarang calon saya sudah menikah dengan pria lain.Tuhan menjawab doa saya.Saya bisa membalas dendam secara positif yakni gw lebih mampu dari segi materi dari suami mantan gw.Maaf bukannya gw mau memproklamirkan klo sekarang gw kaya!bukan,tapi setidaknya ini bisa jadikan perbandingan untuk mendukung pengalaman saya di atas.Gimana ngga dibilang calon mertua dengan kaliamat”makan tu cinta”tiap hari gw naik angkot,cew gw punya motor,gaji cew gw lebih gede dari gw,secara yah dia akuntansi untuk level jakarta mudah dapat kerja dengan bayaran lumayan!kalau gw cuma tamatan sarjana ilmu politik yang sulit banget dapat kerja di jakarta.Thanks buat ibu Mariska Lubis!!!Semoga tulisan ini menginspirasi jutaan ribu calon mertua di seluruh Indonesia.selamat malam!!!

  2. benja says:

    sejak masih sekolah dasar kita sudah diajarkan membedakan ukuran dari berbagai materi atau keadaan….. untuk mengukur suhu digunakan thermometer … mengukur berat beras digunakan kilogram ….. mengukur panjang kain digunakan meter ….

    ukuran yang benar terhadap sesuatu akan menentukan tepatnya penilaian kita dan selanjutnya keputusan mengenai sesuatu……
    apabila pembelian rumah menggunakan ukuran kilogram (apalagi celcius) maka sulitlah menentukan harganya……

    perasaan biasanya diukur dengan pengorbanan dan ketulusan ……. seberapa besar kita bisa berkorban …. sebesar itulah cinta kita ….

    cinta adalah perasaan yang harus dihargai lebih daripada kita sekedar menghargai makanan …..

    kalau begitu kenapa cinta tidak masuk dalam kebutuhan primer ? itu karena kebutuhannya melebihi kebutuhan primer ….. sebab orang bisa mengorbankan kebutuhan primer hanya karena cinta …..

    jadi kalau ada orang yang minta kita makan tuh cinta…. gak perlu lah….kenapa cinta harus dimakan ?….
    mereka minta seperti itu biasanya tidak bisa membedakan ukuran yang harus digunakan untuk menimbang berat udara atau mengukur suhu beras ……. eh salah… maksud saya … menimbang berat beras dan mengukur suhu udara …

    cinta adalah perasaan bukan makanan….. jadi ukurannya bukan pada makanan …. tetapi pada kebahagiaan….

    makanan dan materi itu masalah lain lagi …… tidak berhubungan
    itu kalau mau mengukur dengan benar ………
    .
    .

  3. dieheart says:

    hm.. kekna pernah baca dr site kompasiana… punya mbak jg ya.. hohoho… yah “makan itu cinta”… knapa miris kalo dengernya.. contoh yang mbak tulis itu cuma bagian yang berhasil lho… yang sampai pada kebahagiaan bersama.. pernah denger org pacaran 7 tahun sampai tunangan trus gak jd merit ? atao yang ini… 2 orang saling cinta tapi tak bisa bersama karena beda agama ataupun ras.. atau sudah nikah tapi akhirnya si suami selingkuh… atau sudah tlnjur cinta tp ternyta si cowo sudah beristri… itu semua cerita real dr aku maupun tmn2 ku lho..
    yah bagi ku ndak da cinta di dunia ini.. cinta itu cuma dongeng.. legenda… yang di indah2kan… jd makan aja itu cinta… klo bs dmakan.. hohoho…
    contoh laen.. pas pacaran bilang cinta… nikah cinta… pas cerai bilang benci… bruakakaka… kmna cintanya… ya dimakan kali… hohoho…

    buatku sih mbak yg ndak lg percya ma cinta.. pasangan itu yg pnting komitmen.. komtmen untuk menjaga hubungan… komitmen untuk saling menghargai dan mnghormati… cinta ??? apa itu… hahahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s