Mahasiswa yang Bingung Soal Seks

Illustrasi: balloonmushroom.blogspot.com

MELAKUKANNYA sudah sering tetapi kalau ditanya bingung. Mungkin kalau ditanya bagaimana posisi yang paling asyik masih bisa jawab, tapi kalau ditanya tujuan dan akibat melakukannya bingung, deh!!! Paling-paling hanya seputar kenikmatan dan kepuasan saja. Tidak bisa menguraikan lebih jauh dan lebih mendalam lagi.

Wajar-wajar saja, sih!!! Soalnya, pendidikan seks di Indonesia masih tergolong sangat tertutup. Jarang sekali ada komunikasi antara orang tua dan anak mengenai masalah ini. Baik antara ibu dan anak perempuannya maupun antara ayah dan anak lelakinya. Bisa jadi karena merasa canggung untuk membicarakannya atau bisa juga bingung bagaimana harus menerangkannya.

Inilah jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan sewaktu saya diundang untuk menjadi pembicara di kampus Universitas Maranatha, Bandung, pada tanggal 1 Desember yang lalu. Tema acara dalam seminar ini adalah “Edu Night Ment” dan topik yang saya bawakan adalah “Seks Yang Sehat Itu Bagaimana, Ya? Sebuah Pendidikan Seks”. Selain saya dan beberapa acara hiburan, dalam seminar ini juga diundang beberapa orang ODHA alias para penderita HIV dan AIDS, serta beberapa orang penari transeksual. Mereka semua memberikan testimoni atas apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, apa penyebabnya, dan apa yang mereka rasakan sekarang serta ketakutan mereka menghadapi masa yang akan datang. Menarik, ya?! Makanya tidak heran bila pengunjungnya juga membludak. Lebih dari seribu mahasiswa!!! Luar biasa!!!

Kebanyakan dari anak muda sekarang, yang memang dengan mudahnya mendapatkan informasi soal seks dari berbagai sumber, seringkali hanya mendapatkan nasehat seks dari seputar agama dan kesehatan saja. Yah, memang pada faktanya sekarang ini agak sulit untuk bisa “masuk” dan diterima oleh mereka. Maklumlah, anak sekarang, kan, kritis banget. Semuanya harus serba logis namun tetap mudah untuk dicerna dan diresapi. Jiwa mereka yang masih dalam proses pencarian pun membuat mereka tetap terus mencari-nyari yang paling “pas” dan “tepat” bagi mereka. Agak sulit jadinya, ya?!

Problema seperti ini adalah sebuah kenyataan mengerikan bagi saya pribadi. Saya tidak bisa membayangkan bila hal yang sama terus berlangsung dari generasi ke generasi. Apa yang akan terjadi di masa mendatang nanti bila semua ini tidak mulai untuk dihentikan? Gelap!!! Gelap banget!!! Apalagi saya sendiri memiliki anak-anak yang masih kecil dan akan tumbuh serta besar dan hidup di masa yang akan datang itu. Tidaaaakkkkk!!!

Jangan heran bila saya terus-terusan bicara soal seks. Jangan berpikiran pendek dan kotorlah soal yang satu ini!!! Ini semua tidak porno sama sekali, kok!!! Soalnya, kalau tidak ada yang mau memulai, tidak akan pernah ada juga yang tahu. Mencoba tidak ada salahnya, kan? Namanya juga usaha. Daripada tidak dilakukan sama sekali?! Biarlah saya dijadikan tumbal. Biarlah saya yang dihina, direndahkan, dan dicaci-maki. Tidak masalah bagi saya. Saya sudah siap menghadapi semuanya. Bagi saya, yang paling penting adalah tujuan dan maksud saya untuk memberikan semua yang terbaik yang saya miliki bagi kepentingan semua orang. Mulia? Bukan. Ini adalah masalah kewajiban saya sebagai seorang manusia. Itu saja, kok!!! Bagaimana saya mendapatkan hak bila kewajiban saya sendiri pun belum terpenuhi?! Lagipula, ini semua untuk masa depan anak dan generasi penerus saya selanjutnya. Saya tidak akan pernah duduk diam dan berpangku tangan membiarkan mereka terjerumus ke dalam kegelapan. Saya cinta mereka!!!

Saya juga angkat jempol setinggi-tingginya untuk para mahasiswa dan jajaran pimpinan serta para dosen Universitas Maranatha yang sangat peduli dengan masalah ini. Kesadaran serta kepedulian akan arti pentingnya terhadap masalah seks di lingkungan mahasiswa mendapatkan perhatian penuh. Rasa kasih dan cinta yang diberikan akan sangat bermanfaat bagi masa depan mereka semua kelak. Saya salut!!!

Bagi saya, perilaku seks menunjukkan jati diri setiap species yang ada di dalam dunia ini. Manusiakah? Binatangkah? Tumbuhankah? Sudah baca, dong, ya, tentang “Perilaku Seksual Binatang?. Manusia bisa memilih untuk menjadi binatang atau tumbuhan bila kita melihat dari perilaku seksual mereka. Sementara binatang dan tumbuhan memang tidak memiliki pilihan. Biar bagaimanapun juga mereka tetap akan selalu menjadi binatang dan tumbuhan. Kenapa? Karena memang mungkin inilah yang disebut-sebut bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Tuhan. Memiliki otak untuk berpikir, memiliki hati untuk merasakan, dan memiliki memori atau ingatan untuk bisa mengingat semua yang terjadi dalam setiap detik proses kehidupan yang dijalani. Makanya, analisa perilaku seksual manusia tidak bisa dilihat berdasarkan insting dan tujuan yang sama dan pasti. Ada pengaruh kekuatan aktivitas mental dan juga pengaruh atas sosial, budaya, pnedidikan, serta karateristik lingkungan tempat orang itu lahir, dibesarkan, dan tinggal, di mana semua itu sangat mempengaruhi pribadi setiap orang. Emosi, kemampuan bersosial, dan berkomunikasi bisa dijadikan juga tolak ukur untuk menilai perilaku seksual seseorang.

Perilaku seks juga menjadi sangat penting karena mempengaruhi kehidupan manusia secara keseluruhan. Tidak hanya dari segi moral dan hukum saja, tetapi juga faktor ekonomi, sosial, budaya, politik, dan semua faktor yang ada dalam kehidupan manusia. Soalnya, seks itu memang ada dalam diri kita dan dijalankan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak bisa kita tolak, kita buang, dan kita singkirkan begitu saja. Selalu akan tetap ada selama manusia dan peradaban ini ada. Masih ingat, kan, cerita soal Bill Clinton? Masih ingat juga, kan, apa yang terjadi saat virus HIV dan penyakit AIDS muncul ke permukaan? Tergoncangkah dunia?! Bukan hanya tergoncang kali!!! Jungkir balik dibuatnya!!!

Saya juga tidak akan pernah berhenti menyerukan kepada semua soal bagaimana sebaiknya kita memandang seks sebagai satu kesatuan yang utuh. Tidak separuh-separuh atau setengah-setengah. Satu!!! Dari soal seks yang sehat sajalah. Biar lebih positif cara memandangnya. Seks yang sehat bisa dilihat dari berbagai sisi, antara lain medis dan kesehatan, psikologis, sosial, budaya, politik, hukum, agama, etika, moral, dan spiritual. Masing-masing memiliki pandangan tersediri terhadap seks yang sehat. Nah, bagaimana kalau kita melihatnya sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak hanya dari salah satu pandangan saja. Seperti yang diutarakan oleh Julius Evola, seorang filsuf yang memperkenalkan Metafisika Seks, di mana tindakan seksual seharusnya merupakan bentuk dari penggabungan jiwa dan raga yang disatukan untuk menjadi sebuah kesatuan. Oleh karena itulah, seks memiliki kemampuan untuk membuat seseorang atau satu pasangan menjadi “kosong” atau “penuh”. Kalau ingin bicara secara lebih konkret dan jelasnya secara logis, baca, deh, “Kenapa Jadi Mirip, Ya?”.

Perlu pemikiran yang matang serta pengalaman untuk bisa memahami ini semua, tetapi ada cara yang paling mudah bagi mahasiswa yang sedang kebingungan untuk bisa menjalaninya. Bila hendak melakukan kegiatan seksual, cobalah untuk melihat apakah sudah sesuai dengan kategori yang sehat menurut pandangan medis dan kesehatan, psikologis, sosial, budaya, politik, hukum, agama, etika, moral, dan spiritual? Kalau ada satu saja yang tidak sesuai, berarti seks yang hendak dilakukan tidaklah sehat. Mudah, kan?!

Tidak usahlah kita semua menjadi bingung-bingung lagi. Pikirkan dan renungkanlah semua ini. Berpikir sebelum bertindak. Dengarkan kata hati. Berani bertanggung jawab. Pilihan ada di tangan kita masing-masing.

Semoga saja semua ini bisa bermanfaat!!

Salam,

Mariska Lubis

7 Desember 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Mahasiswa yang Bingung Soal Seks

  1. ale says:

    seks itu harus dijaga dan dirawat, bukan untuk dibingungkan heheeh….

  2. lokt says:

    lhaa terus apa intinya, ngomong ngalur ngidull

  3. ardian says:

    saya selalu merasa bersalah, jika menilik tentang apa yang telah saya perbuat atas diri saya dan dia. Dia (mungkin) selalu memaafkan atas apa yang telah kita perbuat. namun, sebagai manusia, saya selau ingin menjadi yang terbaik, dan selalu ingin belajar dari kesalahan. dengan tujuan tak lagi terjerumus di lubang yang membuat saya terkelincir. saya selalu merasa senang bisa berkenalan dengan kakak. terus berjuang kak !! I Love You !!

    • bilikml says:

      sebaiknya kita selalu melakukan introspeksi diri tetapi jangan larut dalam rasa bersalah, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Sekarang tinggal bagaimana kita mau terus melangkah

      Terima kasih ya adikku sayang… love you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s