Penggiringan Massa Bukti Lemahnya Daya Baca dan Daya Bahasa

Tulisan apapun bentuknya bisa memprovokasi siapa pun juga untuk menggiring dan mengarahkan cara pandang hingga melakukan tindakan dan perbuatan tertentu. Hal ini bisa terjadi terutama bila yang membacanya tidak memiliki daya baca dan daya bahasa yang cukup kuat. Tidak peduli dengan status, gelar yang sederet , pendidikan yang tinggi, bisa menulis dan merangkai kata dengan indah, ataupun sering dan sudah membaca setumpuk buku-buku yang hebat. Semuanya menjadi sama saja dan sekali lagi menjadi sebuah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih juga didominasi oleh manusia penonton. Apa mungkin bisa maju?!

Daya baca adalah kemampuan seseorang  untuk bisa membaca apa yang tersirat dan tersurat. Membaca bukan hanya membaca aksara tetapi mampu memaknai dan mengerti setiap kata itu dengan baik. Sehingga kata itu tidak lagi dipandang lewat satu sisi pandang tertentu saja mengingat kata sifatnya sangalah ambigu. Diperlukan sekali pola pikir dan cara pandang yang objektif dan kejiwaan yang sehat untuk bisa memiliki daya baca yang memadai.

Daya bahasa adalah kemampuan seseorang untuk berbahasa dan berkomunikasi menggunakan bahasa, baik untuk mengungkapkannya maupun untuk memahami dan mengerti bahasa yang digunakan oleh yang mengungkapkannya. Bahasa memiliki ragam gaya dan bentuk sehingga diperlukan wawasan yang luas untuk bisa memiliki daya bahasa yang baik. Semakin banyak  perbendaharaan kata  – kata adalah bagian dari bahasa – yang dimengerti dan dipahami, bukan hanya mengerti saja, semakin tinggi pula tingkat kepandaian (IQ) seseorang.

Bila demikian, sudah seharusnya, seseorang yang memiliki status yang tinggi di masyarakat, memiliki banyak gelar yang diberikan, mendapatkan pendidikan yang tinggi, memiliki daya baca dan daya bahasa yang tinggi pula. Apalagi bila mampu menulis dengan baik dan indah serta  sudah membaca banyak sekali buku-buku yang hebat serta tulisan-tulisan yang luar biasa. Kenapa ini tidak terjadi?! Apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan yang ada?!

Bahasa memang sudah lama dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting. Bilapun penting, bukanlah bahasa ibu dan bahasa nasional yang dipelajari tetapi bahasa asing. Mampu berbahasa asing menjadi sedemikian diperlukan dan dianggap sebagai sesuatu yang hebat sehingga bahasa sendiri dilupakan. Kemampuan berbahasa asing itu sendiri pun banyak yang terbatas karena hanya sekedar bisa saja, pemahaman dan pengertiannya jarang sekali yang mau, “diijinkan”, atau mendapat kesempatan untuk mempelajarinya secara lebih mendalam lagi.

Mengapa saya bisa berkata demikian?! Sebagai salah satu contohnya adalah begitu mudahnya penggiringan massa dilakukan untuk melakukan penyerangan terhadap Nurdin Khalid. Banyak sekali tulisan yang memang memberikan hukuman dan penilaian terhadap dirinya. Namun demikian, ada banyak juga tulisan yang justru ingin mencoba mengupas lebih dalam lagi apa yang sedang terjadi dengan mempertanyakan keanehan ini. Mereka yang menghukum, tentunya mendapat dukungan, tetapi yang mempertanyakan, justru malah diserang balik. Belum apa-apa sudah mendapat tuduhan sebagai pejuang pembela Nurdin Khalid?! Jika pun ada yang berusaha “netral” tetap saja tidak “mengena”. Apakah dengan demikian bisa dikatakan sudah membaca dengan baik dan benar?! Apakah sudah mampu berbahasa dengan baik?!

Saya hanya memperhatikan saja lewat ragam tulisan serta komentar-komentar yang ada baik di dalam tulisan itu sendiri maupun di berbagai media lainnya. Sungguh saya merasa sangat prihatin sekali. Apalagi ada yang beralasan bahwa hal ini wajar mengingat bahwa masyarakat memang memerlukan panutan dan hanya mengikuti siapa yang menjadi panutannya. Apapun yang dilakukan oleh panutannya berarti adalah yang menjadi patokan, tanpa dipikirkan terlebih dahulu segala kemungkinan yang ada dan segala resiko serta konsekuensinya. Bukankah salah satu seseorang yang bisa dikatakan “modern” adalah mereka yang mampu memiliki pilihan yang sangat luas dan mampu menentukan pilihan yang bisa bermanfaat bukan hanya untuk sekarang saja tetapi justru untuk masa depan?! Bila patokannya panutan, bagaimana mungkin bisa?! Apa tidak dipikirkan bahwa panutan itu bisa saja  memiliki maksud dan tujuan tertentu untuk kepentingan pribadinya?!

Apa yang saya bicarakan ini terlepas dari apa yang telah dilakukan oleh Nurdin ataupun apa yang terjadi di belakangnya. Saya mengajak semua untuk mencoba berpikir kembali apakah yang telah kita lakukan dan perbuat memang sudah benar?! Kita seringkali ceroboh sehingga penyesalan datangnya belakangan, terutama bila ada marah dan sakit hati di dalamnya. Seperti yang sudah sering saya ungkapkan bahwa selama ada marah, sakit hati, dan dendam, tidak ada seorang pun yang mampu berpikir secara objektif. Berkoar dan berteriak tentang perbaikan dan perubahan pun akan menjadi terbatas dan dibatasi oleh pemikiran dan cara pandang serta perasaannya sendiri saja meskipun mengatasnamakan orang lain ataupun orang banyak. Apanya yang mau diperbaiki dan diubah bila tidak juga mau memperbaiki diri dan berubah?!

Daya baca dan daya bahasa merupakan salah satu faktor yang menentukan kemampuan berpikir seseorang. Di dalam filsafat bahasa, kemampuan ini sama ubahnya dengan kemampuan untuk bisa melakukan sesuatu seperti halnya dengan kemampuan mengendalikan organ tubuh lainnya. Bedanya, tidak ada organ yang digerakkan selain otak itu sendiri yaitu kemampuan bernalar.

Bila dikatakan bahwa semua yang terjadi ini adalah realistis, ya memang bisa dikatakan demikian. Alasannya?! Apa ada alasan lain selain karena memang ada kemarahan yang memuncak dari keadaan?! Sekali lagi, bila marah, apakah bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi?! Yakinkah bahwa memang semua ini merupakan pemikiran sendiri dan bukan hanya karena terseret arus?! Yakinkah juga bahwa semua ini memang sesuatu yang bisa membawa semua kepada perubahan dan kehidupan yang lebih baik?!

Bila dikatakan logis, bisa juga memang dikatakan demikian. Logis saja semua ini terjadi karena memang manusia penonton mudah sekali diarahkan dan dijerumuskan. Permainan apa yang terjadi dan siapa yang memainkannya sudah tidak lagi bisa terlihat karena semua menjadi pemain dan yang dipermainkan. Pernahkah berpikir apa yang sebenarnya terjadi dan siapakah yang paling beruntung dan mendapatkan keuntungan dari semua ini?! Apa keuntungan terbesarnya bagi diri sendiri dan juga masyarakat luas?! Bagi bangsa dan Negara?! Lihatlah apa yang terjadi dengan lingkungan kita berada sekarang ini saja, apakah menjadi lebih baik dengan segala tuding menuding, tunjuk menunjuk, caci maki serta sumpah serapah?!

Media bisa saja disalahkan karena memang media memiliki peranan yang sangat penting atas semua ini. Pengarahan melalui media sungguh sangat mudah dilakukan. Tetapi coba dipikirkan lebih lanjut lagi, berapa banyak juga yang terpancing lalu membuat tulisan di berbagai blog, note, dan bahkan status FB yang juga melakukan hal yang sama. Apa hanya media saja yang patut disalahkan?! Media tidak akan melakukannya bila tidak memiliki konsumen.  Kenapa konsumen mau menerima semua itu begitu saja?! Realistis, logis, dan rasionalkah bila saya mengatakan bahwa ini adalah sebuah kebodohan diri sendiri?!

Satu hal lagi, bila kita bicara soal hukum dan perundangan yang berlaku, kenapa susah sekali untuk bisa mentaatinya?! Bukankah kita sendiri sering berteriak tentang ketidakadilan atas segala proses hukum dan juga segala perbuatan yang melanggar hukum?! Bila memang semua ingin peraturan dan perudangan hukum ini ditegakkan, kenapa semua melakukan tindakan hukum sendiri-sendiri?! Apa bedanya dengan para pemimpin dan penguasa yang dengan sewenang-wenang membuat peraturan dan hukum sendiri?! Di manakah letak keadilannya?! Di manakah hukum dan peraturan serta perundangan yang selama ini kita sepakati sebagai landasan terbangunnya bangsa ini?! Apa memang sudah hilang dan harus dihilangkan?! Apa memang sudah sangat hebat dan pintar hingga mampu membuat yang lebih baik lagi?!

Keadaan yang seperti ini bila terus berlangsung , maka apa yang menjadi impian kita bersama tidak akan pernah terwujud. Masyarakat terlalu mudah untuk dibuat dan digiring untuk melawan masyarakat itu sendiri. Masyarakat juga menjadi mudah untuk tertipu dan dimanipulasi oleh berbagai opini serta janji-janji palsu. Apakah kemudian harus pemimpinnya juga yang disalahkan?! Apakah penguasa yang bersalah?! Bukankah kekuasaan dan kedaulatan adalah milik masyarakat?! Kenapa mau memilih dan dipimpin oleh yang seperti itu?! Kenapa mau dikuasai?! Kenapa merelakan diri untuk dipermainkan dan menjadi bahan permainan?!

Seperti sebuah pemikiran yang saya kutip dari buah pikir Risman A. Rachman yang bisa dijadikan bahan renungan. Perenungan yang bisa dilakukan sekarang atau bisa juga dilakukan nanti.

“Ayo kepalkan tangan kirimu. Kita turunkan Nurdin Halid. Singkirkan karena dia penyakit negeri dan penghalang Indonesia juara. Tunjuk jidatnya, katakan bahwa “Kau adalah sampah bangsa” secara beramai-ramai. Kalau boleh, sebelum kau tunjuk jidatnya, arahkan telunjukmu pada saudaramu sendiri. Lalu bertanyalah pada hatimu, bagaimana rasanya. Bila itu tidak cukup, kepung rumahnya. Bawa pentungan, obor, dan batu. Lempar seperti melempar setan dan teriakkah, “Awas kau setan negeri”.

Jika boleh, sebelum kau usir dia, bayangkan jika dirimu terusir dari rumahmu sendiri. Jika sudah puas, rayakan kemenangan karena dia telah jatuh, kalah, tersungkur, dan tersingkir. Bakar kembang api dan lepaskan luapan kegembiraanmu semua. Sebelumnya, bayangkan orang merayakan kemenangan atas derita dan kekalahanmu.

Jika kau tidak sanggup, maka biarlah hukum yang bekerja. Jika hukum lumpuh karena penguasa lemah, bersabarlah menunggu pergantian penguasa. Ingat, jangan lagi pilih pemimpin yang tersandera oleh kasus dan kepentingan. Sungguh, kita bisa menghancurkan negeri ini dalam sehari tetapi sungguh seribu tahunpun tak cukup untuk membangun negeri jika kita menjadi rakyat yang menghukum dengan tangan besi.”

Rendahkanlah hati untuk bisa belajar karena tidak ada yang bisa belajar bila tidak pernah mau merendahkan hati. Daya baca dan daya bahasa sebaiknya terus diasah agar kata itu bisa benar-benar memiliki arti dan makna. Bukan hanya sekedar dibaca dan menjadi sebuah kesombongan ataupun sebagai sebuah penggiringan. Baca dan berbahasa itu buka sekedar aksara tetapi roh dan jiwa. Segala sesuatu yang benar-benar realistis, logis, dan rasional tidak akan pernah mengabaikan faktor-faktor di luar semua itu untuk bisa melengkapinya dan membuatnya menjadi lebih realistis, logis, dan rasional. Yakinkah memang sudah pantas untuk merasa dan dianggap pintar dan hebat serta dihormati, dihargai, dan mendapatkan posisi serta posisi yang layak?!

Pendidikan bukan hanya untuk mengejar status, gelar, kerja, atau apapun itu karena pendidikan adalah untuk membuat hati menjadi kaya. Hati yang kaya itulah yang membuat pola pikir dan cara pandang serta wawasan kita menjadi lebih banyak dan lebih luas lagi. Hanya dengan cara inilah kita semua bisa menjadi seseorang yang bisa membantu agar masa depan dan kehidupan menjadi lebih baik lagi.

Seseorang bisa dikatakan berjiwa besar bila mau mengakui kesalahan. Seseorang bisa dikatakan bernyali bila memiliki keberanian untuk melawan dan menaklukan diri sendiri. Selama masih ada alasan dan pembenaran serta tunjuk jari untuk menyalahkan yang lainnya maka jiwa besar dan keberanian itu hanya menjadi kata-kata yang tidak berarti dan bermakna.

Belajar dan belajarlah terus. Jangan takut untuk menjadi diri sendiri karena tidak akan ada yang bisa berdiri dengan tegak bila tidak memiliki landasan yang kuat. Angin akan selalu bertiup dengan kencang, seberapa kuat dan seberapa berani kita menahannya untuk bisa tetap berdiri?!

Semoga semua ini bisa memberikan manfaat.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik, Sosial dan Politik and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s