Cinta Sebatas Selaput Dara

Illustrasi: yussygsara.blogspot.com

Banyak perempuan yang menuduh pria karena meninggalkan setelah menikmati seks yang diberikan. Banyak juga pria yang masih terus menuntut agar istrinya masih tetap “perawan”. Sebuah bukti jelas  atas disorientasi arti dan makna cinta, di mana cinta hanya dibatasi oleh selaput dara.

Bosan rasanya mendengar kalimat: “Istri saya harus perawan karena bila dia bisa menjaga itu hingga menikah, maka dia terbukti bisa menjaga yang lainnya.” Duh!!! Kata siapa?!

Lebih bosan lagi dengan kalimat: “Pacar saya meninggalkan saya begitu saja padahal saya sudah memberikan segalanya untuknya. Kami pacaran sudah terlampau jauh, sudah seperti suami istri. Dia bukan pria yang bertanggungjawab.” Memberi apa dipaksa?! Kalau tidak dipaksa, kenapa mau?!

Saya bukannya menganjurkan seorang perempuan untuk tidak menjaga selaput dara mereka namun saya ingin sekali semua untuk berani bertanggungjawab atas semua perbuatan yang telah dilakukan. Tidak perlu ada lagi tuding menuding dan tidak perlu lagi ada yang namanya menjual duka dan air mata. Kebenaran itu seharusnya mutlak adanya, fakta dan kenyataan meski pahit harus berani diterima. Kesalahan pun diakui dengan jiwa besar dan lapang dada. Kebanyakan masturbasi otak tidak ada gunanya selain merusak diri dan semua. Jika dibiarkan terus berlanjut, menurut saya, akan terus merusak mental, pikiran, dan semakin mengabaikan hati nurani serta cinta yang sesungguhnya. Masa  cinta hanya sebatas selaput dara saja?! Yang benar saja?!

Lihat saja kenyataan yang ada sekarang ini, seperti  yang sudah saya tulis dalam tulisan saya yang berjudul “Perawan Oh Perawan” dan “Masih Perawan, Tapi…” berapa banyak perempuan yang bersikap seolah-olah masih tetap perawan karena masih memiliki selaput dara, sementara sudah sering melakukan hubungan seks oral dan “pas foto”. Malah tak sedikit perempuan yang menjual dirinya dengan memberikan pelayanan berupa seks oral. Bagian tubuh lainnya boleh disentuh dan diapakan sesuai keinginan pelanggannya selama tidak melakukan penetrasi. Apa masih pantas disebut perawan?!

Yang paling menyedihkannya lagi, perilaku menjual diri seperti ini justru banyak dilakukan oleh perempuan muda di daerah di mana agamanya sangat kuat. Pakaian boleh tertutup rapat, hati dan perbuatan siapa yang tahu, ya?! Yang penting telah mengikuti peraturan meski hanya sebatas penampilan. Toh, nilai baik dan benar di dalam masyarakat itu juga hanya dilihat dari penampilan.  Biarkan perempuan dengan pakaian terbuka yang mendapatkan nilai buruk dengan terus dihina dan disalahkan. Begitu, kan, ya?!  Munafik!!! Sudah menjadi pemilik surga rupanya.

Saya sungguh tidak mengerti bila harus ditutup rapat tetapi masih mengaku tidak juga “mengundang”. Mudah saja, ditutup rapat tapi masih pakai baju ketat dan bahkan tipis. Masih juga memasang foto-foto yang menonjolkan wajah dengan segala polesan kepalsuan, tentunya tetap ingin dinilai cantik dan menarik, kan?! Untuk apa?! Trend?! Biar keren?! Ngaku, dong!!! Bila merasa tidak mengundang tetapi tetap mengundang lalu bagaimana?! Siapa yang salah?! Ditutup agar tidak mengundang, kan?! Kenapa, dong, masih mengundang dengan yang tidak ditutupi?! Sama saja bohong kalau menurut saya, sih!!!

Ini baru soal pakaian, belum lagi soal desahan suara. Sudahlah, tidak usah banyak berdusta!!! Mengaku sajalah, biar sudah ditutup tapi masih suka mengirim foto-foto terbuka dan telanjang  kepada pria, baik yang memang pasangannya atau yang selingkuhannya, sama saja tidak beres!! Bukan muhrim, kan?! Kok, dikirim?! Bilang lagi korban?! Payah!!! Ini malah lebih parah karena bila ditinggal, ketakutan semua itu terungkap jadi berlebihan. Maka tak heran bila permainan drama itu menjadi semakin heboh lagi dengan menjual air mata dan mengaku menjadi korban. Duh, sebagai perempuan merasa malu dan hina sekali!!!

Di dalam melakukan hubungan seks, tidak ada yang bisa disalahkan bila dilakukan mau sama mau. Bila sudah ada unsur pemaksaan, itu baru bisa dikatakan sebuah pelecehan seksual di mana memang benar ada korban. Jika mau sama mau, mana bisa dikatakan salah satu adalah korban. Siapa suruh mau?! Rayuan dan gombalan?! Siapa suruh termakan rayuan dan gombalan?! Jika memang bernafsu juga, akui sajalah! Tidak perlu pakai sejuta alasan untuk membenarkannya. Malu sudah salah dan bodoh?! Sudah terlalu pintar barangkali, ya?!

Akuilah apa yang sudah diperbuat karena kejujuran itu sangat penting. Bukan hanya membuat diri sendiri lebih bahagia dan terbebas dari segala ketakutan dan persepsi negatif tetapi juga terhadap yang lain.  Pria sejati tidak akan mempersoalkan masalah selaput dara, tetapi  hati jauh lebih utama. Penampilan itu bisa dibuat dan topeng bisa terus digunakan, siapa yang sebenarnya rugi?! Siapa yang sebenarnya telah merendahkan diri?! Sudah berbuat salah masih juga merendahkan diri sendiri?! Kapan mau jadi terhormatnya?! Gengsi, dong!!!

Menurut saya, tidak ada kewajiban seorang pria untuk menikahi perempuan yang sudah ditidurinya bila memang dilakukan mau sama mau. Sama-sama sudah tahu resikonya, kan?! Sehingga pria tidak seharusnya dituntut untuk mempertanggungjawabkan hal ini karena bila memang cinta, dia tidak akan pernah meninggalkan begitu saja. Jika dipaksa, meski tidak cinta, bagaimana dengan situasi dan kondisi pernikahan mereka?!

Jika sampai hamil, itu lain lagi ceritanya. Tanggungjawabnya bukan kepada perempuan yang sudah dihamilinya, tetapi kepada janin yang ada di dalam kandungan itu. Janin dan anak yang akan lahir itu tidak bersalah, sehingga biar bagaimana pun harus ada yang bertanggungjawab untuk mengasuh dan membesarkan mereka. Menikah tidak menikah, anak tetap saja anak. Tidak ada yang namanya bekas anak ataupun anak haram. Setiap anak yang terlahir ke dunia ini memiliki hak yang sama.

Namun demikian, pria juga hendaknya bertanggungjawab dengan tidak seenaknya saja meniduri perempuan sana-sini lalu asyik mengumbar kehebatan. Apa benar hebat kalau sudah bisa berhasil meniduri banyak perempuan dan perawan?! Tidak perlulah cerita sana sini tentang apa yang sudah dilakukan, itu sama saja dengan menghina dan melecehkan secara verbal. Sama sekali tidak jantan!!! Malu, ah!!! Pria sejati tidak akan pernah melakukannya.

Apalagi jika kemudian menuntut istri yang masih memiliki selaput dara. Aduuuhhhh!!! Kebangetan!!! Ketahuan banget tidak memiliki tanggungjawab, egois, dan mau seenaknya sendiri saja. Mana bisa pria seperti ini mengaku memiliki cinta?! Cintanya saja sudah sebatas selaput dara. Makanya meminta selaput dara sebagai persembahan cinta, ya?! Minta ampun!!!

Pria perjaka pun menurut saya keterlaluan bila mewajibkan hal ini, mengingat seorang perempuan tidak bisa dinilai hanya sebatas selaput daranya. Perempuan banyak yang kehilangan selaput dara meski belum pernah berhubungan seks karena ada banyak sekali yang bisa menyebabkan perempuan kehilangan. Selain itu, dari mana seorang pria bisa menilai “keperawanan” seorang perempuan?! Darah yang keluar?! Belum tentu juga!!! Tergantung tebal tipisnya selaput dara dan tidak semua perempuan sama.

Yang paling utama adalah, kenapa semua ini menjadi sebuah kewajiban?! Sebegitu rendahnyakah harga dan nilai cinta bila dibatasi hanya oleh selaput dara?! Bila memang cinta, apakah ini harus menjadi sebuah persoalan?! Apa lebih baik memilih menikah dengan yang masih memiliki selaput dara meski tidak harus mendustai hati dan diri sendiri?! Di manakah arti kesucian dan kesakralan sebuah pernikahan itu sendiri?! Sebatas selaput darakah?!

Semua masalah ini menjadi penting bagi saya pribadi karena merupakan sebuah bukti atas disorientasi moral yang sudah ada di dalam masyarakat. Nilai-nilai spiritual yang seharusnya merupakan keyakinan atas cinta yang diberikan oleh-Nya sudah terkikis oleh pembenaran atas nilai-nilai duniawi dan fisik semata. Meski mengaku yakin dan religius sekalipun, tetapi selama tidak ada rasa hormat atas semua berkah dan rahmat yang diberikan, bagi saya adalah sebuah penghinaan besar terhadap-Nya.

Tidak usahlah bicara cinta dan perbuatan baik yang bisa membuat masa depan dan kehidupan ini lenih baik. Masih munafik dan tidak punya nyali untuk jujur serta membuka topeng saja sudah merusak.  Kemunafikan dan nafsu untuk mendapatkan nilai manusia dan merasa telah memiliki surga serta lebih baik dari yang lainnya sudah merusak semua tatanan yang ada dalam kehidupan. Membuat kita semua susah dan tenggelam dalam kesusahan. Ke mana hati?!

Tidak ada seorang pun yang bisa sempurna karena tidak ada seorang pun yang sempurna. Mereka yang mengejar kesempurnaan adalah mereka yang tidak memiliki cinta dan hanya dipenuhi nafsu. Kesempurnaan itu tidak perlu dikejar ataupun  dipaksakan untuk diraih karena semua itu hanya akan diberikan oleh-Nya dan sangat tergantung kepada diri kita sendiri. Kita tidak bisa menilai ataupun memberikan nilai atau mengaku memilikinya karena kita bukan Dia. Bila memang mengakui kebesaran-Nya tentunya sadar penuh akan hal ini sehingga sepatutnya kita malu kepada-Nya.

Dia memberikan kita cinta dengan kebebasan untuk bisa memilih dan menentukan sendiri apa yang kita pilihkan. Berikanlah kembali cinta itu kepada-Nya dengan tidak berdusta dan menjadi munafik. Berikanlah cinta kepada semua dengan sepenuh hati dan ketulusan tanpa harus memaksa dan menuntut timbal balik dan memperhitungkan segala untung ruginya. Apa sebegitu pengecutnyakah manusia untuk berani bertanggungjawab dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan hingga harus selalu berdusta dan bersembunyi di balik topeng kehebatan, kebajikan, kebaikan hati, kealiman, dan kesholehan yang sesunguhnya hanyalah palsu semata hingga harus mengorbankan manusia lainnya?!

Jadilah perempuan sejati. Jadilah seorang pria sejati. Jadilah diri sendiri dan kenalilah apa dan siapa diri. Penuhi diri dengan cinta dan hormatilah semua yang telah diberikan oleh-Nya dengan memberikan cinta yang sesungguhnya kepada semua. Berhentilah bermain menjadi “Tuhan” karena kita hanyalah manusia biasa. Tidak ada seorang pun yang pernah luput dari kesalahan karena dengan mengakui kesalahan kita bisa terus belajar untuk menjadi lebih baik di kemudian hari. Rendahkanlah hati agar kita bisa merasakan cinta dan bisa terus belajar bersama. Kesombongan tidak akan memberikan apapun selain duka untuk diri sendiri dan lainnya. Beranikah menantang diri untuk melakukan semua ini?! Berani, ya!!!

Perawan itu suci bukan karena penampilan ataupun fisiknya, tetapi hatinya. Berhentilah mengaku perawan atau perjaka bila tidak memiliki hati yang suci dan bersih. Berhentilah memakai topeng kesucian karena tidak ada seorang manusia pun yang suci bila hatinya tidak dipenuhi dengan cinta. Cinta itu tidak sebatas selaput dara karena cinta itu tidak terbatas dan bisa dibatasi.

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Cinta Sebatas Selaput Dara

  1. satrya says:

    semua itu tergantung oleh umat manusia itu sendiri dalam menjalini cinta

  2. Nurul Amin says:

    bagus kak….
    tulisan ini mungkin ada banyak orang yang ingin sekali menuliskannya.
    tapi tidak banyak yang merealisasikan menjadi nyata. kakak salah satu yang berani.

    Ya, cinta sebatas selaput dara memang sudah memasyarakat. Ini karena kesalahan tafsir tentang kesucian, dan budaya patriarki di masyarakat kita. Sehingga banyak masalah disalahtafsirkan untuk kepentingan tertentu. Masalah gender, terutama perempuanlah yang banyak termarjinalkan.

    • bilikml says:

      Terima kasih… Tulisan ini saya tujukan untuk perempuan dan pria agar tidak terbatas dan dibatasi oleh pemikiran pendek dan mengabaikan hati… Apalagi jika kemudian dimanfaatkan hanya untuk kepentingan dan kepuasaan pribadi semata…

      Salam hangat selalu…

  3. edysatarigan says:

    Cinta ya cinta saja,
    Benar sekali, tanpa sesajian dong.. Hehehe

  4. hesti handayani says:

    wow…
    mantapp… harusnya semua baca tulisn ini…
    wanita2 ,,, kaumku,,, miliki harga diri yg tdk mungkin terbayarkn oleh apapun jg…
    harga itu teramat mahal , semahal CINTA yg hidup ,tulus ,,,
    CINTA adalah CINTA,,,,,,

  5. kirana says:

    nice blog.cinta sebatas selaput dara,jd pgn share pengalamanku.calonku membatalkan smwny stl ak blg ke dy kl ak dah gk v.awalny wkt ak blg gt dy emang marah sih, tp msh fine2 aj.dy jg blg ‘ak kl cinta ya cinta,gk peduli apapun’.tp lama2 dy menjauh.stl ak tny, dy blg bnyk yg hrs dipikirkan.terutama sanksi yg bakal dy terima dr kesatuanny kl dpt istri gk v,maklum dy tni.pdh setauku dpt sanksi itu kl yg mlkkn dy,kl bukan y gk ada sanksi. tp ya gmn lg, blm jodoh mgkn ya. ato cinta dy mmg hny sebatas selaput dara, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s