Taruhan Seks

Illustrasi: bet.com

BARANGSIAPA yang berhasil tidur dengan pria terbanyak, dia akan mendapatkan uang lima juta!!! Siapa yang kalah, harus membayar masing-masing satu juta. Mau ikutan?!

Sebuah taruhan beresiko tinggi yang dilakukan sekelompok perempuan muda berseragam abu-abu di sebuah daerah di Indonesia. Ngeri, nggak?!! Sinting kalau kata saya, sih!!!

Saya juga tahunya dari seorang teman, anak muda, masih kuliah di jurusan psikologi, yang sedang kebingungan dan meminta masukan dari saya. Donny namanya. Dia bingung karena salah satu dari perempuan yang ikut taruhan itu adalah perempuan yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Bagaimana nggak bingung?! Wong tiba-tiba saja dia dapat SMS yang isinya, “Kak, boleh, nggak saya melepas keperawanan saya sekarang?!”. Saya saja syok berat apalagi dia!!!

Otak saya kembali ke percakapan masa lalu dengan seorang teman kuliah asal Jepang. Keiko namanya. Dia sekarang sudah menjadi diplomat di salah satu kedutaan Jepang di Eropa sana. Waktu itu, saya bertanya padanya, kenapa banyak sekali perempuan Jepang yang datang ke Bali, hanya untuk sekedar bersenang-senang secara seksual. Membayar pria demi kepuasan sesaat semata. Bisa sekaligus tiga orang lagi?!

Saya tidak bermaksud untuk melecehkan mereka, lho!!! Tapi ini memang fakta. Mungkin kalau yang sudah ke Bali, ada yang pernah menyaksikannya sendiri. Ini sudah bukan sekedar gosip lagi, kan? Malah ada leluconnya. Oleh-oleh apa, dari Bali, yang paling bisa memuaskan pria?! Hehehe… Jawabannya perempuan Jepang. Kacau!!!

Si Keiko ini lalu menjawab, “Soalnya, kalau datang ke Bali, dan belum pernah “mencoba” pria Indonesia di sana, bisa-bisa diketawain pas pulang kampung!!! Nggak laku!!! Nggak keren!!! Norak!!!”.

Waduh!!! Sampai segitunya, ya?!

“Banyak juga yang taruhan. Makin banyak pria yang bisa mereka “dapatkan”, semakin tinggi gengsi dan jumlah uang taruhan yang mereka terima,” katanya lagi menambahkan.

Tambah gila lagi aja, nih!!! Kepala rasanya gatal nggak karuan. Digaruk pun, kok, nggak hilang-hilang, ya?!

Back to Donny dan permasalahannya.

“Saya sudah usaha membuat dia untuk tidak melakukannya. Saya sampai berantem berat sama dia. Lewat SMS dan lewat FB. Betenya, ada temannya yang jadi kompor dan malah ikutan marah-marah sama saya, karena tulisan yang saya share di FB. Saya dibilang sok suci!!! Nyebelin banget, deh!”

“Apa kamu sudah menjelaskan baik-baik apa resikonya?”

“Sudah, Mbak!!! Saya sampai kirim artikel dari web dan majalah segala!!! Pokoknya semua resiko penyakit dan resiko psikologi, sudah saya kasih tahu dia semua! Dia saja yang tambeng!!!”

“Saya marah banget!!! Saya akhirnya memutuskan untuk tidak berhubungan sementara dengan dia. Malas saya menanggapi SMS, email, pesan, atau semua tulisannya di FB. Dan dia tahu saya marah.”

“Lalu?”

“Jujur, Mbak. Saya marah tapi saya juga takut. Saya takut dia tetap melakukan itu semua. Dia sudah seperti adik saya sendiri. Bagaimana kalau sampai benar-benar kejadian? Saya pasti akan merasa menyesal seumur hidup.”

Tarik nafas dalam-dalam. Buang nafas pelan-pelan. To tell the truth, saya juga pusing!!

Usia muda. Darah muda. Bergejolak tak karuan. Rasa ingin tahu dan ingin mencoba yang sedemikian besarnya seringkali mengalahkan segalanya. Tidak berpikir panjang ke depan. Yang sekarang, ya, sekarang. Nanti, kumaha nanti!!!

Bimbingan dan arahan sangatlah diperlukan. Seharusnya ini semua datang dari orang tua. Bukan dari teman ataupun siapapun juga. Sayangnya orang tua banyak yang terlalu egois. Bisa dalam bentuk terlalu mengekang atau terlalu membebaskan. Kenapa membebaskan juga saya anggap egois? Ya, karena nggak mau tahu!!! Keselamatan anaknya, kok, nggak dipikirin?!

Kita tidak bisa menyalahkan keadaan yang ada sekarang ini begitu saja. Film, sinetron, internet, buku, majalah seringkali dijadikan tumbal atas perilaku yang ada. Padahal, banyak juga film, sinetron, internet, buku, dan majalah yang isinya justru menentang semua perilaku ini. Tergantung dari bagaimana kitanya saja. Bagaimana kita bersikap dan menghadapinya. Toh, yang memutuskan, kan, kita sendiri. Bukan yang lain!!!

Saya bilang sama Donny kalau dia tidak perlu merasa bersalah kalau pun sampai semua ini terjadi. Mudah-mudahan tidak!!! Dia sudah berusaha sebisa dan semampu dia, kok!!! Lagipula, kita tidak bisa memaksa perempuan itu untuk tidak melakukan apa yang dipikirnya sekarang ini benar. Memberikan masukan agar dia berpikir dua kali saja itu sudah luar biasa menurut saya. Itu sudah menunjukkan kalau Donny ini orang yang baik dan peduli serta memiliki perhatian lebih. Anak muda juga sulit untuk dipaksa. Semakin dipaksa akan semakin berontak dia. Memberikan waktu baginya untuk berpikir, itu langkah yang saya anggap tepat. Memberikan sedikit kelonggaran bagi perempuan itu untuk bisa melihat maksud dan niat baik yang telah dilakukan Donny juga.

Saya juga menyarankan agar Donny menghubungi orangtua perempuan itu. Menceritakan permasalahan yang terjadi. Kalau dimarahi, ya biarin saja. Yang penting mereka tahu!!! Kalau disangkal? Paling tidak pasti ada warning tambahan dari orang tuanya. Kalau mereka tidak peduli? Yah, mau diapain lagi?! Berdoa saja!!! Minta kepada Tuhan agar mereka diberikan yang terbaik.

Marilah kita sama-sama berdoa dan berupaya agar jangan sampai semua ini terjadi pada diri kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita yang lain. Bantu agar mereka semua sadar bahwa semua ini tidak ada artinya. Tidak ada gunanya. Berikan perhatian dan kasih sayang juga pengertian bahwa dunia ini jauh lebih indah bila dinikmati dengan cara yang lebih baik lagi.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

31 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s