Pria Transgender ala “Bissu”

HIDUP menjadi “antara” dan “di antara”. Dihujat, dihina, dan dimaki adalah bagian dari makanan mereka sehari-hari. Keterbatasan lebih mendominasi. Kelebihan seringkali diabaikan. Apakah ini sebuah pilihan atau takdir?

Seorang teman dekat saya bernama Icha (nama samaran). Cantik jelita dan sangat rupawan. Rambutnya yang panjang tergerai dengan sangat indahnya. Tubuh mungilnya lincah menari-nari dengan elok dan lemah gemulai. Sekilas mengingatkan kita dengan seorang pemain sinetron papan atas. Siapa yang menyangka kalau dia ternyata seorang waria? Sulit untuk melihatnya.

Perkenalan saya berawal sejak saya sering berkunjung ke salon tempatnya bekerja sebagai hair stylist. Saya sangat menyukai setiap sentuhan tangannya menyentuh rambut saya. Selalu saya biarkan dia berlama-lama bermain dengan rambut saya. Pernah sampai seharian!!! Saya sangat suka melihat dan merasakannya. Dia pun tampak sangat menikmatinya. Di mata saya, setiap kali dia melakukannya, dia terlihat sangat cantik.

Saking seringnya saya ke sana, kami pun kemudian menjadi sangat akrab. Dia juga sering datang ke rumah saya. Ada banyak sekali cerita dan pengalamannya. Awalnya, semua yang diceritakan hanyalah yang senang-senang saja tetapi kemudian lama-lama berubah. Dia mulai lebih terbuka dan bercerita sangat banyak tentang kehidupan yang telah dijalaninya.

Dia berasal dari sebuah kampung di daerah Sulawesi Selatan. Sebuah tempat di mana seorang waria mendapatkan kedudukan yang terhormat di mata warganya. “Bissu” adalah sebutan bagi para pendeta yang semuanya waria dan dianggap sebagai perantara antara Tuhan dan manusia. Bagi mereka yang tidak menjadi pendeta, tetap sama terhormatnya. Mereka diperlakukan tak ubahnya sebagai seorang wanita. Pakaian yang dikenakan sehari-hari pun seperti wanita kampung umumnya. Pekerjaan mereka pun sama seperti yang dilakukan oleh wanita. Bahkan mereka juga dipersunting oleh pria.

Setamat SMA, dia kemudian memutuskan untuk pergi merantau ke kota besar untuk belajar dan bekerja. Mulai dari Makassar, Ambon, dan terakhir adalah Jakarta. Dia merasakan banyak sekali yang berbeda sejak menetap di Jakarta. Terlalu banyak malah dan membuat dia kemudian menjadi seseorang yang sangat tertutup. Menutup diri dari banyak orang. Makanya dia tidak pernah pindah dari tempatnya bekerja walaupun dia memiliki talenta serta kemampuan yang besar untuk bisa menjadi seorang penata rias yang terkenal. Dia merasa nyaman dan merasa “diterima” di tempat itu. Baik oleh orang yang mempekerjakannya dan juga oleh para pelanggannya. Dia merasa diperlakukan sebagaimana layaknya seorang manusia.

Seks bebas tidak dilakukannya karena dia meyakini bahwa itu bukanlah sesuatu yang benar. Adalah sebuah penghinaan terhadap diri sendiri bila harus “memerkosa” dan “menjajakan” diri hanya untuk urusan seks dan uang semata.

“Sebagai seorang manusia, saya harus bisa menjaga kehormatan saya.”
Wow!!!
“Saya memang bukan wanita asli, tetapi jiwa saya adalah seorang wanita. Hanya fisik saya saja yang pria.”
Yup!
“Saya sudah terlahir seperti ini dan bagi saya ini adalah takdir.”
“Apa tidak ada pilihan lain?”
“Tidak!!! Saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Walaupun saya paksakan, tidak akan ada gunanya.”
“Tidak bisa memilih salah satu?”
“Tidak. Saya tidak mau merubah apa yang sudah diberikan kepada saya. Saya terima semuanya dengan tulus dan ikhlas.”
Operasi?
“Tidak!!! Biarlah saya tetap menjadi seperti ini. Saya, kan, sudah bilang. Ini takdir!!!”
Hebat!!!

bissuBissu (illustrasi diunduh dari Google) 

Bagi saya, dia adalah seorang manusia yang sungguh luar biasa. Bayangkan saja, menjadi “diantara” memiliki beban serta tantangan tersendiri, tetapi dia mampu menghadapi semuanya dengan prinsip dan ketegaran yang sangat kuat. Bandingkan saja dengan perilaku mereka yang memang mengaku merasa sebagai perempuan dan pria tulen. Mereka yang tidak perlu merasakan untuk menghadapi segala perbedaan seperti dia. Masih banyak yang tidak bisa menerimanya, kan? Apalagi untuk menjaga kehormatannya? Malu nggak, sih?! Malu, dong!!!

Dia juga memberikan sebuah pelajaran berharga bagi mereka yang merasa memang memiliki takdir seperti dirinya untuk bisa menjadi seseorang yang memiliki kedudukan “terhormat”. Paling tidak bukan di mata masyarakat, tetapi bagi diri sendiri. Menempatkan posisi sebagai seorang manusia. Sedangkan bagi mereka yang memang memilih untuk menjadi seperti dirinya, juga sama. Bertanggungjawablah atas pilihan yang sudah diambil. Jangan pernah bermain-main dengan hal ini. Janganlah membuat diri menjadi terhina hanya karena sebuah pilihan. Jadilah manusia terhormat.

Jarang memang bisa bertemu dengan orang-orang seperti Icha. Kesempatan langka dan sangat berharga yang diberikan oleh Tuhan kepada saya untuk bisa bertemu dengannya. Oleh karena itulah, saya membagikan cerita ini kepada semua agar bisa melihat dan merasakan apa yang saya rasakan. Tidak perlu menerima, tetapi paling tidak tahu bahwa ini ada dan nyata. Sebuah pelajaran moral yang didapat dari yang “tak terduga”.

Semoga bisa membuka mata hati dan pikiran kita semua!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

30 Desember 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Perubahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s