Seks, Agama, dan Tuhan

Ilustrasi: zodiac-heaven.blogspot.com

Maaf bila judul di atas terkesan terlalu berlebihan. Saya ingin sekali menulis kenapa seks itu penting untuk dipahami dengan benar. Tidak disia-siakan dan dianggap sepele. Seks adalah rahmat dan anugerah yang diberikan oleh Tuhan, dan tidak ada satu pun agama serta ajaran di dunia ini yang tidak membahas tentang seks. Hanya dengan memahami ini semua, menurut saya, kita akan bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Memiliki masa depan yang lebih baik juga.

Di dalam setiap kitab suci, selalu disebutkan bagaimana hubungan yang terjadi antara pria dan perempuan. Apa yang terjadi dan apa yang seharusnya dilakukan agar keharmonisan dalam kehidupan di alam semesta menjadi terus berimbang. Rasa saling hormat menghormati dan saling menghargai, juga perasaan saling cinta mencintai dengan saling menerima dan memberikan juga tidak pernah tidak disebutkan. Apalagi dalam urusan berumah tangga. Bukankah demikian?!

Bagi saya, perkawinan adalah bagian dari seks, bukan kebalikannya. Seperti yang sering saya ungkapkan bahwa seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri, sehinga perkawinan yang merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia, ada di dalamnya. Di mana juga di dalam perkawinan terjadi hubungan seksual, yang merupakan proses untuk bisa meneruskan kehidupan pada generasi yang berikutnya. Sehingga seks tidak pernah bisa lepas dari kehidupan makhluk hidup karena seks memang kehidupan itu sendiri.

Kembali lagi kepada kitab suci. Di dalam hal ini, sudah terlihat sangat jelas bagaimana agama adalah panduan dan tuntutan yang diberikan oleh Tuhan kepada umat yang paling dikasihi-Nya. Namun sayangnya, banyak sekali di antara kita yang terus kemudian menjadi lupa atas apa yang tertera di dalam sana. Belum apa-apa sudah merasa yang paling tahu dan paling benar. Mempelajari semua yang ada di dalam sana saja belum?! Memahaminya pun tidak?! Wajarlah kalau kemudian banyak yang suka merasa lebih dari yang memberikan tuntunannya itu sendiri. Benar seperti kata pepatah, tong kosong memang nyaring sekali bunyinya.

Saya seringkali sedih menyaksikan bagaimana tuntunan yang seharusnya menjadi kebaikan tetapi malah menjadi sebuah sarana dan bahkan alat untuk menghancurkan. Pemutarbalikkan isi lewat berbagai pembenaran dan juga pemanfaatan atas ketidaktahuan dan ketidakmengertian telah menyebabkan banyak sekali masalah dan problema dalam kehidupan ini. Ego selalu diutamakan dan kepentingan pribadi serta golongan terus saja yang mendominasi. Sadar disadari atau tidak disadari, diakui tidak diakui, bagi saya, ini semuanya tampak sangat jelas sekali. Bahkan sabda untuk membaca dengan mata dan hati yang menjadi awal dari turunnya wahyu pun diabaikan begitu saja.

Bagi saya, Tuhan tidak perlu dibela. Tuhan tidak pernah meminta untuk dibela. Tuhan malah yang membela seluruh umat dan ciptaan-Nya. Yang Tuhan minta justru agar umatnya untuk saling membela satu sama lain, karena manusia adalah sama di mata Tuhan. Dia juga meminta kita untuk selalu belajar dan belajar. Tidak pernah meminta kita untuk menjadi sombong karena merasa telah belajar karena belajar itu tidak boleh berhenti. Semakin banyak kita belajar, semakin kita mengenal Dia. Semakin dekat juga kita dengan Dia.

Pertanyaannya? Bagaimana dengan proses belajar itu?! Tuhan memberikan kita berbagai jalan untuk kita belajar selama kita mau bersyukur dan juga mau melihat semuanya dengan mata dan hati yang terbuka. Segala sesuatu pasti ada hikmah dan manfaatnya. Bahkan susah dan senang pun merupakan bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Sejauh mana kita bisa belajar dari semua itu?! Begitu juga dengan proses belajar untuk mengenal Dia. Setiap orang memiliki pilihan untuk mengenalnya. Kenapa kita tidak mau menghormati ini semua?! Bukankah semua pilihan itu memang Tuhan yang memberikannya?! Selama manusia mau terus berproses untuk menjadi yang lebih baik, kenapa tidak dihargai?! Tidak ada manusia yang lebih baik dari yang lainnya bila tidak mau ada rasa hormat dan penghargaan itu.

Demikian juga halnya dengan seks. Kita seringkali meremehkan dan melecehkannya. Sama sekali tidak menghargai dan menghormatinya. Bukan hanya dalam bentuk melakukan hubungan seksual saja, tetapi lewat kata-kata yang diucapkan pun sudah kelihatan jelas sekali. Kata adalah buah pikir, sehingga apa yang diucapkan itu adalah hasil dari pemikiran dan juga rasa yang ada di dalam hati. Bila kemudian seks dianggap sebagai sesuatu yang porno, maka tidak akan pernah ada penghargaan dan penghormatan tehadap seks. Belajar dan memahami tentang seks pun menjadi sangat terbatas. Tidak lebih dari sekedar kenikmatan pada seonggok daging di belahan paha. Bahkan ilmu pengetahuan yang berhubungan tentang seks pun dianggap menjerumuskan. Meskipun kita semua mengakui bahwa seks adalah anugerah dan rahmat dari-Nya dan kita juga sadar penuh bahwa kita harus belajar tentang seks. Jika memang demikian, siapakah dan apakah kita?!

Apakah tidak mungkin seseorang menjadi lebih mengenal Tuhan dan menjadi dekat dengan-Nya lewat seks?! Kenapa tidak mungkin?! Apa alasannya?! Sekali lagi, bila seks tetap menjadi objek maka memang semua ini tidaklah mungkin. Lain ceritanya bila kita menjadikan seks sebagai subjek, di mana kita jadi bisa melihat lebih banyak lagi. Bayangkan tentang hormon dan titik syaraf yang berhubungan dengan seks di dalam tubuh kita, yang tidak hanya terletak di belahan paha itu saja. Ini semua ada di dalam semua tuntunan itu. Kenapa kita tidak boleh mempelajarinya?! Apa yang salah?! Apa yang harus ditakutkan?! Apa salah mempelajari semua tuntunan itu?! Apakah ada agama yang melarang seseorang untuk tidak belajar tentang seks?! Apakah Tuhan juga melarangnya?!

Ayolah! Kita semua adalah manusia. Berusahalah untuk selalu menjadi manusia yang seutuhnya. Jujurlah pada diri sendiri dan kenalilah diri ini. Tahu siapa dan apakah kita agar kita selalu bisa lebih kenal dan dekat dengan-Nya. Ini semua agar kita bisa membantu agar kehidupan ini menjadi lebih baik dengan selalu saling menghormati dan menghargai, juga memberikan banyak manfaat kepada semua. Janganlah jadikan dosa dan pahala ataupun surga dan neraka sebagai nilai manusia yang tidak memiliki makna dan arti. Lakukanlah semuanya dengan tulus, ikhlas, dan penuh dengan cinta. Biarlah Tuhan yang menentukan semua ini. Kembalikanlah semua itu kepada-Nya karena dia sudah memberikan semuanya ini kepada kita.

Janganlah kita menjadi sombong, ya?! Belajar dan belajarlah terus. Belajarlah dengan mata dan hati. Isilah diri dengan cinta yang sesungguhnya agar cinta itu ada dan ada selalu dan damai serta kebahagiaan selalu menyertai.

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

25 Juni 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Buku Mariska Lubis, Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Seks, Agama, dan Tuhan

  1. Seks adalah upaya manusia untuk mendapatkan keturunan dan berkembang biak. Tujuan utamanya menurut saya sih itu.

    Kenikmatan seks serta saling berbagi cinta dan kasih sayang lewat seks adalah sebuah karunia.😀

  2. Dweedy says:

    Setuju mbak!
    Dari dulu saya diajarkan dan meyakini bahwa ibadah yang paling utama dan paling tinggi tingkatannya adalah hubungan suami-istri (seks). Karena saat kita menyatu dan merasakan peleburan diri, disitulah kita mengenal Tuhan.

  3. arik says:

    semua anugrah yang telah Tuhan berikan kepada kita,harus dijaga dan disyukuri.Seks, adalah salah satunya,jadi seks tidaklah tabu selama kita menggunakan sesuai ajaran Tuhan

  4. a. bukhaeri says:

    Sex dan ketuhanan, gak ada masalah kok, wong itu adalah naluri dasar manusia…yang bermasalah adalah vulgarismenya dan sex menjadi komoditi, baik trtutup dan apalagi terbuka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s