Seks dan Titik Awal

Illustrasi: justyginapravita.blogspot.com

Tidak mudah memang untuk bisa menjelaskan apa yang ada di dalam benak dan pikiran juga ada di dalam hati ini. Biarpun sudah dituliskan ataupun diteriakkan sekalipun. Setiap individu memiliki pikiran dan perasaan masing-masing. Setiap individu juga berhak untuk melakukan pilihannya sendiri. Siapa yang bisa membatasi semua ini?! Tidak ada yang pernah bisa dan tidak ada juga yang berhak untuk melakukannya. Namun semua yang menjadi kebebasan ini tentunya memiliki sebuah batas, karena kebebasan itu juga ada batasnya. Kebebasan mutlak hanya ada pada-Nya.

Seperti yang sudah seringkali saya ungkapkan, bahwa bagi saya, seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Sementara mungkin bagi sebagian lainnya menganggap seks adalah jenis kelamin karena memang itulah yang tertera di dalam kamus. Bagi sebagian lagi, seks mungkin juga hanya sebatas seonggok daging di belahan paha dan seputar selangkangan. Lalu pertanyaannya, mana yang benar?! Bukankah benar itu relatif?! Siapa juga yang bisa mengklaim kebenaran itu meskipun kebenaran itu mutlak adanya. Kebenaran itu hanya milik-Nya.

Berdasarkan fakta dan kenyataan yang ada sekarang ini, masalah seks bukanlah lagi sesuatu yang bisa dianggap sepele atau dipandang sebelah mata. Masalah ini juga sudah bukan lagi masalah yang dihadapi oleh sekelompok masyarakat tertentu ataupun wilayah tertentu saja tetapi sudah menjadi masalah global. Masalahnya memang berbeda-beda namun pada inti terbesarnya adalah pada masalah kesehatan, sosial, budaya, dan psikologi. Semuanya menjadi saling terkait satu sama lainnya, sehingga sulit untuk dibenahi bila dilakukan hanya secara parsial dan terpisah.

Sudah terbukti juga dari berbagai tindakan yang telah dilakukan baik oleh mereka yang menggunakan pendekatan agama, moral, dan etika, maupun pendekatan sosial dan juga budaya ataupun kesehatan dan psikologi bahkan pendidikan pun tidak menghasilkan sesuatu yang bisa dianggap bisa menghambat ataupun mengurangi masalah ini. Inilah yang menjadi pertanyaan saya dan membuat saya berpikir. Apa yang sebenarnya terjadi?! Apa masalah utamanya?! Kenapa semua ini tidak berhasil?!

Setelah kemudian saya belajar, melakukan berbagai penelitian yang saya lakukan sendiri dan bersama-sama yang lainnya, juga mempelajari berbagai hasil penelian para ahli di dunia, diskusi dengan para ahli dunia di bidang ini, dan juga berolah pikir, saya pun memiliki kesimpulan sendiri atas hal ini. Apa yang terjadi adalah bukan karena masalah ini tabu ataupun terbuka, bukan juga masalah timur atau barat namun pengetahuan tentang seks sangat terbatas sekali. Terbatas pada apa yang disebut sebagi organ seksual, persetubuhan, percintaan, kehamilan, penyakit kelamin, kesehatan alat reproduksi, kelainan kejiwaan, dan seputar itu saja. Itu pun pemahamannya masih sangat terbatas sekali. Ditambah lagi pendidikan yang diberikan pun tidak menyeluruh. Masih parsial dan juga tidak berakar pada inti dari apa yang dimaksud dengan seks itu sendiri. Belum lagi ada pembatasan atas nilai-nilai moral dan etika yang berlaku dan juga politisasi atas persepsi dan pandangan sehingga menambah rumit lagi. Sementara nilai-nilai spiritual atas seks yang merupakan benang merah dari semua itu dilupakan, terlupakan, atau sengaja dihilangkan. Maka apapun yang dilakukan sulit untuk bisa dibilang memang benar-benar bisa bermanfaat bagi masa depan. Okelah, di sini berhasil satu, tapi di tempat lain tumbuh lagi seratus. Apa ini bisa disebut berhasil?! Bagaimana dengan laju pertumbuhan penyebaran penyakit HIV dan AIDS?! Semakin hari terus saja semakin menggila, kan?!

Belajar dan terus belajar juga berpikir dan terus berpikir bagaimana cara yang paling efektif untuk membenahi ini semua. Saya mengambil kesimpulan bahwa semua ini ada pada masalah pola pikir dan cara pandang terhadap seks itu sendiri. Buktinya saja bila kita bicara tentang seks sudah konotasinya negatif dan porno. Kebanyakan seperti itu, kan?! Ini juga menjadikan seks sangat terbatas dan dibatasi hanya pada sebuah persepsi dan pandangan tertentu saja. Persepsi dan pandangan yang terlalu sempit dan tidak menyeluruh. Biarpun semuanya adalah baik namun bagi saya, ini tidak benar. Lalu kembali lagi, kan, pada pertanyaan, apa, dong, yang benar?!

Saya ingin melakukan sesuatu meskipun mungkin tidak juga memiliki banyak arti dan manfaat. Saya mencoba untuk menjadikan nilai-nilai spiritual ini sebagai benang merah untuk bisa menggabungkan semuanya menjadi sebuah satu kesatuan yang sifatnya luas namun sempit, bercabang namun menyatu, universal namun juga individual dan lokal. Menjadikan persepsi dan pandangan tentang seks itu diterima oleh semua dan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang remeh, kecil, ataupun tidak penting. Bukan juga sesuatu yang tidak patut dihargai ataupun dilecehkan begitu saja. Sehingga pada akhirnya saya mengambil kesimpulan lagi, bahwa bila saya memperkenalkan seks sebagai titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri maka seks bisa lebih mudah dipahami, dihargai, dan juga dihormati.

Diawali dengan bicara seks tak mesti porno lalu kemudian memperkenalkan segala sesuatunya harus dilihat dari berbagai sisi pandang berbeda dan tidak hanya tertuju pada apa yang nampak pada pandangan mata saja. Mengungkap sisi lainnya yang jarang diketahui oleh masyarakat pada umumnya. Mengenal diri sendiri dengan sebaik-baiknya dan selalu jujur pada diri sendiri adalah yang paling saya tekankan. Barangsiapa yang mengenal dirinya sendiri dan mau mengakui siapa dirinya secara jujur akan mengenal siapa yang menjadikan-Nya. Apa lagi kalau tidak kemudian menjadi lebih dekat dengan-Nya?! Inilah yang saya maksud dengan menemukan Tuhan lewat seks. Dengan demikian, saya berharap agar seks bisa lebih dihargai dan dihormati, baik dalam pola pikir maupun segala tindakan dan perbuatan. Bisa juga lebih diterima sebagai sesuatu yang bukan remeh ataupun kotor, dalam pola pikir dan juga segala tindakan dan perbuatan.

Inilah yang kemudian terus saya pikirkan dan lakukan. Melakukan segala sesuatu yang sebelumnya telah  saya pikirkan, siapkan, dan terus saya lakukan semampu dan sebisa saya agar semua ini bisa benar-benar memberikan manfaat bagi perubahan dan masa depan, meskipun sekarang belum terasa ataupun belum menghasilkan sesuatu.  Mengubah pola pikir dan cara pandang atas persepsi dan pandangan yang salah dengan segala pembenaran yang ada dan mengembalikan semuanya kepada kebenaran yang mutlak itu. Siapa lagi kalau bukan Yang Maha Kuasa. Yang memiliki cinta sesungguhnya itu. Sehingga apapun kemudian yang kita lakukan tidak pernah lepas dari-Nya. Segala nilai, norma, dan etika serta apapun yang berlaku di dunia ini pun menjadi kembali kepada-Nya biarpun ada perbedaan dan pandangan serta keyakinan atas siapa Tuhan itu sendiri namun keyakinan atas itu semua tidak menjadi sesuatu yang menjadi perbedaan malah menjadi sebuah persamaan atas pemahaman seks itu sendiri. Tuhan itu ada. Cinta itu ada dan ada selalu. Dialah yang menjadi titik awal dari semua yang ada ini.

Buah dari pemikiran saya ini sifatnya sangat luas dan bisa diterapkan dalam semua hal karena apa yang berawal dari-Nya sangatlah tidak terbatas. Mau diterapkan dalam apapun bisa. Mau politik, sosial, ekonomi, budaya, atau apapun juga bisa. Bahkan semua bisa dijelaskan secara rasional maupun irasional, secara logis maupun tidak logis. Semua tergantung dari bagaimana kemudian bisa melihatnya. Tidak mudah bila kita juga masih membatasi diri. Ini bukan masalah keterbatasan tetapi masalah keinginan dan kemauan. Mau nggak?! Toh, semua perubahan ini juga tidak bisa dilakukan oleh siapapun selain diri sendiri meskipun yang lain berusaha melakukannya. Semua ini juga memang sangat tidak mudah. Sangat butuh kesabaran dan ketekunan serta keyakinan dan tekad yang bulat. Saya memiliki keyakinan bahwa bila memang cinta itu benar-benar ada dan memang sesungguhnya maka cinta bisa mengalahkan segalanya.

Di dalam berpikir dan bertindak benar yang saya selalu katakan adalah bahwa selalu memikirkan segala sesuatunya untuk masa depan bukan hanya yang kini ataupun sesaat. Berpikir satu langkah dua  langkah ke depan dan tidak terpaku dengan apa yang sudah dilakukan. Jadikan masa lalu sebagai cermin  dan  juga yang kini sebagai pijakan untuk melangkah. Memikirkan hal-hal yang baru yang seharusnya lebih baik dari yang sebelumnya meskipun berat namun bisa lebih berarti dan bermanfaat bagi masa depan. Begitu juga dalam bertindak. Tindakan yang dilakukan sebaiknya berdasarkan pemikiran yang matang terlebih dahulu. Jangan terburu-buru ataupun takut untuk berbeda bila memang itu adalah yang lebih baik untuk masa depan. Syukuri dan hormati semua pemberian-Nya dengan memberikan banyak manfaat yang sebesar-besarnya bagi semua dan terutama masa depan.

Semoga bisa dipahami dan dimengerti. Semoga juga bisa memberikan manfaat. Ini juga hanya bagian dari usaha, perjuangan, dan pencarian saya, kok!!! Saya pun masih terus berusaha, berjuang, dan terus mencari. Bisa saja pada suatu hari nanti ini juga berubah. Siapa yang tahu?! Silahkan melakukan dan menemukannya sendiri agar kebenaran itu memang menjadi sebuah kebenaran. Itulah keindahannya.

Salam,

Mariska Lubis

27 Mei 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Seks dan Titik Awal

  1. nurul amin says:

    nice posting mbak.
    mengubah pola pikir tentang seks memang sulit.
    dari kecil sampai dewasa itu-itu saja yang ditanamkan orang tua.

    tapi ketika kita mampu mengubah pola pikir kita, rasanya kita melihat dunia yang baru, dengan cara baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s