Keluh Kesah Kekhawatiran Perempuan Berambut Panjang

Illustrasi: flickr.com

Pria memang cenderung lebih suka dengan perempuan berambut panjang meskipun tidak jarang juga ada yang lebih suka dengan berambut pendek. Katanya, sih, lebih seksi!!! Apalagi melihat ayunan rambut panjang yang terurai dengan lemah gemulai. Tidak ada bedanya dengan melihat seorang perepuan molek yang sedang berjalan. Penuh daya tarik. Sangat sensual.

Seorang perempuan muncul di dalam sebuah pesan di tempat saya. Mempertanyakan masalah suaminya yang tidak memperbolehkannya memotong rambut. Hanya karena alasan suaminya itu suka dengan perempuan berambut panjang. Perempuan ini menuruti apa yang diinginkan suaminya itu walaupun sebetulnya merasa risih juga karena dia juga ingin memiliki rambut sesuai dengan yang diinginkannya. Belum lagi dia merasa repot sekali bila sedang bercinta. Apalagi kalau sedang melakukan fellatio. Waahh, repot banget, ya!!! Yang ada kibas rambut terus!!! Kapan selesainya?!

Mbak, saya minta tolong!”
Ada apa?”
Bagaimana caranya untuk bilang ke suami saya?”
Bilang apa?
Bilang kalau saya ingin potong rambut!”
Huh!!! Potong rambut saja nggak bisa bilang?
Dia pasti marah, Mbak!”
“Kok, bisa?!”
Karena dia tidak suka kalau saya potong rambut!!!”
Walah!!! Ada-ada saja, ya!!!
Katanya tidak seksi, padahal saya hanya mau memotong sedikit saja karena sudah terlalu panjang.”
Bingung juga saya.
Tolong, Mbak!!! Bagaimana bilangnya?!”
Hmmm….

Saya yakin sebagian besar pembaca akan tertawa. Yakin sekali!!! Ya, kan?! Sebaiknya kita tidak mentertawakannya. Ini bukan hal yang sepele untuknya. Ini adalah sesuatu yang sangat besar yang bisa mempengaruhi keharmonisan hubungan rumah tangganya. Kita semua harus membantunya.

Istilah rambut adalah mahkota bagi perempuan adalah benar adanya. Perempuan memang banyak sekali yang sibuk mengurusi rambutnya. Termasuk saya sendiri. Rasanya jengkel bila melihat rambut tidak sesuai dengan keinginan. Yang namanya “bad hair day“, benar-benar buruk!!! Mood jadi hilang dan rasa percaya diri seringkali berkurang. Makanya jangan heran, ya, kalau perempuan paling senang pergi ke salon. Kalau sudah keluar dari sana dan merasa sudah lebih percaya diri, toh, yang senang para pasangannya juga. Paling tidak, nggak uring-uringan lagi. Nggak akan kena semprot, deh!!!

Memenuhi keinginan pasangan dan ingin selalu membuatnya merasa bahagia juga selalu ada. Itu tidak bisa dipungkiri. Siapa juga yang tidak ingin selalu tampil menarik dan menggairahkan di mata pasangannya? Selalu ingin dan ingin selalu, kan?! Namun terkadang kita suka jadi terjebak dengan kemudian tidak menjadi diri sendiri. Mengikuti kemauan pasangan dengan menjadi pasangan itu. Mengubah kepribadian dan melupakan diri sendiri. Bagaimana kemudian bila terus berlanjut. Apakah mungkin kita membahagiakan pasangan bila kita sendiri tidak bisa membahagiakan diri sendiri?

Saya sendiri suka sedih bila melihat perempuan dan juga pria yang melupakan diri sendiri. Menjadi berlebihan hanya karena ingin “dianggap” lebih atau berbeda. Apalagi kalau hanya sekedar mengikuti trend saja. Lebih bangga bila memiliki rambut seperti para bintang film dan bintang iklan dibandingkan dengan menjadi diri sendiri. Memang masalah selera juga tidak bisa dihilangkan begitu saja. Hanya saja, seringkali justru membuat penampilan bukannya tambah menarik, tetapi justru tambah tidak sedap untuk dipandang. Kalau memangnya tidak pantas dan tidak sesuai dengan kepribadian, kenapa harus dipaksakan? Kenapa harus malu bermbut ikal dan berambut hitam legam? Bukankah itu memang ciri khas perempuan Indonesia? Malukah menjadi perempuan Indonesia? Perempuan Indonesia yang cantik dan juga sangat eksotis. Memiliki daya tarik dan daya pikat tersendiri yang sangat seksi dan sensasional. Kita tidak kalah, kok, dengan mereka yang berambut pirang dan cokelat itu.

Kembali lagi ke soal pasangan, ya. Sebaiknya pasangan juga jangan pernah egois dengan terlalu memaksakan kehendak. Bila memang mencintai pasangan kita, untuk apa juga mengubah mereka? Kenapa kita tidak bisa mencintai mereka apa adanya. Kenapa harus banyak sekali sayaratnya? Apa benar-benar cinta? Apa benar-benar tulus? Apa benar-benar ingin bahagia?

Saya hanya bisa menyarankan kepada perempuan berambut panjang itu, “Jadilah dirimu sendiri. Jangan pernah mencoba untuk menjadi dia bila memang kamu ingin bahagia.”

Semoga saja ini juga bisa memberikan banyak manfaat bagi yang lain.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

5 Februari 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Keluh Kesah Kekhawatiran Perempuan Berambut Panjang

  1. minglie kwee says:

    Untuk mengomentari ini, berat juga, namun pengalaman mengajarkan demikian :
    1. Jika rambut panjang tidak mengganggu diri, dan bisa membahagiakan pasangan, kenapa harus dirisaukan ?
    2. Jika mengganggu, mengapa tidak berbicara baik-baik, secara keterbukaan yang tulus, saya yakin jika pasangan anda mencintai anda tentu dia juga tidak egois bukan ?
    3. Jika pasangan anda memang egois, jawaban Mbak Mariska tentu sudah tepat.

    Semoga bermanfaat.

    • bilikml says:

      seharusnya semua tidak dipaksakan karena pasti ada solusi yang baik untuk berdua… terima kasih banyak pak! jauh-jauh sudah berkenan mampir…

      salam hangat selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s