Lagi-lagi Atas Nama Bangsa dan Negara

Cintailah bangsa dan negaramu setulus hati dengan tidak mengatasnamakannya sembarangan!!! Illustrasi: pondokhati.wordpress.com

Mungkin memang benar atas nama bangsa dan Negara hanya saja bukan untuk menjadi lebih baik walaupun mengakunya demikian. Yang ada malah menghancurkan dan membuat kehidupan menjadi lebih kacau dan semrawut lagi. Padahal, kalau mengkritik dan menjatuhkan, juara banget! Coba kalau dikritik balik atau diberikan fakta dan kenyataan yang sebenarnya tentang diri sendiri, seperti berani saja menghadapinya. Paling-paling pembenaran dan sejuta alasan lagi yang muncul. Basi, ah!

Bosan rasanya melihat kesombongan dan tinggi hati manusia-manusia yang super duper hebat dan luar biasa. Muak banget melihat kemunafikan di balik kealiman dan kebenaran manusia-manusia yang amat sangat suci dan baik hati serta tidak pernah berbuat salah. Bosan dan muak sekali dengan semua yang mengaku-aku memiliki cinta terhadap bangsa dan Negara serta berkoar demi dan atas nama bangsa dan Negara seolah memiliki nyali setinggi langit untuk berkaca dan bercermin agar bisa melihat dengan jelas apa dan siapa diri sebenarnya.

Seperti kasusnya video porno orang-orang terkenal baik itu pejabat ataupun para artis. Aneh, masa video tersebut minta disebarkan sebanyak-banyaknya demi kepentingan bangsa dan Negara?! Gila banget!!! Sudah sakit jiwa barangkali, ya?! Masa menyuruh orang lain untuk mengintip adegan seksual orang lain yang seharusnya bersifat privacy?! Mau itu memang dengan pasangan yang sah, kek, mau yang tidak, bukan itu inti persoalannya. Melanggar hak asasi orang lain dengan mengintip saja sudah melanggar hukum, apalagi menyebarkannya. Mengertikah bahwa orang yang melanggar aturan dan peraturan hukum sert perundangan yang berlaku dan asyik membuat aturan sendiri merupakan deskripsi dari seorang tiran dan tirani?! Paham nggak?!

Tahu, paham, dan mengerti saja tidak tentang duduk persoalan yang sebenarnya, sudah berani banget memberikan solusi. Mana ada orang bisa memberikan solusi kalau tidak paham?! Sok tahu banget!!! Sok pintar banget!!! Masturbasi saja terus sampai gempor sekalian. Nggak akan pernah, deh, mencapai puncak orgasme tertinggi. Segitu-gitu saja terus!!! Apalagi kalau pakai sok-sok menjadi korban dan penuh dengan sandiwara plus segala sok jual mahal dan gengsinya. Wedew!!! Ke laut saja, deh!!! Mengerti apa itu “elite” dan “bergengsi” pun tidak. Paling-paling hanya seputar fisik saja meski mengaku sudah bersujud sekalipun.

Jika memang tidak mengerti dan paham, atau tidak mau mengerti dan paham, bisa jadi masuk dalam kategori kelainan jiwa. Orang yang suka mengintip adegan seksual orang lain dan juga suka menyebarkannya, itu ada kategori kelainan jiwa sendiri. Belum lagi kalau orang yang suka menghukum dan menghakimi orang lain, itu pun harus diperiksa kondisi kejiwaannya.

Itu baru soal adegan seksual, belum lagi hal-hal lain yang berhubungan dengan seks dan cinta. Yang selingkuh siapa, yang dituding siapa?! Yang mengundang karena tidak mampu membaca dengan baik dan benar siapa, yang dituduh munafik siapa?! Yang menikmati berkali-kali siapa, siapa yang dituduh sudah melecehkan?! Yang mengajak untuk menjerumuskan dan menghukum siapa, yang dituduh berdusta dan mengejar populeritas siapa?! Minta ampun!!!  Masih juga asyik lagi mencari pembenaran dengan menangis sana-sini dengan penuh segala alasannya. Masih juga merasa bak malaikat penolong?! Pintar banget, ya, sampai topeng saja lupa untuk dilepaskan!!!

Saya, sih, jujur saja, sama sekali tidak punya simpati sedikit pun dengan manusia-manusia seperti ini. Sudah ketahuan bagaimana isi hati dan pikirannya. Orang sombong dan tinggi hati, di mana-mana sama!!! Tong kosong nyaring bunyinya!!! Orang munafik dan penuh dusta juga sama!!! Iri hati dan penuh dengki serta marah dan selalu sibuk mencari cara untuk menjatuhkan orang lain untuk membenarkan diri. Orang-orang yang mengaku penuh cinta tetapi hanya isinya nafsu, apalagi. Waduh!!! Ini dia, nih!!! Bakalan terus saja jadi bola yang ditendang sana sini oleh para  tirani dan penguasa.

Kasihan?! Sama sekali tidak!!! Hidup adalah pilihan dan semua diberikan hak untuk memilih serta menentukan pilihan. Semua pasti ada resiko dan konsekuensinya masing-masing serta juga ada tanggungjawab yang harus dipikul. Masa semua itu harus dibebankan kepada generasi mendatang?! Yanag benar saja!!!  Untuk apa dikasihani?! Sudah mengorbankan masa depan, kok!!!

Saya jadi teringat dengan perbincangan bersama teman-teman saat kuliah politik di kampus tentang hal-hal seperti ini. Darah muda kami waktu itu memang membuat kami jauh lebih sadis dan sarkastik menanggapi manusia-manusia seperti ini. Biarlah dianggap melanggar hak asasi manusia tetapi apa gunanya manusia-manusia yang tidak memiliki tanggungjawab dengan memenuhi kewajibannya dan hanya selalu menuntut haknya?! Diri sendiri selalu dinomorsatukan sementara kepentingan orang lain dan banyak, sama sekali tidak dipedulikan. Ekslusif?! Gaya banget!!! Apanya yang ekslusif?! Mau jadi apa dunia ini?!

Terkadang saya ingin sekali menuntut ke pengadilan manusia-manusia seperti ini. Keadilan itu sangatlah penting dan mutlak dibutuhkan. Kebenaran juga harus yang sebenar-benarnya. Moral dan etika dibesar-besarkan, sementara nafsu selalu saja mendominasi diri. Bagaimana bisa bermoral dan beretika?! Harus diberi pelajaran barangkali biar pada kapok!!! Aturan hukum dan perundangannya ada!!! Apa masih pula mencari celah untuk membenarkan diri lewat aturan yang lain?! Aturan hukum dan perundangan yang berhubungan dengan Dia pun dilanggar. Mana ada manusia yang boleh melebihi Dia?!

Duh, saya benar-benar capek banget!!! Hal-hal seperti inilah yang pada akhirnya banyak membuat orang yang memang benar-benar dan sunguh-sungguh memiliki cinta pada bangsa dan Negara dengan penuh ketulusan, justru menjadi menghilang. Masalahnya, terkadang memang lebih baik diam dan menyingkir saja. Melakukan banyak hal tanpa harus berhubungan dengan banyak orang lain. Ini yang kemudian mempersulit langkah untuk bisa merangkul semuanya menjadi satu. Gemas banget rasanya!!!

Betah amat dengan kesombongan dan tinggi hati?! Kuat banget dengan dusta dan kemunafikan?!  Tahan sekali dengan segala rasa marah, iri hati, dengki, dendam, dan segala nafsu serta ambisi yang ada di dalam hati?! Pantas saja tidak juga bisa menghasilkan sesuatu yang memang benar bisa membuat kehidupan ini lebih baik. Pantas saja juga tidak bisa menciptakan sesuatu yang baru, yang lebih baik untuk menjadi bukti bahwa memang seorang manusia yang memiliki rasa hormat dan menghargai semua anugerah yang telah diberikan oleh-Nya. Menjadi bukti juga bahwa memang telah menjadi manusia, karena hanya manusia yang bisa menciptakan sesuatu yang baru. Energinya sudah habis duluan untuk yang negatif, sih!!! Nggak malu, ya?!

Marah?! Silahkan marah dengan saya. Saya sengaja menuliskan ini semua agar semua berani untuk mengaku dan berterus terang serta menghadapi kemarahan itu sendiri. Takut?! Percuma saja bersembunyi karena semua ada waktunya. Topeng dan juga segala kepalsuan itu akan terkuak bila waktunya tiba. Hanya tinggal memilih saja, mau sekarang apa nanti?! Dendam?! Silahkan saja juga bila memang memilih untuk hidup dengan penuh rasa benci yang membuat tidak nyaman. Mana mungkin pernah bahagia jika demikian?! Usaha lain?! Silahkan juga. Semua adalah pilihan dan saya membuat tulisan ini pun dengan menanggung semua resiko, konsekuensinya, yang tentunya merupakan pilihan saya sendiri juga.

Maaf, ketegasan itu diperlukan bukan karena tidak cinta dan sayang, tetapi justru hanya dengan ketegasanlah maka kelabilan itu tidak lagi perlu ada. Hanya mereka yang mengenali apa dan siapa dirinyalah yang memiliki dasar kepribadian yang kokoh dan kuat sehingga tidak perlu menjadi seseorang yang dipenuhi dengan kerumunan yang lain di dalam kepribadiannya, tetapi memang menjadi diri sendiri. Tidak perlu lagi ada ambisi dan nafsu untuk mendapatkan pengakuan dengan melakukan berbagai perbuatan menjatuhkan yang lain, yang justru merendahkan diri sendiri meski merasa terhormat dan “paling” hanya untuk bisa mengukuhkan diri. Tidak perlu pakai semua itu, mereka yang memiliki kepribadian utuh bisa  membuktikannya sendiri.

Bila memang memiliki cinta untuk bangsa dan Negara, rendahkanlah hati. Jangan pernah mengatasnamakan bangsa dan Negara bila tidak mengerti dan paham dengan baik apa itu cinta pada bangsa dan Negara. Belajarlah!!! Buka mata dan hati, dengar dan rasakan semuanya. Tingkatkan kualitas diri lewat kemampuan daya baca dan bahasa. Mulailah dari diri sendiri dan jangan pernah mencoba menjadi seolah-olah malaikat yang benar bisa mengubah yang lain menjadi lebih baik. Bantulah diri sendiri dulu, itu pun jika mampu dan memiliki nyali. Bangsa dan Negara ini butuh cinta, bukan nafsu!!!

 

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Politik, Sosial dan Politik and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Lagi-lagi Atas Nama Bangsa dan Negara

  1. arieth says:

    banyak orang di bangsa dan negara ini mempunya ilmu kebal mbak…..alias udah biasa disindir,didemo,dinyanyiin..dll,lalu apa langkah untuk menuju perbahan ini…dengan revolusi kah??…:D

    omong demokrasi
    pidato berapi-api
    ternyata karena menginginkan kursi
    sementara rakyat kerepotan cari nasi

    By : CN

    • bilikml says:

      hehehe yah memang seharusnya semua dimulai dari berkaca pada diri sendiri karena itulah yang membutuhkan keberanian, kerendahan hati dan kebesaran jiwa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s