Kekerasan adalah Hak!!!

kompasiana.com

Sangat menikmati kekerasan. Sangat dijunjung tinggi. Memberi kesan sangat kokoh, kuat, gagah, dan berani. Menjadi bagian dari kehidupan keseharian. Tidak bisa dihindarkan dan tidak mau dihindari juga. Ini adalah sebuah hak!!!

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seringkali membuat hati kita menjadi miris tak karuan. Kita pun larut dan hanyut memberikan rasa simpati dan juga empati kepada mereka yang harus mengalaminya. Sama. Saya pun demikian, namun saya tidak mau memberikan rasa belas kasihan itu begitu saja. Harus saya lihat dulu kasus per kasusnya. Mungkin banyak yang tidak suka dengan saya karena saya berpikir demikian, namun saya ingin sekali mengajak semua untuk melihat dari sisi pandang yang lain agar semuanya menjadi lebih objektif.

Seorang ibu asal dari Aceh bercerita kepada saya tentang perilaku kasar suaminya. Dia sering sekali mendapatkan pukulan dan bahkan juga tendangan. Apalagi jika mereka sedang bercinta.

“Dia seperti orang yang sedang kesetanan kalau sedang berhubungan.”
“Maksudnya?”
“Membabi buta tidak karuan dan selalu saja kasar.”
“Sekasar apakah dia?”

“Saya sering sekali ditampar dan dipukuli. Apalagi pas sedang berhubungan.”
“Kenapa tidak dilaporkan?”
“Saya takut!!!”
“Apa yang ibu takutkan?”
“Karena dia seorang penguasa.”
“Oh!”

Ini bukan cerita baru bagi saya. Ada juga seorang perempuan di daerah Pekanbaru yang memiliki pengalaman yang mirip. Pernah saya ceritakan dalam tulisan saya yang berjudul “Sadomasochism“. Dan sama juga dengan apa yang dilakukan terhadap perempuan di Pekanbaru ini, saya tidak bisa langsung memberikan rasa iba. Saya harus mengetahui terlebih dahulu latar belakang dia dan juga suaminya.

Setelah beberapa lama, akhirnya saya mengambil kesimpulan. Tentunya berdasarkan dari ceritanya dan juga jawaban dari semua pertanyaan saya. Ibu ini tidak melaporkan kasusnya karena dia memang menikmati kekerasan itu. Dia sendiri pun sangat terangsang bila mendapatkan pukulan ataupun tamparan. Dia mengakui itu. Dan juga dari masa lalunya, saya juga bisa berasumsi bahwa ibu ini memang memiliki kelainan perilaku seksual. Ini bukan urusan soal cinta atau tidak cinta atau, ya, tetapi dia memang sepertinya juga “mengundang” pasangannya untuk melakukan kekerasan. Entah dengan cara sengaja membuat cemburu atau dengan berbagai macam cara lainnya. Dia memang suka diperlakukan kasar. Pantas saja dia tidak mau melaporkannya. Dia takut juga tidak mendapatkan perlakuan kasar lagi.

Inilah yang saya maksud dengan mereka yang termasuk memiliki ganguan kejiwaan perilaku seksual yang biasa disebut sebagai “SM” alias “Sadomasochism“. “S” dalam SM adalah sadism. “M“-nya adalah masochism. Yang tukang menyiksa adalah yang “S”, sedangkan yang senang disiksa adalah yang “M”. Orang-orang seperti ini seperti merasa layak dan berhak melakukan dan mendapatkan  perilaku kekerasan seperti ini. Kasihan sebetulnya. Kasihan sekali. Mereka sangat menikmati semua itu karena dengan siksaan mereka justru mendapatkan kesenangan dan kepuasan tersendiri. Malah bila tidak disiksa dia tidak bisa mencapai orgasme. Semakin keras semakin puas!!! Mereka merasa berhak mendapatkan kekerasan!!!

Bila saya perhatikan, banyak sekali sekarang orang-orang yang seperti ini. Kekerasan sepertinya merupakan sebuah hak!!! Coba saja lihat mereka-mereka yang memang sepertinya sengaja melakukan perbuatan untuk menghancurkan bangsa dan negara ini. Mereka senang sekali menantang kita untuk menghajar mereka, kan?! Semakin kita keras terhadap mereka, semakin puas mereka. Memutar balikkan pemikiran kita sedemikian rupa sehingga kita pun ikut terpancing. Bila kita membalas tantangan itu dengan lemah lembut dan penuh dengan cinta, apa yang akan mereka lakukan?! Padam!!! Pasti padam!!! Api tidak akan padam bila tidak disiram air!!!

Pasti kemudian banyak yang bertanya, bagaimana mungkin?! Dia tidak akan mungkin cerita bila dia tidak merasa tersiksa. Iya, kan?!

Nah, ini lain lagi ceritanya. Tanpa kita sadari, banyak sekali di antara kita yang tertipu dengan orang yang saya sebut menderita “Pain Orgasmic“. Merasa kebutuhan batinnya telah terpenuhi bila mendapatkan belas kasihan dari orang lain. Bukan cinta, ya!!! Belas kasihan!!! Orang-orang yang menderita seperti ini senang sekali berkeluh kesah tentang penderitaannya, yang sepertinya tiada berakhir. Bisa dengan berbagai macam alasan. Sakitlah, disiksalah, tidak diperhatikanlah, miskinlah. Semua alasan ada dan kemudian dijadikan pembenaran untuk bisa mendapatkan belas kasihan. Sudah banyak sekali buktinya!!!

Ini juga sangat menjadi perhatian bagi saya, di mana sekarang ini bila kita memperhatikan media massa, mereka cenderung berpihak kepada kaum yang lemah. Benar atau salahnya sudah tidak diperhatikan lagi. Yang menderita selalu benar. Padahal belum tentu juga. Contohnya saja pengemis dan gelandangan. Sepertinya mereka berbuat benar dengan menjadi pengemis dan gelandangan sehingga harus dibela. Belum tentu, kan?! Banyak, tuh, di antara mereka yang punya sawah dan tanah serta rumah bertingkat di kampungnya. Malah banyak di antara mereka yang memiliki penghasilan jauh lebih besar dibandingkan dengan pendapatan mereka yang sarjana dan kerja kantoran. Memang merekanya saja yang memilih untuk berbuat seperti itu. Mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang dengan mengatasnamakan kemiskinan.

Ya, saya tidak bicara secara umum, ya. Sangatlah mungkin korban KDRT memang korban yang tidak bersalah dan ini patut mendapatkan pertolongan. Saya juga sangat menentang kekerasan dalam rumah tangga. Keadilan dan hukum harus ditegakkan. Begitu juga dengan para kaum duafa. Mereka juga banyak sekali yang memang benar-benar duafa dan patut diberikan pertolongan. Hanya saja, saya sangat menyarankan agar kita tidak memberikan belas kasihan kepada mereka. Ada baiknya bila kita memberikan cinta dan kasih sayang. Beda, lho, dengan kasihan!!! Ini semua demi masa depan bangsa dan negara yang sangat kita cintai ini.

Kekerasan bukanlah hak!!! Jangan pernah menuntut hak bila kewajiban pun belum juga dipenuhi!!!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,


Mariska Lubis

13 Februari 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s