Mengejar Rejeki Lewat Ritual Hubungan Seks Bebas

Ini bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia dan banyak dilakukan di berbagai tempat “keramat” yang dianggap suci dan membawa berkah. Bila dikatakan ini merupakan sebuah keyakinan dan budaya, memang benar demikian adanya, namun bagaimana dengan keyakinan terhadap Yang Maha Kuasa itu sendiri?! Pemerintah tidak pernah ada yang turun tangan dan menangani masalah ini, tidak pernah juga ada organisasi yang mengaku “Pembela Tuhan dan Kebenaran” yang berani protes. Padahal sudah jelas merupakan salah satu bentuk dari disorientasi yang melanggar hukum, norma, etika, dan agama bukan?!

Pernah suatu kali saya diajak seorang teman untuk berkunjung ke sebuah tempat keramat di daerah Jawa Tengah. Sebelum ke sana, tentunya saya banyak bertanya terlebih dulu karena saya memang sangat pemilih dan malas pergi ke tempat yang biasa-biasa saja.

Ini sangat aneh sekali menurut saya. Hubungan seks memang sangat sakral sekali sifatnya dan bagi saya pribadi juga merupakan bagian dari sebuah ritual yang kaya akan makna spiritualitas. Namun begitu, tidak berarti bila sampai digunakan untuk menjadi salah satu prasyarat keberuntungan sepertinya sangat tidak masuk di akal. Untuk pergi mencari keberuntungan ke tempat-tempat keramat saja buat saya sudah melanggar peraturan dan aturan agama yang saya yakini. Memangnya rejeki itu datang dari mana, ya?! Kenapa banyak yang justru berpenampilan seolah “kuat” keyakinannya yang datang?!

Menurut pendapat saya, sekali lagi, ini merupakan bukti dari kelabilan dan ketidakstabilan sosial dan psikologis masyarakat. Untuk menjadi yakin kepada Sang Maha Kuasa saja tidak bisa hingga diperlukan berbagai perantara dan antara-antara lainnya. Padahal mengaku-aku sebagai sebuah Negara dengan masyarakat yang bermoral dan memiliki keyakinan teguh terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ke mana, tuh, para pejuang dan panglima perangnya yang biasanya menghancurkan tempat-tempat yang dianggap tidak baik oleh mereka?! Apa tempat-tempat keramat ini juga suci dan keramat bagi mereka sehingga dijaga dan bahkan mungkin dipuja juga?! Benar-benar sudah merupakan disorientasi yang salah kaprah dan sangat menjerumuskan tetapi tetap saja dipelihara. Sakit kepala saya!!!

Satu hal lagi, ini juga menjadi bukti tentang matrealisme masyarakat yang selalu mengedepankan materi hingga mau melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Nilai duniawi dan pandangan serta nilai manusia menjadi sangat penting dan dipentingkan bahkan nilai-nilai spiritual itu sendiri diabaikan meski merasa menggunakan cara-cara yang dianggap spiritual. Kemalasan untuk mau bekerja keras telah mematikan daya juang dan kreatifitas yang sebenarnya merupakan jalan agar bisa tetap menjadi manusia yang beradab sehingga evolusi pemikiran manusia dan peradaban itu sendiri tetap ada dan terus berkembang. Budaya pun bukan lagi membuat manusia menjadi lebih berbudaya tetapi justru semakin mundur dan jauh ke belakang.

Susah memang jika harus memperdebatkannya dari sisi keyakinan karena sangat pribadi sifatnya dan merupakan Hak Asasi Manusia. Tidak ada yang bisa melarang karena semua perbuatan menjadi tanggungjawab mereka sendiri yang melakukannya. Hanya saja Jika tadi saya menyebutkan Hak Asasi Manusia, biar seimbang seharusnya ada Kewajiban Asasi Manusia juga kan, ya?! Apa kewajiban asasi manusia sebagai makhluk sosial? Yang mana harusnya didahulukan, hak atau kewajiban?!

Pembenaran bisa dilakukan dengan cara apapun juga baik dengan cara yang rasional maupun tidak rasional disertai berbagai alasannya. Biarpun begitu, semuanya tampak jelas bahwa yang namanya nafsu masih sangat menguasai dan cinta itu hanya untuk diri sendiri saja. Tidak perlu mengaku-aku cinta kepada bangsa dan Negara atau sesama umat manusia lainnya karena apalah artinya bangsa dan Negara serta yang lainnya bila Dia pun tidak benar-benar dihormati, diyakini, dan bahkan diduakan. Apa ada ajaran agama yang mengajarkan bahwa manusia atau makhluk lain ciptaan-Nya boleh disembah dan dipuja?! Kenapa tidak langsung kepada Sang Penciptanya saja?!

Semua bisa berteriak anti tiran dan tirani, anti hegemony tetapi pada fakta dan kenyataannya, banyak sekali yang sudah menjadi tiran dan hegemon. Aturan dan peraturan Negara pun dilanggar dan diabaikan bahkan oleh aparat yang mengaku pemerintah dan wakil rakyat dengan memberikan ekslusifitas serta tidak memiliki keberanian untuk menegakkan aturan dan peraturan yang berlaku itu dengan seadil-adilnya. Bila semua merasa benar dan merasa paling benar, maka siapa yang salah?! Barangkali saya yang salah, ya, kenapa harus mempertanyakan hal ini. Tidak penting banget, kan?!

Hal yang kecil dan remeh bagi yang lain tetapi bagi saya sama sekali tidak. Ini sangat penting sekali demi masa depan dan kehidupan di masa depan. Untuk melakukan perubahan besar tidak bisa dilakukan dari hal-hal yang besar bila hal-hal yang kecil tidak dipersiapkan dengan matang dan dibuat menjadi kokoh dan kuat. Untuk membangun sebuah rumah pun dimulai dari satu bata bukan langsung sebuah dinding yang besar. Lain bila mau menghancurkannya, sekaligus pun bisa, namun tetap saja akan selalu ada serpihan dan remah yang tertinggal yang bila disatukan akan bisa membuatnya berdiri tegak kembali. Semua tergantung pada kemauan saja.

Pilihan itu ada dan diberikan dengan seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya. Tidak ada juga yang memaksa seseorang untuk bisa menentukan pilihannya. Hati nurani dan pikiran yang merupakan anugerahlah yang membuat manusia bisa benar menjadi manusia atau menjadi yang lain. Semua ada resiko dan konsekuensinya masing-masing. Silahkan memilih dan beranilah untuk mempertanggungjawabkannya.

Mengejar rejeki lewat ritual hubungan seks bebas?! Nggak ada cerita!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Berbagi Pengalaman, Fakta & Kenyataan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Mengejar Rejeki Lewat Ritual Hubungan Seks Bebas

  1. nama paslu says:

    setuju mbak, tidak seharusnya, hal hal aneh di luar nalar yang sangat berlebihan itu di biarkan menjadi budaya, oh ya, pada awalnya saya baca dari judul awal, aku kira tempat keramat dalam tanda petik, yaitu tempat para muda mudi menyalurkan hasrat nafsu kekasihnya, hehe… thx atas ilmunya…

  2. Inna Hudaya says:

    saya percaya perempuan punya pertimbangan dan mampu memilih. tulisan mbak sangat judgemental sekali.

    • bilikml says:

      menurut saya, perempuan sekarang sudah kehilangan kesejatiannya dan kemampuan memilih itu memang benar mampu… tetapi kemampuan untuk bisa melihat apa resiko dan konsekuensi yang akan dihadapinya inilah yang kurang… sehingga akan mudah sekali terjebak…

      bila pun saya judmental… itu merupakan sebuah pandangan atas pemikiran juga hasil penelitian saya sendiri… bila pun memang tak bisa diterima, tak mengapa…. ini hanya saya saja kok…

  3. Biyan says:

    Makasih bnyk min
    setuku bgtt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s