Bermoral Nih, Ceritanya

Bingung mana yang bisa disebut dengan bermoral dan tidak bermoral. Apakah bila sudah membela kebenaran dan keadilan bisa disebut bermoral? Apakah bila sudah menyelamatkan dunia dari kerusakan dan menolong sesama bisa disebut bermoral? Apakah menjadi seorang pekerja seks komersial tidak bermoral? Apakah bila selalu membicarakan masalah seks dan cinta juga tidak bermoral?! Tunggu dulu!!!

Ini bukan tulisan sebagai ungkapan kekesalan, ya. Saya tidak masalah mendapatkan predikat sebagai orang tidak bermoral dan menjerumuskan. Buat saya kontroversi adalah hal yang biasa. Justru inilah yang membuat saya lebih bergairah untuk melanjutkan perjuangan saya. Seperti yang sering saya sebutkan juga, toh, manusia bisa bicara, tetapi kebenaran yang mutlak itu hanya ada satu. Jadi, patokan saya cuma ya, yang satu itu sajalah. Saya hanya manusia biasa, kok!!! Nggak tahu, deh, kalau yang lain?!

Urusan moral seringkali dikait-kaitkan dengan urusan agama dan kepercayaan. Sayangnya, hal ini sama sekali bukan keahlian saya untuk bisa menjelaskannya. Ada banyak yang lain yang lebih paham mengenai masalah ini, dan pastinya dapat membantu menjelaskannya dengan lebih baik.

Bicara soal keperawanan yang kemarin sempat menghebohkan lewat postingan Bang Andy Syoekry Amal, “Duh! 62,7 % Siswi Sudah tak Perawan?” menggelitik saya untuk membicarakan kembali masalah disorientasi moral, yang sebetulnya pernah saya tuliskan beberapa bulan yang lalu. Tetapi mungkin ada baiknya untuk kita bahas lagi masalah ini untuk mengingatkan kita semua juga agar tidak menjadi salah kaprah urusan moral dan amoral.

Buat saya, masalah keperawanan bukan hanya sekedar masalah selaput tipis yang ada di dalam salah satu organ seksual perempuan. Perjaka juga bukan hanya urusan pernah melakukan penetrasi dalam melakukan hubungan seksual saja. Ini harus dipertanyakan. Apakah perempuan yang pernah melakukan seks oral atau fellatio tetapi selaput daranya masih utuh karena belum pernah disentuh, bisa dibilang masih perawan? Bagaimana juga dengan pria yang pernah melakukan masturbasi? Apakah masih bisa disebut perjaka? Apa, sih, arti perawan dan perjaka itu yang sebenarnya?! Ke mana arti kesucian itu sendiri?! Apa maksudnya?! Mari kita pikirkan bersama-sama.

Sekarang ini juga seperti sedang trend orang bicara tentang kebenaran dan keadilan. Sepertinya memang sudah pasti benar dan pasti adil saja. Ucapan bisa saja demikian, tetapi bagaimana dengan tindakan serta perilaku? Tanggung jawab terhadap ucapan dan perilaku itu adalah yang penting. Bicara mudah saja, tetapi janganlah kemudian menjadi sebuah pembenaran atas ucapan dan perilaku yang tidak benar dan tidak adil. Kenapa harus selalu membela diri dan mengatasnamakan kebenaran dan keadilan?! Apa takut dibilang tidak bermoral?! Takut dibilang sama siapa?!

Masalah menyelamatkan dunia dari kerusakan dan juga menolong sesama juga menurut saya tidak bisa begitu saja dibilang sebagai perbuatan bermoral. Harus dilihat dulu apa alasannya. Berapa banyak lembaga dan organisasi yang mengatasnamakan kedua hal ini justru malah tidak bermoral sama sekali. Uang sumbangan yang diberikan untuk membantu untuk menyelamatkan lingkungan dan membantu orang yang sedang susah justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Herannya, justru mereka-mereka ini yang paling sering berkoar tentang moralitas dan mendapatkan pula dukungan. Ya, semakin jelas saja bagi saya, bahwa kita sekarang ini memang sedang dalam masa disorientasi moral. Sangat tidak jelas.

Pekerja seks komersial juga seringkali kita anggap tidak bermoral. Coba baca tulisan saya yang berjudul “Berkaca Pada Pekerja Seks Komersial“. Di sana diceritakan tentang kehidupan anak-anak yang menjadi pekerja seks komersial karena mereka memang dijual dan ditempatkan di sana. Kebanyakan oleh orang tua dan keluarga mereka sendiri. Dengan dan atas nama membantu keluaga pula. Tidak sedikit di antara anak-anak para pekerja seksual ini yang tidak tahu bahwa pekerjaan mereka ini sangatlah memprihatinkan. Bagi mereka ini adalah sebuah pekerjaan yang mulia karena dapat membantu menghidupi keluarga mereka. Pertanyaannya bukan masalah siapa yang harus disalahkan. Dalam masalah ini kita harus mempertanyakan kepada diri kita sendiri, siapa yang lebih bermoral, mereka atau kita?! Kita yang tahu bahwa semua itu terjadi tetapi tetap saja menutup mata dan seringkali tidak mau tahu. Malah seringkali menghujat dan menghakimi mereka sebagai manusia binatang yang tidak memiliki moral. Kalau memang merasa bermoral, pikirkan dan lakukan sesuatu, dong?! Pikirkan dengan benar dan lakukan perbuatan yang benar. Pikiran dan perbuatan yang salah juga tidak membantu!!!

Bicara tentang seks? Hmmm…. Sudah biasa kalau dibilang tidak bermoral!!! Tidak masalah!!! Mungkin memang karena saya tidak bermoral dan tidak ingin disebut bermoral juga. Kalau memangnya bermoral dan ingin disebut bermoral, ya, cari yang aman sajalah. Saya, sih, lebih suka menjadi apa adanya saja.

Seks sekarang ini sudah menjadi masalah yang sangat besar. Baik di Timur maupun di Barat sama saja. Dibuka dan ditutup sama-sama menimbulkan masalah. Herannya, masalahnya juga sama. Aneh, ya?! Bisa begitu?! Menurut saya, ini semua terjadi karena apa yang dibuka dan apa yang ditutupinya itu tidak jelas sama sekali arahannya. Menghilangkan berbagai faktor penting yang justru sangat esensial dan menjadi dasar pemikiran tentang seks itu sendiri. Mari kita perhatikan pemikiran para pemikir dan filsuf dunia, dari mana saja dan kapan pun mereka ada, ada tidak yang tidak pernah menyentuh pembicaraan soal seks dan cinta?! Ada?! Satu lagi, nih, apa ada ajaran agama dan kepercayaan di dunia ini yang juga tidak menyentuh pembicaraan soal seks dan juga cinta?! Ada?! Bila kemudian mereka membicarakannya begitu juga mengajarkannya, kemudian semua itu menjadi tidak bermoral?! Kalau begitu, siapa, dong, yang bermoral?!

Yang ingin saya tekankan di sini adalah untuk bisa memandang segala sesuatunya dari berbagai perepekstif yang berbeda. Jangan terus-terusan berkutan pada kaca sendiri. Apalagi kalau kaca mata yang dipakai itu kaca mata kuda. Mau menjadi apa negara kita ini nanti?! Apa yang akan terjadi masa depan nanti?! Apa tetap merasa bermoral bila tetap bertahan pada pemikiran yang itu-itu?! Bahkan jika pemikiran itulah yang kemudian justru bisa menghancurkan masa depan?!  Halloooooo!!! Pantas saja kalau negara ini terus-terusan seperti ini. Korupsi, kolusi, nepotisme sudah bukan masalah uang, kedudukan, pemimpin, dan pemeritahan serta birokrat saja. Sudah merambah ke pemikiran seluruh lapisan masyarakat. Kasihan banget, ya, kita ini?! Sampai kapan kita harus bertahan menjadi korban penjajahan mereka yang merasa bermoral?! Patut dipertanyakan apakah ini bermoral, tidak bermoral, atau disorientasi moral?!

Mari kita pikirkan sama-sama tentang semua ini, ya! Marilah kita bersama membantu agar kita menjadi benar-benar manusia bermoral dan bisa sama-sama membangun bangsa  dan negara tercinta kita ini menjadi lebih baik lagi. Ini buat kita semua, kok!!!

Selamat merenung dan berpikir!!!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

18 Februari 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Bermoral Nih, Ceritanya

  1. Yunan says:

    Booeh saja berpendapat….Menurut saya ukuran moralitas itu sudah jelas, tergantung kita mau memahami dengan kejernihan hati, atau memahami dengan ‘mengagungkan logika’. Kasus2 di atas hanya sekedar asumsi, tidak cukup menjadi data dan dijadikan dasar untuk mengeneralisir……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s