Kapan, Ya, Boleh Belajar Seks?!

Sebuah pertanyaan yang membuat saya merasa sangat prihatin sekali karena membuktikan betapa minimnya pengetahuan tentang seks. Ini juga memperjelas sekali bahwa memang pada fakta dan kenyataannya, seks masih saja dianggap sebagai objek yang porno, tabu, dan menjerumuskan.  Wajarlah bila pikiran masih porno dan seks itu masih hanya seputar seonggok daging di belahan paha saja. Meskipun mengaku berhati bersih dan suci, jika masih berpikiran kotor, apalah artinya?!

Orang tua yang seharusnya memiliki wawasan luas dan tidak sempit, kenapa, sih, betah sekali menjadi sombong, tinggi hati, dan egois hingga membuat anaknya terperosok dan terjerumus?! Jika memang tidak mengerti tentang seks, belajarlah! Jangan dengan mudahnya melempar tanggung jawab dengan berbagai alasan yang membuat anak tidak mengerti tentang seks. Kalau kemudian anak menjadi bermasalah, mereka juga yang disalahkan lagi, kan?!

Sadarkah bahwa banyak masalah seks terjadi karena ketidakpahaman anak tentang seks?! Berapa banyak anak menjadi korban pelecehan seksual karena tidak mengerti sama sekali?! Berapa banyak anak menjadi hamil di usia dini dan dipaksa melakukan aborsi hanya karena tidak mengerti semua ini?! Berapa banyak anak juga menjadi menyimpang secara psikologis karena ketidaktahuan mereka?!

Jangan salahkan pergaulan! Sudah memang alamiahnya seorang anak memiliki rasa ingin tahu yang besar termasuk tentang seks. Bila mereka tidak mendapatkan apa yang mereka ingin ketahui dari orang tua dan guru, mereka akan mencarinya ke tempat yang lain. Teman adalah tempat mereka biasanya mencari tahu, dan mana mereka tahu itu benar atau salah bila sama-sama tidak mengerti.

Jangan juga salahkan internet ataupun dunia Barat, berkaca saja terlebih dahulu. Sekali lagi, bila anak sudah mendapatkan cukup bekal pengetahuan dan juga memiliki jati diri yang kuat dan kokoh, mereka tidak akan mudah terpengaruh. Pertanyaannya, kenapa mereka tidak tahu dan kenapa mereka bisa menjadi labil dan tidak berkepribadian?! Apa kewajiban orang tua?!

Saya hendak bercerita sebuah fakta dan kenyataan tentang seorang pria dewasa yang memiliki kecenderungan menjadi bergairah bila mengintip adegan seksual orang lain. Pria ini memiliki kelainan kejiwaan seksual yang disebut dengan vouyerism alias tukang intip.

Setelah ditelaah lebih jauh, apa yang menyebabkan pria ini demikian, ternyata adalah kesalahan dari orang tua di dalam mendidiknya. Dulu sewaktu remaja, dia beberapa kali ketahuan membaca buku dan majalah porno dan itu dilarang keras oleh orang tua. Namanya anak di usia remaja, selalu mencari celah dan usaha, dia pun lalu sembunyi-sembunyi membaca dan melihat buku serta majalah porno tersebut. Pada akhirnya, dia menjadi ketagihan dengan “sembunyi-sembunyi” ini karena bisa membuatnya lebih bergairah. Adrenalin dari rasa ketakutannya membangkitkan libidonya, dan akhirnya dia pun menjadi penderita vouyerism.

Dampaknya menjadi sangat luas, di mana keharmonisan di dalam rumah tangganya pun terganggu. Sulit baginya untuk bisa berhubungan seksual dengan istrinya sendiri karena dia lebih suka “sembunyi-sembunyi” mengintip yang lain dan melakukan masturbasi. Nah, kalau sudah demikian bagaimana?! Siapa yang kasihan?!

Lain lagi dengan kasus yang dialami oleh banyak anak perempuan. Tidak sedikit yang menjadi korban pelecehan seksual di masa kecil dan remaja yang dilakukan oleh keluarga dan kerabat dekat bahkan para pembimbing dan pengajar rohani mereka. Anak yang tidak mengerti apa-apa menikmati dan menurut saja karena tidak tahu hingga mereka pun menjadi ketagihan dan tak sedikit yang akhirnya menjadi terjerumus lebih dalam lagi. Orang tua juga kalau diberitahu tidak percaya, malah anak yang sering dituduh berbohong. Egois sekali!!! Silahkan saja buktikan sendiri di mana cikal bakal tempat perilaku hubungan seks sejenis banyak dilakukan dan terjadi. Kalau saya yang ungkap pun pasti tidak akan dipercaya dan ditolak mentah-mentah.

Jangan pernah  berpikir ini merupakan kasus yang sedikit tetapi banyak sekali kasus-kasus lainnya akibat ketidakpahaman tentang seks pada anak dan orang tua. Masalah seks sangat pribadi sifatnya dan banyak malu serta takut untuk jujur dan terbuka. Berapa banyak dusta dan kemunafikan terjadi karena seks?! Urusan perawan saja sudah banyak menjadi masalah. Sadarkah sekarang sedang tren perempuan berjilbab yang menjual diri melakukan seks oral dan pelayanan masturbasi tanpa penetrasi hanya karena mereka masih ingin perawan sampai menikah nanti?! Mau dan beranikah diakui semua ini?!

Akhlak, agama, dan budi pekerti?! Halo! Bagaimana seorang anak bisa memiliki akhlak, agama, dan budi pekerti yang baik bila mereka tidak kenal apa dan siapa dirinya?! Di mana, sih, tempat paling banyak terjadi pelecehan seksual di Indonesia?! Apakah di tempat yang dianggap metropolitan dan kota besar serta yang dianggap tak bermoral itu masuk jajaran atas?

Anak  selalu dijadikan boneka yang harus mengikuti apa kemauan orang tua dan tidak diarahkan untuk menjadi diri mereka sendiri. Kebahagiaan anak yang dianggap kebahagiaan hanyalah semu dan palsu karena kebahagiaan yang diinginkan adalah kebahagiaan menurut versi orang tua saja. Mana dipikirkan anak itu benar bahagia atau tidak?! Yang penting menurut apa kata orang tua, itu sudah membuat orang tua bahagia. Kalau berbeda, dianggap berdosa, malah sampai dikutuk segala.

Anak juga tidak bodoh dan jangan kira mereka tidak tahu apa-apa.  Mereka bisa merasakan dan melihat fakta dan kenyataan yang terjadi baik dalam rumah tangga maupun lingkungannya sendiri. Berapa banyak anak yang menjadi suka dengan seks yang kasar karena mereka melihat bagaimana orang tua mereka selalu ribut dan berantem di rumah. Mereka tahunya, ya, begitulah caranya mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang. Toh, yang penting awet dan langgeng serta tampak harmonis di luar. Ya, kan?!

Sedari bayi, anak sudah belajar tentang seks, disadari tidak disadari. Bagaimana perlakuan orang tua merawat dan membersihkan alat kelamin anak, sangat berpengaruh pada kehidupan seksualnya kemudian.  Bukan hanya itu saja, juga berpengaruh pada kesehatan organ seksual mereka, seperti misalnya masalah kanker rahim yang menurut penelitian bisa disebabkan oleh bedak yang banyak digunakan pada kelamin anak perempuan. Ini belum termasuk makanan dan gaya hidup yang sangat berpengaruh pada keseimbangan hormonal dan pertumbuhan anak termasuk organ seksual mereka.

Anak Balita pun seringkali memegang alat kelamin mereka dan itu merupakan bagian dari eksplorasi pengenalan tubuh mereka. Berapa banyak orang tua yang tidak mengerti lalu melarang mereka melakukannya atau sebaliknya, membebaskannya tanpa memberikan pengertian?! Banyak juga orang tua yang sudah merasa paling tahu dan paling benar tanpa mau mencari tahu apa yang benar dan sebenarnya sehingga anak kembali mendapatkan perlakuan yang salah.  Jika diberitahu oleh yang ahlinya, menolak. Mau apa lagi?! Sudah siapkah menghadapi apa yang akan terjadi pada anak tersebut di kemudian hari?! Masih juga mau menyangkal atas apa yang sebenarnya telah dilakukan?!

Anak sebaiknya diberikan pendidikan seks sedini mungkin sesuai dengan tahap dan perkembangan usianya masing-masing. Saya pernah menuliskan bagaimana menjelaskan kepada anak soal sunat, soal payudara, soal menstruasi, masturbasi, dan soal kandungan sperma yang sebaiknya diketahui oleh anak  dan remaja. Berikan mereka penjelasan secara menyeluruh dan bukan hanya sekedar dosa atau tidaknya, ditakut-takuti soal penyakit dan lain sebagainya. Yang mereka butuhkan adalah pengetahuan yang bisa membuat mereka mampu berpikir apa yang terbaik yang mereka bisa lakukan bagi diri mereka sendiri.

Apa yang terbaik buat orang tua belum tentu yang terbaik untuk anak. Ingat! Anak adalah seorang pribadi sendiri dan jangan pernah samakan atau bandingkan dengan orang tua ataupun orang lain. Anak membutuhkan jati diri dan kepribadian diri mereka sendiri yang kokoh dan kuat serta mandiri. Jika memang peduli dengan masa depan mereka, jadikanlah mereka sebagai seorang pribadi yang kuat, kokoh, mandiri, dan tidak pernah takut untuk menjadi diri mereka sendiri.

Sebagai orang tua, cobalah untuk merendahkan hati dan berikanlah cinta kepada anak yang merupakan kehidupan di masa mendatang. Tidakkah ada cinta untuk mereka selain cinta untuk diri sendiri saja?! Beranilah untuk menerima fakta dan kenyataan dan menhadapi masalah agar semua masalah bisa diselesaikan dengan baik. Menutupi dan memungkirinya justru akan membuahkan lebih banyak dusta dan kemunafikan.

Belajarlah tentang seks dan berikan anak pendidikan tentang seks yang benar. Hormatilah seks sebagai anugerah terbesar dan terindah dari-Nya. Hentikan pikiran porno tentang seks dan bukalah mata itu lebar-lebar. Masa depan sangat tergantung pada apa yang kita lakukan kini.

 

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

 

 

 

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Kapan, Ya, Boleh Belajar Seks?!

  1. ffeebbyy says:

    ” Saya pernah menuliskan bagaimana menjelaskan kepada anak soal sunat, soal payudara, soal menstruasi, masturbasi, dan soal kandungan sperma yang sebaiknya diketahui oleh anak dan remaja. Berikan mereka penjelasan secara menyeluruh dan bukan hanya sekedar dosa atau tidaknya, ditakut-takuti soal penyakit dan lain sebagainya. ”

    yang ini boleh minta link nya mbak?
    thanks ya, bermanfaat sekali *saya sebarin yah link nya:)*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s