Pilihan Seorang Perempuan

Bukanlah hal yang mudah untuk bisa menerima dan mengakui apa dan siapa diri yang sebenarnya. Terlalu banyak hal yang harus dihadapi karena memang lebih berat menjadi jujur, tantangannya lebih banyak. Apalagi bila harus berhubungan dengan yang namanya rasa di hati yang berhadapan dengan persepsi, nilai, dan pandangan serta keyakinan yang selama ini ada pada diri sendiri dan juga yang lainnya.

Pilihan untuk melepaskan diri dari segala keinginan yang berkaitan dengan percintaan seringkali dianggap tidak baik karena memang tidak mungkin untuk bisa melepaskan itu semua. Tidak bisa dipungkiri bahwa selalu ada rasa sepi dan kesepian berbaur rindu untuk bisa mendapatkan itu semua. Namun pengalaman juga mengajarkan bahwa semua orang tidak sama dan setiap orang terlahir dengan maksud dan tujuannya masing-masing.

Tak sedikit yang berpikir bahwa ini hanya masalah sakit hati dan juga masalah rasa kecewa yang terlalu mendalam hingga menjadi sebuah keputusasaan. Pada fakta dan kenyataannya memang itulah yang banyak terjadi, tetapi haruslah diingat juga bahwa ada juga orang-orang yang memang memilih untuk tidak berpasangan dengan berbagai alasan lainnya, seperti karena keyakinan atas apa yang dianutnya. Tak perlu heran bila ada juga yang memilih ini semua karena sadar akan apa dan siapa dirinya.

Seorang perempuan mendesah dalam dan panjang. Di mata yang lainnya, perempuan ini memiliki segalanya. Cantik, pintar, dan memiliki segudang prestasi  yang membanggakan. Keluarga yang baik dan segudang teman serta sahabat yang selalu mendukungnya. Benarkan memang hanya keindahan itulah yang dialaminya?!

Manusia seringkali melihat hanya pada kulitnya saja lalu mengambil kesimpulan dan memberikan nilai, siapa yang tahu apa yang sebenarnya selain diri sendiri?! Apa yang dialami oleh perempuan itu telah mengajarkannya banyak hal dan membuatnya menjadi yakin dan percaya bahwa dia memang tidak pantas untuk berkeinginan untuk bisa mendapatkan pasangan dalam hidupnya. Pasangan yang memang benar-benar mencintai dan menerimanya apa adanya. Bahkan bermimpi untuk semua itu pun dia tidak berani sama sekali.

Kecantikan yang dimilikinya memang sebuah anugerah yang luar biasa tetapi itu jugalah yang membuatnya harus banyak mengalami peristiwa. Manusia-manusia yang haus dan lapar akan keindahan tubuh dan kecantikannya telah merengut apa yang seharusnya bisa dibanggakan dan dipertahankannya. Segala puja dan puji atas kecantikan tubuhnya itu pun tidak lagi menjadi sesuatu yang membuatnya merasa bahagia.

“Silahkan ambil seluruh tubuh ini, saya serahkan semuanya bila memang itu yang diinginkan. Jangan pernah bertanya apa yang saya harapkan dari semua ini. Saya tidak ingin apapun juga.”

Kepintaran yang membuatnya meraih segudang prestasi itu pun di sisi lain telah membuatnya harus menghadapi banyak masalah. Dia menjadi berbeda sementara persepsi, pandangan, dan nilai di dalam masyarakat tidak mungkin bisa diubah begitu saja. Pria-pria menjadi takut dan merasa kalah, tak sedikit juga yang hanya memanfaatkannya saja. Yah, tentunya memang ada yang barangkali tulus kepadanya, tetapi hati tidak bisa berdusta. Dicintai tidak selalu berarti bisa mencintai juga bukan?!

“Ah! Pasti membosankan sekali mendapatkan pertanyaan yang terus menerus dan betapa capeknya harus selalu meladeni debat dan diskusi yang tak kunjung akhir.”

Ada banyak hal lain lagi yang terkadang membuat sulit memang bagi perempuan yang mandiri dan apalagi yang penyendiri. Tidak mudah sama sekali karena lebih cenderung mendapatkan persepsi dan nilai yang negatif dibandingkan dengan positif. Betul, banyak juga perempuan yang juga sombong dengan semua ini sehingga merendahkan pria dan bahkan pasangannya sendiri dan itu juga membuat persepsi dan nilai ini semakin negatif saja.

“Mana ada pria mau dianggap oleh orang lain sebagai Bapak Nyonya A, karena itu dianggap merendahkan bukan?! Makanya mana ada yang mau berpasangan dengan saya?!”

Menerima keadaan yang seperti ini sebagai introspeksi diri manakala peristiwa demi peristiwa terjadi. Tidak ada seorang pria pun yang mampu bertahan untuk bersama dengannya. Sayang mungkin sayang, cinta mungkin cinta, tetapi kebutuhan itu harus tetap terpenuhi. Marah dan sakit hati serta dendam karena mereka semua berpaling dan mencari yang lain pun tidak pernah ada. Sedih pasti, tetapi sadar akan apa segala kekurangan diri telah membuatnya menerima akan semua ini.

“Yah, mereka tentunya berpaling dan pergi bukan karena salah mereka sepenuhnya. Saya pun memiliki banyak sekali salah dan telah banyak berbuat kesalahan. Saya menerima semua itu sebagai resiko dan konsekuensi yang harus saya hadapi dan pertanggungjawabkan.”

Pesimis akan menghadapi masa depan barangkali tidak juga karena yang dilakukannya merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk mencoba menjadi lebih baik. Rasa bersalah dan takut karena tidak bisa membahagiakan yang lain karena semua kekurangannya itu adalah sesuatu yang bisa dimengerti dan dipahami. Lebih baik tidak menyakiti daripada memaksakan diri lalu membuat susah semua, kan?!

Entah sudah untuk yang ke berapa kalinya peristiwa serupa terjadi dan pada akhirnya akan selalu terjadi juga hal yang sama. Hati ini tidak pernah bisa dipungkiri meskipun tidak perlu harus melihat ataupun mendengar. Peristiwa demi peristiwa telah mengajarkannya walaupun juga bisa saja pikiran ini yang telah menutup yang sebenarnya. Sadar apa dan siapa diri ini membuat semuanya menjadi semakin jelas.

Sadar penuh bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan berpasangan tidak pernah lepas dari keduanya. Sangatlah tidak bijaksana dan adil bila menunjuk jari dan menyalahkan serta melemparkan kesalahan itu kepada yang lain. Introspeksi diri harus selalu dilakukan bila memang ingin kehidupan menjadi lebih baik.

Mereka selalu datang dengan penuh harapan dan membawa impian namun pada akhirnya waktu jugalah yang membuktikan semuanya. Pada awalnya saja semua merasakan keindahan itu tetapi tidak ada satupun yang bisa bertahan dan bahkan selalu pergi. Cinta yang selama ini dianggap benar cinta ternyata tidak ada sama sekali. Yang ada hanyalah keterpesonaan sesaat saja. Begitu sadar dan menyadari apa yang sebenarnya dirasakan dan terjadi, semua akan berusaha mencari kebahagiaannya kembali.

Saya tidak memiliki apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Saya bukanlah seorang perempuan yang bisa memberikan kebahagiaan sekalipun kepada mereka yang amat sangat saya cintai. Saya tidak bisa memenuhi semua kebutuhan mereka hingga mereka pun selalu mencarinya dari yang lain. Saya terlalu membosankan dan melelahkan dan saya amat sangat menyadarinya. Saya bukanlah seorang perempuan yang mampu untuk bisa selalu menggairahkan tetapi justru lebih banyak mematikannya. Itu semua memang kesalahan saya sendiri dan oleh karena itulah saya harus menerimanya dengan lapang dada. Biarlah mereka mendapatkan kebahagiaannya. Saya bahagia bila semua bahagia.

Tidak ada yang akan pernah bisa mengubah masa lalu dan siapa yang pernah tahu masa depan. Mengubah diri untuk menjadi lebih baik tidak berarti harus mengubah diri menjadi yang lain. Apa yang  menjadi berkah dan rahmat serta anugerah terindah sudah sepatutnya dihargai dan dihormati serta dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi semua, bukan hanya untuk diri sendiri. Sangatlah tidak mudah untuk bisa menerima diri ini apa adanya dan sepenuhnya.

Yang baik di mata yang lain belum tentu baik untuk semua. Apa yang dianggap kelebihan itu merupakan kekurangan bila dilihat dari sudut pandang yang lain. Apa yang terisi itu merupakan kekosongan di tempat yang lainnya. Siapa yang pernah tahu?! Yang merasakan dan menjalani semuanya adalah diri sendiri juga.

Tidak ada yang patut untuk disesali karena fakta dan kenyataan atas apa dan siapa diri sudah seharusnya juga diterima dengan lapang dada. Segala sesuatu pasti memiliki hikmah dan manfaatnya masing-masing  karena selalu yang terbaik dan terindahlah yang diberikan. Setiap manusia diciptakan tentu dengan maksud dan tujuan. Tidak semua sama dan justru perbedaan itulah yang membuat kehidupan ini menjadi semakin penuh warna dan arti.

Oleh karena itulah, jangan pernah lagi meminta saya untuk bermimpi di siang bolong. Saya tidak menginginkannya. Saya tahu apa dan siapa diri saya ini, rasanya tidak pantas bila saya menginginkan semua itu. Biarkan saya menjalani apa yang ada dan yang saya miliki ini apa adanya. Semuanya saya syukuri dan saya nikmati. Cinta adalah memberi  bukan memiliki ataupun dimiliki. Apa yang memang sudah seharusnya terjadi maka terjadilah. ”

Yah, semua ada masa dan waktunya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Yang bisa dilakukan adalah untuk terus berusaha memberikan yang terbaik bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk semua. Sekarang bisa memilih demikian tetapi siapa yang pernah tahu juga apa yang akan dipilihnya esok hari?! Hanya waktu yang bisa bicara.

Salam hangat penuh cinta selalu,

 

Mariska Lubis

 

 

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pilihan Seorang Perempuan

  1. yasinta says:

    baik – buruk,
    untung – rugi,
    kelebihan – kekurangan,
    semua sangat relatif,
    tergantung dari sudut pandang dan situasi sesaat,
    tapi semuanya akan menjadi indah,
    saat kita menerimanya dengan
    rasa syukur dan ikhlas,
    Mencintai,
    adalah keputusan yang dapat kita lakukan…
    Dicintai,
    adalah anugerah terindah
    yang mampu mengubah segalanya menjadi indah…
    dan untungnya,
    selalu ada (sedikitnya)
    satu Cinta yang Tulus bagi setiap manusia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s